Kalimat itu membuat udara di antara mereka terasa habis meluap. Sangat sesak. Setiap sisi ruangan serasa bergerak dan menghimpit Richard. Suasana tiba-tiba menegang. Sesaat, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengeluarkan suara. Hanya degup jantung yang tiba-tiba terasa berdetak lebih keras. Senyum yang tadinya ceria kini menjadi terasa dingin dan mengerikan. Richard menarik nafas sejenak seraya memikirkan apa yang akan dia ucapkan pada Glory. Pikirannya tidak berhenti memutar kalimat Glory yang baru saja dia dengar. Kalimat itu bagaikan duri-duri tajam yang menancap. Tangan di pangkuannya mengepal tanpa sadar. "Gloria!" Setelah keheningan yang tercipta, mulutnya terbuka hanya untuk memanggil satu nama. Canggung, Glory menatap dengan mata yang lebih lebar sebagai gestur 'apa?'

