"Buka baju kamu!"
Langkah Glory langsung berhenti dan dia menoleh ke arah Richard yang ada di belakangnya. Matanya membesar hingga semua bulatan hitamnya terlihat.
"Apa-apaan kau hah? G!la!" serunya dengan sangat marah.
Dia mempercepat langkahnya dan membuka pintu kamarnya dengan terburu-buru sebelum Richard berubah menjadi lebih ganas.
"Gloria! Buka!" Richard mengetuk pintu kamar Glory dengan keras membuat Glory yang barusan merebahkan diri di kasur langsung terlonjak kaget karena tidak mengira Richard sebegitu nekadnya.
"Buka pintunya dan berikan baju kamu!"
Walau tidak ada yang melihat, Glory langsung menyilangkan tangan di d**a karena was-was. Dia berjalan mendekat ke arah jendela dan memeriksa apakah sudah terkunci atau belum. Lupa kalau ada jeruji besi yang menghalangi seseorang bisa masuk.
'O Tuhan, kenapa dia tiba-tiba minta aku buka baju. Perasaan dia nggak ada ada minum alkohol kok mabuk sih?" gumamnya seraya merapatkan tubuhnya ke dinding di pojok kamar.
Suara pintu yang di ketuk dan suara Richard memanggil-manggil masih menggema. Ketakutan menyelimuti hati dan pikiran Glory sampai dia berkeringat dingin.
"Gloria, apa kau tuli? Buka dan berikan bajumu. Itu tidak pantas di pakai. Pusarmu kelihatan dan kau mengundang birahi laki-laki yang melihatmu. Berani sekali kau memakainya di tempat umum. Mau jual diri kau, hah?"
Mendengar itu, seketika ketakutan Glory lenyap justru kemarahan karena kata-kata terakhir Richard.
Dengan segera dia bangkit dan berjalan cepat ke arah pintu. Membuka pintu dengan tergesa hingga Richard yang tadinya masih berdiri di depan pintu terlonjak kaget dan hampir terjerembab ke depan.
"Ap--"
"Kau bilang apa? Aku mau jual diri?" potong Glory dengan tajam. Kedua tangannya berkacak di pinggang. "Kau dan para laki-laki lainnya birahi hanya karena pakaian seperti ini? Hellowww, aku bukan satu-satunya perempuan dengan baju seperti ini. Ini masih standar Richard. Gimana kalau kalian lihat di luar sana hanya pake beha saja. Apa kalian akan gila karena birahi? Kau yang birahi orang yang kau salahkan. Malah bilang mau jual diri. Cuih!"
"Ya... ya.. itu memang memang nggak pantas. Itu cocoknya untuk anak-anak," ujar Richard tergagap gagap.
"Harusnya kamu lebih selektif lagi. Kamu nggak lupa kan kamu menyan---"
"Haaaah, ribet!" teriak Glory sembari menghentakkan kakinya cepat. Dia juga mengusap kasar kepalanya hingga rambutnya terlihat kusut
"Zachary Zachary. Zachary terus. Emangnya aku yang dengan suka rela memintanya? Nggaaaaak! Sampai sekarang aku juga nggak mau. Kalau mau ambil, ambil nah."
Gadis itu membusungkan dadanya menyerahkan nama yang di sematkan di belakang namanya.
Setiap kali dia melakukan apa yang dia suka selalu di ingatkan tentang nama keluarga yang tersemat di belakang namanya.
"Memangnya kalau aku jadi Zachary nggak bisa pake baju ini? Ini mode Richard. Udah lama trend."
Richard menggaruk kepalanya yang tidak ada rasa gatalnya. Otaknya juga tiba-tiba tidak bisa memikirkan kata yang akan dia ucapkan. Dia fokus pada Glory yang kesumat.
"Maksudmu karena aku Zachary aku harus pake pakaian tertutup? Pakaian sopan? Heh, nggak usah pun jadi Zachary kan memang harus sopan berpakaian. Tapi, ini masih di ambang batas normal kesopanan."
Wajah Glory memerah ketika dia marah. Dia mengomel dengan kecepatan bicara yang luar biasa sampai-sampai tidak ada waktu bagi Richard untuk menjawab.
"Lihat pusar aja langsung gila!"
Katakanlah Richard sudah gila seperti yang Glory sebutkan barusan. Gila bukan karena birahi tentunya.
Pria itu benar-benar sangat menikmati kemarahan Glory. Dia sangat suka melihat bibir Glory yang bergerak-gerak. Dan suara Glory bagaikan nyanyian merdu yang menyapa telinganya. Penghantar tidur di hari yang berat.
Tatapan matanya tidak bisa berbohong, dia menyukai Glory ketika gadis itu marah.
"Benar-benar udah g!la. Malah senyum-senyum sendiri. Peres lu ya."
Brak!
Glory menutup pintu dengan keras hingga membuat Richard tersadar dari kekagumannya.
Dia menggelengkan kepala dengan cepat dan juga mengedipkan matanya beberapa kali agar kembali pada kenyataan.
"Mulai besok jangan pakai baju seperti itu. Jika masih, aku akan membakar semua baju di lemari kamu."
"Mulai besok jangan pakai baju seperti itu. Jika masih, aku akan membakar semua baju di lemari kamu."
ujar Glory di dalam kamar mengulang kalimat Richard.
"Bakar lah bakar. Jangan sampai tidak jadi ya. Tapi siap-siap juga kau, aku bakar juga barang-barangmu."
"Oh Tuhan!"
Glory tiba-tiba terlonjak ketika pintu kamarnya di pukul keras dari luar
Sepertinya Richard masih mendengar apa yang Glory ucapkan.
"Jangan ngeyel kalau di bilangin. Jangan marah apalagi menangis kalau sampai perkataanku benar-benar terealisasi ya. Ini peringatan pertama sekaligus terakhir buat kamu!"
Richard tidak mau tanggung-tanggung. Dan dia berjanji dalam hati, jika besok atau lusa atau kapanpun melihat Glory berpakaian kurang bahan, dia akan langsung membakar baju itu di depan Glory.
"Suka hatiku lah, kok kau pula yang ngatur," ujar Glory sembari menjatuhkan punggungnya kembali di atas kasur.
****
Glory memoles lipstik nude ke bibirnya.
Dia menggulung rambutnya dengan rapi dan membungkusnya dengan hairnet hitam.
Tidak ada yang istimewa karena standar penampilan perawat memang seperti itu. Tidak ada perhiasan yang melekat di badannya kecuali cincin nikah di jarinya yang sebenarnya sangat ingin di lepasnya tapi takut jika tiba-tiba salah satu anggota keluarga Richard yang menjabat di rumah sakit melihatnya. Kan repot kalau sampai ada pemanggilan ke rumah utama hanya karena tidak pakai cincin nikah.
Selain itu, di telinganya menempel anting tusuk yang kecil nyaris tidak terlihat.
Mengambil tote bag kain murahan dan langsung keluar kamar. Dia menuju meja makan dan mulai mengoles selai roti lalu memasukkanya ke dalam tupperware untuk dia bawa ke rumah sakit sebagai sarapannya.
"Buatkan untukku juga."
Glory mengangkat kepalanya dan menatap ke sumber suara. Disana Richard berjalan sambil memasangkan dasinya.
Tanpa berucap sepatah kata pun, Glory mengoles selai dan meletakkan roti itu di atas sebuah piring keramik.
Kemudian dia bergegas pergi karena tidak ingin berlama-lama di tempat yang sama dengan Richard. Hawanya beda soalnya.
"Gloria!"
Langkahnya terhenti dan dia menoleh dalam kebisuan sambil mengerutkan kening menunggu Richard yang mungkin masih menyusun kalimat yang akan di ucapkan.
"Biasakan pamit sebelum berangkat."
Kening Glory mengerut ketika mencerna kalimat Richard. Dia bahkan mengorek kupingnya dengan kelingkingnya.
Kemudian dia mendengus.
"Hufff, sebaiknya kita jangan terlalu mendalami peran berumah tangga ini. Kita adalah orang asing yang di paksa tinggal bersama. Please, jangan membuat aturan baru di luar perjanjian yang sudah kita tanda tangan. Aku capek."
Suana seketika hening hingga membeku.
"Akhir-akhir ini aku perhatikan kamu mulai banyak mengatur dan mengurusi urusanku. Aku diam karena malas berdebat. Tapi bukan berarti aku menjadi istri yang penurut pada suami," ujar Glory dengan datar.
"Aku hanya orang asing yang terpaksa menyandang namamu di belakang namaku."
Wajah datar Glory perlahan hilang di balik pintu. Suara motor dan gerbang yang di buka menyadarkan Richard.
Pria itu menatap setangkup roti selai yang disediakan untuknya. Nafsu makannya seketika hilang. Rasa laparnya tiba-tiba berubah menjadi kekenyangan yang hampa.
Dia meninggalkan roti itu disana.
Dalam perjalanannya ke kantor, dia memikirkan apa yang di ucapkan oleh Glory tadi.
Benar, akhir-akhir ini hatinya berubah secara drastis. Ada keinginan dalam hatinya untuk menjalani peran suami yang sebenarnya.
Dia bahkan tidak pernah lagi tidur dengan perempuan mana pun bahkan pergi ke bar juga tidak pernah lagi setelah dia kepergok Glory hari itu.
Sungguh perubahan yang tiba-tiba dan dorongan yang datang entah dari mana. Karena masih sangat jelas di ingatan Richard bahwa hari pertama setelah menikah, dia langsung menyodorkan kertas perjanjian pada Glory dan meminta tanda tangan istrinya itu. Surat perjanjian bahwa pernikahan mereka hanya akan berlaku selama tiga tahun dan selama tiga tahun itu, mereka adalah orang asing satu sama lain. Tidak boleh mencampuri urusan pihak lain.
Bahkan dengan jahatnya Richard dengan sengaja membawa Anita ke rumahnya dan mencumbunya disana untuk menunjukkan pada Glory bahwa dia tidak menginginkan gadis itu .
"Richard, kau sudah mempermalukan dirimu sendiri."