5. Menumpas Keraguan

2524 Words
Sepasang suami istri itu tengah duduk di tepi ranjang king size mereka. Keduanya nampak membisu, raut wajahnya mengisyaratkan rasa khawatir dan kebingungan yang menekan d**a. Angela sudah menceritakan semuanya pada Fredy, sang suami, bahwa sepulangnya dari London Fany bertingkah laku aneh, terutama pada Gavin, pacar putrinya itu. “Papi hubungi Dokter Farel dulu ya, Mi. Siapa tahu besok Fany bisa dijadwalkan untuk bertemu dengan dia,” ucap Fredy yang sontak mendapat anggukan mantap dari sang istri. Fredy tengah berbincang dengan Dokter Farel melalui ponselnya, sementara Angela masih sibuk dengan pikirannya. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui kondisi anaknya sendiri. Padahal saat di London beberapa bulan lalu Dokter Rico sudah memberitahunya bahwa terdapat luka yang cukup parah di kepala Fany, namun ia mengabaikan hal itu sebab Fany masih bisa mengenali keluarganya dengan baik. "Mi," panggil Fredy memecah lamunan Angela. "Besok Fany bisa bertemu Dokter Farel," lanjutnya. Angela tersenyum, "Yaudah, Mami ke kamar Fany dulu, ya." Fredy menggangguk, lantas mengusap puncak kepala istrinya lembut, sebelum wanita itu benar-benar beranjak dari duduknya dan menghilang di balik pintu kamar mereka. * Fany sedang fokus mempelajari materi untuk perkuliahan besok saat tiba-tiba pintu kamarnya itu diketuk dan terdengar suara Angela memanggil nama Fany sebanyak dua kali dari balik pintu kamar putrinya itu. "Kenapa, Mi?" Fany mengalihkan tatapannya dari laptop saat Maminya sudah membuka pintu kamarnya sembari tersenyum lembut. Senyum khas seorang ibu pada anaknya yang selalu mampu menghangatkan hati Fany. Angela melangkah mendekati putrinya. Diusapnya surai hitam milik Fany, membuat perempuan itu tersenyum. Beberapa saat Angela ikut melirik laptop Fany yang menampilkan materi perkuliahan dalam bentuk file presentasi. "Besok kamu selesai kelas jam berapa, sayang?" tanya Angela pada putri bungsunya sebagai basa-basi sebelum ia mengutarakan maksud kedatangannya kemari. Fany mendongakkan kepalanya untuk menatap Angela, lantas berujar, "Aku cuma ada dua kelas sih, Mi. Kemungkinan jam satu siang udah selesai." "Mami mau ajak kamu ketemu Dokter Farel," ucap Angela sembari tersenyum tipis. "Buat apa? Fany kan nggak sakit, Mi." Fany menyernyit tidak paham. Kini fokusnya sudah sepenuhnya teralihkan pada sang ibunda. Perempuan itu benar-benar tidak paham dengan tujuan Maminya itu. "Medical check-up aja. Kamu kan baru pulang dari London, jadi Mami ingin memastikan kalau kondisi kamu baik-baik aja.” Angela memberi penjelasan pada putrinya itu dengan penuh kesabaran. Ia belum ingin mengatakan kecurigannya pada Fany tentang kondisi putrinya itu, bahwa ia telah melupakan seseorang yang dicintainya. Angela tak ingin memberi tahu sebelum semuanya benar-benar jelas. Fany berdecak. Dari semua tempat yang pernah ia kunjungi, ia tidak menyukai tempat bernama Rumah Sakit. Mulai dari aroma obat-obatan hingga raut wajah orang-orang di sana yang sebagian besar identik dengan gurat kesedihan dan kekhawatiran. "Mi, Mami tahu aku nggak suka bau rumah sakit. Lagian aku sehat kok, Mi. Aku baik-baik aja," ujar Fany. "Fany, nurut sama Mami, ya. Please." Angela menyahut tegas, tak mau memberi kesempatan pada putrinya itu untuk menolak. "Iya," cicit Fany tak bersemangat. Perempuan itu mengembuskan napasnya pelan. Sepertinya menuruti permintaan Maminya adalah satu-satunya pilihan