Bab 4. Pengkhianatan

1114 Words
"Oh, kenalan." Tristan membuka celemek dan meletakkan ke samping. "Tolong ya?" "Ok." Lina memperhatikan Tristan yang segera menyebrang setelah melihat kanan kiri jalan. Seorang pria keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu belakang untuk Tristan dengan sopan. Tristan masuk dan pria itu kembali ke tempatnya lalu membawa mobil itu pergi. Lina tanpa pikir panjang langsung mengambil alih tugas Tristan memanggang sate ayam sambil melayani pelanggan. Mobil yang membawa Tristan kemudian berhenti di depan sebuah restoran mewah. Ia kemudian turun dan bergegas masuk ke dalam. Diedarkannya pandangan mencari seseorang. Seketika pandangannya berhenti pada seorang pria tua dengan jas mahal sedang makan sendirian. Ia kemudian mendatangi pria itu. Sang pria mengenali Tristan. Ia memang telah menunggunya. Terukir senyum di bibirnya walau samar. Seketika ia menghentikan makannya demi menyambut Tristan. "Duduklah. Aku ingin kamu menemaniku makan kali ini." Wajahnya berubah datar. Ia kembali ke posisi semula dan mengambil sendok lalu meneruskan makannya. Sesaat Tristan terdiam. Ia tak tahu, apa lagi yang diinginkan pria tua ini. Bukankah ia sudah menunjukkan sikapnya, terakhir kali mereka bertemu? Namun, biar bagaimanapun, ia harus menghormati pria ini. Pelan tapi pasti, Tristan menarik kursi dan duduk di samping pria ini. "Mau ku pesankan makanan atau kamu mau pesan sendiri?" Pria tua itu berkata dengan ramah. "Biasanya kamu sangat suka steak ayam. Bukankah steak ayam di sini favoritmu?" "Iya," jawab Tristan dengan wajah serius. Ia kemudian mengambil buku menu yang kebetulan ada di meja. "Dan strawberry milkshake." Pria itu sangat hapal dengan kesukaan Tristan. "Kenapa harus lihat lagi?" Tristan sedikit tak nyaman saat meletakkan kembali buku menu di atas meja. Sudah lama mereka tak bertemu hingga ia bingung bagaimana memulai bicara. "Apa kamu masih memusuhiku, setelah apa yang sudah kamu putuskan sendiri?" Pertanyaan itu membuat Tristan menunduk. Ia sendiri bingung, ada angin apa pria ini mencarinya kembali. Bukankah sudah jelas apa yang disampaikannya waktu itu? "Eh, mau pesan apa, Tuan?" Seorang pelayan datang sambil mengangkat buku kecil dan pulpen di tangan. "Aku mau steak ayam dan strawberry milkshake," sahut Tristan pelan. Pria tua itu tersenyum. Ia sangat hapal dengan kesukaan Tristan karena mengenalnya sejak kecil. "Itu saja?" tanya sang pelayan. "Iya." Kemudian pelayan itu pergi. Kembali perhatian Tristan mengarah pada pria di hadapan. Ia sebenarnya tak ingin berlama-lama di situ tapi ada rasa rindu yang tidak bisa ditepis karena dulu sebenarnya mereka teramat dekat. Ia menelisik wajah tua itu yang semakin hari semakin bertambah keriputnya di wajah seiring waktu berjalan. "Ada apa Kakek memanggilku ke sini?" Ia ingin berusaha angkuh tapi tak bisa, karena pria ini adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. "Apa kamu tidak senang bertemu dengan kakek lagi? Kamu tidak pernah mengunjungiku lagi selama tiga tahun ini. Kamu sudah memutus tali silaturahmi, apa kamu tidak sadar itu, Tristan?" "Bukankah kakek sendiri yang memutuskan tali silaturahmi sebelumnya?" Dahi Tristan berkerut. "Dan selama itu kamu tidak pernah berusaha untuk meyakinkan kakek tentang pernikahan kamu itu?" "Maaf, Kek, tapi aku tidak suka bertengkar. Lebih baik menghindar sebelum itu terjadi!" Nada bicara Tristan terdengar ketus. Ia tahu itu sangat tidak sopan, tapi ia tak bisa mengendalikannya. Itulah sebabnya ia tak berani bertemu dengan kakeknya selama tiga tahun ini, setelah sang kakek menolak merestui pernikahannya dengan Santika. Ia takut tak bisa mengendalikan rasa marahnya dan bicara kasar pada sang kakek. Walau tidak setuju dengan kakeknya, Orion, tapi ia tetap menghormatinya. Jadi sebisa mungkin ia menghindari konflik. "Mmh, begitu." Orion mengunyah makanan yang