4. Apa Mungkin...

2489 Words
Gavin masih mematung di tempatnya ketika orang-orang yang semula berkerumun untuk memperhatikan kejadian memalukan yang baru saja Gavin alami itu perlahan mulai menjauh dan kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing. Laki-laki itu masih akan tetap pada posisinya kalau saja ponsel yang ada di saku celana jeansnya tidak bergetar. Dengan ogah-ogahan, Gavin menarik ponsel itu, lantas memeriksa apa yang membuat benda kotak itu bergetar dan menciptakan sensasi geli yang menjalari kulitnya. Rupanya spam pesan dari temannya, Segara. Empat puluh tujuh pesan dan tiga belas panggilan tak terjawab. Gavin mengembuskan napasnya, lantas jarinya menyentuh layar datar ponselnya untuk membuka pesan dari teman kampretnya itu. Di mana jing? Ini kan kelasnya Pak Budi? Lo lupa nyet? Buruan sini anjir Mampus dosennya nyariin lo Dan masih banyak lagi nama hewan dan k********r yang dikirim oleh temannya itu. Memang dasar teman k*****t, akhlakless. Beberapa saat setelahnya, Gavin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lantas berlari tunggang langgang menuju ruang kelas di mana seharusnya ia berada untuk perkuliahan dengan Pak Budi, dosen baperan yang kalau ngasih tugas suka nggak ngotak. Masih ingat kan dengan laporan praktikum yang semalam Gavin kerjakan? Iya, itu tugas dari Pak Budi, dosen berdarah biru, eh maksud Gavin dosen berdarah Batak itu. Untung saja deadline pengumpulan laporan itu besok. Kalau hari ini, sudah dipastikan tenaga dan waktu yang Gavin habiskan untuk mengerjakan laporan itu sia-sia. Pak Budi nggak akan mau menerima tugas jika mahasiswanya telat masuk ke kelas. Sembari berlari, Gavin terus mengumpat di dalam hatinya. s**l sekali, ia baru ingat kalau gedung Fakultas Ilmu Komputer berada di ujung barat gedung kampusnya, sedangkan tadi ia berada di parkiran depan yang mana berada di ujung timur. "b**o, Gavin b**o," umpatnya pada dirinya sendiri. "Kenapa nggak kepikiran untuk naik motor aja sih, blog." Gavin memang sengaja memarkirkan motornya di parkiran depan dekat gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis, fakultas Fany, sebagai alasan agar dia bisa menemui pacarnya. Padahal seharusnya Gavin tidak perlu mencari-cari alasan untuk bertemu pacarnya 'kan? Memang apa salahnya bertemu pacar sendiri. Tiga menit kemudian laki-laki itu sampai di depan kelas. Ia berhenti sejenak, menetralkan detak jantung serta napasnya yang terdengar memburu. Seumur-umur Gavin belum pernah berlari secepat tadi, ia juga beberapa kali menabrak mahasiswa lain hingga membuat mereka naik pitam sebab tak meminta maaf karena telah menabrak mereka. Setelah napasnya kembali normal, Gavin menarik ponselnya, lalu mengirim sebuah pesan pada Gara. Nyet, alihin perhatiannya Pak Budi. Gue mau masuk Pesan dibaca. Gavin sedikit membuka pintu kelasnya, mengintip melalui celah yang hanya secuil itu. Nice, Gara sedang mengalihkan perhatian Pak Budi, laki-laki itu sedang cosplay menjadi mahasiswa yang aktif di kelas dengan bertanya tentang materi yang tadi Pak Budi sampaikan. Padahal seingat Gavin, laki-laki itu tak pernah bertanya pada dosen, katanya dia saja bingung mau bertanya apa. Saat Pak Budi berbalik ke arah papan tulis dan menulis sesuatu di sana, Gavin langsung masuk ke kelas dan ngibrit menuju kursi paling belakang yang masih kosong, dengan tanpa menghasilkan