yang ia miliki. Melihat sang putri yang menurutinya, Angela tersenyum, "Besok Mami jemput kamu jam satu." "Iya, Mi." Fany mengangguk tanpa minat, Angela pun menyadari hal itu. Namun ini adalah keputusan yang paling tepat. Angela tidak bisa terus menerus berkawan dengan keraguan akan kondisi putrinya. Angela mengecup kening Fany singkat, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu keluar dari kamar putrinya yang didominasi dengan warna peach itu, meninggalkan sang pemilik kamar yang sudah kehilangan minat untuk melanjutkan kegiatan belajarnya. Perempuan itu memilih untuk menutup laptopnya, dan merebahkan tubuhnya pada kasur empuk yang terletak tak jauh dari meja belajarnya. * Fany melepaskan safety belt-nya setelah mobil hitam yang dikemudikan oleh kakaknya itu memasuki area parkir di gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Victor sengaja memarkirkan mobilnya di sini supaya Fany tak perlu berjalan kaki lumayan jauh untuk menuju ke kelasnya. Biarkan Victor saja yang berjalan kaki menuju gedung fakultasnya yang terletak berseberangan dengan gedung fakulas Fany. Duh, tipikal kakak laki-laki idaman sekali bukan? Victor turun dari mobilnya, menatap Fany yang sudah berjalan menjauh dengan langkah yang tidak bersemangat. Melihat hal itu, jiwa kepo Victor meronta. Laki-laki itu pun berlari untuk menyamakan langkah dengan sang adik. “Kenapa sih? Lemes amat jalannya,” ujar Victor saat dirinya sudah berjalan di samping adik perempuannya. “Gue lagi nggak mood bercanda, ya. Udah sana lo jauh-jauh.” Fany mendorong tubuh kakaknya itu untuk menjauh. Namun sekeras apapun ia berusaha, manusia kepo itu enggan pergi dan memilih untuk tetap berada di sampingnya. “Emang siapa juga yang ngajak lo becanda. Pede banget bocil,” Victor mendengus. Padahal Victor sudah berbaik hati menanyakan keadaan adiknya itu. Namun ternyata singa galak yang merasuki tubuh Fany sejak kemarin itu belum juga pergi. “Kenapa?” tanya Victor lagi. Kali ini dengan nada serius. Laki-laki itu bahkan sampai menahan lengan Fany dan menghentikan langkahnya. Mata sehitam obsidian itu fokus menatap wajah sang adik yang kusut seperti seragam osis yang belum disetrika. “Mami maksa gue buat check-up ke rumah sakit,” ujar Fany singkat, tanpa melepaskan tatapannya dari Victor. Victor menautkan kedua alisnya. Matanya mencari penjelasan mengenai ucapan Fany barusan melalui manik mata sang adik, namun nihil, Victor tak menemukan apapun di sana, “Memangnya kenapa? Lo takut ketemu dokter?” tanya Victor seraya berusaha untuk menahan senyumnya. “Apaan sih, piktong.” Fany berdecak sebal, “Gue bukan takut sama dokter, tapi gue nggak suka bau rumah sakit. Yakin lo pinter? Kenapa hal seperti itu aja lo nggak ngerti sih?” omel Fany. Perempuan itu merasa tak terima sebab dirinya disangka takut dengan dokter. Fany bukan anak kecil yang menangis meraung-raung saat hendak diperiksa oleh dokter. Victor ini asal-asalan sekali kalau ngomong, membuat Fany ingin menimpuk mulutnya menggunakan totebag yang menggantung di lengan kirinya itu. “Lagipula gue merasa baik-baik aja. Kenapa harus check-up segala, sedangkan yang paling tau tentang tubuh gue adalah diri gue sendiri,” lanjut Fany. “Dek.” Victor tersenyum lembut, tangannya terulur untuk mengusap surai hitam milik Fany. “Kali ini gue setuju sama Mami,” ucapnya yang berhasil membuat Fany semakin cemberut. Victor menarik napasnya, sebelum akhirnya ia melanjutkan kalimatnya, “Dan satu lagi, lo nggak paham sama diri lo sendiri. Lo nggak baik-baik aja. Jadi, please, nurut ya.” Fany mengalihkan tatapannya dari Victor. Tidak ada yang sependapat dengannya. Kenapa keluarganya sendiri malah meragukan kondisi Fany saat ini. Fany paham dan masih ingat dengan jelas tentang kejadian yang menimpanya tiga bulan lalu, dan Fany juga masih ingat bagaimana buruknya keadaannya waktu itu. Namun sekarang berbeda, Fany sehat dan ia sudah baik-baik saja. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi bukan? “Yaudah kalo gitu, gue kabur aja,” ujar Fany, lantas berbalik badan dan berniat untuk lari meninggalkan tempat itu. Namun sebelum hal itu benar-benar terjadi, Victor sudah lebih dulu menarik totebagnya, membuat Fany mau tidak mau mengikuti langkah Victor yang membawanya masuk ke gedung fakultasnya. "Piktong ih, jangan tarik-tarik tas gue." * Laki-laki bertubuh jangkung itu masih setia dengan kegiatan pura-pura membaca buku saat sahabatnya itu sudah merasa bosan berada di tempat yang dipenuhi dengan buku itu. Laki-laki jangkung bernama Gavino Pranaja itu sengaja menyusup masuk ke perpustakaan secara diam-diam demi menemukan sosok sang pacar di sana. Sialnya, Segara yang anti sekali dengan perpustakaan itu ikutan diseret dengan alibi rasa setia kawan. Gavin bahkan sampai mengancam tak mau memberi contekan saat ujian nanti agar Gara mau ikut dengannya. “Vin, kita ngapain sih ngumpet di sini? Kalo lo kangen ya tinggal samperin aja, gampang ‘kan? Masalah selesai,” ucap Gara pada sahabatnya. Ia sengaja mengecilkan volume suaranya, agar tak menggangu para pengunjung perpustakaan yang terfokus pada buku di hadapannya. “Kalo gue ikutin saran lo, yang ada malah nambah masalah, bukan menyelesaikan masalah,” dengus Gavin. Laki-laki itu memutar bola matanya jengah. Tak mau melayani Gara yang sedang komat-kamit mengeluh bosan, Gavin kembali memperhatikan Fany yang tengah mendiskusikan sesuatu dengan Rissa, sembari beberapa kali jemarinya menari di atas keyboard laptop. “Pacar gue cantik banget kalo lagi serius,” gumam Gavin yang nyatanya masih dapat didengar dengan jelas oleh Gara, membuat sahabatnya itu mual dengan kebucinan Gavin yang sedang mode on saat ini. “Woy, kemasin barang-barang lo sekarang, cewek gue mau pergi.” Gavin menepuk-nepuk pundak Gara secara brutal saat mendapati pacarnya itu hendak beranjak dari tempatnya bersama Rissa dan beberapa buku di tangannya. Gavin lantas mengemasi barang-barangnya, sedangkan Gara hanya mendengus pelan. Laki-laki itu ikut mengemasi barang-barangnya, merapikan buku-buku yang bertumpuk di atas meja mereka, lantas bergegas mengembalikan buku-buku tersebut ke tempat semula. Gavin mengumpat saat ia menyadari bahwa buku yang tadi diambil olehnya dan Gara cukup banyak sehingga memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk mengembalikan buku-buku itu. “Lo ngambil buku apa belanja bulanan, sih? Banyak banget, nggak ngotak,” umpat Gara. Ia sudah pusing mengingat di rak yang mana saja ia dan Gavin mengambil buku tadi. Saking banyaknya sampai mereka lupa, dan akhirnya menaruh buku-buku tersebut asal-asalan. Semoga saja petugas perpustakaan tidak menyadari hal itu. “Apa sih, nggak nyambung.” Gavin meletakkan buku terakhir yang tersisa di tangannya itu pada rak, kemudian berlari dari sana untuk menyusul sang pacar, meninggalkan Gara yang masih sibuk dengan buku-buku di tangannya. Laki-laki itu kini menyusun buku di rak dengan gerakan santai, tak