Setelah mencari-cari informasi mengenai lowongan pekerjaan yang bisa menerima anak SMA, Ovie jadi tau kalau pekerjaan yang mau menerima murid sekolah itu sangat jarang. Mungkin karena mereka tidak mau memperkerjakan anak di bawah umur, atau karena anak-anak seusia mereka belum bisa diandalkan.
Tapi, Ovie sebentar lagi akan lulus sekolah. Hanya tinggal sedikit lagi. Jadi, tidak ada salahnya juga jika dia mencoba bekerja mulai dari sekarang. Sekaligus menyicil untuk membayar hutannya pada Kevin.
“Lo yakin, Vi? Kita masih punya ujian sekolah, nanti lo jadi nggak fokus.”
“Gue masih bisa atur waktu kok. Lagian, gue nggak mau lama-lama di rumah yang ada kak Kevinnya.”
Laura mengangguk. “Ya udah, nih lo langsung dateng ke alamat ini. Ada sepupu gue di sana, nanti lo bakal di bantu sama dia. Walaupun agak slengean gitu anaknya, tapi dia baik kok.”
“Slengean gimana?”
“Ya...begajulan dan kayak preman.”
“Oh...” Ovie tertawa. “Gak apa-apa. Gue udah ngadepin yang lebih preman dari sepupu lo itu.”
“Siapa?”
“Kak Kevin.”
“Nggak pantes banget kak Kevin disebut preman,” Laura protes. “Mereka tuh beda level kali!”
“Tapi gue harap kak Ray ini lebih baik dari kak Kevin.”
“Lo bisa menilai kalau udah melihat langsung nanti.”
Saat itu, tepat setelah pulang sekolah dia menelepon kakaknya dan mengatakan kalau dia mengikuti kelas tambahan. Yah, meskipun Kevin setuju untuk tidak lagi menjemputnya, dia harus tetap ijin jika dia akan pulang sedikit lebih lambat.
Laura bilang, dia hanya akan bekerja di perpustakaan kota. Tidak sulit, dia hanya akan menjaga perpustakaan itu sampai tutup dijam lima sore. Dan mungkin sebuah keberuntungan, karena lokasi perpustakaan itu tidak begitu jauh dari rumahnya.
Ketika dia sudah sampai di sana, Ovie langsung masuk ke dalam. Dia berniat mencari staf di sana untuk memudahkannya menemui pria bernama Ray, namun tiba-tiba bahunya disentuh seseorang.
“Ovie, ya?” cowok itu menebak dengan menyebut namanya.
Ovie tersentak. Dia kemudian menemukan pria dengan rambut yang berantakan dan pakaian dengan lengan yang digulung menatapnya.
“Iya. Kak Ray, bukan?”
Cowok itu mengangguk. “Betul. Jadi lo temennya sepupu gue?”
Ovie mengangguk membenarkan. Kemudian cowok itu memintanya untuk mengikutinya ke ruangan khusus staf. Di sebuah atas meja Ray mengambilkannya sebuah kartu.
“Nah, lo pakai kartu ini tiap kali lagi jam kerja. Jangan lupa. Terus karena lo masih sekolah, lo wajib bawa baju ganti. Ruang gantinya ada di sana.” Cowok itu menunjuk sebuah pintu di samping mereka.
Ovie mengangguk-angguk.
“Kalau udah paham, gue mau lanjut kerja dulu, ya. Lo ganti baju, dan karena ini hari pertama lo boleh keliling dulu supaya hapal susunan rak bukunya, jadi nanti nggak bingung kalau ada pengunjung yang nanya. Santai aja di sini, nggak perlu merasa tertekan.”
Setelah kerpergian Ray. Ovie masuk ke dalam ruang ganti. Dia membuka ponselnya. Mengecek, takut-takut kalau nanti kakaknya memberinya pesan dan berakhir curiga. Namun dia tidak menemukan notifikasi di sana, Ovie tersenyum karena berpikir bahwa mungkin kebohongannya berhasil dan berjalan mulus.
“Nggak masalah. Gue cuma kerja sebulan, setelah itu selesai,” katanya sambil menyemangati dirinya sendiri.
***
Sebelum pulang ke rumah, Kevin melipir dulu ke apotek untuk membeli salep untuk kaki Ovie yang bengkak dua hari yang lalu. Semalam, ketika dia datang diam-diam ke kamar Ovie untuk memeriksa kakinya, dia melihat luka bengkaknya semakin besar. Luka itu berawal dari lecet akibat sepatu yang perempuan itu pakai. Dan mungkin karena Ovie tidak mengatasi dengan benar luka itu, makanya menyebabkan bengkak.
Kevin melihat rumahnya nampak sepi lebih dari biasanya. Biasanya tiap kali dia pulang, ruang TV selalu ramai karena Ovie dan bi Siti duduk di sana. Tapi dia tidak menaruh curiga sama sekali. Jadi dia langsung ke kamar untuk membersihkan diri sebelum menemui Ovie dan memberikan obat ini.
Pintu kamar Ovie dia ketuk. Namun dia tidak menunggu sahutan perempuan itu, dan langsung masuk ke dalam. Dia dapat melihat Ovie yang duduk di meja belajar gadis itu. Laptopnya menyala, dan semangkok semangka ada di sana.
“Ovie,” Kevin memanggilnya.
Ovie yang sedang menggunakan earphone masih belum menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya.
Kevin mendekati gadis itu dan menyentuh bahu Ovie hingga gadis itu tersentak.
“Kak Kevin?” Ovie melepaskan earphonenya. Dia memandang Kevin bingung. “Kenapa, kak? Aku lagi nonton film.”
Kevin melirik sedikit layar laptop Ovie. Namun kembali fokus pada perempuan yang duduk di depannya.
“Kakak beli salep.”
“Salep?”
“Buat kaki kamu.”
“Oh?” Ovie menatap pada kakinya, tepatnya pada tulang tumitnya yang lecet dan bengkak. “Udah nggak apa-apa sih—— kak Kevin!” Ovie memekik ketika Kevin secara tiba-tiba berjongkok di depannya dan menarik kakinya— meletakannya di atas paha cowok itu.
“Ini masih merah, kamu bilang nggak apa-apa?”
“Itu cuma bekasnya aja...”
Kevin mengeluarkan isi dari kantung plastik yang dia bawa. Dengan pelan dan penuh hati-hati, Kevin mengoleskan salep itu di kaki Ovie. Dengan sekali-kali juga dia meniupnya supaya salep itu cepat menyerap dan kering.
“Kenapa kamu terus menolak kebaikan kakak sih?”
“Karena kakak kayak rubah. Licik dan nggak bisa dipercaya,” batin Ovie menjerit. Takut jika dia mengatakan itu, kakinya bukan sembuh tapi malah dipatahkan di tangan kakaknya sendiri.
Setelah selesai, Kevin menurunkan kaki Ovie dari pangkuannya perlahan-lahan.
“Ada lagi, nggak?”
“Apanya?” Ovie bertanya, bingung.
“Yang perlu diobatin?”
“Otak kakak aja gimana?” Kata Ovie dalam hati. Dan karena tau dia tidak bisa mengatakan itu secara langsung, sebagai gantinya dia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil berkata, “Nggak ada, kak.”
Kevin bangkit dari posisinya. Dia menyodorkan salepnya ke Ovie. “Nih, kalau belum sembuh juga, obatin sendiri. Jangan manja.”
Ovie tidak membalas apa pun selain mengambil salep itu. Kalau bisa dibilang, dia udah nggak sanggup menghadapi Kevin. Padahal cowok itu baru seminggu ada di sini.
Setelahnya, Kevin mengeluarkan kotak dari kantung celananya, dan memberikannya pada Ovie.
“Ini, simpan.”
Ovie mengernyit. “Kan belum aku bayar lunas?”
“Simpan aja, supaya bisa langsung kamu kasih kalau mama udah pulang.”
Ovie menerimanya, namun dia ragu.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh."
"Kakak tau dari mana?"
"Karena kakak melihat dahi kamu berkerut. Artinya kamu sedang berpikir. Ketika mata kamu menyorot tajam, artinya kamu sedang memikirkan hal yang nggak-nggak. Belajar percaya, ngerti?"
***
Bukan salahnya jika dia tidak bisa mempercayai seorang Kevin. Cowok itu sendiri yang membuatnya jadi sulit untuk mempercayainya. Sejak dulu, hubungan mereka memang bukan seperti hubungan adik-kakak normal yang saling menjaga. Atau setidaknya, bukan seperti hubungan Maudy dan Kevin. Ovie dan Kevin itu terasa jauh untuk disebut saudara.
Dan meski itu sudah bertahun-tahun lamanya, kenangan itu masih terasa jelas untuk Ovie.
Ovie melihat ponselnya ketika sebuah notifikasi muncul.
Kak Ray : Sorry ganggu
Kak Ray : Hari ini lo datang kan?
Ketika Ovie ingin menggerakkan jarinya untuk membalas, tepukan di bahu kanannya membuatnya menoleh.
“Wah, lo bener-bener serius kerja, ya?”
Laura mengambil duduk di sampingnya, dan membaca isi pesannya dengan Ray. Dia berdecak.
“Udah, jangan dibales pesannya. Modus tuh!” katanya. Dia meletakan tasnya dan kembali menatap Ovie. “Lo bilang lo nggak mau bikin kak Kevin kesel, tapi kalau ketahuan pasti dia marah besar. Dan lo bohongnya gimana tuh? Hmmm, ikut kelas tambahan? Nama lo bahkan nggak dimasukin ke kelas tambahan! Gian yang dimasukkin ke kelas tambahan aja nggak pernah dateng!”
“Cuma sebulan, Ra. Buat nambah-nambahin kurangnya aja,” balas Ovie.
“Sebulan kalau dihabisin bareng kak Ray, itu tetep bahaya!”
Ovie hanya bisa mendesah lelah. “Tapi buktinya, gue ada di sini dan gue baik-baik aja. Artinya, kak Ray bukan ancaman.”
“Belum,” sahut Laura.
“Ra...”
“Iya, iya, tapi kalau ada apa-apa bilang gue, ya?”
“Ra, lo udah bilang itu ribuan kali.”
Memang nggak ada yang perlu dikhawatirkan sebetulnya. Ovie sama sekali tidak peduli tentang seberapa berandalnya Ray. Satu-satunya yang dia khawatirkan adalah bagaimana jika kebohongannya terbongkar.
Setelah pulang sekolah, tanpa Ovie duga-duga, Ray datang ke sekolahnya. Berniat menjemputnya. Ovie tidak merasa keberatan, toh itu bisa menghemat ongkosnya, tapi Laura langsung sengit pada sepupunya itu.
Dan setelah perdebatan tidak berguna di depan gerbang, Laura akhirnya mengizinkannya untuk pergi bersama Ray.
“Mau makan siang dulu, nggak?”
Karena memakai helm, dan angin yang kencang, menyebabkan Ovie tidak bisa mendengar suara Ray dengan jelas. “Hah???”
“Mau makan, nggak?!”
“Makan?!?!”
“IYA, MAKAN!” balas Ray mulai lelah. Dia melirik melalui spion dan melihat Ovie mengangguk. Ray kemudian menyunggingkan senyum di balik helm full facenya itu.
Kemudian mereka memutuskan untuk makan di sebuah tenda pinggir jalan yang lokasinya tidak begitu jauh dari perpustakaan kota.
“Lo nggak keliatan kayak orang yang butuh duit,” kata Ray tiba-tiba ketika mereka baru saja turun dari motor.
“Iya, kak,” balas Ovie seadanya. Dia sedang kesulitan membuka tali helm yang nampak sulit dilepaskan. Ray yang peka berniat membantu, tapi Ovie dengan sigap mundur selangkah. Dan seperti mendapat kekuatan tidak terduga, tali itu akhirnya bisa terlepas. Ovie meletakkan helm itu di atas motor Ray dan berjalan ke dalam tenda lebih dulu.
Ray membatu di tempatnya. Jarang sekali ada perempuan yang menolak bantuannya. Atau lebih tepatnya menolak bantuannya dan memasang wajah waspada seperti akan dihinoptis seperti yang Ovie lakukan.
Ray masuk ke dalam dan mengambil duduk di samping Ovie. Belum sampai sedetik, Ovie menggeser kursinya beberapa senti.
“Gue nggak punya penyakit menular jadi seharusnya nggak apa-apa sih kalau lo duduknya nggak jauh-jauh kayak gitu,” ucap Ray.
Ovie menoleh. Menatapnya sekilas. “Oh, iya, kak.”
Ray terkekeh. Ke masa-bodoh-an Ovie membuatnya tertarik. Dia sungguh penasaran, apa saja yang Laura katakan tentangnya hingga Ovie jadi seperti ini?
“Pak, mie ayamnya dua, ya.”
“Oke, oke, siap!”
“Ini nggak apa-apa kalau kita telat?”
“Nggak bakal telat. Sekarang emang jam makan siang kok,” balas Ray.
Ovie mengangguk.
“Ngomong-ngomong, soal pertanyaan gue tadi, gue masih penasaran.”
Ovie sebenarnya memang tidak mau menjawab. Tapi dia pikir, Ray akan terus penasaran jika dia tidak menjawabnya.
“Gue butuh uang. Untuk alasan pribadi,” balasnya. Lalu dia membalas tatapan Ray. Tatapannya dengan lembut, berbanding terbalik dengan ucapannya yang tajam. “Kak Ray juga pasti gitu, kan?”
Ray dibuat tidak berkutik. Dia hanya bisa diam melihat Ovie yang memainkan ponselnya.
Ray bertemu banyak perempuan. Dia mengencani beberapa dari mereka secara bergantian. Tapi apa yang terlihat dari Ovie membuatnya tertarik. Dan ketertarikan itu membuat dia ingin Ovie menjadi salah satu perempuan yang bisa ia kencani.