Glory memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah yang di lapisi rumput hijau alami. Dia menghela dengan berat sebelum melangkah ke arah pintu masuk. Itu adalah rumah milik keluarganya. Sederhana. Dulu terasa sangat nyaman, tapi semenjak usaha orang tuanya bangkrut, kedamaian yang dulu ada perlahan terkikis hingga hilang. Lebih sering terdengar teriakan dari pada canda tawa penuh kasih. Dan perasaan tidak nyaman Glory semakin tebal semenjak dia di paksa menikah hanya karena surat wasiat neneknya yang tidak jelas. "Nenek yang berutang kok Glory yang bayar. Nggak mau," tolak Glory waktu itu di depan ayahnya dan bundanya. "Kamu emang anak nggak tahu terimakasih ya. Ayah dan bundamu udah berusaha keras besarin kamu, sekolahin kamu, menuhin semua kebutuhan kamu. Tapi setelah kamu mampu