mau menghabiskan tenaganya di siang bolong seperti ini. Baru satu langkah Gavin keluar melalui pintu perpustakaan, tubuhnya justru menabrak seseorang sampai ia sedikit kehilangan keseimbangannya. Namun berbeda dengan orang yang tadi ditabraknya. Perempuan itu sudah tersungkur di lantai, bersama dengan buku-bukunya yang kini berserakan. Perempuan itu memicing tajam kala mendapati manusia antah berantah yang menabraknya tadi adalah orang yang ia tampar kemarin. Fany menatap laki-laki yang kini tengah memunguti buku-bukunya itu, lantas ikut mengambil beberapa buku yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. “Kenapa sih lo selalu berhasil merusak mood gue?” tanya Fany datar, tanpa melirik pada sang lawan bicara yang tak lain adaah Gavin. Laki-laki jangkung itu menghentikan pergerakannya, matanya beralih menatap Fany yang masih memunguti buku, sama seperti yang tengah dilakukannya. Cukup lama Gavin menatap perempuan di hadapannya, sebelum akhirnya ia membuka suara, “Kamu baik-baik aja? Nggak ada yang luka?” tanya Gavin. “I’m okay, kecuali mood gue yang semakin hancur.” Fany beranjak dari posisi jongkoknya, lalu menatap Gavin dengan tatapan datar. Tidak ada senyum bulan sabit yang selama ini Gavin rindukan. Dan hati Gavin menciut karena itu. Gavin tersenyum tipis, lantas menyerahkan beberapa buah buku di tangannya itu pada Fany, “Maaf, ya,” ujarnya. Jujur saja, Gavin khawatir Fany akan terluka sebab tertabrak olehnya tadi. Namun yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah meminta maaf, karena ia tak ingin membuat suasana hati Fany semakin kacau. Fany hanya mengangguk singkat. Perempuan bertubuh mungil itu pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda selama beberapa menit tadi. Sebenarnya, ia datang lagi ke perpusakaan untuk mengambil buku catatannya yang tertinggal di sana. Namun siapa sangka, takdir malah mempertemukannya pada laki-laki jangkung yang seingatnya bernama Gavin itu. Entah kenapa sejak ia kembali ke Jakarta, beberapa kali nama Gavin terdengar ditelinga. Tidak asing, memang, tapi seberapa kali pun Fany berusaha, ia tak menemukan apapun. Fany tidak pernah mengenal sesorang bernama Gavin. * “Kamu dari mana? Mami bosen nunggu di sini sendirian, tahu.” Fany menyengir lebar di balik masker yang menutup hidung dan mulutnya itu setelah ia mendaratkan tubuhnya di samping Angela. Keduanya kini berada di ruang tunggu sebuah rumah sakit di kota Jakarta yang letaknya tidak terlalu jauh dari Universitas Garuda. Awalnya Angela berniat untuk menjemput Fany di kampusnya jam satu siang tadi, namun tiba-tiba kliennya mengajak bertemu untuk membahas beberapa hal mengenai catering untuk acara pernikahannya. Angela memang mempunyai usaha catering yang sudah cukup terkenal karena cita rasa masakannya. Selain itu, pelayanan yang baik juga menjadi salah satu faktor bisnis cateringnya itu sangat digemari pelanggan. “Tadi ada urusan sebentar di kampus, Mi,” kata Fany, memberi penjelasan ada sang ibu. “Mami pikir kamu mau kabur,” sindir Angela. “Nggak akan bisa kabur, si Piktong nempelin aku mulu, Mi,” decak Fany mengingat betapa menyebalkannya Victor yang mengikutinya ke mana pun ia pergi. Kakaknya itu sampai rela mengerjakan skripsi di depan ruang kelas Fany. Victor akhirnya melepaskan Fany saat laki-laki itu dipanggil oleh dosen pembimbingnya. Meski begitu, Fany belum bisa bernapas lega, karena ternyata Victor sudah memesankan taksi online untuk mengantarnya ke rumah sakit. Benar-benar terniat sekali kakak satu-satunya itu. Sepuluh menit berlalu, seorang perawat keluar dari ruangan dan memanggil nama Fany. Setelahnya, Angela dan Fany beranjak memasuki ruangan dan disambut oleh senyuman Dokter Farel. Angela menarik salah satu kursi di depan meja Dokter Farel, lalu mengisyaratkan pada Fany agar perempuan itu duduk di sana. Setelahnya, ia menarik kursi di samping Fany, lalu mendaratkan tubuhnya pada kursi tersebut. "Bedasarkan rekam medisnya, Fany pernah mengalami kecelakaan tiga bulan lalu. Benar begitu?" tanya Dokter Farel setelah beberapa saat lalu membaca sebuah kertas di tangannya itu. "Benar, Dok,” ucap Angela membuka suara. "Sejak kejadian itu, apa ada keluhan yang terjadi berulang kali?" tanya Dokter Farel yang kali ini ditujukan padan Fany. Fany nampak berpikir sejenak. Perempuan itu mengacak kembali ingatannya pada beberapa bulan terakhir setelah kecelakaan itu. Lantas ketika berhasil menemukan sesuatu, Fany berujar, "Beberapa kali kepalaku terasa sakit banget, Dok. Aku pikir itu karena stress mikirin tugas. Apa itu ada hubungannya dengan kecelakaan waktu itu?" "Bisa jadi karena trauma di kepala pasca kecelakaan, atau bisa juga karena faktor lain," jelas Dokter Farel. Dokter laki-laki berusia sekitar dua puluh enam tahun itu kini mengalihkan tatapannya pada Angela, lantas kembali bertanya, "Pasca kecelakaan, apa Fany masih mampu mengingat hal-hal yang terjadi sebelum kecelakaan?" Fany hendak menjawab pertanyaan Dokter Farel, namun gagal karena rupanya Angela sudah lebih dulu menyahut, "Tidak, Dok." "Mi," protes Fany pada Angela yang hanya ditanggapi dengan senyuman tipis oleh wanita paruh baya itu. Kenapa Maminya menjawab seperti itu, padahal jelas-jelas dia masih mengingat betul apa saja yang terjadi sebelum kecelakaan hari itu. "Fany tidak bisa mengingat apa saja yang terjadi beberapa jam sebelum kecelakaan. Iya 'kan?" tanya Angel pada Fany untuk memastikan lagi. Pasalnya saat di London beberapa bulan lalu Fany tidak bisa menceritakan bagaimana awal kecelakaan itu terjadi. Fany mengangguk. Ia mengakui hal itu. Dalam hati, sebenarnya ia bersyukur karena tidak dapat mengingat bagaimana awal kejadian mengerikan itu. "Dan satu lagi, Dok." Angela menatap Dokter Farel serius, "Fany tidak bisa mengingat seseorang yang sangat ia sayangi. Hanya orang itu saja yang tidak dapat dia ingat," lanjut Angela. Fany tersentak mendengar penuturan Angela. Ia bahkan tidak merasa sudah melupakan seseorang. Fany masih ingat dengan jelas siapa keluarganya, siapa sahabatnya, bahkan Fany masih ingat siapa wali kelasnya saat ia duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Pertama. Fany hendak meminta penjelasan pada Maminya, namun Dokter Farel sudah menyela, "Bedasarkan informasi dari Bu Angela, saya sarankan agar Fany menjalani pemeriksaan MRI dan CT Scan, untuk tahu bagaimana jelasnya kondisi Fany saat ini." Perempuan bernama lengkap Stephany Gwen itu mengalihkan tatapannya dari Dokter Farel. Kini manik cokelatnya tertuju pada sang Mami yang ternyata wanita paruh baya itu pun melakukan hal yang sama, menatap mata Fany. Angela meremas jemari Fany seraya mengangguk pelan, seakan hal itu dilakukannya untuk meyakinkan Fany. Dengan ragu, Fany kembali menatap Dokter Farel, lantas kalimat yang ditunggu oleh Dokter Farel dan Angela itu akhirnya terucap, "Aku mau menjalani pemeriksaan itu, Dok." *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD