Chapter 5

2194 Words
Brighita mengerjap. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Kepalanya terasa berat, dan perutnya seakan tertimpa sesuatu. Brighita menatap kesamping saat merasa deru nafas seseorang. Dylan tertidur menghadap tepat di sisi wajahnya. Dan pantas saja perutnya terasa berat, itu semua karena tangan kekar Dylan yang menimpa perutnya. Tapi seingat Brighita, Dylan tak ada disampingnya saat ia pingsan. Mengingatnya, Brighita menjadi ingat kembali akan apa yang telah di ucapkan Dylan terhadapnya. Dan itu cukup melukai hatinya. Brighita mencoba untuk mendudukkan dirinya sepelan mungkin. Takut bila Dylan terganggu dengan pergerakannya. "Kau sudah bangun?" suara berat Dylan mengagetkan Brighita. "Emm." gumamnya. Dylan ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Brighita. Pagi yang indah saat melihat wajah cantik Brighita untuk pertamakalinya ia membuaka mata. "Bagaimana kondisimu?" Brighita mengangguk. Dylan menghembuskan nafasnya lelah. Ini semua akibat Dylan tak mampu menahan amarahnya. Sekarang berakibat pada Brighita yang takut untuk menatap dirinya. "Aku sudah katakan padamu untuk melupakan masalah kemarin. Mulai sekarang belajarlah untuk melihat mayat yang akan terkapar di hadapanmu." ucap Dylan. Brighita tak menjawab. Tatapannya masih kosong. Dylan mengusap wajahnya kasar. Ini semua tidak akan membantu! Dylan bangun dari tidurnya lalu berjalan keluar kamar. Meninggalkan Btighita yang diliputi kesedihan. Hidup bersama Dylan tidaklah semenyenangkan pikirannya. _______ Di ruang makan telah tersaji berbagai jenis makanan khas New Zealand. Bukannya menatap lezatnya makanan itu, Dylan justru menatap Lana serta Irham yang duduk bersebelahan. Irham nampak santai tertawa bersama Lana, sesekali pria itu menyingkirkan anak rambut yang turun kewajah cantik Lana. Rasanya Dylan iri, bagaimana tidak? Ia sama sekali tidak memberikan hawa postif untuk Brighita. Ia justru memberikan ucapan tajam kepada gadis itu. Saat melihat Dylan yang mengambil duduk di hadapan kedua sejoli itu, barulah Lana dan Irham berhenti tertawa. "Kalain sungguh menyebalkan!" ucap Dylan. "Kenapa memangnya? Apa kau tidak suka melihat aku bermesraan dengan kekasihku sendiri. Lagi pula aku juga sudah memberikanmu kamarku semalam." sinis Lana. "Bukankah itu juga baik untukmu karena bisa seranjang dengan Irham." Irham tersedak dengan ludahnya sendiri. "Jangan terkejut seperti itu. Aku sudah tau semuanya. Apa kau tau, aku tidak bisa tidur semalaman akibat ulah kalian berdua semalam! Lain kali tanyakan terlebih dahulu apakah semua kamar di mansion ini kedap suara atau tidak." Dylan menyantap makanannya seolah tak peduli. "Kau tau sendiri aku dan Lana tidak pernah bertemu. Jadi malam kemarin malam yang baik untuk meluapkan semuanya." Lana mencubit perut Irham yang justru membenarkan ucapan kakaknya itu. "Irham cepat selesaikan makanmu. Kita akan bertemu dengan Clark." Dylan menyelesaikan makannya dengan cepat. Setelah itu ia bergegas meninggalkan ruang makan. "Kau akan kemana? Bukankah kau sudah berjanji untuk menghabiskan hari ini bersamaku?" Lana memegang tangan Irham sangat erat. "Aku akan menemui saudara mu Clark. Aku janji ini tidak akan lama. Percayalah, ini semua demi masa depan kita." ucap Irham meyakinkan. Lana hanya mengangguk pasrah. "Oh iya, tolong kau hibur Brighita. Katakan padanya untuk tidak menyerah pada kakakmu Jo. Kau tau sendirikan, Dylan Jordan sangat bodoh soal perasaannya sendiri. Apalagi terhadap perempuan." Irham mengecup bibir Lana sekilas sebelum pergi meninggalkan gadis itu. Lana memasuki kamarnya. Disana ia melihat Brighita yang masih setia dengan keterdiamannya. "Udahlah, kamu gak perlu sesedih ini. Bagi Jojo bunuh membunuh itu udah biasa." Brighita menatap sekilas Lana. "Semuanya emang gak berjalan secara sempurna. Tapi kamu yang sabar aja. Karena aku yakin, Jojo gak akan mungkin mau nglepasin kamu begitu aja. Dia punya prinsip yang gak akan mungkin bisa di ubah oleh siapapun." "Aku boleh pinjem ponsel kamu?" Lana mengeryit. "Boleh." Setelah menerima ponsel milik Lana. Brighita meminta ijin ketoilet. Di dalam toilet, Brighita mencoba menghubungi salah satu temannya, yang sekiranya dapat membantu dirinya. "Halo Devano? Ini aku Tata." katanya saat panggilan itu tersambung. "Ya Ampun ini beneran kamu Ta? Syukurlah kamu hubungin aku. Ta, ada yang ingin aku omongin sama kamu, ini penting banget Ta. Keadaan saat ini benar-benar gawat Ta." "Devano please dengerin aku dulu! Aku butuh bantuan kamu." "Bantuan apa Ta? Kamu kenapa? Apa ada masalah sama kamu? Sekarang kamu dimana?" "Critanya panjang. Aku mohon bantu aku. Tolong kamu ikutin semua rencana yang aku buat. Aku akan kirim rencana itu melalui e-mail." setelahnya Brighita memutus panggilan itu. Lalu saat dirasa urusannya telah terselesaikan Brighita beranjak keluar dari toilet. Brighita berharap apa yang direncanakannya akan berhasil. Semoga saja berhasil. Merasa kondisinya sedikit membaik dan mulai menyesuaikan keadaan, Brighita mulai mampu beraktifitas seperti biasanya. Mengobrol, monton flm dan masih banyak lagi kegiatan yang dilakukannya bersama Lana. Ternyata Lana tak seburuk yang ia kira. Gadis itu mudah menerima keberadaan orang baru di sekitarnya. Sehingga memudahkan Brighita untuk menghilangkan rasa canggung. Meski kadang-kadang mereka tetap memperdebatkan hal kecil yang tak masuk akal. --------- "Ayolah Clark. Bantu aku, kita ini kan bersaudara." bujuk Dylan. Clark yang duduk santai bersandar pada sandaran sofa menatap heran pada saudaranya. "Kau mempersulit keadaan mu sendiri Jo. Kembalilah pada ayahmu, dan ambil alih perusahaannya. Kau pasti akan lebih mudah menghancurkan musuhmu itu." "Ini tidak semudah itu! Delano berusaha membunuhku dan mengambil alih pusat perusahaan. Dan lagi pula, salah satu mata-mataku mengatakan bahwa dia juga terlibat dengan salah satu klan mafia yang cukup berbahaya." "Kekuasaanmu lebih luas dari pada aku Clark." Clark menatap iba pada Dylan.  "Apa yang kau katakan memang benar adanya. Aku unggul diatasmu." Clark mengedikkan kedua bahunya. "Ck. Berhentilah menyombongkan dirimu terlebih dahulu." kesal Dylan. "Baiklah. Tapi, kau memang bodoh! Dengan membiarkan penghianat berada disisimu." perkataan Clark sedikit menyinggung perasaan Dylan. "Apa dasarmu mengatakan hal itu!" geraman Dylan tertahan, menatap Clark tajam. Clark mengambil pistol miliknya yang berada di meja. Lalu mengarahkan pistol itu pada sisi kanan Dylan. 'DOORRR'  Satu tembakan tepat mendarat pada kepala seorang pengawal pribadi Dylan. Hal itu sedikit membuat Dylan terlonjak. "Apa yang kau lakukan! Kau baru saja membunuh pengawalku!" kata Dylan penuh emosi. "Itulah yang membuatmu gagal. Kau harus lebih jeli untuk melihat yang mana lawan dan yang mana kawan." "Dia adalah salah satu kaki tangan seseorang yang sedang mengincarmu. Sedari tadi aku memperhatikan dia begitu serius mendengarkan percakapan kita. Seorang penghianat harua mati Jo. Ingat itu!" ucap Clark dengan santainya. Dylan menggeleng tak percaya. Clark memang lebih berpengalaman dari pada dirinya. Soal membunuh dan di bunuh, Dylan belajar banyak darinya. Mulai dari perdagangan gelap dan ilegal. Semua itu ia pelajari dari Clark. Benar-benar saudara yang b***t. "Aku ingin membuat kesepakatan denganmu Clark." "Baiklah. Aku akan menyetujui kesepatan itu jika menguntungkan untukku." Akhirnya, Dylan berhasil membuat kesepakatan dengan Clark. Kerjasama terjalin dengan baik di antara keduanya. Setelah masalahnya selesai. Dylan beserta Irham kembali ke mansion.  Irham langsung menghampiri Lana yang sedang menunggunya di kamar. Sedangkan Dylan memilih ke mini bar untuk meredakan dahaganya. Saat Dylan akan meminum segelas wine miliknya, sesorang mengambil alih gelas itu. Sehingga membuat Dylan menengok si pelaku. Brighita menunjukkan senyuman hangat miliknya. Dylan terpaku sejenak memperhatikan gadis itu yang bersikap aneh menurutnya. "Sir. Kurangilah minum alkohol, itu tidak baik untuk tubuhmu." ucapnya dengan lembut. "Kau... Apa yang terjadi padamu?" tanya Dylan heran. Brighita mendudukkan dirinya di kursi samping Dylan sebelum menjawab pertanyaannya. "Bukankah kau bilang aku harus mulai terbiasa dengan hal yang kau lakukan? Aku melakukannya sir." Dylan menatap curiga Brighita. "Apa yang kau inginkan." Sekali lagi Brighita mengulum senyumnya. "Aku ingin jalan-jalan menikmati kota bersamamu." Tak ada jawaban dari Dylan. Pria itu terdiam cukup lama hingga berkata "Baiklah. Bersiap-siaplah." katanya lalu pergi terlebih dahulu. Brighita bersorak dalam hati. Satu langkah telah di lewatinya. Sekarang menuju ke rencana berikutnya. Setelah menuju perjalanan laut, mereka tiba di salah satu kafe untuk mengisi perut mereka yang kosong. Seperti dugaan Brighita, tidak ada pengawal yang mengintilinya. Sekarang ia dapat bernafas dengan lega. Rencana ini hampir berjalan dengan sempurna. "Sir. Aku ingin ketoilet terlebih dahulu." pamitnya. Dylan hanya menatap kepergian Brighita dengan kesinisan di wajahnya. "Gadis bodoh!" gumamnya. Akhirnya setelah beberapa menit Brighita mampu keluar dari kafe. Sekarang yang ia perlukan hanya mencari kendaraan untuk mengantarkannya ke bandara. Dylan melirik jam tangannya. Seperti dugaannya, Brighita tak kembali. Dylan pun berdiri dan menghubungi salah satu orang kepercayaannya. "Awasi gadis itu. Jangan sampai ia melakukan apa yang saat ini sedang di rencanakan oleh ayahnya. Kalau perlu, jadilah salah satu pengawal dari keluarga itu. Jika sampai kau gagal menjalankan tugas ini, maka nyawamu sebagai gantinya." perkataan dingin dan tajam Dylan barusan mampu membuat orang yang sedang di hubungi itu bergidik ngeri. "Tunggu kedatangan ku. My pretty girl." ------------ Dua hari setelahnya. Brighita sampai kekediamannya. Meski sedikit enggan untuk menginjakkan kakinya kerumah sang ayah, namun tetap hal itu harus dilakukannya. Para pengurus rumah tangga menyambut kedatangan Brighita dengan hangat banyak dari mereka menunjukkan rasa senangnya melihat kepulangan Brighita. Brighita membalas setiap senyuman yang menyambutnya. Sungguh melegakan bisa kembali kerumah. "Nona? Nona sudah kembali? Kenapa tidak memberi tau saya terlebih dahulu." ucap pak Tamrin saat mereka berpapasan di ruang tengah. Brighita membalas ucapan pak Tamrin sopan. "Ada sedikit masalah. Tapi akhirnya saya berhasil keluar dari masalah itu pak Tamrin. Oh iya, dimana Daddy?" "Beliau ada di ruang kerjanya nona." setelah mendapatkan jawaban itu, Brighita lekas pergi menemui ayahnya. Dalam perjalanannya menuju ruangan sang ayah, Brighita sempat berpapasan dengan ibu tirinya. Mereka saling melemparkan tatapan tak suka satu sama lain. Memang seperti itulah hubungannya denga ibu tirinya. Yaitu saling membenci. Vincent jodie. Mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang sedang di kerjakannya saat pintu ruang kerjanya di buka dan menampilkan sosok putri tercintanya. "Tata." Vincent menatap tak percaya kehadiran Brighita. Kepulangan gadis itulah yang selalu ia harapkan. Langsung saja Vincent berjalan kearah Brighita. Memeluk putrinya dengan erat. Menyalurkan rasa rindunya. Begitu juga dengan Brighita yang membalas pelukan sang ayah. "Akhirnya kamu pulang juga. Daddy sangat merindukanmu." "Tata juga rindu Daddy." Vincent mengurai pelukannya. Mengajak Brighita untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu. "Ada yang ingin Daddy bicarakan." Brighita menatap serius wajah sang ayah yang sudah mulai terlihat kerutan di sekitar dahi. Mungkin karena selama ini Daddy nya seorang yang gila kerja, yang mengakibatkan cepatnya timbulnya kerutan itu. Tapi bukan berarti, kewibawaan seorang Vincent luntur karena hal itu. "Pernikahanmu dengan Darin telah di batalkan." Brighita manghela nafas lega. Akhirnya, ia tidak akan menikah dengan pria itu. Sedikit beban di kepalanya luntur mendengar ucapan sang ayah. "Tapi, kau akan menikah dengan Devano." kata Vincent penuh ketegasan. Seketika itu pula, Brighita tercengang mendengarnya. Baru saja ia merasa lega, tapi sekarang ia merasa seolah ratusan ton batu telah menimpanya. "Itu tidak benar Dad! Aku dan Vano berteman! Kami tidak menungkin menikah! Aku yakin Vano juga tidak setuju dengan hal ini." tolak Brighita. "Bukankah itu lebih baik. Kau bilang tidak ingin menikah dengan seorang yang tidak kau kenal. Dan sekarang kau akan menikah dengan Devano yang memang temanmu. Bukankah itu lebih baik?" "Itu tidak lebih baik dari sebelumnya Dad! Itu lebih buruk! Lagi pula kenapa harus aku? Kenapa tidak anak tirimu saja?" ucap Brighita sedikit menaikkan nada suaranya. "Tidak bisa! Felicya sudah cukup menderita dengan hidupnya. Aku tidak ingin menambah beban hidupnya." Brighita tertawa sinis. "Lalu apa kau pikir aku tidak akan menderita dengan hal ini? Aku tidak akan menuruti keinginanmu itu!" sentak Brighita lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan marah. Emosinya telah di buat melonjak naik saat sang ayah yang seolah mengatakan bahwa dirinyalah yang pantas menderita dan bukannya Feli. Salah apakah ia saat sang ayah lebih memilih putri tirinya daripada putri kandungnya sendiri. Selama sehari setelah kepulangannya, Brighita terus mengurung diri di kamar. Hal itu merupakan bentuk protesnya untuk apa yang telah di lakukan ayahnya. Tok! Tok! Brighita hanya melihat saja Felicya yang datang membawakan makanan. Brighita enggan memberikan tatapan yang bersahabat untuk saudaranya itu. Kebencianya seolah telah mendarah daging. "Ta. Makanlah terlebih dahulu. Sedari kemarin kamu belum makan." ucap Felicya hangat. "Cih." decihnya. Brighita menatap nyalang Felicya. "Jangan pernah menunjukkan sikap manismu itu kepadaku! Aku akan tetap membencimu! Kau adalah perusak dalam hidupku! Semua ini karenamu. Karena ibumu dengan sikap jalangnya yang telah menghancurkan hubungan Daddy dan mommy." Setetes air mata meluruh dari kedua mata Felicya. Sungguh ini semua sangat menyakitkan baginya. Sedari kecil, Felicya selalu menerima cacian dan hinaan seperti yang di lontarkan Brighita kepadanya barusan. Tak ingin menanggapi amarah Brighita, Felicya tetap menunjukkan sikap tenangnya. "Makanlah. Sebentar lagi Devano akan kesini." Felicya pergi setelah mampu mengatakan hal itu tanpa menunjukkan sikap sedihnya. Mendengar kata Devano yang akan datang membuat Brighita senang bukan kepalang. Lantas ia menyantap makanan barusan dengan cepat. Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya yang di tunggupun tiba. Brighita langsung memeluk Devano begitu pria itu duduk dihadapannya. "Syukurlah kau datang hari ini. Aku ingin membicarakan masalah kita." "Devano, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Daddy mengatakan bahwa kita akan menikah?" tanya Brighita penuh penasaran. "Sebenarnya, Darin telah memutuskan kerjasamanya dengan tuan Vincent. Lalu setelah itu, kak Delano memberikan sebuah kesepakatan, bahwa ia akan memberikan suntikan dana pada perusahaan ayahmu, jika kita menikah." ucap Devano penuh sesal. Brighita tak mampu berkata apapun lagi. Ia merasa... Arghh... Ini semua sungguh tak adil baginya. Tiba-tiba sebuah tangan kekar menyentuh tangannya. Membuat ia menatap Devano sepenuhnya. "Ijinkan aku menikahimu Ta. Aku berjanji akan selalu membuat mu bahagia. Kau tau kan seperti apa diriku? Aku selalu tulus dengan apa yang aku lakukan. Begitu juga aku yang tulus mencintaimu." Brighita cukup kaget mendengar kata-kata itu dari Devano. Otak kecilnya memikirkan tentang apa yang di katakan Devano. Ia sudah cukup lama mengenal Devano. Devano juga pria yang baik. Mungkin ia memang harus menerima Devano untuk menjadi suami masa depannya. Brighita yakin rasa cintanya untuk Devano akan timbul seiring berjalannya waktu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD