Setumpuk kertas nampak memenuhi meja kayu di depannya. Satu-satunya orang di dalam ruangan itu fokus pada sebuah berkas dokumen perusahaan di tangannya. Kacamatanya bertengger di hidung mancungnya sejam satu jam yang lalu.
Kevin mengambil secangkir kopi di atas meja dan meminumnya guna menambah konsentrasinya. Dia meletakkan cangkir itu kembali, tepat ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya.
Seorang pria yang dia kenal dengan sangat baik masuk.
Kevin mengambil duduk dengan sopan ketika Seno ada di hadapannya. "Ada apa lagi, pa?" dia bertanya.
"Ini berkas tambahan. Isinya ada nama-nama partner bisnis kita, mungkin kamu ingin tau bagaimana data mereka, dan memutuskan apakah kontrak kerja sama yang udah dibuat berlanjut atau enggak."
Kevin mengangguk dan mengambilnya. "Terima kasih. Nanti aku lihat."
Seno menepuk pundak putranya dengan bangga. Dia yakin sekali seratus persen masa depan perusahaan keluarga mereka akan berkembang dengan baik di tangan Kevin.
"Di bawah meja ada tombol yang terhubung ke pantry, jadi kalau kamu butuh kopi atau sesuatu bisa ada yang bantu."
Kevin mengangguk. "Iya, pa, aku ngerti."
"Kamu juga boleh ubah dekorasi ruangan ini. Lakukan apapun yang bikin kamu nyaman. Karena cepat atau lambat ruangan ini 'kan sepenuhnya milik kamu," kata Seno lagi. Pria dewasa itu berjalan ke sisi ruangan. Menatap salah satu bingkai foto yang dia gantung di sana. Bingkai foto keluarga mereka. Dia, istrinya dan tiga anak mereka yang saat foto itu diambil mereka masih kecil.
Sontak pandangannya menyendu. Namun kemudian dia menghempas perasaan yang menyelimutinya akan kesedihan tersebut.
"Lima menit lagi udah jam makan siang? Kamu mau cari makan siang di luar atau di kantin?"
Kevin melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Kemudian buru-buru membuka jas kerjanya dan merapikan kertas-kertas yang baru saja dia baca. "Aku mau jemput Ovie, pa."
"Jemput Ovie?" Seno membeo.
"Iya. Pak Anton kan udah pensiun. Jadi selama belum ada penggantinya, biar aku aja."
Seno mengernyit. "Ovie nggak perlu dijemput, dia bisa naik taksi kok."
"Tapi aku udah janji buat jemput. Nggak apa-apa, nanti sekalian aku ajak dia makan di luar." Kevin berjalan menuju pintu.
Seno tak bisa lagi menahan Kevin. Dia mengangguk dan menatap pintu yang tertutup.
***
Ovie sedang duduk di atas meja sambil mengayunkan kakinya ketika Laura sedang mengepel kelas mereka. Siapapun yang melihatnya pasti tau bahwa perasaannya sedang tidak senang. Ovie mendengus.
"Vi, awas kakinya."
Ovie menaikan kakinya sedikit agar Laura bisa mengepel ke kolong meja yang dia duduki saat ini.
"Dion sama Genta awas aja mereka kalau besok minta contekan, nggak bakal gue kasih!" gerutu Laura. "Nggak setia kawan banget sih!"
Ovie mendongak untuk melihat wajah kesal Laura. Kemudian dia tertawa pelan. "Tapi suka 'kan?"
"Apaan? Suka siapa?! Tolong, ya, Ovie, gue nggak suka sama Genta!" Laura mengatakan itu sambil bertolak pinggang dan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya sangat penuh penekanan. Seolah gadis itu enggan mendapat fitnah paling keji seperti itu.
"Gue nggak sebut nama Genta deh."
"Ah, lo sama aja nyebelinnya." Laura kembali mengepel lantai. "Kenapa nggak pulang aja sana sama Dion, kata lo pak Anton udah nggak kerja lagi, kan?"
Ovie menatap ke luar lorong yang sudah sepi. "Justru karena itu."
"Karena itu? Karena itu apa?"
"Gue udah nggak bisa pulang sama siapapun lagi! Bahkan kalau itu sama bapak kepala sekolah sekalipun!"
Laura meletakan kain pel itu ke dalam ember. Dia tersenyum bangga menatap lantai kelasnya yang sudah bersih dan wangi. Kemudian menatap wajah Ovie yang muram.
"Oke, gue rasa lo berlebihan. Kak Kevin udah nggak begitu kok. Buat apa juga kan dia bersikap nyebelin kayak dulu? Mungkin dulu dia iseng dan jadi kesenangannya sendiri buat gangguin adiknya, tapi sekarang apa untungnya buat dia? Dia nggak punya alasan buat ngelakuin itu."
"Persis!" seru Ovie.
"Persis apanya?" Laura mengernyit.
"Persis sama apa yang kak Maudy bilang. Kurang lebihnya dia juga bilang kak Kevin nggak akan semenyebalkan dulu. Tapi buat gue dia yang dulu atau sekarang sama aja."
Laura memakai tasnya dan menghampiri Ovie.
"Kalem aja. Lo bisa bilang gitu karena udah tertanam di otak lo kak Kevin orang yang seperti itu."
Ovie meloncat turun dari meja dan mereka berdua sama-sama berjalan melewati lorong. "Gue pikir apa kata Genta bener. Kak Kevin itu Vecna. Dan semua orang udah kena kutukannya. Lo, mama, papa, kak Maudy. Semua."
Laura memutar bola matanya. "Jangan jadi gila kayak Genta deh, Vi."
"Beneran!"
Ovie kesal sekali sejak dari pagi. Kenapa tidak ada satupun orang yang percaya padanya sih?!
"Terus sekarang lo mau pulang naik apa?"
Ovie membuka ponselnya. Tidak ada pesan dari kakak tertuanya. Ovie tidak tau apakah kakaknya itu betul-betul akan menjemputnya atau tidak. Namun di dalam hatinya yang paling dalam, dia berharap kakaknya itu tidak datang. Atau kalau boleh, semoga saja ban mobilnya bocor dan cowok itu mengalami kesulitan di jalanan.
Ovie berpikir sejenak sambil mengunci layar ponselnya.
"Entah. Gue naik taksi aja kali, ya. Eh atau gue bareng lo naik bus aja."
"Eitss, nggak boleh!"
Ovie memberenggut. "Kenapa lagi?
"Tuh, kakak tercinta lo udah datang."
Bertepatan dengan itu pula, ponsel Ovie bergetar. Sebuah panggilan masuk tertera di layar ponselnya.
Ovie membatu, ketika itu waktu terasa melambat, dan dia ingin menjadi satu-satunya hal yang mampu bergerak lebih cepat dari apapun yang ada di bumi. Sebab dia ingin lari dan menghindari pria yang beberapa langkah di depannya— yang sekarang sedang berbalik dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Kevin menurunkan tangannya kala melihat Ovie berdiri kurang dari lima meter di depannya. Dia terdiam menunggu Ovie berjalan ke arahnya.
"Selamat siang, kak Kevin." Kevin tersenyum tipis dan mengangguk membalas sapaan dari teman perempuan Ovie ketika kedua gadis itu berhenti di depannya.
"Mau bareng?"
"Nggak, nggak usah, kak. Hehehe. Terima kasih, tapi aku bisa pulang naik bus."
Ovie hanya diam. Diam-diam memutar bola matanya ketika kakaknya itu bersikap pura-pura baik kepada oranglain, menurutnya.
Mereka bertiga akhirnya berjalan keluar gedung, dan berpisah ketika Ovie dan Kevin harus berjalan ke area parkiran.
Ovie terus diam. Lagipula apalagi yang harus dia lakukan memangnya? Menanyai kabar pria itu? Bertanya apakah ban mobilnya baik-baik saja?
Dia mendengus sambil memasuki mobil.
Kalau dipikir-pikir, moodnya memang tidak pernah bagus semenjak kedatangan Kevin.
Mobil mulai melaju keluar dari lingkungan sekolah. Ovie tidak berminat memainkan ponselnya. Dia trauma ponselnya akan diambil lagi. Gadis itu tersentak ketika tangan Kevin yang besar menyentuh keningnya.
"Kenapa kamu? Sakit?" Kevin menurunkan tangannya dan melirik Ovie sekilas.
"Nggak."
"Kenapa diam aja?" cowok itu bertanya lagi.
"Nggak apa-apa."
"Kamu marah?"
'Harus banget ditanya?'
Ovie pura-pura tertawa canggung. "Nggak, kak."
Kevin melirik gadis itu sekali lagi. Diam-diam bertanya pada dirinya apa yang salah?
"Eh?" Ovie baru menyadari bahwa jalan yang mereka lalui bukanlah jalan yang menuju rumah mereka.
"Kita makan dulu, ya?"
Rasanya Ovie ingin menggeleng keras dan menolak. Tapi memangnya dia bisa?
"Aku nggak lapar."
"Kakak yang lapar."
"Tapi—"
"Cuma sebentar. Kamu kenapa terus menolak sih?"
'Karena aku nggak mau lama-lama sama kakak!'
Ovie cemberut ketika mobil yang dia tumpangi berbelok dan memasuki sebuah cafe yang tak asing untuknya. Ini adalah cafe yang sama dengan yang kemarin. Cafe yang sering dia dan teman-temannya datangi.