suara sekecil apapun. Ia bahkan sempat menahan napasnya agar Pak Budi dan mahasiswa yang lain tidak menyadari kehadirannya. * Fany menghela napas untuk kesebelas kalinya sejak ia masuk ke mobil yang dikendarai oleh kakaknya itu. Victor yang tengah fokus mengemudikan mobilnya itu pun sebenarnya sudah gatal untuk menanyai keadaan sang adik yang sepertinya nampak kesal, yang Victor sendiri pun tak tahu apa penyebabnya. Lantas Victor memilih untuk menepikan mobilnya dan masuk ke area parkir sebuah minimarket hingga membuat Fany menyernyit tidak paham. "Ngapain berhenti di sini sih?" tanya Fany dengan intonasi yang tidak ada ramah-ramahnya barang sedikitpun. "Gue mau beli minum dulu bentar. Lo tunggu di sini aja," kata Victor sembari melepaskan safety belt yang melilit tubuhnya selama beberapa saat tadi. "Lo mau nitip apa?" lanjut Victor, yang hanya dihadiahi gelengan kepala oleh Fany, sebagai tanda bahwa perempuan itu sedang tidak menginginkan makanan atau minuman apapun. Setelahnya, Victor keluar dari mobilnya, meninggalkan Fany yang sudah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sembari memejamkan mata. Setelah masuk ke minimarket, Victor langsung menuju ke sudut bagian minuman dingin, sejenak ia nampak memilih minuman untuk menghilangkan rasa hausnya. Sebenarnya Victor merasa lega sebab Fany tidak memaksa ikut masuk ke minimarket itu bersamanya dan lebih memilih menunggunya di mobil, karena sekarang Victor jadi punya kesempatan untuk menelepon Gavin. Lima detik jemari Victor bermain di atas layar handphone-nya, setelahnya, ia mendekatkan benda kotak itu ke telinga kirinya. Namun yang ia dengar setelahnya adalah bunyi nada sambung yang monoton selama sekitar satu menit, sampai akhirnya suara mbak-mbak itu terdengar. Bukan, bukan perempuan yang mengangkat teleponnya, melainkan mbak-mbak tadi memberi tahu Victor bahwa panggilannya tidak terjawab dan menyarankan untuk mengirim pesan suara dengan cara menekan tombol angka satu. Oke, intinya Gavin tidak mengangkat telepon Victor. Itu saja. Victor mendengus, lalu memakluminya karena mungkin Gavin sedang ada kelas sehingga tidak dapat mengangkat telepon darinya. Oleh karena itu Victor memutuskan untuk menghubungi Gavin nanti sore saja, ia kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku hoodie. Setelah mengambil berapa minuman dingin dan snack, Victor kini melangkah menuju kasir untuk membayar belajaannya. "Ada kartu membernya kak?" tanya mbak kasir dengan ramah. Victor hanya menggeleng saja, tak lupa dengan senyum yang terus terukir di bibirnya. Mbak kasir memasukkan satu persatu belanjaan Victor ke sebuah goodie bag, "Totalnya tiga puluh tujuh empat ratus rupiah, kak," ucapnya. Laki-laki jangkung itupun menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah, yang kemudian diterima oleh sang kasir. "Mau sekalian isi pulsanya kak?" tanya mbak kasir lagi, tetap dengan suara ramahnya. Victor nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk da berujar, "Boleh, mbak. Isi pulsa dua puluh ribu, ya." "Tunggu sebentar ya, kak," ucap kasir, lalu perempuan berjilbab merah itu berkutat dengan komputernya selama beberapa saat. "Nomornya kak?" lanjutnya. "Pake nomor mbaknya, ya. Isi pulsanya ke nomor mbaknya." Victor tersenyum, lalu mengedipkan mata kirinya. Membuat mbak kasir yang berada di depannya itu menunduk dan tersipu malu. Bisa-bisanya pembeli di minimarket tempatnya berkeja itu lebih manis daripada pacarnya sendiri. "Berarti totalnya lima puluh dua ribu delapan ratus rupiah, ya. Silakan, kembaliannya, kak. Terima kasih.” Mbak kasir itupun menyerahkan uang kembalian beserta struk belanjaan pada Victor, setelah beberapa saat lalu ia mati-matian menetralkan ekspresi wajahnya. Setelahnya, Victor kembali ke mobilnya dan masih mendapati Fany yang masih saja cemberut. Sampai-sampai Victor ingin sekali mengareti bibir Fany menggunakan karet nasi bungkus, saking gemasnya dengan kelakuan sang adik. "Kita jadi ke dufan?" tanya Victor pada Fany setelah ia duduk di kursi kemudinya. "Nggak. Gue lagi nggak mood," sahut Fany tanpa berniat untuk membuka matanya yang sudah ia pejamkan selama beberapa saat lalu. "Lo kenapa sih? Ada masalah apa?" tanya Victor lagi, kali ini dengan mengusap puncak kepala Fany, membuat perempuan mungil itu membuka kelopak matanya. Fany menyingkirkan tangan besar milik kakaknya itu dari kepalanya, lalu mendegus pelan, "Abis dipeluk orang aneh. Sebel." "Hah? Siapa yang berani-beraninya meluk adek gue?" Victor membelalakkan matanya. Kini kedua mata laki-laki itu terbuka sempurna, terkejut dengan penuturan adiknya itu. Ia kira, Fany kesal dengan Gavin. Tapi ternyata bukan ya? "Nggak tau," ujar Fany malas. Mengingat-ingat kejadian memalukan di parkiran kampus tadi hanya akan membuat darahnya kembali mendidih. “Oh iya, gue udah beliin lo kopi alpukat nih, mau minum dulu?” Victor melirik goodie bag berisi belanjannya tadi, berniat untuk mengambilnya namun gagal saat Fany menolaknya mentah-mentah. “Kalau oreo, mau?” tanya Victor lagi. Fany menatap tajam pada Victor, membuat laki-laki itu sedikit bergidik ngeri, "Piktong, cepetan jalan, atau gue yang nyetir?” "Iya, ampun, Baginda Ratu,” cicit Victor seraya menyalakan mesin mobilnya. Di saat seperti ini Victor lebih baik mengalah dan banyak-banyak menahan diri untuk tidak mengoceh, daripada Fany memaksa untuk mengambil alih kemudi dan mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. * Pukul tiga sore, mata kuliah dari Pak Budi baru selesai, dan kini Gavin memilih untuk duduk di bangku parkiran tempat ia memarkirkan motornya tadi pagi. Sepertinya hari ini memang benar-benar hari s**l bagi Gavin. Tadi Pak Budi sudah tahu bahwa ia telat masuk ke kelas, sehingga dosen keturunan Batak itu memberinya bonus tugas yang lagi-lagi harus ditulis tangan. Padahal isi tugasnya kebanyakan syntax pemrograman yang cukup rumit jika harus ditulis tangan. Gavin kini memandangi ponselnya. Terdapat panggilan tak terjawab dari Victor, kakak Fany. Gavin tidak tau apa alasan laki-laki itu meneleponnya, tetapi Gavin juga tidak berniat untuk menelepon balik, toh sebentar lagi ia akan meluncur ke rumah Fany bersama motornya, Gavin ingin meminta penjelasan pada perempuan itu. Setelah mengemasi barang-barangnya ia bergegas menuju motornya, menyalakan mesinnya, lalu melajukan motor putih kesayangannya yang biasa ia panggil dengan sebutan si Sexy itu. Perjalanan dari kampus ke rumah Fany tidak membutuhkan waktu yang lama karena Gavin mengendarai sepeda motor. Tetapi akan lain ceritanya ketika ia mengendarai mobil, karena padatnya kendaraan di Ibu Kota selalu berhasil menyebabkan kemacetan. Terlebih saat jam berangkat dan pulang kerja. Ketika sampai di depan gerbang sebuah rumah berlantai dua yang cukup luas itu, Gavin turun dari motornya lantas memanggil salah satu satpam yang bekerja untuk menjaga keamanan di rumah itu "Pak Edi," panggil Gavin pada pria paruh baya yang mengenakan seragam bertuliskan "Security" itu. "Oh, Den Gavin. Sebentar, saya bukakan gerbangnya dulu, Den," sahut pak Edi dari dalam posnya. Pak Edi memang sudah mengenal Gavin, karena laki-laki jangkung itu sering sekali datang kemari untuk bertemu dengan Fany, putri majikannya. "Mau ketemu Non Fany, ya?" Pak Edi mengerlingkan matanya, menggoda Gavin yang hanya senyum-senyum nggak jelas di balik helm full face yang ia kenakan. Menurutnya, Gavin itu anak yang baik dan sopan, sehingga Pak Edi merupakan salah satu orang yang sangat mendukung hubungan Gavin dengan Fany. Kalau kata anak-anak jaman sekarang sih, Pak Edi itu FanVin Shipper. Ciah, alay sekali Pak Edi ini. "Makasih, Pak Edi. Gavin masuk dulu ya," ucap Gavin saat gerbang yang semula menghalanginya itu sudah terbuka lebar. Laki-laki itu kembali naik ke motornya, lalu melajukannya perlahan menuju pekarangan rumah Fany yang dipenuhi dengan pot-pot berisikan tanaman hias. Gavin membunyikan bel yang terletak di dekat pintu rumah yang bisa dibilang cukup mewah itu. Tidak sampai dua menit, pintu itu terbuka, menampilkan seorang perempuan yang berusia lima tahun lebih tua dari Gavin. "Den Gavin, mau ketemu Non Fany, ya?" tanya perempuan itu kala mendapati seseorang yang membunyikan bel tadi adalah pacar dari putri pemilik rumah ini. Gavin tersenyum tipis, "Nggak, Teh. Gavin mau ketemu Mami," ucapnya. "Kebetulan Ibu sudah pulang dari satu jam yang lalu. Ya sudah, ayo masuk dulu, Den." Teh Mila, perempuan asal Ciamis yang sudah beberapa tahun menjadi Asisten Rumah Tangga di keluarga Fany itu mempersilahkan Gavin untuk masuk. Sementara Teh Mila memanggil wanita paruh baya yang Gavin sebut Mami tadi, Gavin duduk di sofa ruang tamu sembari membuka jaket yang sedari tadi ia kenakan. Gavin menjelajahi setiap sudut ruangan melalui bola matanya. Sudah lama ia tak mengijakkan kakinya di rumah ini, padahal dulu ia hampir setiap hari datang, entah untuk sekedar bermain ataupun mengerjakan tugas bersama Fany. Bisa dibilang, keluarga Fany sudah seperti keluarga Gavin sendiri. Terlebih Angela, Mami Fany yang selalu memberi kehangatan pada Gavin layaknya seorang ibu kandung. “Gavino.” Gavin menolehkan kepalanya saat suara wanita paruh baya itu memanggil namanya. “Hai, Mi,” ujar Gavin lantas beranjak dari tempat duduknya dan mencium tangan Angela. “Kenapa baru ke sini? Kamu nggak kangen sama Mami?” gurau Angela saat keduanya sudah duduk pada sofa yang saling berhadapan. Gavin menyengir lebar, lalu menjelaskan bahwa sejak awal semester lalu banyak sekali tugas dan laporan yang harus ia kerjakan sehingga tak memiliki waktu yang leluasa untuk berkunjung ke kediaman keluarga Gwen itu. “Oh iya, tadi di kampus udah ketemu Fany?” tanya Angela setelah ia menyeruput secangkir teh hangat yang telah disuguhkan oleh Teh Mila beberapa saat lalu “Udah. Makanya aku mau tanya sesuatu sama Mami,” ucap Gavin. Kali ini nada bicaranya berubah serius, membuat Angela menyernyit, merasa penasaran dengan sesuatu yang akan ditanyakan oleh laki-laki di hadapannya itu. “Kenapa, hm?” Gavin menghela napasnya pelan, “Aku ditampar Fany setelah meluk dia tadi.” “Kok bisa? Kalian berantem?” Angela tersentak. Penuturan dari Gavin barusan benar-benar mengejutkannya. Ia tahu betul sifat putrinya, Fany tidak akan melakukan hal seperti itu, terlebih pada Gavin, orang yang sangat ia sayangi. Gavin nampak berpikir sejenak, mengingat kembali hal-hal yang terjadi mulai dari enam bulan lalu, sebelum Fany berangkat ke London “Seingat aku, kami saling lost contact sejak kejadian hari itu. Dan sebelum itu pun hubungan kami baik-baik aja.” Angela menyandarkan punggungnya pada sofa, wanita paru baya itu tengah menerka tentang apa yang tela terjadi pada putri bungsunya itu. “Mi, fix sih ini, Fany kerasukan singa betina yang lagi pms.” Suara gaduh yang berasal dari Victor di lantai dua itu berhasil menginterupsi Angela dan Gavin dari lamunannya masing-masing. Angela hanya menggeleng pelan, palingan dua kakak beradik itu saling lempar-lemparan bantal. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selagi s*****a yang mereka gunakan bukanlah benda tajam. “Oit, bro. kapan dateng lo?” sapa Victor ketika ia sudah sampai di ruang tamu dan mendapati Gavin duduk bersama sang ibu di sana. “Kira-kira lima belas menit yang lalu, Bang,” sahut Gavin. Tak lupa keduanya ber-high five, sebagai tanda dari keakraban mereka berdua. Victor pun ikut duduk di samping Angela, lalu tanpa permisi, ia curhat tentang kelakuan Fany yang kejam padanya. Padahal Victor hanya ingin memastikan kalau perempuan itu benar-benar tidak mau menerima kopi alpukat dan oreo yang tadi Victor belikan di minimarket. Lalu makian dari Fany pun tak dapat ia hindari lagi. Katanya, Victor tidak ikhlas saat membelikannya camilan, dan dengan seenak udelnya Fany menuduh bahwa alasan Victor ke minimarket tadi hanya untuk modus dengan kasirnya saja. Walaupun tidak sepenuhnya salah sih. Tapi tetap saja Fany kelewat kejam karena perempuan itu menggebukinya menggunakan guling, yang bahkan guling itu hampir robek, saking brutalnya pukulan Fany. “Terus, Mi, tadi Fany bilang, dia abis dipeluk sama orang aneh. Nggak bisa dibiarin sih ini. Aku harus samperin orang aneh yang udah berani meluk Fany,” ucap Victor sembari menerawang, membayangkan bagaimana rupa orang aneh yang sudah seenaknya memeluk adik satu-satunya itu. Mendengar ucapan Victor, Gavin berdehem, “Bang, orang aneh yang meluk Fany itu gue,” decak Gavin. “Seriusan?” tanya Victor. Ia tak menyangka kalau orang yang tadi ia bicarakan itu ternyata berada di depan matanya. Gavin mengangguk, berusaha meyakinkan Victor, “Fany bilang dia nggak kenal sama gue, Bang.” Victor mengerutkan dahinya, kini ia teringat akan sesuatu, “Kemarin gue nyuruh Fany buat ngabarin lo, tapi dia bilang kalau dia tidak kenal dengan Gavin. Bahkan parahnya lagi, Fany bilang dia nggak punya pacar.” Kalimat terakhir Victor tentu membuat Gavin tersentak. Bagaimana bisa Fany mengatakan bahwa ia tidak punya pacar, sedangkan Gavin ataupun Fany sendiri pun tak pernah sesekali mengucapkan kata putus untuk hubungan mereka. Kini wajah Victor berubah serius. Tidak ada guratan bercanda pada ekspresinya. Setelah menarik napas cukup panjang, Victor kembali berujar, “Mi, semoga dugaanku ini salah, tapi apa mungkin terjadi sesuatu pada Fany yang nggak kita sadari?” “Maksud kamu?” tanya Angela, belum paham dengan arah pembicaraan putra sulungnya. “Apa mungkin Fany… amnesia?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD