2

1028 Words
Suara gedoran pintu mengganggu tidur pulasnya. Tapi itu tidak membuat Ovie bangkit untuk melihat siapa yang memasuki kamarnya. Beberapa detik kemudian, jendela kamarnya terbuka dan lampu kamarnya yang menyala terang berhasil membuat Ovie membuka matanya. Dia mengambil posisi duduk dan menyadari di luar sana matahari belum menunjukan kehadirannya. Ini masih terlalu dini untuk bersiap-siap ke sekolah. Ovie menguap, hendak masuk ke dalam selimut, namun sebelum itu tubuhnya berhenti bergerak ketika dia mendengar suara air dari kamar mandinya. Ovie lantas menatap pintu kamar mandinya yang setengah terbuka. "Kak Maudy?" dia memanggil nama kakak ke duanya, namun tak ada balasan. "Kak, ngapain sih?" "Kak!!!" Ovie memanggil lagi dengan suara lebih keras. Tiba-tiba angin kencang yang berasal dari luar membuat dirinya merinding. Ovie mengambil posisi meringkuk, memeluk lututnya dan menatap pintu kamar mandi dengan tatapan waspada. Jantungnya berdegup cepat. Ovie mencari ponselnya di atas nakas. Dia selalu meletakan benda persegi panjang itu di sana. Matanya sontak membola ketika dia dapat menemukan benda itu. Ovie masih mencari keberadaan ponselnya itu hingga tidak menyadari seseorang yang keluar dari kamar mandinya. "Nyari ini?" Ovie menoleh. "Kak Kevin ngapain di sini?!" dia berteriak. Sepenuhnya terkejut melihat keberadaan pria yang memakai celana training dan sweeter abu-abu lengan panjang yang digulung sampai ke siku itu berada di dalam kamarnya— atau keluar dari kamar mandinya. Cowok itu mendekat dan memasukan ponsel Ovie ke dalam saku celananya. "Kakak tau kamu pasti langsung cari ini setelah bangun tidur." Ovie memberengut. "Ini bahkan bukan jam bangun tidur aku." "Mulai sekarang jam setengah lima akan jadi jam bangun tidur kamu." "Apa?!" Ovie melirik singkat pada jam dindingnya, sekarang sudah pukul lima. "Karena telat tiga puluh menit, jadi kita skip ke aktivitas selanjutnya." "Aktivitas selanjutnya?" Ovie membeo, dia masih belum paham. "Emang ada aktivitas sebelumnya?!" "Olahraga. Cuma lari keliling komplek dua putaran." "Lari keliling komplek?!" Ovie syok. Dia mengerti kakaknya pasti tidak suka melihatnya hidup santai, tapi menyiksanya dengan lari-lari dipagi hari... dia pasti sudah gila. "Nggak—" "Tunggu apalagi? Sana mandi. Udah jam berapa sekarang?" Kevin lebih dulu memotong segala tindak protesnya. "Kak, aku biasa tidur jam dua belas dan harus bangun jam setengah lima?" "Kakak nggak nyuruh kamu tidur jam dua belas." "Tetep aja. Aku nggak biasa mandi di jam segini. Airnya—" "Dan itu kenapa kakak udah siapin air panas. Sana mandi." Cowok itu memberinya kode untuk masuk kamar mandi dengan dagunya. "Aku nggak akan terlambat meskipun mandi jam enam. Aku biasa sarapan di mobil, jadi nggak akan terlambat." "Mulai sekarang nggak boleh sarapan di mobil." Kevin mulai berjalan melangkah ke luar kamar Ovie. "Kenapa tiba-tiba banget, kakak juga nggak pernah diskusiin ini sebelumnya." Ovie mengambil napas dalam. Menyerah sekarang artinya kalah. Dan Ovie tidak ingin Kevin memegang kendali atas hidupnya. Ovie tidak akan diam saja ketika keadilan atas hidupnya direbut, jadi dia akan bertindak— "Kamu nggak setuju? Kalau gitu ponsel kamu nggak akan kakak balikin." —Atau lebih baik nggak usah. *** Selesai berpakaian, Ovie buru-buru menuruni anak tangga dan berjalan mengendap-ngendap menuju meja makan. Di sana dia melihat Maudy sedang menikmati waffle. Ovie menghampiri perempuan itu sambil melihat ke sekitar. Aman. Tak ada tanda-tanda Kevin di rumah ini. "Kak Maudy," Ovie memanggil. "Hm?" cewek itu bergumam. "Mau? Ambil aja, mama bikin wafflenya lebih." Ovie menggeleng. "Kita harus protes." Maudy mengernyit. Dia menatap Ovie, tidak mengerti apa yang adik perempuannya itu maksud. "Protes apa? Ke siapa?" tanyanya. Ovie memelankan suaranya dan mendekatkan wajah mereka. "Kak Kevin," balasnya. Maudy mengerjap. Menatap adiknya yang usianya tiga tahun lebih muda darinya. "Kenapa kak Kevin?" Ovie berdecak. Maudy susah sekali mengerti maksudnya. "Itu loh... dia buat aturan baru yang nggak masuk akal! Sama sekali nggak masuk akal! Duh, dia pulang ke Indonesia kan buat kerja bukan buat ngurusin hidup kita!" "Kayaknya kak Kevin nggak ngapa-ngapain..." "Nggak ngapa-ngapain apanya?!" sembur Ovie cepat. "Dia jelas udah ngapa-ngapain!" Maudy tertawa gemas melihat Ovie yang nampak berapi-api. "Ovie, udah ya, stop. Kamu sama kak Kevin kann bukan anak kecil kayak dulu lagi. Berhenti kekanakan kayak gitu ah." Rasanya Ovie mau nangis. Apa tadi? Kekanakan? Siapa yang kekanakan? Ovie bertindak menuruti hatinya. Dan segala tindakannya didasari atas apa yang dia rasakan. "Kak Maudy..." "Minggu ini mau jalan-jalan, nggak?" Maudy bertanya sambil menaik turunkan alisnya dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Apa itu?" "Kunci mobil." "KUNCI MOBIL?" Bola mata Ovie membola. "Dapat dari mana? Bukannya mama belum bolehin kak Maudy bawa mobil lagi?" Tentu saja itu jadi cerita dalam keluarga mereka. Terakhir kali yang Ovie ingat, Maudy membawa mobilnya hingga menabrak lampu lalu lintas. Sejak itu pula Luna tidak mengijinkan putrinya membawa mobil. "Kak Kevin yang bolehin." "APA?" "Iya, dia semalam lihat aku pulang naik motor. Katanya bahaya buat cewek keluar di jalanan naik motor. Lagipula, sekarang aku nggak bakal ketuker lagi kok antara rem dan gas." "Kak Maudy seneng kak Kevin pulang?" "Semua orang juga seneng." 'Semua orang kecuali aku!' batin Ovie menjerit. "Kak Kevin juga bawa makanan dan baju-baju dari Jerman. Nanti kita buka bareng-bareng, ya?" 'Sampai kapanpun nggak mau!" Ovie mengangguk pasrah. Dia mengambil sepiring waffle untuk dia makan. Sungguh kesal sekali ketika mengetahui tak ada satupun orang yang berada dipihaknya. Ovie mengambil satu gigitan sambil meratapi nasibnya. Bahkan ponselnya sekarang entah berada di mana dia tidak tahu. "Kak Maudy berangkat jam berapa?" Ovie bertanya. "Habis ini jalan." "Eh, aku bareng, ya?" "Nggak, nggak. Kamu kan udah bareng kak Kevin." "Apa maksudnya bareng kak Kevin?" "Ya, iya, sekarang kita udah nggak pakai supir lagi." "HAH?!" Maudy berdiri dan mencuci tangannya di westafel. Dia menatap Ovie yang mematung di tempatnya duduk. "Jangan bilang... kak Kevin yang..." "Iya. Lagian pak Anton kan udah tua, ya... kasian kalau harus nganterin kamu ke mana-mana. Mana matanya agak rabun, bahaya juga 'kan." Ovie meremas rok sekolahnya kuat-kuat. "Jadi, yang nganterin aku kak Kevin?" "Iya, setiap hari," balas Maudy santai. "Baik banget 'kan kak Kevin masih mau nyempetin nganter kamu sekolah sebelum berangkat kerja?" Ovie kehilangan nafsu makannya. Dia hanya duduk dan terdiam. Mungkin orang-orang berpikir dia terlalu mendramatisir, tapi tak ada yang mengerti kalau sebenarnya Ovie sudah sangat lama merasa bahwa kakaknya yang bernama Kevin tidak pernah menyukainya. Untuk alasan apapun itu, dia juga tidak tau. Atau mungkin lebih baik jika dia tidak pernah tau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD