Kepala Arumi kembali terasa sakit. Membayangkan saat dia mencari Mikayla ke rumah sakit, tetapi tak ada yang pernah mengenal nama itu. Dia justru bicara dengan Mikayla di ruang mayat. Arumi kembali melemah. Perlahan Gabriel mendekat ke arahnya. "Nomor kontaknya juga gak ada kan di HP kamu?" Tanyanya dengan nada lembut.
Di lain tempat, Jaden sedang berjuang melarikan diri dari Ibu Gabriel. Dia terpaksa menyakiti Ibu Gabriel agar dapat melarikan diri dari sana. Jaden segera menuju ke rumah Ibu Gabriel. "Arumi!" Panggilnya sambil masuk ke dalam rumah. Jaden mencari ke semua sudut ruangan, tetapi tak ada seorangpun di sana.
Arumi berusaha menguatkan dirinya. "Jangan mendekat!" Dia kembali menodongkan pistol ke arah Gabriel. "Lalu cafe dan resto itu gimana?" Tanyanya pada Gabriel. "Kamu yang ngasih pertanyaan itu ke aku, bukan Jaden." Lagi-lagi Arumi harus berpikir keras apakah pernyataan dari Gabriel adalah fakta atau bukan. "Puntung rokok?" Pikirnya kemudian. Dia lalu melihat ke lengan kirinya. "Nggak ada?" Namun bekas luka bakar itu tak ada di tangannya. "Jaden itu nyata, dia benar-benar ada." Arumi meyakini hal itu. Dia lalu menembak lengan kanan Gabriel.
Arumi masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil. "Aruna, tolong aku, aku nggak bisa nyetir." Dia bicara seorang diri. "Arumi...!" Gabriel merasa kesakitan. Ajaibnya tiba-tiba dari dalam mobil muncul sosok Aruna dan duduk di samping Arumi. "Aruna?" Gabriel bahkan sangat jelas melihatnya. Arumi menginjak pedal gas dan dia pun bisa mengemudi untuk melarikan diri dari Gabriel. "Arumi!" Gabriel berusaha mengejarnya namun gagal.
Mendengar sura tembakan yang kedua kali, Jaden segera keluar dari rumah Ibu Gabriel. Dia mencari sepeda motornya yang dia tinggalkan di dekat pondok kecil tempat dia bicara dengan Arumi semalam. Jaden mengebut, berusaha mencari keberadaan Arumi.
Gabriel nekad menghadang seorang pemotor yang melintas di jalanan dan merampas sepeda motor pria tua itu. "Tolong...!" Teriak pria tua itu. Tak lama Jaden muncul. "Kenapa Pak?" Tanya Jaden. "Motor saya dicuri, itu, kesana." Tunjuk pria tua itu. Segera Jaden menuju ke arah yang ditunjukkan pria tua tadi. Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Jaden, Gabriel, dan Arumi. Karena panik, mobil yang dikemudikan Arumi menabrak sebuah toko buah yang berada di pinggir jalan. Gabriel langsung menghampiri untuk memeriksa kondisi Arumi. "Sayang, kamu nggak papa kan?" Dia selalu memberi pertanyaan yang sama. Gabriel membantu Arumi keluar dari mobil. "Jauhi dia!" Teriak Jaden pada Gabriel.
Kini kedua orang pria itu ada di hadapan Arumi. "Jaden?" Arumi merasa lega? "Jaden nggak ada di sini Arumi, itu hanya ilusi kamu." Gabriel mencoba meyakinkan Arumi. "Jangan percaya dia Arumi. Dia bohong." Jaden membela diri. "Coba kamu tembak dia, apa dia berdarah kayak aku?" Tantang Gabriel. Arumi lalu mengambil senjata di dalam mobil. Beberapa orang di sana yang menyaksikan, ikut merasa ketakutan. "Jangan Arumi. Dia mau menjebak kita." Jaden mengangkat tangan kirinya untuk melarang Arumi. "Cuma itu caranya kamu tau, aku bohong atau nggak." Namun Gabriel terus membujuknya. Arumi bingung harus berbuat apa. Dia mengarahkan pistol ke kepalanya. "Arumi, jangan!" Kedua pria tadi histeris. "Kalau ini cuma ilusi, biarkan aku membunuh semua karakter itu bersama aku." Tutur Arumi.
Arumi memejamkan matanya, mencoba menarik pelatuk senjata. "Arumi!" Suara itu terdengar seperti suaranya. Arumi pun membuka mata. Sosok Aruna berdiri di hadapannya. "Ini semua salah aku, jangan hukum diri kamu gara-gara aku." Aruna nampak bersedih. "Temui Mikayla sekarang." Itulah permintaan dari Aruna di dalam alam bawah sadar Arumi. Arumi membuka matanya kembali, tak ada sosok Aruna di sana. Dia menembakkan 2 peluru yang tersisa dalam pistol itu ke tanah. Semua orang berlarian karena ketakutan. Arumi melemparkan senjata itu ke arah Gabriel. Lalu dia segera pergi ke arah Jaden. "Temui Mikayla sekarang!" Pinta Arumi.
Jaden merasa senang karena Arumi percaya padanya. "Kenapa kamu percaya aku?" Tanya Jaden sambil mengemudi sepeda motor. "Bekas luka bakar itu nggak ada di tangan aku." Jawab Arumi. Segera Jaden mengendarai sepeda motor.
Gabriel sudah kehilangan banyak darah. Dia segera dibawa ke rumah sakit oleh beberapa warga yang berada di lokasi kejadian. "Perempuan gila kok dibiarkan bebas." Salah satu warga menggerutu. "Dia istri saya Bu, dan dia nggak gila." Gabriel membela Arumi. Tak lama Ibu Gabriel datang ke rumah sakit. "Gimana keadaan kamu?" Dia mencemaskan putranya. "Mama harus susul Arumi, dia mau cari Mikayla." Gabriel malah membicarakan hal lain. "Ini semua karena sikap kamu yang terlalu posesif." Kemudian Ibu Jaden memarahinya.
Jaden dan Arumi sudah tiba di rumah sakit. Mereka segera mencari Mikayla ruang jenazah. Tetapi Mikayla tak ada di sana. "Ngapain di sini?" Tanya seorang perawat jaga. "Mikayla ada?" Jaden balik bertanya. "Mikayla?" Perawat itu terkejut. Dia lalu mengajak mereka masuk ke ruang penyimpanan jenazah. Dari salah satu peti, ada mayat Mikayla. Arumi benar-benar terpukul, seakan tak percaya. "Mikayla meninggal dunia semalam. Dia bunuh diri, dan ini ada surat untuk orang yang mencarinya." Perawat itu menyerahkan sepucuk surat untuk Arumi.
Arumi segera membaca surat itu. "Awalnya aku ikut bahagia karena kamu berhasil menikah dengan pria kaya raya yang kamu lihat di pantai tempo hari. Tapi aku nggak bisa terus dihantui rasa bersalah pada Aruna. Aku nggak mau dianggap pembunuh. Harusnya kamu jangan pernah temui aku Arumi. Aku cuma ingin hidup tenang, aku pengen mendapatkan cinta Jaden, tapi Jaden mencintai kamu." Arumi terkejut saat membacanya, namun dia harus melanjutkan agar mengetahui kisah yang sebenarnya. "Malam itu kamu dan Aruna bertengkar di rumah sakit yang menyebabkan Aruna koma. Aku yang harus selalu menyembunyikan dia dari dunia, supaya rahasia kamu nggak kebongkar. Tapi uang kamu nggak bisa membungkam kebenaran itu selamanya. Suatu saat pasti terbongkar." Nyatanya isi surat terakhir dari Mikayla justru masih berupa teka-teki.
Arumi melihat ke arah Jaden. "Aruna masih hidup." Dia memberitahukan hal itu. "Apa? Terus dimana dia sekarang?" Jaden mendekati Arumi. "Mungkin dia ada di rumah sakit ini. Mikayla nggak bilang." Kata Arumi. "Ayo kita cari." Ajak Jaden. Mereka menemui petugas jaga ruang jenazah tadi. "Kami akan kembali dan mengurus jenazah Mikayla. Tapi tolong bantu kami memenuhi wasiat terakhir dia." Tutur Arumi. "Apa yang bisa saya bantu?" Tanya petugas itu dengan ramah. "Temukan saudara kembar saya, dia dirawat di sini." Jawab Arumi. "Kondisinya koma." Jaden menambahkan. "Maksud kamu Arumi?" Ternyata petugas itu mengetahuinya. Jaden dan Arumi saling bertatapan. "Mungkin Mikayla mengganti identitas Aruna dengan Arumi." Jaden memberikan pendapatnya. Arumi mengangguk, dia sependapat dengan hal itu. "Iya. Dimana dia?" Tanya Arumi pada petugas itu. "Arumi sudah meninggal beberapa minggu yang lalu, dan jenazahnya sudah diambil oleh pihak keluarganya." Sontak Arumi yang asli dan Jaden terperanjat. "Keluarganya kan sudah meninggal." Kata Jaden. "Sebentar." Petugas itu mengambil berkas di lemari kerjanya.