masih tersisa di mulut. "Lalu bagaimana kalau kakek tiba-tiba merestui pernikahan kamu dengan istrimu?" Tristan yang baru saja mengambil sendok, seketika tertegun. Ia menatap wajah kakeknya dengan raut wajah tak yakin. "Kakek ...." Kedua bola matanya melebar dan sudut bibirnya melengkung ke atas. "Merestui pernikahan kami ...?" Orion menghela napas sambil melirik Tristan dengan senyum kecilnya. "Ternyata saat kamu keras kepala, kamu bisa meyakinkan kakek bahwa kamu bisa hidup susah demi mempertahankan prinsip. Gigih bekerja dan berhasil membangun usaha kamu dengan kekuatanmu sendiri. Ini membuktikan bahwa kamu benar adalah keturunan keluarga Prasbumi yang pantang menyerah. Darrah Prasbumi mengalir di dalam tubuhmu. Sekarang kakek lega kalau harus menyerahkan perusahaan yang sudah kakek besarkan padamu. Kembalilah ke rumah dan pimpin perusahaan karena kakek sudah ingin pensiun dari mengurus perusahaan dan hingar bingar dunia. Bawa istrimu, kakek takkan bicara apa pun. Kakek akan serahkan rumah tanggamu terserah padamu." "Kakek ...." Mata Tristan berkaca-kaca. Akhirnya sang kakek merestui pernikahannya dengan Santika. Ia tak sabar pulang ke rumah dan menceritakan ini pada sang istri dan memperkenalkannya pada sang kakek. Ini pasti kejutan besar karena ia tidak pernah cerita pada Santika bahwa ia adalah cucu seorang milyader. Orion meraih tangan cucunya di atas meja. "Tapi temani kakek makan dulu ya. Sudah lama kita tidak makan bersama." Tristan mengangguk haru. Dihapusnya air mata yang terlanjur keluar di sudut matanya. Ia begitu bahagia. Tak sabar ia ingin pulang ke rumah dan berjumpa dengan Santika. *** Baru sampai di depan rumah, Tristan merasa ada yang janggal. Rumah kontrakannya itu terlihat gelap dari luar. Apakah sedang matti lampu? Padahal saat ia lihat ke samping, lampu tetangga semua menyala. Tidak ada yang rumahnya matti lampu seperti kontrakannya. Karena itu Tristan curiga, jangan-jangan terjadi sesuatu di dalam rumah. Dengan bergegas tapi hati-hati, ia masuk ke dalam. Terdengar suara aneh dari dalam kamarnya. Tristan ragu. Apakah ia harus mendatangi kamarnya atau ke dapur dulu mengambil sesuatu. Ia takut ada maling yang masuk mencari barang. Namun, kemudian ia terpikirkan keselamatan istrinya. Segera ia membuka pintu dan melihat apa yang terjadi. Matanya terbelalak. Sepasang insan berlainan jenis tengah asyik bertukar keringat dan berpacu satu sama lain. Parahnya, saat itu bulan purnama, dan ia bisa melihat tubuh polos keduanya lewat sinar bulan dari jendela yang tidak tertutup gorden dengan baik. Keduanya terkejut karena melihat seseorang masuk ke dalam kamar. Mereka panik hingga masing-masing mencari penutup tubuh mereka yang polos itu. "Mas?" Dalam penglihatan yang remang-remang, Santika pelan-pelan bisa melihat siapa yang datang. Ia menutup tubuhnya dengan selimut sedang laki-laki yang menindihnya tadi menutup bagian yang vital itu dengan bantal dan turun dari ranjang. "Sa-santika ...." Kedua mata Tristan berkaca-kaca. "A-apa yang kau ...." Yang terlihat sudah pasti, apa perlu bertanya lagi? "Sengaja ...." Ia mulai sesak. Santika melirik pria yang menindihnya tadi tengah berusaha berpakaian. "Kenapa?" sahutnya pada Tristan dengan wajah tanpa rasa bersalah. "Kamu sudah lihat, 'kan!? Aku bosan jadi istri tukang sate! Tiap hari harus menghirup bau asap dan mengurusi piring orang lain!" Bukannya malu malah dengan garang menyalahkan suaminya. "Bukankah sekarang kita punya pegawai!? A-aku sudah melakukan apa yang kamu minta, Tika. Tapi kenapa ...." Tristan melirik pria itu. Ia sangat mengenalnya. Adi, seorang pebisnis kaya yang merupakan tetangga mereka sendiri. "Kamuu ... beraninya kamu ...." Tristan hampir mengayunkan tangannya ketika Santika langsung turun dan pasang badan menghalangi suaminya. "Tika ...." Ia benar-benar syok! Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD