Chapter 6

2646 Words
Sebulan setelah Brighita mengiyakan untuk menikah dengan Devano, hidupnya terasa sunyi. Hatinya selalu resah setiap malamnya. Apa itu memang keputasan yang baik untuk diambilnya? Hari pernikahan juga di percepat. H-2 dari sekarang. Bahkan air hujan kini turun mencoba meneduhi hatinya. Tapi tetap saja ada yang ganjal dengan hati dan pikiran Brighita. Ting! Brighita melihat satu notifikasi masuk di ponselnya. Notofikasi yang berasal dari aplikasi berita. Di layar pipih itu terpampang jelas nama Dylan Jordan Bouttier. MERAMBAHNYA PERUSAHAAN BOUTTIER'S DALAM DUNIA BISNIS Tak hanya di kawasan Asia, kini perusahan Bouttier's yang telah di ambil alih oleh pewaris dari Virgoven Jordan Bouttier yakni putra sulungnya Dylan Jordan Bouttier telah merambah ke kawasan Eropa dalam mengembangkan sayap perusahaan tersebut. Tak hanya bisnis perhotelan dan pusat perbelanjaan saja, kini petusahaan itu telah membuat bisnis baru di bidang kuliner. Dengan otak cerdas serta rupa yang tampan, Dylan Jordan mampu menduduki orang pertama dalam pencarian orang yang selalu di cari setiap kaum hawa.... Brighita tak ingin melanjutkan membaca berita itu. Sebulan yang lalu Dylan Jordan telah di angkat menjadi Ceo, dan diangkatnya Dylan menjadi seorang Ceo telah membawa dampak besar bagi perusahaan-perusahaan lokal. Sehingga mudah bagi pria itu untuk cepat di kenal khalayak ramai. Terlebih wajah Dylan yang tampan dengan tubuh tinggi tegap serta atletis. Pastilah selalu menjadi incaran. Bahkan setelah pengangkatannya itu, banyak sekali skandal yang muncul tentang pria itu. Setiap malamnya ia pasti akan selalu bergonta ganti pasangan. Uh... Brighita sudah menduga itu. "Tata? Sayang." Brighita menoleh mendengar suara sang ayah. Vincent yang masih berada di ambang pintu menunggu jawaban dari putrinya itu langsung masuk ke kamar Brighita saat mendapat anggukan dari putrinya. "Daddy ingin bicara sama kamu." ucap Vincent mendudukkan dirinya di samping Brighita serta mengelus surai hitam putrinya. Tatapan Vincent penuh dengan kasih sayang, hal yang sudah lama tidak pernah di lihat Brighita setelah mereka berpisah. Tentu saja hal itu membuat hati Brighita luluh seketika. "Maafkan Daddy tak bisa melindungi mu. Daddy gagal menjadi seorang suami, dan kini sekarang Daddy gagal menjadi seorang ayah untukmu." Terasa getir hati Brighita saat mendengar pernyataan dari Daddy nya barusan. Bahkan mata dari pria paruh baya itu mulai memerah dengan sedikit cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. "Jika memang kamu tidak ingin menikah untuk saat ini, Daddy akan mengijinkanmu untuk membatalkan pernikahan ini. Bagi Daddy ke bahagiaan putri-putri Daddy lah yang paling utama. Maaf Daddy telah bersikap egois nak." "Lalu bagaimana dengan perusahaan Daddy?" "Itu tidaklah menjadi tanggung jawabmu. Itu adalah tanggung jawab Daddy. Daddy akan mengurusnya semampu Daddy." Vincent memberikan senyum tulusnya. Dan itu justru semakin membuat Brighita tak tega melihatnya. Semua keputusan telah di serahkan kepada Brighita. Dan itu justru semakin menambah beban pikirannya. Satu sisi ia ingin mengakhiri pernikahan itu, tapi satu sisi yang lain ia tak tega melihat sang Daddy yang terus bekerja tanpa istirahat. ---------- Hari dimana pernikahan itu tiba. Brighita telah memutuskan untuk melanjutkan pernikahaan ini. Masa bodoh dengan perasaannya. Ia yakin itu hanyalah perasaan bimbang sejenak karena ia harus melepas masa lajangnya. Ya itu hanyalah persaan bimbang yang tanpa dasar. Yakin Brighita. Seluruh para tamu undangan serta para anggota keluarga mengenakan topeng yang beragam. Itu memang sudah di rencanakan. Devano memiliki cara yang unik serta elegant untuk membuat acara pesta pernikahannya menjadi spesial. Mulai para tamu pernikahan mengenakan topeng layaknya pesta topeng, serta perpaduan bunga mawar serta lavender yang ternyata mampu bersatu membentuk jejeran warna yang indah. Bruk! "Maaf nyonya." gadis yang nampak lelah serta wajah yang pucat itu menundukkan badannya atas kesalahan yang dilakukannya. Sukma wijaya melihat siapa gerangan gadis muda itu.  "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Felicya sedikit mengeryit. "Iya saya baik-baik saja." "Kau, anak tiri dari Vincent?" "Iya nyonya." jawab Felicya sopan. Sukma tersenyum mendengarnya. Lalu ia lekas menarik lengan Felicya dan membawa gadis itu menjauh dari krumunan ketempat yang lebih sepi. Setelah situasi yang tidak terlalu ramai, Sukma lekas memeluk tubuh Felicya. Sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Sukma, Felicya mulai menikmati pelukan yang di rasanya begitu hangat dan nyaman. Bahkan Felicya tak pernah merasakan itu dari ibu kandungnya sendiri. "Akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung. Ternyata benar apa yang dikatakan Vin, kau sangat cantik." "Maaf, nyonya siapa?"  "Aku Sukma. Mantan istri ayahmu. Ibunya Tata." Sukma masih mempertahankan senyum hangatnya. Mendengar Sukma adalah mantan istri ayah angkatnya membuat Felicya menyesal seketika. "Maaf kan aku. Maaf kan atas apa yang dilakukan ibuku. Aku tau dia salah. Maaf karena telah membuat mu dan Tata menjadi susah. Aku tidak berniat untuk berlaku jahat. Ku mohon maaf kan aku." Felicya mulai terisak dengan tangisnya. "Tidak. Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Ini semua bukan salahmu. Kau bahkan telah melalui hidup yang sulit semasa kecilmu." ucap Sukma menenangkan Felicya. "Bagaimana anda bisa tau?" "Vincent menceritakan semuanya padaku. Kau gadis yang baik nak. Kau pantas bahagia." kata-kata Sukma memberikan semangat untuk Felicya agar tetap tegar menghadapi masalahnya. Sekali lagi Felicya memeluk Sukma. Menumpahkan seluruh tangisnya di hadapan wanita paruh baya itu. Dirinya sungguh lelah. Dan hanya sandaran seorang ibulah yang ia butuhkan saat ini. "Tidak apa sayang. Semua yang kau lakukan akan membawa ke bahagian padamu nantinya." Sukma menepuk-nepuk punggung Felicya. "Terimakasih nyonya." Felicya mengusap matanya yang basah karena air mata. "Ei.. Kenapa memanggilku seperti itu. Kau boleh memanggilku mama, atau ibu. Kau dan Brighita adalah anakku. Meski kau bukan anak dari rahimku. Tapi mendengar Vin yang terus menceritakan kepribadianmu darinya membuat aku sayang padamu." protes Sukma tak terima dipanggil 'nyonya'. Meski sedikit heran mendengar hubungan ayah tirinya serta mantan istrinya itu yang justru terlihat sangat dekat, Felicya tetap memberikan senyum senangnya. Ogh.... Ia sungguh bahagia bisa bertemu wanita selembut Sukma. "Lain kali kau harus berkunjung ke rumahku. Setelah Tata menikah aku pasti akan sangat kesepian. Aku akan memasakkan makanan kesukaanmu. Kau sangat suka sayur sop kan? Aku akan memasakkan sayur sop yang enak." "Baiklah bu. Feli akan berkunjung kerumahmu." jawab Felicya senang hati. Mereka saling membalas senyum masing-masing. Seakan mereka memang ibu dan anak yang saling menyayangi satu sama lain. Dalam balutan gaun pengantin. Brighita terlihat menawan dengan tatanan rambut yang di ikat keatas serta mahkota yang terbuat dari bunga alami mengelilingi kepalanya. Gaun yang dipakai Brighitapun hanya gaun selembut sutra yang menjuntai kebawah. Brighita memang tidak menginginkan gaun yang begitu ribet, maka dari itulah Devano khusus memesan gaun sederhana namun sangat berkelas itu untuk Brighita. Ruangan yang saat ini ia tempati telah di dekor dengan warna putih serta bunga lavender yang dominan. Apa ini memang yang diharapkan Brighita? Kenapa perasaannya seakan tak rela dengan pernikahan ini? Satu ketukan di pintu menyadarkan Brighita dari lamunannya. Vincent sang ayah tengah berdiri menatap putri tercintanya di ujung pintu. Langkah tegasnya mengahampiri sang putri dengan senyuman membuat Brighita membalas tersenyum getir. Pernikahan ini bukan keinginannya. Ia hanya tak ingin melihat Daddy nya kecewa itu saja. Sekarang Brighita sadar apa yang membuatnya resah. Semoga ia bisa menjalaninya sampai akhir. "Tata. Kamu sudah siap." Brighita mengangguk menanggapi sang ayah. Langsung saja Brighita memakai topeng silver miliknya dan menerima uluran tangan sang ayah. Vincent dengan penuh ketegasan mengantarkan Brighita menuju ke altar. Kehadiran mereka menjadi pusat para tamu undangan. Brighita nampak bersinar dengan balutan gaun sederhananya serta topeng yang justru menambah kesan misterius. Seolah para tamu undangan menerka-nerka secantik apa mempelai wanita itu. Sesampainya di hadapan Devano, Vincent menyerahkan putrinya sepenuh hati kepada pria itu. Mempercayakan kehidupan putrinya terhadapnya. Brighita dan Devano saling menggenggam tangan masing-masing. Sekilas Brighita melihat mata Devano dari celah topeng pria itu. Mata yang menghanyutkan Brighita. Dan entah kenapa genggaman tangannya terasa nyaman. Hal itu membuat Brighita tenang untuk menjalani pernikahannya. Setelah mereka mengucapkan janji pernikahan, para tamu riuh mengatakan untuk 'cium' Entah perasaannya saja atau apa, tapi yang jelas Brighita sempat melihat Devano menyunggingkan senyumnya. Akhirnya Brighita menerima sebuah ciuman pertama dari Devano. Ciuman itu lama kelamaan bukan hanya sebuah ciuman biasa. Namun berubah menjadi lumatan yang memabukkan Brighita untuk membalasanya. Tunggu, ciuman itu? Parfum itu? Brighita seakan mengenalnya. Brighita langsung mendorong d**a Devano untuk menghentikan ciumannya. Masih terengah dengan nafasnya, Brighita manarik kasar topeng Devano. Detik berikutnya Brighita tak mampu menahan keterkejutannya. Brighita seakan terseret kedalam pusaran air yang menghanyutkannya ke dalam kegelapan. "Dylan Jordan!" ucap Brighita lantang. Dylan mengusap sudut bibirnya sembari menunjukkan senyum jahatnya. "Akhirnya kau mengenali mempelai pria mu. Istriku..." balas Dylan dengan suara rendahnya. Brighita terasa di permainkan. Ia marah dengan keadaan ini. Seluruh tamu undanganpun ikut berdiri saking terkejutnya melihat kejadian di luar nalar mereka. Bahkan Delano nampak memahan emosi dan menahan geraman. Namun setelahnya pria itu lebih memilih meninggalkan ruangan. "Dimana Devano?" geramnya. "Kau pasti tau dimana dia sekarang ini." Langsung saja Brighita berlari mencari keberadaan Devano. Bagaimanapun Devano adalah orang yang harus menjelaskan kejadian ini setelah Dylan. Vincent serta Sukma ikut menyusul kepergian putrinya. Brighita membuka lemari pendingin. Dan benar saja, ia melihat tubuh Devano yang menggigil kedinginan. Brighita menghampiri Devano. Memapah pria itu untuk keluar. Yang benar saja! Dylan sungguh kejam membahayakan nyawa Devano yang hampir tak sadarkan diri karena kedinginan. Setelah membawa Devano ke tempat yang dirasanya sedikit hangat, Brighita mendudukkan Devano. Menatap pria itu dengan perasaan campur aduk. "Uhuk! Kau.... Apa aku sudah terlambat?" ucap Devano dengan bibir yang memutih dan bergetar. Cairan bening meluruh dari pelupuk mata Brighita. Pria yang saat ini di hadapannya tidak bersalah. Devano tidak tau menau mengenai Dylan. Dan ini semua... Kesalahan Brighita. Kesalahannya karena bertemu dengan Dylan. Ya, bertemu dengan Dylan adalah sebuah kesalahan. Brighita memeluk tubuh menggigil Devano. Memeluknya begitu erat. Tangisnya mulai pecah mengisi kekosongan ruangan itu. Devano tertawa miris. Sebuah pelukan dari Brighita telah menjadi jawaban untuknya. Sekarang ia telah kehilangan Brighita. Tiga tahun menjadi sahabat Brighita telah menumbuhkan rasa cinta di hati Devano. Dan sekarang, saat ia mempunyai kesempatan untuk memiliki gadis itu seutuhnya. Semuanya harus terhenti karena suatu kejadian yang akan membuatnya terus menyesalinya seumur hidup. Tangan Devano terlalu lemah untuk membalas pelukan Brighita. Ia hanya memejamkan mata merasakan pelukan dari gadis itu. Dan mungkin itu akan menjadi pelukan terakhir mereka. -------- Sukma tak tega melihat kesedihan yang kini menghampiri Brighita. Ibu mana yang tega melihat putrinya seolah di permainkan oleh takdir? Sukma menghampiri Brighita yang terduduk di ranjang miliknya. "Ta. Apa yang terjadi biarlah terjadi. Jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Bagaimanapun kamu akan menjalani pernikahan itu. Baik suka maupun tidak suka, itu adalah tanggung jawabmu sebagai seorang istri. Mungkin Tuhan punya rencana lain untukmu. Rencana yang mungkin akan lebih indah dari sebelumnya." "Tapi, bagaimana jika rencana itu tidak berakhir dengan indah." lirih Brighita. Sukma terbungkam tak mampu menjawab. Hatinya miris melihat putrinya. Tepukan dari Vincent yang tiba-tiba berada disisinya seakan menguatkan Sukma dan berkata semua akan baik-baik saja. ------ Irham hanya bisa mengela nafasnya kasar melihat kelakukan Dylan. Pria itu terus meminum vodka tanpa peduli kekacauan yang telah di buatnya. Bahkan Dylan langsung pulang tanpa bertemu dan menjelaskan apa yang telah di perbuatnya pada Brighita. "Kau sungguh gila! Jika memang kau menyukai gadis itu kau bisa mengajaknya menikah secara baik-baik. Tapi yang kau lakukan malah mempermainkan gadis itu." dengan kesal Irham merebut gelas Dylan dan meminumnya. "Kau pikir aku menyukai gadis itu? Hahh....Sejak kapan kau pernah melihatku menyukai seorang wanita? Aku hanya tidak ingin melanggar prinsipku. Gadis itu telah masuk dalam hudupku. Dan sekarang jalan keluar akan tertutup untuknya." Kini Irham tertawa hambar. "Tapi nyatanya hadis itu telah masuk terlalu banyak ke dalam hidupmu. Dan itu artinya kau memang menyukainya." Tak ingin ambil pusing dengan ucapan Irham. Dylan tetap acuh. ----------- Hari dimana Dylan merebut posisi mempelai pria dan menikahi Brighita memang tidak tersebar luas. Sehingga Dylan patut bersantai karena ia tidak menjadi santapan para awak media. Tapi Dylan harus menghadapi ketegangan saat ayah ibunya datang dan menyidang dirinya di ruang kerjanya. Dylan berdiri kaku di hadapan sang ayah. Virgoven Jordan Bouttier selalu menakutkan saat marah. Bahkan Dylan sempat mengira bahwa ayahnya memiliki kepribadian ganda. Karena saat ayahnya bersikap lembut sisi gelap dari sang ayah seakan menghilang dan begitu juga sebaliknya. Saras Givana Bouttier tetap menunjukkan sikap lemah lembutnya meski ia merasa kecewa dengan apa yang telah di perbuat oleh putra sulungnya. "Kapan kau akan Dewasa Jo? Ayah tidak pernah mengajarimu untuk merebut pernikahan orang lain! Kau telah membuat kesalahan! Hah! Apa kau mengerti? Dan setelah kesalahan itu, kau masih belum membereskan masalahmu itu!" teriak Virgoven penuh emosi. "Dan kau bahkan tidak mengundang ayahmu dalam pernikahanmu! Apa kau sudah menganggap ayahmu tiada hah!" "Jo. Apa kau menyukai gadis itu? Ibu rasa, Tata gadis yang baik." perkataan ibunya barusan membuat Dylan bingung. "Lana telah menceritakannya." jawab Saras masih dengan kelembutannya. "Jika kau tidak ingin menjemput istrimu. Maka ayah yang akan menjemputnya." ucap Virgoven tajam. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu berikut juga dengan Saras. Dylan menggeram kesal. Ughh..   Ayahnya selalu saja ikut campur. Dylan bergegas menyusul sang ayah sebelum dirinya di permalukan. Kediaman Vincent tengah di kejutkan dengan kedatangan seorang Virgoven. Vincent amat mengetahui siapa itu Virgoven. Dia merupakan salah satu pebisnis yang paling di takuti dan paling di kagumi. Kedua pihak keluarga duduk di ruangan keluarga dengan ketegangan yang menyelimuti keadaan di sana. Syukurlah Sukma belum pergi dari rumah Vincent. Sehingga ia bisa ikut andil dalam memperjelas hubungan Brighita dengan Dylan. "Saya ingin meminta maaf atas apa yang telah dilakukan putra saya tuan Vincent." ucap Virgoven memulai perbincangan. "Saya juga kecewa atas apa yang dilakukan putra anda. Bahkan setelah semua kekacauan ini, putra anda tidak pernah mengunjungi saya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya." kata Vincent sedikit kesal. "Saya mengerti dengan kekecewaan anda. Sekali lagi saya ingin meminta maaf atas apa yang telah di perbuatnya." Vincent sedikit kagum dengan pembawaan sikap Virgoven. Dan ternyata rumor yang di dengarnya selama ini benar. Bahwa Virgoven adalah orang yang bijaksana. "Dan sekarang saya akan mengutarakan niat saya datang kesini. Saya ingin menjemput menantu saya untuk ikut dengan saya." "Saya masih belum setuju dengan itu. Saya tidak percaya dengan keluarga anda." Sukma angkat bicara dengan apa yang ia pikirkan saat ini. Vincent menahan senyumnya melihat sikap mantan istrinya itu yang tidak pernah berubah sejak dulu. Sukma selalu berucap jujur tanpa melihat siapa orang itu. "Kenapa seperti itu? Kami tidak berniat jahat. Lana sempat bercerita tentang Tata. Dan aku menyukainya." kali ini Saras turut serta berkomentar. "Apa mereka sudah lama saling mengenal?" "Aku rasa mereka belum lama saling mengenal. Tapi menurut yang dikatakan putri saya Lana, mereka saling menyayangi satu sama lain." "Tapi itu tidak menjamin." "Pokoknya aku ingin Tata ikut dengan kami." keluarlah sikap childish seorang Saras. "Tidak bisa. Tata akan ikut bersama kami." tolak Sukma tak terbantahkan. "Pokoknya Tata akan ikut bersama kami. Lagian Tata sudah menjadi menantu kami." "Sekali tidak akan tetap tidak." Mereka masih saling berdebat satu sama lain. Virgoven hanya mampu memijat pelipisnya saat melihat perdebatan kedua wanita itu. Sedangkan Vincent menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang. Sukma merelakan Brighita untuk pergi berasama keluarga Virgoven. Meski awalnya Brighita sempat bingung dengan kehadiran keluarga Dylan untuk menjemputnya. Bahkan Brighita sempat kikuk saat tiba-tiba Saras ibu Dylan, memeluknya saat pertama kali mereka bertemu. Sukma masih menggerutu kesal pada mantan suaminya itu. "Kenapa kau membiarkan anak kita ikut bersama mereka? Kau sungguh menyebalkan Vin. Untunglah kita telah bercerai, aku tidak perlu repot-repot untuk mengancammu!" "Kau kejam Sukma. Kau tau aku masih mencintaimu. Dan kau malah menyiksaku. Ingat saat aku berhasil mengajakmu rujuk. Aku tidak akan membiarkanmu untuk turun dari ranjang." ancam Vincent. "Wleks. Aku menunggu hari itu." goda Sukma lalu pergi. Sembari berkata "sekarang aku ingin menemui Feli." "Hey! Dari pada menemui Feli, kenapa kita tidak membuat kencan ulang." saran Vincent mengikuti langkah Sukma. ------- Brighita pikir ia akan satu mobil bersama Virgoven dan Saras saat akan kerumah mereka. Tapi nyatanya, ia malah satu mobil dengan Dylan yang telah menunggunya. Untuk apa ia mengharapkan Dylan? Jelas Dylan tidak akan mau menjemputnya dan menjelaskan semua masalah. Dylan justru memilih menunggu di mobil saat sang ayah Virgoven, menjemput dirinya.  Oh God! Brighita seharusnya marah dengan Dylan. Tapi ia justru malah terpesona dengan penampilan Dylan yang.. Yang... Yang semakin tampan. Ughh.... Brighita benci mengakuinya. Dalam perjalanannya, Brighita sama sekali tak bersuara. Begitupun Dylan yang tak berniat untuk memulai pembicaraan. Suasana hanya diisi dengan deru angin yang menerpa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD