Bab 3. Warung

1113 Words
Tak jauh dari sana, ada sepasang suami istri muda yang tengah mengobrol di sebuah warung sate ayam milik mereka. "Mas, cari pegawai kek ... aku malas nemenin Mas tiap hari. Bajuku sampai bau asep nih ... gak enak, tau ...." Rengut Santika manja. Wanita cantik itu mulai cemberut. "Lagipula, dagangan kita, kan lumayan laku. Kenapa gak aku tinggal rumah aja, daripada tiap hari harus pulang sampai larut malam begini. Bukannya ini tugas suami untuk mencari nafkah, ya?" "Iya, deh. Nanti Mas cariin, biar kamu gak capek-capek lagi nungguin warung." Tristan, suaminya yang tak kalah tampan, berkulit putih, bertubuh tinggi dengan rambut sedikit pirang. Dagangan mereka selalu laris karena, selain enak, pedagangnya juga enak dipandang. Tristan termasuk ramah walau istrinya sedikit judes. Namun, itu yang disukai Tristan dari Santika, bisa menjaga diri dari laki-laki yang mendekatinya. "Tolong ... tolong ...! Copet!" Tristan menajamkan telinga. Di tempat yang mulai sepi ini, ada yang berteriak minta tolong. Ia berlari mencari sumber suara. Dilihatnya seorang wanita duduk di atas aspal, menangis sambil memeluk anaknya. "Mbak, ada apa?" Wanita berkerudung putih itu menoleh. "Tolong, Mas! Tas Saya dicopet orang! Orangnya lari ke sana," ucapnya sambil terisak. Ia menunjuk ke arah sebuah gang di depan mereka. Anaknya pun ikut menangis melihat ibunya menangis. "Mama ...." Tristan melihat ke arah tempat yang ditunjuk wanita ini. Tepat saat itu sebuah motor keluar dari gang dengan dua orang pria menaiki kendaraan tersebut. Kepalanya ditutupi hoodie dengan posisi sedikit menunduk membuat Tristan tidak bisa mengenali wajahnya di kegelapan malam. "Itu dia orangnya ...," sahut wanita itu lagi. Tristan berusaha mengejar. Ia berlari dengan sekuat tenaga tapi tetap saja ia tak mampu mengimbangi motor yang berlari kencang hingga menyerah di tengah jalan. Ia kemudian kembali mendatangi wanita itu yang nampaknya sudah berhenti menangis. "Maaf, Mbak. Aku gak bisa ngejarnya. Motornya terlalu cepat, jadi aku kalah." Pria itu berjalan gontai sambil mengatur napas. Berlari di malam yang mulai larut membuat dirinya berkeringat. Ia sampai memegangi pinggangnya karena penat berlari. "Ya sudah." Wanita itu tertunduk dalam. Semua uangnya hilang sudah. Lalu, sekarang ia dan anaknya akan tidur di mana? Lina hanya bisa diam mematung di tempat. Tristan melihat lagi wanita itu. Pakaiannya seperti bukan orang miskin. Pasti uang miliknya diambil semua oleh pencopet tadi. "Mbak sebenarnya mau ke mana?" "A-aku ... aku ...." Lina terdiam sejenak. "Aku tidak punya tempat untuk pergi." Akhirnya ia mengaku. Tristan iba. Malam begini, seorang wanita membawa seorang anak kecil dengan tanpa tujuan dan uang, berarti ia sedang dalam masalah besar. "Eh, aku punya warung sate ayam di depan sana. Bagaimana kalau kalian istirahat dulu di sana?" Lina mengangguk pelan. Pria itu membantu menarik koper sementara Lina membawa anaknya mengikuti pria itu. Tristan kemudian membiarkan ibu dan anak itu duduk melingkari sebuah meja kayu di dalam warung. "Kenapa kalian keluar malam-malam begini? Membawa anak kecil pula. Apa tidak ada rumah saudara yang bisa dikunjungi?" Santika hanya melihat saja dari samping gerobak. Ia juga melihat aneh pada Lina karena berpakaian bagus bersama anaknya, tapi kenapa berkeliaran malam-malam tanpa tujuan? Lina melirik Dion, tapi ia bingung. Apa ia harus cerita pada pria ini kenapa ia ada di sana? "Eh, begini saja." Tristan tak ingin mendesak Lina. "Apa kalian lapar? Aku masih punya sate ayam yang belum dibakar." Seketika Lina sadar kalo ia mulai lapar, tapi ia malu untuk mengiyakan. "Eh, maaf. Tapi aku tak punya uang. Semua uangku ada di dalam tas yang tadi diambil pencopet," katanya dengan pandangan ragu. "Tidak apa-apa. Aku kasih gratis. Tenang saja ...." Tristan segera berdiri. "Oya. Minumnya apa?" "Es jeruk," sahut Dion cepat. "Eh, Dion ...." Lina melirik anaknya karena sudah lancang. Tristan tertawa. "Tidak apa-apa. Ada kok. Sebentar ya." Dengan cepat ia meminta istrinya untuk membuatkan minuman. Selagi membakar sate, Santika berbisik pada Tristan. "Mas, apa jangan-jangan dia diusir sama suaminya, kali ...." "Hus, jangan bergosip," sahut Tristan ikut berbisik. "Atau dikejar-kejar penagih utang?" "Sudahlah, jangan menambah bebannya. Biarkan saja kalo dia tidak ingin cerita." Tak lama, Tristan menyajikan dua piring sate ayam bersama lontongnya ke atas meja. Lina dan Dion menikmatinya dengan hati senang. "Terima kasih ya, Dek. Satenya enak!" ujar Lina dengan bibir yang mulai tersenyum. Tristan memperhatikan ibu dan anak itu sambil merapikan dagangan bersama istrinya. Ia cukup kagum karena wanita itu bicara sopan dan berkerudung. Ya, sejak lama ia ingin istrinya berkerudung tapi Santika tidak menyukainya. Melihat Dion pun ia senang karena sudah tiga tahun pernikahannya, mereka belum dikaruniai anak. "Jadi, setelah ini, Mbak mau ke mana?" Ia menyadari wanita ini lebih tua darinya mungkin sekitar dua tahun di atasnya. Karena itu ia merasa wajar wanita itu memanggilnya "Dek". Seketika Lina terdiam. Ia masih bingung menjawabnya. "Sebenarnya bisa aja Mbak tinggal di warung ini sementara. Kebetulan kami ngontrak tidak jauh dari sini." Lima hampir menangis terharu melihat kebaikan Tristan. "Terima kasih lho, Dek. Aku sebenarnya lagi mikir, mau cari kerja di mana ...." "Aa ... pas banget! Kita lagi cari orang untuk bantu-bantu di sini!" sahut Santika mengangkat telunjuknya. "Apa?" Lina terkejut. "Gak masalah bantu-bantu kerja di sini 'kan!? 'Kan kamu numpang tinggal di warung kami," ujar Santika dengan santainya. "Tika ...." Tristan memperingatkan istrinya yang ucapannya terdengar kasar. "Mungkin dia ingin kerja di tempat lain. Jangan dipaksa, Tika." "Kan dia numpang di warung kita, Mas. Kenapa gak sekalian aja," sahut Santika dengan lantang. "Tapi ...." "Eh, tidak apa-apa. Aku mau kok, kerja di sini." Lina kembali tersenyum. "Tuh, lihat! Orangnya aja gak masalah." Santika tampak senang, sebab ia tak perlu lagi mendatangi warung itu setiap hari. Tristan tampak bingung. Ia melirik Lina. "Mbak ngak papa, kerja bersih-bersih dan cuci piring?" "Aku cuma ibu rumah tangga biasa, kok. Hanya itu yang bisa kulakukan." Tristan melirik lagi istrinya. "Apa gak papa pegawaiku perempuan?" "Ya, gak papalah. Aku 'kan bukan tipe pencemburu, Mas." "Ya, sudah ...." Tristan tampak lega. Yang penting istrinya tak lagi cemberut menungguinya di warung. "Nanti setelah makan, aku bantu bersihkan warung." Lina menyendokkan ke mulut, potongan lontong terakhirnya. Perasaannya begitu bahagia. Ternyata begitu cepat Tuhan membantunya sehingga ia kini punya tempat untuk berteduh. *** "Ini satenya ya." Lina meletakkan dua piring sate ke pelanggan di meja di sudut warung. Wajahnya sumringah. Keramaian di tempat itu membuat hidupnya kembali ceria. Dion duduk di kursi di samping gerobak. Ia memperhatikan Tristan membakar sate sambil membalik-baliknya di tempat panggangan. Sesekali pria itu mengajak ngobrol Dion. "Dion mau makan lagi, gak?" Dion menggeleng. Ia masih sibuk memperhatikan Tristan memasak. Tiba-tiba dari arah seberang jalan terdengar suara klakson mobil, membuat beberapa orang menoleh termasuk Tristan. Pria itu terkejut. Ia kemudian mendatangi Lina. "Mbak, aku mau pergi sebentar. Bisa gantiin aku manggang, gak," bisiknya. Lina melirik mobil mewah berwarna hitam yang ada di seberang jalan. Apa Tristan akan pergi naik mobil itu? "Siapa, Bang?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD