Ovie tidak banyak bicara setelah Kevin membukakan pintu untuknya. Dia masuk ke dalam cafe, setelah itu Kevin menghilang. Betul. Cowok itu tiba-tiba tidak terlihat wujudnya. Ovie pikir tadi kakaknya sedang pergi untuk memesan makanan, namun ketika Ovie melirik ke antrian, eksistensi cowok itu nihil.
Gadis itu melihat mobil yang masih terpakir di luar. Dia menghela napas, dan berpikir mungkin Kevin sedang berada di toilet. Maka dia memutuskan untuk memainkan ponselnya selama tak ada Kevin di sana.
Di lantai dua, tepatnya di kamar khusus staf, Kevin sedang berbicara dengan teman-temannya.
"Jadi, gimana? Lo suka di sini?"
Zefanny tersenyum. Perempuan cantik yang menemaninya selama di Jerman itu memutuskan untuk ikut pulang ke Indonesia bersamanya. Zefanny sudah seperti adik perempuan bagi Kevin. Usia perempuan itu sama dengan Maudy. Mereka berkenalan dalam situasi yang kurang mengenakan.
Zefanny merupakan seorang putri yang tega dijual oleh ayahnya. Kevin memiliki simpati yang besar untuk perempuan itu. Dia hanya tidak bisa membayangkan jika Ovie atau Maudy ada di posisi seperti itu. Jadilah dia mengambil Zefanny dari ayahnya saat itu ketika gadis itu masih berusia 16 tahun. Mereka tidak pernah melakukan apa-apa. Pun Kevin memang bukan orang yang sembarang berhubungan dengan wanita.
Zefanny mengangguk. "Thank you, Kevin!" Dia mendekat pada Kevin dan melingkari tangannya di leher cowok itu. Memeluknya dengan penuh kasih.
Kevin mengusap bahu Zefanny pelan dan segera melepaskan pelukan itu.
"Gue juga udah kenal Rizal. Dia nggak sulit buat diajak bicara."
Kevin mengangguk. Sejujurnya Cafe Blather adalah miliknya, namun tak ada satupun dari keluarganya yang tau bahwa dialah pendiri Cafe yang sering di datangi oleh Ovie ini. Namun jika ada yang bertanya siapa pemilik cafe ini, maka Rizal adalah jawabannya. Kevin sendiri yang menginginkan demikian. Dia tidak ingin ada yang tau.
"Ada Ovie di bawah. Lo mau kenalan?"
Zefanny terkejut mendengarnya. "Oh, ya? Hmm, kayaknya nggak sekarang." Perempuan itu berjalan ke sisi ranjang.
Kevin berjalan ke arah pintu. "Oke, gue tinggal, ya?"
Zefanny tertawa. Dia melambai. Dia tau segala kebaikan yang Kevin berikan padanya tidak lebih dari kasih sayang kakak kepada adiknya.
Kevin kembali turun ke lantai satu. Dia melihat Rizal sedang membawakan pesanannya ke mejanya yang diisi oleh Ovie.
Gadis itu nampak bingung. Mengapa bisa kakaknya yang bahkan belum memesan, namun makanannya sudah datang?
"Mas, kayaknya salah meja—"
"Terima kasih." Kevin menyela lebih dulu ucapan Ovie. Rizal menatapya. Sedari tadi dia kasian melihat Ovie yang hanya diam tak memakan apapun, makanya dia datang dengan inisiatifnya sendiri dan membawakan red velvet slice cake dan milk tea.
Rizal segera pamit dari sana begitu Kevin sudah duduk di depan Ovie.
Ovie mengernyit menatap makanan kesukaannya ada di depannya. "Kayaknya kak Kevin belum pesen apapun deh."
"Udah."
Ovie masih mengernyit. "Siapa yang bilang aku mau cake red velvet?" dia bertanya.
"Bukannya kamu suka?"
"Aku nggak pernah bilang apa makanan kesukaan aku..." dia bergumam, merasa curiga. "Kenapa kakak bisa tau?"
Kevin berdehem. "Itu salah satu menu populer di cafe ini, kan? Insting kakak percaya kamu bakal suka."
Kini, Ovie tidak lagi memperdebatkan hal itu. Dia memakannya dengan tenang.
Tidak mungkin kan Kevin mengatakan kalau dia tau hari apa, jam berapa, bersama siapa, dan apa saja yang Ovie pesan tiap kali gadis itu datang ke sini?
Karena sejujurnya, dia tau itu semua.
Empat tahun belakangan ini, selama dia masih di Jerman, dia masih memperhatikan Ovie.
Dia membangun cafe ini... cafe yang dekat dengan sekolah Ovie bertujuan agar dia bisa meminta Rizal untuk memberitahunya keadaan Ovie selama dia kuliah dan menatap di Jerman untuk waktu yang cukup lama.
Kevin masih menatap wajah Ovie yang sedang menikmati cakenya.
Tak ada yang berubah.
Sama sekali tidak ada.
Fitur wajah gadis itu. Caranya makan. Halus rambutnya. Semuanya masih sama persis seperti yang terekam di benaknya.
***
Ovie merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah tidur siangnya yang panjang. Ketika dia terbangun, jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Ovie segera turun ke bawah, niatnya meneguk sebotol air dingin. Sore ini rumahnya terasa sangat sepi. Ovie sendiri tidak tau pergi ke mana seluruh penghuni rumahnya.
Ovie berjalan ke dapur dan mengambil air dingin dari sana untuk ia minum. Dia memutuskan untuk mengambil beberapa keripik kentang dan memakannya sambil menonton televisi di ruang tengah.
Meskipun tak ada acara yang menarik, Ovie tetap menikmati apa yang tersaji depannya. Tak lama kemudia dia mendengar pintu utamanya terbuka, kakaknya muncul dari sana.
"Ke mana yang lain?" cowok itu bertanya.
Ovie mengangkat bahunya. "Nggak tau. Aku baru bangun tidur." Kemudian dia lanjut mengunyah keripik kentang kesukaannya tersebut dan matanya fokus pada tontonannya. Dia tidak begitu memperhatikan apa yang kakaknya lakukan.
"Ovie." Kevin berjalan mendekat perlahan. Tatapan cowok itu lurus pada suatu objek. Ketika merasakan Kevin berdiri di depannya, Ovie mendongak.
"Kenapa, kak?" dia bertanya, bingung. Apa lagi yang kakaknya ini mau?
"Jangan bergerak," kata cowok itu.
Ovie mengernyit. "Ke—"
"Ada kecoa."
"APA? DI MANA?"
"Jangan bergerak!"
Mata Ovie membola sempurna. Seluruh tubuhnya kaku. Dia bahkan tidak berani menoleh ke samping tubuhnya.
"Jangan bergerak!" kata cowok itu lagi.
"Aku nggak gerak sedikit pun!" Ovie mulai gemetar. Kecoa adalah hal paling dia benci lebih dari apapun. Dia punya kenangan buruk mengenai hewan itu. "Kak Kevin..." Wajah Ovie memerah. Dia ketakutan dan ingin menangis.
Ovie melirik kakaknya yang hanya diam. Dia merasa ditipu.
"Kakak bohong, ya?!" Ovie berteriak kesal. Dia tidak mungkin lupa bagaimana menyebalkannya kakaknya ini.
Ovie memasang wajah sebal dan berdiri dari tempatnya. Merasa dipermainkan. Jika ini betulan sebuah keisengan belaka maka dia tidak akan pernah mau memaafkan Kevin.
"Ovie—"
"Jahat banget, sih!" Ovie menghentakan kakinya ke lantai. Namun sedetik kemudian dia menjerit ketika melihat sesuatu yang terbang melintas di depan matanya.
Ovie berteriak ketakutan dan memeluk Kevin. Ketika itu Luna dan bibi Siti yang baru pulang dari minimarket datang.
"Eh, Ovie kenapa?"
"Mama, ada kecoa!!!" Ovie berlari menuju sang mama, dan memeluknya.
Bi Siti langsung sigap mengambil semprotan anti serangga, Kevin segera menyemprotkannya hingga kecoa itu jatuh ke lantai.
Ovie masih memeluk Luna erat. Wajahnya merah, dia menangis, bulu kuduknya berdiri, dia merasa mual karena perasaan jijik menyergapnya. Luna membawa Ovie untuk segera duduk di sofa. Guna menenangkan putrinya, dia pergi ke dapur dan membuatkan segela s**u coklat.
Kevin duduk di samping Ovie. Tangannya terulur ragu untuk mengelus surai Ovie, dia merapikan rambut gadis itu menggunakan jari-jarinya.
"Maaf," ujar Kevin.
Ovie tak memberi respon. Gadis itu mengusap air matanya.
"Kakak cuma nggak mau bikin kamu makin panik."
Ovie mengangguk sekilas.
"Aku takut," gumamnya pelan.
Kevin bisa mengerti ketakutan Ovie. Ovie sebenarnya bukanlah gadis yang mudah merasa jijik pada sesuatu, tapi kecoa adalah kasus yang lain.
"Nggak usah takut. Kakak di sini."
Ovie menatap Kevin, dia dapat melihat kekhawatiran di mata hitam cowok itu. Mungkin memang benar, Kevin sudah tidak seperti dulu.