Bab 2. Terusir

1105 Words
"Mas ...." Lina mendekat sambil membawa Dion dalam gendongan. Bocah itu sudah berhenti menangis dan kini memperhatikan orang-orang dewasa tengah berbicara. "Agam, kamu mau biarkan ini sampai kapan?" Suara tegas Ratmi, ibunya makin membuat Agam bingung. Pria itu menoleh pada Lina. "Ada apa, Lina?" "Mas, maaf. Tapi Dion nangis, Mas, diganggu Reka." Dengan segala keberaniannya, Lina mengadu. "Diganggu?" Dahi pria itu berkerut. "Mas, mana mungkin aku mengganggunya? Orang dia taruh mainannya di sembarang tempat, kok! Untung aku gak jatuh. Mas mau aku masuk rumah sakit gara-gara terpeleset mainan anak-anak!?" Reka merajuk sambil menunjuk Lina dengan dagunya. "Lina ...." Agam melirik istri pertamanya memastikan ucapan Reka. "Kenapa kamu gak ngalah aja sih? Kamu 'kan bisa tempatkan Dion di tempat lain, mmh?" Pria itu berusaha berbicara lembut dalam menasehati. "Tapi, Mas ...." "Lina, kamu bisa 'kan ajak anakmu main di kamar saja?" "Ya, itu paling cuma sebentar. Lagipula di sini tadi gak ada orang. Masa Reka gak bisa lihat kalau ada Dion di sini? Anakku diam, salah. Gak diam lebih salah. Lalu, apa salah dia, Mas? Dia main di dalam rumahnya sendiri kok!" Bela Lina. Ia bingung, kenapa kebebasan ia dan anaknya semakin dibelenggu. "Tapi 'kan jadi bertengkar dengan Reka." "Alah ... udah jangan dibujuk-bujuk lagi. Lina selalu cari gara-gara, biar Reka terusir dari sini!" sahut Ratmi ketus. Agam yang mendengar, kembali bertanya pada Lina. "Benar begitu?" Lina dengan mata berkaca-kaca, menggelengkan kepalanya. "Enggak, Mas. Aku aja ada di kamar waktu Dion nangis." "Dia itu gak mau ngurusin anaknya! Aku jadi serba salah mau ke mana-mana di rumah sendiri. Anak ini sangat menggangguku, Mas!" imbuh Reka memprovokasi. "Lina ...." Kembali Agam melirik wanita berkerudung putih itu. "Mas ...." Lina menggeleng dengan air mata yang hampir jatuh. "Masa Mas percaya pada mereka, sih Mas?" "Jadi, kamu mau bilang aku ini pembohong, begitu!?" Ratmi naik darrah mendengarnya. "Bu-bukan begitu, Bu ...." Lina kembali serba salah. "Bukankah tadi kamu menyuruh Reka untuk membeli rumah agar pindah dari sini!? Apa itu tidak mengusir, namanya!?" Ratmi semakin sarkas memarahi. "Benar begitu, Lina?" Kembali Agam menginterogasi. Kalimat Agam yang lembut membuat Lina terperangkap dalam kebimbangan. "A-aku tidak bermaksud begitu kok, Mas ...." "Kamu tahu 'kan keuangan kita sedang tidak stabil?" "Lalu kenapa kamu menikah lagi?" Batin Lina gemas dengan ketidakberdayaannya bila bicara dengan Agam yang berucap lemah lembut. Ia selalu kalah. "Aku tau, Mas. Maaf." Rasanya ingin menangis. "Sudah, jangan pertahankan istri yang suka cari masalah seperti ini, Agam. Ceraikan saja dia!" ucap tegas Ratmi. Agam menatap istrinya. "Apa yang kamu perbuat bikin mas bingung menghadapi kamu." "Aku tidak salah, Mas. Dion ini 'kan anakmu. Kenapa jadi salah?" ujar Lina agar suaminya berpikir jernih. "Tapi dia ibuku dan satu lagi adalah istri yang menyokongku. Kamu memaksa aku untuk memilih, Lina." Air mata Lina mulai berlinang. "Lalu aku apa, Mas? Anak ini anakmu, dan aku ini istrimu. Apa aku tidak berharga sama sekali di matamu?" "Bukankah surga di telapak kaki ibu? Apa kamu menyuruh aku mendurhakai ibuku?" "Mas ...." "Ini, tadi aku berikan surat cerai, dia tidak mau!" Ratmi menyodorkan cepat, surat cerai di tangan pada Agam. Agam hanya melirik saja kertas itu di tangan ibunya, lalu kembali mengarahkan pandangan pada Lina. Dari raut wajahnya, pandangannya sama sekali tak bisa ditebak. Kini Ratmi menyodorkan kertas itu pada Lina. "Sudah, tanda tangani saja. Anakku sudah setuju kok!" Lina melirik suaminya. "Mas ...." suaranya mulai memohon. Tanpa sepatah kata pun, Agam malah meninggalkan Lina. Ia malah melangkah ke arah kamar Reka yang tak jauh dari tempat itu. "Mas ... Mas ...!" Dipanggil beberapa kali pun oleh Lina, pria itu terlihat acuh. "Kamu lihat sendiri, 'kan, anakku sudah tak peduli lagi padamu? Jadi, jangan berlama-lama dan langsung tanda tangani saja surat cerai ini sekarang juga!" Ratmi mempertegas ucapannya. Hancur sudah hati Lina melihat suaminya yang sudah tak peduli lagi padanya, padahal ia masih meyakini setidaknya ada di sudut hati terdalam suaminya, keberadaan diri dan anaknya di sana. Namun sepertinya, harapan itu sia-sia. Ia sendiri melihat walaupun sang suami bicara lembut padanya, tapi sepertinya pria itu sudah tak menginginkan dirinya lagi. Untuk apalagi bertahan, toh, tak ada siapa pun di rumah ini yang menginginkan keberadaan dirinya dan anak di situ. Dengan berlinang air mata, Lina menandatangani surat cerai itu. Hatinya remuk redam. Ia padahal berharap, ada sedikit keringanan karena ia telah menyetujui pernikahan dan pindahnya Reka ke rumah itu, tapi ternyata harapan itu juga sia-sia setelah mendengar apa yang diucapkan ibu mertuanya setelah ini. "Sekarang, tinggalkan rumah ini sekarang juga karena kamu sudah tidak muhrim lagi tinggal di sini!" "Apa?" Lina begitu syok! Ada senyum tipis yang tersembunyi di wajah Reka. Segala cita-citanya terkabul malam itu juga. "I-ibu, ini sudah malam ...," sahut Lina terbata-bata. "Kamu mengerti dong, dengan aturan islam. Kalau tidak, untuk apa kerudungmu ini! Sudah jelas kamu haram tinggal di sini, apa kamu mau dituduh orang berzzinah?" Ucapan ibu mertuanya membuat Lina kehilangan kata-kata. Dengan kepala tertunduk, Lina pergi ke kamar dan membereskan barang-barang. "Benar-benar orang-orang ini ... bahkan mereka tidak membiarkan aku bernapas sejenak. Sepertinya mereka sudah muak melihat wajahku setiap hari," batin Lina sedih. Sambil menyeka air mata, ia mengumpulkan pakaiannya. Yang paling membingungkan adalah karena ia harus membawa Dion. Ia harus punya tempat tinggal untuk anaknya. Ke mana ia harus pergi sekarang? "Ah, ke rumah paman Yudi!" *** Pintu dibuka. Seorang wanita paruh baya, berdiri di sana. "Kamu?" "Assalamualaikum, Tante. Paman ada?" ucap Lina dengan ramah. "Tidak ada. 'Kan kamu tahu dia berlayar dan jarang pulang," jawab wanita itu dengan wajah datar. "Eh, begini ...." Lina sekilas menunduk menatap anaknya yang berdiri di sampingnya. "Apa aku boleh menginap di sini?" "Apa?" Dahi wanita itu berkerut. Ditatapnya kedua ibu dan anak itu bergantian. "Apa kamu tidak sadar dengan ucapanmu? Rumahku ini kecil dan anakku banyak. Apa mungkin kamu menginap di sini, hah!? Yang benar saja! Makanya, kalau bertengkar dengan suamimu yang kaya itu, tinggalnya di hotel dong, jangan numpang di rumahku! Pelit banget sih, jadi orang ...," omelnya sambil membanting pintu. Lina ingin menangis tapi ia sudah lihat, setiap kali dirinya menangis Dion juga pasti ikut menangis. Ia tidak ingin Dion merasakan apa yang ia rasakan. Dengan menghapuskan air mata yang sudah keluar di sudut matanya, ia kembali menggandeng Dion keluar dari tempat itu sambil menarik koper. "Ma, kita mau ke mana lagi?" tanya Dion lemas. Ia kira ia bisa tinggal di tempat itu bersama ibunya, tapi ternyata, kini mereka harus pergi lagi entah ke mana. "Eh, kita jalan-jalan, yuk!" Lina sebenarnya ingin mendinginkan kepalanya sejenak karena saat ini ia tak bisa berpikir jernih. Bahkan untuk memilih hotel yang ingin ia masuki. Dion mengikuti ibunya menyusuri jalan. Tiba-tiba, seorang laki-laki merebut tas Lina dengan kasar hingga wanita itu jatuh terjungkal. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD