Chapter 7

2757 Words
Dylan dan Brighita sampai ke rumah mewah milik keluarga Virgoven. Awalnya Dylan berniat ingin membawa Brighita ke apartement miliknya. Namun sayang, Virgoven mengancamnya untuk tinggal di rumah pria itu. Brighita turun dari mobil tanpa banyak bicara. Ia menghentikan langkahnya saat tak merasakan pergerakan Dylan di belakangnya. Lantas ia menengok mencari keberadaan Dylan, yang ternyata masih setia berada di kursi kemudi. "Kau tidak turun?" tanya Brighita. Bukannya menjawab, Dylan lantas melajukan mobilnya secepat angin. Wajah Brighita merah padam menahan amarah. "Dylan sialan! Seharusnya aku yang marah bego! Untung tampan." Brighita terus merapalkan sumpah serapahnya selama perjalanan memasuki hunian mewah keluarga Virgoven. Sekejap Brighita terkesima melihat interior rumah itu. Kekaguman Brighita harus terhenti saat kehadiran Lana menyadarkannya. "Ingat. Aku tidak akan memanggilmu kakak ipar." papar Lana berdiri tepat di hadapan Brighita. "Hmm." balas Brighita seadanya. Lana menyibakkan rambut panjangnya. Lalu detik berikutnya, apa yang dilakukan Lana membuat Brighita memekik terkejut. Lana memeluk tubuh Brighita penuh senang. "Sudah aku bilangkan, kamu tidak akan pernah bisa lepas dari Jojo." Brighita mendorong pelan tubuh Lana. Mencium bau parfum gadis itu justru membuat perut Brighita terasa mual. Ia serasa ingin memuntahkan isi perutnya. Lantas saja Brighita membungkam mulutnya. "Huekk!" "Kau kenapa?" tanya Lana khawatir. Brighita menggeleng tidak tau. "Rasanya, saat mencium bau parfummu aku ingin muntah." Lana mengerucutkan bibirnya. Padahal parfum miliknya selalu di puji oleh teman-temannya karena memiliki aroma yang wangi dan menghanyutkan. Gubrak! Lana dan Brighita terperangah melihat Saras yang terjatuh dari tangga. Saras segera bangkit dan menghampiri kedua gadis itu. Saras menggenggam kedua tangan Brighita. Menatapnya penuh harap. Dan semakin membuat Brighita bingung. "Apa kamu hamil?" "APA?" pekik Brighita. Ia sungguh syok mendengar pertanyaan ibu mertuanya barusan. Lantas saja Brighita menggeleng. Tapi tetap saja, Saras masih memanganggap benar adanya. "Pantas saja ia langsung mau menikahimu. Selama ini aku selalu ingin menjodohkan dia dengan beberapa anak dari kenalanku. Tapi Jo selalu menolaknya. Jo sungguh keterlaluan! Tapi aku senang karena kalian akan memberiku cucu." ucap Saras penuh semangat. "Hahh... Aku harus memberitahu Virgoven." Setelah kepergian Saras yang menyisakan sejuta keterkejutan bagi Brighita, nampaknya Lana tak terlalu terkejut dengan hal itu. "Wow. Tak kusangka kakakku begitu hebat. Baru semalam kalian tidur bersama, dan kau sudah hamil." Lana nampak santai mengatakannya. Berbeda dengan Brighita yang masih memikirkan apa yang terjadi padanya. "Masa iya aku hamil?" tanya Brighita pada dirinya sendiri. Ia seperti orang linglung. --------------- Dylan duduk di kursi kebanggaannya. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Baru saja sehari dia tidak datang kekantor, tapi hanya butuh sedetik meja kerjanya telah dipenuhi setumpuk berkas yang telah menunggunya. "Jo?" panggil Irham mengalihkan fokus Dylan. "Sebaiknya kau pulanglah, aku akan mengurus perusahaan. Tenangkan pikiranmu itu. Besok kita akan ada rapat di Jepang." terang Irham. "Tidak perlu, aku masih bisa mengurus ini semua. Kau urus saja pekerjaanmu itu. Aku yakin kau pasti tidak punya waktu luang untuk Lana. Kau cukup sibuk mengurusi perusahaan serta bisnismu yang baru kau kembangkan." Irham terdiam. Membenarkan ucapan Dylan yang begitu tepat. "Irham. Menurutmu apa yang harus aku berikan sebagai hadiah pernikahanku untuk Tata." tanya Dylan teramat pelan. Irham mengerjap berkali-kali seakan tak percaya dengan ucapan Dylan. "Kau sungguh menyukainya?" Langsung saja Dylan melemparkan tatapannya pada Irham. Menatap tak suka pada pria itu. "Jawab saja pertanyaanku." "Dan kau juga jawab saja pertanyaanku." bantah Irham. "Kau! Kau melawanku?" "Suduhlah akui saja." Irham berjalan santai menuju sofa. Mengeluarkan ponselnya dan memandangi wallpaper miliknya penuh kasih. Tak terima denga ucapan Irham, Dylan turut beranjak menuju sofa. "Sejak kapan aku pernah menjadi bujak cinta sepertimu?" nyinyir Dylan. "Dan adikmulah yang telah menjadikan aku b***k cintanya. Suatu saat kau pasti akan menjadi seperti ku Jo." "Sialan kau Irham! Kau menyumpahiku?" "Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat untukmu. Surat pengunduran diriku telah aku siapkan. Sekertaris barumu juga sudah aku carikan sesuai kemauanmu." Dylan mengangguk saja. Ia selalu percaya pada Irham. Begitu juga saat Irham menjadi sekertarisnya. Tapi kini, Irham lebih memilih keluar untuk mengembangkan bisnisnya. Dan Dylan juga tidak masalah akan hal itu. Dering ponsel Dylan menyadarkan keterdiamannya. Tak butuh waktu lama Dylan langsung mengangkat panggilan itu. Hampir satu menit panggilan itu berlangsung sebelum akhirnya Dylan mengumpat. "f**k!" Irham hanya menamati saja saat Dylan mengumpat dengan wajah kesalnya. Diamnya Irham masih berlanjut hingga Dylan pergi dari ruangannya sendiri. Sesampainya Dylan di kediaman sang ayah, Dylan lantas menuju ke kamar pribadinya. Dan disana terlihat Brighita yang duduk di atas kasur. Brighita tampak kebingungan dan terus mengusap perut ratanya. "Kenapa kau baru sampai?" Bukannya menjawab Dylan lebih memilih melangkah mendekati gadis itu. Mengambil alih perut Brighita untuk di usapnya. Pandangan Dylan begitu teduh. Seakan ia memang telah menantikan hal ini terjadi. "Sudah kuduga. Perhitungannya tepat saat kita terakhir kali melakukannya di New Zealand." Brighita melotot tak percaya. Rahangnya seakan jatuh saking terkejutnya. "Apa benar kita melakukan hal itu?" tanya Brighita menatap penuh kengerian. Dylan hanya mengangguk lemah. Kedua bahu Brighita meluruh. Jadi benar ia hamil? Oh God. Ini sungguh berita besar. Brighita menerawang kebelakang. Saat ia telah berpisah dengan Dylan. Dan saat itu ia merasa tidak ada yang aneh pada dirinya. Bahkan ia juga tidak mengalami rasa mual seperti saat ini. Menstruasinya juga berjalan lancar. Ah benar. Baru seminggu lalu ia mengalami menstruasi. Dan sudah pasti jika seseorang itu memang hamil, ia tidak mungkin mengalami menstruasi. Berarti sudah pasti jika ia tidal hamil bukan? "Sir. Kau berbohong padaku!" Dylan merubah ekspresinya menjadi datar. Ia bangkit dari duduknya. Mengakibatkan Brighita mendongak untuk menatap wajah pria itu. "Aku tidak berbohong. Aku juga tidak sedang berkata bahwa apa yang aku katakan barusan itu benar." ucap Dylan santai. Melepas kancing atas kemeja miliknya lalu berjalan kearah kamar mandi. "Kau sungguh gila sir! Aku kira itu benar. Oh God. Aku tidak bisa melanjutkan kesalah pahaman ini. Aku harus segera memberi tau ibu mertua." Brighita meloncat dari tempat tidur dan berlari secepat mungkin. Dylan yang menyaksikan Brighita hanya mampu menghela nafasnya. Tak habis pikir ia bisa menikahi gadis kecil seperti itu. Brighita langsung membuka pintu kamar Saras tanpa mengetuk terlebih dahulu. Saking semangatnya untuk memberitaukan kebenarannya. "Bunda. Bun...." bibir Brighita terkatup rapat. Segera menutup kedua matanya saat melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Saras mendorong d**a bidang milik Virgoven secepat mungkin. Membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Virgoven nampak santai saja seakan ia tidak pernah kepergok oleh menantunya itu. "Kemarilah nak. Ada apa?" kata Virgoven santai. Saras nampak mengatur nafasnya sebelum ia benar-bebar menatap wajah Brighita. "Iya sayang. Ada apa?" ucap Saras menimpali. Brighita bergerak kikuk memasuki ruangan. Suasanya terasa begitu awkward banget. Awalnya Brighita hanya berniat berdiri dan menjelaskan dengan cepat. Tapi yang terjadi justru Saras dan Virgoven menyuruh Brighita untuk duduk di tengah-tengah mereka. "Kenapa sayang? Apa ada yang mengganggumu nak?" Saras mengusap surai panjang Brighita. "Bunda ada yang harus Tata jelasin." "Apa?" "Jadi..." Tata menunduk merasa tak kuasa untuk mengatakannya. "Kenapa Ta?" tanya Saras. "SebenarnyaTatatidakhamil." ucap Brighita dengan sekali hembusan nafas. Dan bukannya marah, Saras malah menunjukkan senyum hangatnya. "Itu bukanlah masalah besar sayang. Yaahhh.. Meski bunda berharap kamu memang benar hamil." "Kamu masih cukup muda untuk hamil, nak. Kamu sudah ayah agap sebagai putri kecil ayah. Jadi ayah tidak masalah jika kamu belum hamil. Lagipula ayah juga tidak ingin cepat-cepat punya cucu. Kau lihat sendirikan, rambut ayah belum beruban." Brighita tertawa mendengar ucapan Virgoven. Terlebih pada saat Virgoven yang nampak sedih sambil memegangi rambutnya. "Tapi.. Kenapa kalian begitu percaya padaku? Aku bahkan belum genap sehari tinggal disini." "Jojo selalu memiliki alasan tersendiri untuk memilih seseorang. Jadi itulah kenapa kami mudah percaya padamu. Dan ternyata benar. Pilihan Jojo memang tepat. Aku langsung menyukaimu saat melihatmu." Saras memeluk Brighita penuh sayang. Dan rasanya Brighita merasa senang karena ia memiliki ibu dan ayah mertua yang sangat sayang padanya. Brighita kembali ke kamar dengan sumringah. Begitu melihat Dylan yang tengah tiduran dengan buku yang ia baca, Brighita tetap melayangkan senyum manisnya. Sehingga membuat Dylan terbengong-bengong. "Sir. Aku ingin mandi." Pelipis Dylan terangkat kebingungan mendengar ucapan Brighita. Brighita bergerak mendudukkan dirinya disisi Dylan. "Kau... Ingin aku mandikan?" "Enak saja! Dasar kau mesum." omel Brighita. "Lalu apa?" Dylan mulai kesal dan langsung menutup buku bacaannya. "Aku tidak membawa apapun saat kemari. Jadi.. Boleh tidak aku pakai bajumu." tanya Brighita polos. "Apa kau harus bertanya seperti itu pada suamimu? Kurasa aku tidak perlu menjawabnya. Cepat mandilah." Saking senangnya Brighita memeluk Dylan dan melayangkan satu kecupan pada pipi Dylan. Dan itu justru membuat Dylan terdiam karenanya. "Terimakasih sir." teriak Brighita saat berlari memasuki kamar mandi. "Jangan panggil suamimu dengan sebutan SIR!" ucap Dylan menimpali ucapan Brighita sedikit berteriak. "My wife." lirih Dylan di sertai garis lengkung dibibirnya. Lebih dari enam menit berlalu, tapi Brighita belum juga menampakkan dirinya dari arah kamar mandi. Dylan melepas kaca mata membacanya dan menutup buku miliknya cepat. Menamati lamat-lamat pintu kamar mandi. Dan yang ditunggupun akhirnya menunjukkan rupanya. Brighita keluar dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut basahnya. Kaos oblong kebesaran milik Dylan hanya menutupi sebagian pahanya. Dylan pastikan, Brighita tidak memakai celana dalamnya. Terlihat dari tetesan air yang masih mengalir dari paha mulusnya. Dylan meneguk salivanya dengan susah payah. Sedangkan Brighita dengan santainya mendudukan dirinya di tepi ranjang samping Dylan. Menyebabkan pria itu melihat dengan jelas leher jenjang Brighita. Tak ayal pikiran kotor Dylan untuk membuat tanda di leher putih itu kian menjadi. Brighita berbalik, dan saat itu juga tatapannya bertemu dengan mata Dylan yang diliputi gairah. Brighita berkedip untuk menyadarkan keterdiamannya selama beberapa detik. Dengan kikuk Brighita menarik slimut dan membaringkan tubuhnya. Mencari sisi ranjang yang agak jauh dengan Dylan. Perasaan Brighita sedikit cemas melihat Dylan yang terus menatapinya. Hampir satu menit Brighita memejamkan matanya. Deru nafas terasa di permukaan kulit wajahnya. Tak ayal Brighita langsung membuka matanya. Dan hal itu membuat ia langsung bertemu pandang dengan Dylan. Brighita menahan nafasnya saat jarak di antara dia dengan Dylan hanya setipis penggaris saja. "Bernafaslah.." titah Dylan tepat di telinga gadis itu. Dan itu justru membuat Dylan menyesal. Karena posisinya yang tengah menindih Brighita, Dylan jadi merasakan dua gundukan yang menggesek permukaan d**a bidangnya saat Brighita mengatur nafasnya. "Aghhh!s**t!" Dylan langsung menyambar bibir Brighita dengan rakusnya. Brighita yang masih syok dan belum sadar akan apa yang terjadi, mulai di buat pusing dengan ciuman Dylan. Bahkan saat lidah pria itu menerobos masuk dan membelit lidahnya. Bermain di dalam mulutnya. Tangan bebas Dylan tergerak memijat leher Brighita dan memberikan rangsangan untuk gadis itu disana. "Emmmmhhhhh.." lenguhan pertama keluar dari mulut Brighita. Cukup puas dengan bibir Brighita, Dylan menarik wajahnya sejenak. Menatap wajah Brighita yang memerah akibat kurangnnya pasokan oksigen. Setelah melihat ketenangan di wajah Brighita, Dylan mendaratkan kecupannya pada kening, mata, hidung, pipi, berikut juga bibir Brighita yang sedikit dihisapnya di akhir. Dan akhirnya Dylan mendaratkan bibir panasnya pada area leher Brighita. Menghirup aroma Brighita yang kini akan menjadi favoritnya. "Ahhhh... Sshhhhh.." Desahan tertahan Brighita saat Dylan menghisap dan menggigit lehernya. Tangan Brighita yang sedari tadi diam kini menggantung pada leher Dylan. Meremas rambut pria itu saat gigitan pada lehernya terasa sakit dan nikmat dalam waktu yang bersamaan. Brighita mulai menikmati cumbuan dari Dylan. Ini semua sungguh luar biasa nikmat bagi Brighita yang baru pertama kali merasakannya. "Sir." lirih Brighita. Dylan langsung menghentikan aksinya. Menaikkan sedikit tubuhnya untuk melihat Brighita. "Jangan panggil suamimu dengan sebutan 'sir' my wife." suara Dylan terdengar rendah dan semakin membuat tubuh Brighita meremang. "Apa yang ingin kau katakan?" tuntut Dylan yang tak sabar karena Brighita tetap saja diam. "Jo." panggilan lembut Brighita itu justru terasa seperti desahan di telinga Dylan. Dan itu sukses membuat bagian bawahnya tegang. Mungkin Dylan akan langsung menerjangnya jika saja Dylan masih memiliki kesadaran jika Brighita adalah wanita berbeda yang pernah ia temui. Maksudnya, Brighita berbeda dari p*****r-p*****r yang pernah ia tiduri. "Katakan sayang." Dylan mengusap surai lembut Brighita hingga tangan itu turun menyentuh leher Brighita. Melihat jejak yang ia tinggalkan disana. Warna merah yang kontras dengan kulit putih Brighita. Sangat pass. "Apa, kita akan melakukannya sekarang?" Segaris senyuman timbul di bibir Dylan. Dylan mengecup lama kening Brighita sebelum menjawab. "Kita telah sah menjadi suami istri, Ta. Aku tidak akan bisa menahan nafsuku lebih lama lagi terhadapmu." Lenguhan panjang terdengar saat Dylan beraksi di area leher Brighita. Dylan terus menghisap, menyecap dan membuat tanda di setiap sudut. "Kau akan menikmatinya aku janji." ucap Dylan. Ia bangkit dan melepas pakaiannya. Menyisakan celana yang membuat Dylan hanya bertelanjang d**a saja. Merasa tak ada penolakan, Dylan bergerak cepat meraup bibir Brighita. Bahkan gadis itu kualahan menerima permainan bibir Dylan. Tangan Dylan menelusup ke bagian bawah kaos Brighita. Mengusap lembut perut Brighita. Dan mulai merambah ke atas. Sampailah tangan Dylan pada dua gundukan yang selama ini ingin di rabanya. Brighita bergerak gelisah di bawah Dylan. Bahkan saat tangan Dylan mulai mempermainkan payudaranya, Brighita merasakan nafasnya tercekat. Hingga semua terjadi begitu saja. Brighita yang menerima setiap cumbuan Dylan. Dan malam itu menjadi malam yang panjang bagi Brighita. Setiap desahan dan erangan nikmat memenuhi ruangan itu. Malam pertamanya dengan Dylan, akan selalu menjadi malam yang penuh kenangan bagi Brighita. Seberkas cahaya menyelinap melalui celah jendela. Dalam tidurnya Brighita menggeliat mencari kenyamanan. Oh.. Tubuhnya seakan mati rasa. Brighita mengerjapkan matanya, lalu menengok kebelakang. Dan di belakangnya, Dylan tertidur sembari memeluk tubuhnya erat. Deru nafas Dylan berhembus mengenai permukaan wajahnya. Aroma pinus milik Dylan membuat Brighita menjadi terbayang-bayang akan kegiatan yang telah mereka lakukan semalam. Ughhh.. Tak bisa di pungkiri Brighita sangat menikmati kegiatannya semalam. Bahkan mereka melakukannya hingga berkali-kali. Merasakan adanya pergerakan dari Brighita, Dylan mulai terbangun dari tidurnya. "Kenapa? Apa masih sakit?" tanya Dylan. Tangan kanannya justru mengelus area inti Brighita yang justru membuat Brighita meremang menahan desahan. Dylan tersenyum geli memperhatikannya. Semalam merupakan malam paling nikmat yang pernah ia rasakan. "Akhh...Sakitt!! Tidak! Tidak! Aku tidak mau Jo! Keluar kan lagi milikmu!" jerit Brighita. Menjambak rambut Dylan. Bukannya meringis merasakan kenikmatan, Dylan justru meringis merasakan sakitnya jambakan Brighita. "Sakitnya tak berlangsung lama, aku janji." ucap Dylan menenangkan. Brighita tetap menggeleng di sertai air mata yang berlinang. "Tidak mau. Hikss. Kau menyakitiku." isak Brighita. Dan saat itu, Dylan seakan di tempatkan dalam posisi tersulit. Dia tidak mungkin menghentikannya saat setengah dari kejantanannya hampir sepenuhnya memasuki inti Brighita. "Akhhhh" erang Brighita katika Dylan berhasil memasukinya. Dylan menciumi wajah serta leher Brighita sebagai pengalih rasa sakit gadis itu. Setelah Brighita mulai tenang, Dylan mulai bergerak dengan ritme sedang ke ritme cepat. "Ahhh... Shhh.." desahan demi desahan mulai keluar dari bibir mungil Brighita. Dan itu cukup membuat Dylan tersenyum kemenangan. Ingatan itu terus terngiang-ngiang di pikirannya. Bagaimana lucunya wajah Brighita saat menahan sakit, dan ekspresi kenikmatan Brighita yang pastinya sangat menggoda. "Emhhh.." lenguh Brighita saat Dylan mulai mengelus kewanitaannya. "Kenapa? Sakit?" tanya Dylan. Tersenyum geli. Tak ingin Dylan di atas kemenangannya, Brighita menggigit bibir bawahnya. Mencoba menahan desahannya. "Jangan menahannya sayang. Aku ingin mendengarnya." suara serak Dylan merangsang seluruh aliran darah Brighita. "Jo. Shh.. Aku lapar." akhirnya Brighita mampu mengucapkan kalimat itu dengan cepat. Dan ia bersyukur saat tangan Dylan menghentikan pergerakannya. "Baiklah. Aku akan mengambil makanan untukmu. Dan sebaiknya, kau mandilah terlebih dahulu." Setelah kepergian Dylan, Brighita terengah menghirup oksigen. Akhirnya ia mampu terbebas dari tipu daya Dylan. ------------- Brighita berjalan terpogoh-pogoh mengikuti langkah Dylan di depannya. Pagi tadi Dylan mengatakan kepada Virgoven serta Saras, bahwa ia ingin tinggal berdua bersama Brighita saja. Meski agak sedikit kecewa saat akan berpisah dengan Saras, Brighita tetap menerima keputusan Dylan, yang sekarang menjadi kepala rumah tangganya. Ughhh.. Menyebalkan saat Dylan sama sekali tak memperhatikan dirinya yang kesulitan berjalan. Brighitapun terus menggerutu dengan bibir yang berkerucut kesal. Sesampainya mereka di lantai yang diyakini Brighita tempat apartemen milik Dylan, Brighita terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang langsung berhambur kepelukan Dylan begitu melihat kehadiran pria itu. Tak dipungkiri, Brighita merasa sesak kala Dylan justru membalas pelukan wanita itu. Bahkan mereka tampak mesra dan serasi. Oh pastilah, wanita itu kan seorang model ternama yang memiliki paras cantik serta tubuh sexy. "Dylan. Akhirnya aku bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu. Selama seminggu aku berada di Paris, membuatku terasa tersiksa karena tidak dapat merasakan sentuhanmu." Oh yang benar saja! Brighita seakan hampir muntah mendengar perkataan Jessi. Dalam hati Brighita, ia berharap bahwa Dylan akan melonaknya. Sudut bibir Dylan tertarik keatas. "Kalau begitu, bagaimana kalau hari ini kita melakukannya?" tawar Dylan yang langsung mendapat anggukan dari Jessi. Seakan melupakan sesuatu, Dylan berbalik sejenak dan mendapati Brighita yang menatapnya dengan perasaan marah. Dylan menyerahkan kartu akses masuk apartemnnya kepada Brighita. Dan setelahnya, menginggalkan Brighita tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Sudut mata Brighita mengeluarkan setetes cairan bening. Baru saja Brighita ingin menyesuaikan kehidupan Dylan. Tapi Dylan justru telah menyakitinya. Berselingkuh darinya. Dan bahkan perselingkuhan itu dilakukan secara terang-terangan di hadapannya. Terbesit pikiran bahwa Brighita menyesal melakukan pertama kali dengan pria semacam Dylan. Brighita mencoba menguatkan hatinya. Mungkin ia harus bertanya terlebih dahulu kepada Dylan tentang kejadian barusan. Bisa saja ia salah menafsirkan maksud kedekatan mereka. Ya. Itu bisa saja terjadi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD