8

1166 Words
Mereka pergi ke Jewelry setelah Ovie pulang sekolah. Ini terlalu cepat. Ketika Ovie mengatakan ingin membelikan gelang untuk Luna, dia tidak membayangkannya akan membeli hari itu juga. Dia bahkan tidak menyebutkan kapan dia akan membelinya, atau dia bahkan belum menghitung kembali jumlah tabungannya. Akhirnya mereka memasuki sebuah toko perhiasan besar yang ada di dalam mall tersebut. Salah satu staf di sana mendekati mereka dan menawarkan bantuan. Namun Kevin menjawab kalau mereka ingin melihat-lihat sendiri. Mungkin dia tau, Ovie tidak suka diikuti oranglain ketika sedang berbelanja. “Ada yang disuka, nggak?” tanya Kevin ketika mereka sudah berada di sana kurang lebih lima belas menit. “Hmm,” Ovie berjalan ke sisi lain. “Sebentar, kak.” Kevin mengangguk dan tersenyum. Meski senyum itu tidak Ovie lihat. Tapi pria itu cukup senang karena Ovie tidak lagi terlihat takut padanya. Mereka berada di ujung ruangan. Dan Ovie fokus pada salah satu lemari kaca yang menampilkan sebuah gelang dengan rantai yang tipis bewarna silver dan dengan tambahan gambar dancing swan di tengahnya. Itu indah sekali. Mewah dan simple. Ovie mengetuk kaca itu dan menunjukannya pada Kevin. “Ini,” katanya. “Aku mau ini.” Lalu Kevin memanggilkan seseorang untuk membawa gelang dan mengecek harganya. Dan meskipun Ovie sudah mempersiapkan dirinya untuk tidak terkejut mendengar berapapun harganya, dia tetap tidak bisa untuk berpura-pura biasa saja ketika orang itu menyebutkan harganya yang begitu fantastis. “Ganti yang—“ “Oke, saya ambil itu.” Dan bahkan Ovie bukan yang memutuskan itu. Wanita itu tersenyum. “Baik. Mau dipakai langsung atau dimasukkan ke dalam kotak?” “Masukkan ke dalam kotak.” Staf itu kemudian pergi ke belakang untuk mengemas bracelet itu. Dan mereka berdua pergi ke depan untuk mengurus pembayarannya. Ovie mengikuti Kevin di belakangnya, sedikit mendekatkan dirinya, dan karena tubuhnya pendek, jadi ia hanya bisa berbisik ke bahu Kevin, “Kak, mahal banget...” bisik Ovie. “Aku bahkan nggak pernah megang uang sebesar itu,” katanya lagi. “Kalau gitu sekarang bisa megang,” sahur cowok di sebelahnya itu. Duh, Ovie mau bayar pake apa coba? Dan benar saja, Kevin benar-benar membayar keseluruhannya. Kini mereka keluar dari mall tersebut dan berjalan beriringan ke mobil. Ovie menatap kakaknya itu dari belakang, menatap cowok yang sedang membawa totebag berisi bracelet. “Kak,” Ovie memanggil. Cowok itu berhenti sejenak dan menunggu Ovie berjalan lebih dekat ke arahnya. “Kenapa?” dia bertanya. “Itu... aku nggak punya uang segitu sekarang. Berapa tadi? Delapan juta, ya?” Kevin menatapnya sekilas. Dia menyukai ekspresi khawatir di wajah Ovie. “Cicil aja,” usulnya. “Cicil ke kakak?” “Iya.” Sekarang bagaimana dia mencicilnya? Sementara dia tidak punya pekerjaan dan butuh waktu lama jika ingin menabung uang sebesar itu. “Cicil dua bulan.” “Apa?!” Mata Ovie membola. Memaki dalam hati. Dia seharusnya sudah tau, Kevin yang tiba-tiba baik itu tidak bisa dipercaya. Lagipula, dia seharusnya bisa menebak, Kevin tidak akan mungkin mengajaknya pergi ke Jewelry secara cuma-cuma. Intinya, kakaknya tidak mungkin tiba-tiba bersikap baik padanya tanpa punya maksud. “Tapi kan kakak yang ambil gelang itu.” “Kamu nggak berusaha nolak, kan?” Benar juga. Ovie tidak sempat mengatakan penolakannya karena staf itu sudah berlalu pergi lebih dulu. Ketika Ovie sampai di kamarnya hari itu, dia langsung membuka seluruh tabungannya tanpa lebih dulu mengganti seragam sekolahnya. Iya. Dia sedang kesal. Dan kakaknya itu baru saja mengibarkan bendera perang. Atau setidaknya begitu Ovie menganggapnya. Pertama-tama dia memecahkan celengan ayamnya yang tidak pernah dia sentuh sejak lulus SMP, kemudian dia mengecek saldo di kartu debitnya yang sangat jarang dia gunakan dan kemudian uang tunai yang tersimpan di dompet kelincinya. Tubuhnya duduk lemas ketika dia bahkan hanya memiliki setengah dari harga gelang itu. Ketika Ovie berpikir untuk menangis-nangis di depan Kevin dan memohon untuk menambah tenggat waktu, tiba-tiba pikiran untuk tidak kalah muncul. Sejak dulu, Kevin sudah sering memperlakukannya dengan menyebalkan, dia tidak mau Kevin berpikir bahwa dia masihlah Ovie yang bisa diusili dengan mudah. Dia tidak mau membuat kakaknya berpikir seperti itu terhadap dirinya. Dan ini akan jadi satu-satunya cara agar Kevin berhenti menganggapnya anak kecil yang tidak bisa apa-apa, bahkan untuk mengendus jalan pulang. Ovie mengepalkan tangannya. Membulatkan tekad. Jika Kevin mengibarkan bendera perang, maka dia akan bergabung ke medan perang. Hah... andai Ovie tau kalau itu bukan ajakan berperang melainkan sebuah ranjau. Dan dia membuat dirinya sendiri masuk ke dalam jebakan itu. *** Pagi di hari sabtu, sebuah hal baru yang tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Bahkan seumur hidupnya, ini baru pertama kalinya dia bangun jam lima, cuci muka dan memakai baju untuk berlari. Dia langsung turun ke lantai bawah namun tidak menemukan siapapun di sana. Lima menit, akhirnya dia melihat sosok Kevin turun. Cowok itu terlihat terkejut menemukan dirinya yang sudah rapih. “Aku pikir kakak bisa bangun lebih pagi lagi, ternyata nggak, ya. Jadi sia-sia aku bangun duluan,” kata Ovie. Dia dengan cepat meminum segelas s**u cokelatnya dalam sekali teguk. Kevin mengangkat satu alisnya. Heran. Darimana Ovie mendapatkan kemampuan sarkas seperti itu? Apa dia melewatkan sesuatu? Tapi, alih-alih kesal karena dihina seperti itu, Kevin justru ingin tertawa. Cowok berjalan menuju rak dan mengambil dua botol minum. Yang satu berwarna merah muda untuk Ovie dan yang hitam untuknya. Lantas, dia mengisi botol berukuran sedang itu dengan air putih. “Bawa ini. Nanti haus.” Ovie melengos. “Dua putaran nggak akan bikin aku haus.” Kevin tidak memaksa, dia meletakkan botol merah muda itu di atas meja dan meninggalkannya di dapur. “Oke. Ayo lari sekarang.” Mereka keluar dari rumah dan berlari pelan-pelan. Komplek rumah mereka sebenarnya cukup besar, bahkan ketika mereka baru melewati rumah ke tujuh, nafas Ovie sudah mulai memberat. Sejujurnya, Ovie bukan anak yang suka olahraga, paling hanya olahraga seminggu sekali di sekolah. Itu pun kadang-kadang gurunya tidak masuk. Jadi, lari pelan seperti ini membuatnya kakinya cukup sakit. Ketika dia melirik wajah Kevin, dia tidak menemukan sedikitpun rasa lelah dari raut wajahnya. Ini belum apa-apa, tapi rasanya dia sudah kalah telak. Ovie memutuskan untuk memelankan larinya, alias berjalan sembari mengatur napasnya. Sudah hampir satu putaran tapi dia sudah tidak sanggup lagi. Dia akhirnya membungkuk dan meletakan tangannya di dengkulnya yang sakit sementara Kevin beberapa langkah jauh di depannya. Apa dia kabur saja, ya, dari rumah? Ovie menggeleng. Menghapus pikiran konyol itu dari otaknya. Ketika Kevin menyadari bahwa Ovie tidak lagi berada di dekatnya, dia berbalik. Dan melihat Ovie sejauh tiga meter di belakangnya. Dia berjalan mendekat dan menyentuh bahu Ovie. “Ovie, kenapa?” “Sakit.” “Ayo diri, jangan manja.” Kevin membantunya untuk duduk ke tepi. Dia juga menyodorkan botol minum miliknya. “Minum dulu.” Ovie menggeleng. Harga dirinya menolak keras. “Minum. Masih baru.” Dia menghela napas ketika dirinya tau kalau ini sangat sulit untuk ditolak. Ketika Ovie sedang minum, Kevin melepaskan sepatu sneakersnya. Dan memberi pijatan pelan di telapak kakinya yang pegal. “Gimana mau bayar hutang, kalau lari aja nggak bisa?” Saat itu, Ovie betulan mau kabur aja dari rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD