"Aku sudah bilang aku bosan padamu!!" teriak Santika gemas. "Apa kamu belum mengerti juga, hah!? Kamu itu cuma menang di ganteng doang, Mas, tapi kini aku sadar aku gak suka harus mencuci pakaian berbau arang setiap hari!"
Adi tersenyum miring. Ia senang Santika membelanya.
"Tapi aku selalu memenuhi permintaanmu, Tika. Dari gelang emas, jalan-jalan ke luar kota, sampai belanja ke sana ke sini, semua aku penuhi. Tapi kenapa, kamu masih saja merasa kurang?" Suara Tristan mulai serak. Ia sudah tak tahu lagi apa kata-kata masih berguna. Istrinya begitu membela pria itu dan kini menyindirnya. Apakah cinta yang dulu ia agung-agungkannya kini sudah hilang semua?
Tika terlihat tidak peduli. "Ceraikan saja aku, Mas. Aku sudah tak ingin bersamamu lagi."
Bagai disambar petir, Tristan tertegun mendengar permintaan istrinya. Padahal kalau ingin kehidupan yang glamor, ia saat ini bisa memberikan. Selama ini ia tak bisa mengatakan siapa dirinya karena kakek menentang pernikahan mereka, dan ia mengira Santika adalah wanita sederhana yang mencintai dirinya apa adanya.
Ternyata kenyataan telah menohoknya lebih dalam. Kini ia sadar, ia sebenarnya tak kenal siapa Santika sebenarnya. Kalau saja Santika tahu ia anak orang kaya, akankah ia jadi setia?
Tangan Tristan gemetar. Ia tak siap dengan kenyataan ini. Lututnya rasanya sudah lemas dan ingin jatuh, tapi ia berusaha menguatkan diri. Ada Adi di sana, ia tak boleh terlihat rapuh.
Dengan cepat Tristan membalik tubuhnya. Ia berusaha melangkah keluar agar tak satu pun dari mereka berdua mengetahui betapa hancurnya hatinya saat itu. Tidak boleh! Ia tak boleh terlihat lemah oleh kedua pengkhianat itu!
Dengan tertatih, Tristan melangkah ke luar rumah. Ia tak tahu harus ke mana. Langkah kakinya berusaha membawanya berjalan sejauh yang ia bisa. Sejauh mungkin dari mereka berdua. Ingin rasanya ia menangis, tapi di mana? Rumahnya saja kini jadi sarang para pengkhianat, lalu ia harus pergi ke mana?
Seperti orang linglung ia terus melangkah. Malam telah larut dan tiba-tiba hujan turun. Seketika ia ingat warung sate yang ia tinggalkan tadi. "Ah, aku lupa. Lina sendirian jualan sate di sana."
Dengan cepat ia berlari mendatangi warung satenya. Ternyata warung itu telah tutup. Berarti dagangannya telah habis hingga Lina menutup warungnya. Tristan kemudian memilih duduk di kursi panjang depan warung sambil memperhatikan hujan turun.
Bajunya terlanjur basah, tapi ia tak peduli. Melihat hujan turun dengan derasnya, air matanya kembali mengalir. Rambutnya yang sudah basah kuyup ia biarkan. Hatinya benar-benar hancur. Mengingat kembali perjuangannya mempertahankan Santika hingga harus bertengkar dengan sang kakek, kini terasa sia-sia. Ternyata kakeknya benar. Santika bukan wanita yang bisa dipercaya.
Ia sadar benar, Santika punya banyak mantan pacar, tapi ia tak percaya ketika kakeknya bilang Santika sebagai w************n. Kini, nasi telah menjadi bubur, haruskah ia mengatakan hal ini pada sang kakek ketika restu sudah di tangan?
Begitu banyak pertanyaan berputar di kepala. Rasa bersalah juga menghinggapi mengingat sang kakek. Cucu macam apa yang telah menelantarkan kakeknya selama tiga tahun demi istri yang tak berperasaan? Ia merasa benar-benar bersalah telah salah memusuhi orang.
"Haciuuh!" Seketika cairan bening keluar dari hidungnya. Tristan menyekanya dengan lengan baju yang basah karena takkan ada yang melihatnya juga. Hujan mulai reda, tapi udara mulai dingin menusuk tulang, terutama karena bajunya juga basah.
Tiba-tiba terdengar suara rolling door ditarik ke atas. Muncul Lina yang terkejut melihat keberadaan Tristan di sana. "Eh, Bang Tristan ... aku pikir siapa yang bersin tadi."
Tristan jadi serba salah. Ia sebenarnya tidak ingin Lina tahu ia ada di sana. Cepat-cepat ia hapus air matanya walaupun sebenarnya susah mendeteksi bila ia tengah menangis karena wajahnya juga basah oleh air hujan. "Eh, maaf mengganggu tidurmu."
Lina terperangah. Ia melihat bosnya basah kuyup duduk di depan warung. "Abang kenapa? Kok basah begini? Ada perlu apa sampai harus ke sini malam-malam begini, Bang?"
"Eh, itu ...." Tristan berusaha berpikir cepat. Ia harus punya alasan agar Lina tak curiga. "Eh, maaf ya, aku datang telat. Padahal tadi aku bilang cuma sebentar, tapi ternyata lama. Pas aku ke sini ternyata sudah tutup. Syukurlah. Toko tutup lebih cepat berarti sate terjual habis."
"'Kan memang selalu habis, Bang. Cuma kebetulan hari ini banyak yang beli bawa pulang, jadi cepat habis sebelum waktunya."
"Haciuuh!"
Dion keluar dan melihat Tristan dengan hidung yang mengeluarkan cairan bening. "Mama, Om Tristan sakit pilek, Ma!" Bocah itu menunjuk wajah Tristan.
Pria itu kembali mengusap hidung dengan lengan baju kaos yang bertangan panjang.
"Eh, Bang. Jangan begitu." Lina menoleh pada anaknya. "Dion, tolong ambilkan tisu buat Omnya."
Dion dengan kaki kecilnya berlari masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar lagi membawa beberapa lembar tisu. Tristan menerimanya dan membersihkan hidung yang mulai memerah.
"Abang apa mau pulang? Tapi bajunya basah begitu. Motor Abang juga lagi di bengkel," gumam Lina pelan. Ia tahu kontrakan Tristan ada di perumahan sebelah.
"'Kan ada payung?" Tristan masih mengusap hidungnya dengan tisu.
"Oh, payungnya dipinjam sama pembeli tiga hari lalu. Sampai kini belum kembali."
"Jadi bagaimana ini ...." Tristan tak ingin pulang. Ia mungkin naik taksi dan ingin tinggal di hotel, tapi rasanya tak mungkin bila dalam keadaan basah kuyub begini. "Ah, di lemari 'kan ada bajuku yang aku tinggal di sini?" Ia beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Lina mengikuti. Ia sedikit sungkan ketika pria itu masuk ke dalam warung sementara hanya ada ia dan anaknya di sana. Saat Tristan ingin membuka lemari, ia ingat, itu juga lemari pakaiannya. "Eh, tunggu ...."
Namun terlanjur. Tristan sudah membuka lemari dan tanpa sengaja melihat pakaian dalam Lina. "Eh, maaf ...." Ia membalik tubuhnya dan jadi salah tingkah. "Apa kamu lihat bajuku yang aku tinggal di sini?"
Lina bergegas datang dan menunjukkan tempatnya. "Ini. Ada beberapa di sini." Ternyata ia meletakkan pakaian pria itu paling bawah.
Tristan mengambil yang ia butuhkan. "Eh, boleh pinjam handuknya? Aku mau sekalian mandi."
"Malam-malam begini?" Walau heran, tangan Lina bergerak meraih handuk dan memberikannya pada Tristan.
"Daripada dibiarkan bekas hujannya? Nanti malah sakit betulan lagi." Tristan melangkah ke kamar mandi.
"Nanti aku buatkan air jahe," sahut Lina lagi.
"Terima kasih." Tristan kemudian kamar mandi dan menutup pintu.
Seusai mandi, Tristan merasa tubuhnya lebih segar. Ia mengusap rambut yang basah dengan handuk sambil melangkah keluar dan mendapati ibu dan anak itu tengah duduk di lantai di atas kasur gulung.
Ya, karena keterbatasan tempat, Lina menepikan meja di warung saat malam, agar ia bisa tidur di lantai bersama anaknya. Dion berbaring di kasur dan mulai mengantuk. Lina pun duduk di sampingnya sambil mengusap-usap punggung bocah itu pelan.
"Eh, itu air jahenya." Lina menunjuk ke arah meja di mana ada segelas air jahe masih mengepulkan asap.
"Eh, terima kasih." Tristan mendatangi meja itu dan menarik kursi kayu lalu duduk sambil menikmati air jahe buatan Lina. Jahenya terasa hangat. Apalagi saat hujan begini. Namun hujan tampaknya mulai berhenti.
Tiba-tiba ia melihat kerumunan orang datang dan tampak rusuh. Ia tak begitu jelas melihat karena rolling door hanya dibuka setengahnya.
Bersambung ....