Bab 6. Nikah Paksa

1117 Words
"Hei, keluar! Jangan berbuat m***m di dalam sana!" "Iya, ayo keluar!" "Ayo, jangan sembunyi!" Teriakan orang-orang di luar warung membuat Tristan dan Lina saling pandang. Lina tampak ketakutan. Ada apa di luar sana? Dion yang hampir saja tertidur jadi terpaksa bangun lagi karena mendengar keributan. Tristan memberanikan diri membuka rolling door dengan menariknya ke atas. Ia melihat beberapa warga yang ia kenal berdiri di depan warung. "Pak Tristan, apa yang kamu lakukan di sini!?" Tristan terlihat mengernyit dahi, bingung. "Ini 'kan warungku?" "Tapi 'kan ada janda di dalamnya, Pak!?" sahut Rasman lagi, tegas. Ia RT setempat. "Eh ... aku hanya kebetulan mampir karena kehujanan." Dipikir-pikir, Tristan mulai sadar kenapa warga mendatanginya. Mungkinkah mereka mencurigai ia dan Lina malam-malam berduaan di dalam warung ini? "Ngapain Bapak malam-malam ke warung? Bukankah lebih baik pulang ke rumah dibanding datang ke sini?" Sindir seorang warga gemas. "Apa itu penting sampai harus ke sini dulu?" "Aku tadi sore pergi meninggalkan warung, dan itu cukup lama. Karena itu aku balik untuk memastikan warung sudah tutup atau belum. Kebetulan hujan pula, jadi aku tak bisa langsung pulang. " Tristan mencoba menerangkan. "Jangan bohong, Pak! Udah malem sekali Bapak datang ke sininya," ujar pria itu lagi. Pak Ipang memang melihat Tristan datang ke warung itu dari seberang jalan. Karena cukup jauh, ia hanya bisa memperhatikan saja karena hujan lebat. "Dan dari tadi hujan sudah berhenti, tapi Bapak malah gak keluar-keluar." "Kalian melakukan apa di dalam sana, hah!?" bentak Pak RT mulai tak sabar. "Aku numpang mandi, Pak. Rolling door-nya juga kebuka kok," jelas Tristan lagi. "Bohong itu!" "Iya! Pasti dia udah tidur sama si janda itu!" "Iya, benar!" Warga tak percaya dengan keterangan Tristan. "Astaghfirullah allazim. 'Kan ada anak kecil di dalamnya, Pak. Mana mungkin Saya melakukan hal tak bermoral seperti itu." Tristan mengusap wajahnya dengan gusar. Ia tak tahu lagi bagaimana mengelak dari tuduhan warga. Masalahnya ia juga dalam posisi yang salah. Tiba-tiba seseorang maju dan membuka lebar rolling door dengan kasar sehingga terlihat Lina dan Dion sedang berpelukan dengan wajah ketakutan. Dion malah mulai menangis mendengar teriakan warga dan suara rolling door yang berisik. "Ya Allah, apa yang kalian lakukan!? Mereka tidak bersalah! Kami tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan!" Tristan terpaksa menaikkan nada suaranya guna melindungi sepasang ibu dan anak itu, tapi sepertinya sia-sia. "Kalian semua ikut kami! Gak beres nih, lama-lama kalo dibiarin!" Atas arahan pak RT, keduanya ditarik dan dibawa ke rumah Pak RT untuk menyelesaikan masalah. Di sana Tristan dan Lina tak berkutik. Warga tak mau mendengarkan alasan yang disebutkan Tristan, sementara Lina yang berusaha menenangkan Dion hanya bisa pasrah. Lina bukan warga sana dan ia sadar ia tak punya kekuatan untuk menentang warga. "Demi Tuhan, Saya tidak melakukan apa-apa. Lina ini pegawai Saya. Apalagi ada anak kecil di dalamnya." Kembali Tristan menjelaskan. "Bukankah udah cukup waktu Bapak bekerja seharian dengannya? Kenapa malam-malam masih mencarinya lagi!? Apa Bapak pikir kami ini boddoh? Jam segitu, sudah pasti warungnya sudah tutup kecuali Bapak memang dengan sengaja mencari pegawai Bapak ini, iya 'kan?" Ipang tampak meradang. Tristan saling pandang dengan Lina dengan wajah lemas. Tristan merasa iba, karena dirinya, Lina jadi kena masalah. Seorang pria datang dengan kopiah hitam dan diberi jalan mendekati mereka. Pria itu adalah ustadz Nassir yang kebetulan bekerja di KUA terdekat. Pak RT memberi tahu apa yang terjadi dan ia memutuskan untuk menikahkan mereka demi menghindari kemarahan warga lebih jauh lagi. Tristan tak bisa mengelak. Ia pun sudah putus asa mau bicara apalagi dengan mereka, sedang pikirannya sendiri juga sedang kacau. Andai tragedi itu menimpa saat pikirannya sedang jernih, mungkin ia bisa menghindari tragedi ini dengan mudah. *** Tristan duduk di kursi dengan tubuh lemas. Ia sudah menutup rolling door tanpa menguncinya. Sejak Lina tinggal di warung itu, ia tak pernah lagi mengunci warungnya. Dilihatnya Lina kembali ke kasur gulung dan menidurkan Dion yang sudah berhenti menangis di sana. Tristan membaringkan kepala di lipatan tangannya di atas meja. Ia ingin tidur karena suasana hati dan tubuhnya tidak sedang baik-baik saja. Mungkin dengan tertidur sebentar, perasaannya akan jauh lebih baik ketika terbangun keesokan harinya, walaupun ia sendiri sangsi. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang hangat menutupi punggungnya. Saat ia mengangkat kepala, ada Lina dengan pandangan lembut berdiri di sampingnya. Wanita itu menutup punggung Tristan dengan sebuah jaket tebal. "Maaf, Bang. Gara-gara aku ...." "Lina, bisakah kita bicara besok saja? Aku sedang tidak sehat, sekarang." Terlihat mata Tristan yang sedikit menyipit melirik wanita itu di samping. "Eh, maaf-maaf." Lina menunduk dengan gugup. Tristan juga tidak tahu, apa yang harus dikatakannya pada wanita berkerudung instan berwarna coklat itu. Ia sendiri juga merasa turut bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Andai ia tidak datang, mungkin Lina sudah tidur dan tidak ada masalah yang terjadi. Namun, Tristan memang tidak punya tempat untuk pergi. Mungkin memang seharusnya begini, takdir yang harus ia lewati. Wanita itu kembali ke kasur gulungnya di lantai. Dengan pelan, walaupun ragu, ia kembali mencoba tidur. Matanya terpejam tapi Lina sulit tidur. Tak pernah terbayangkan sebelumnya ia akan menikahi bosnya. Selain baik, pria itu memang sangat tampan. Bahkan ada beberapa pembeli yang berulang kali datang dan belanja di sana hanya karena ingin melihat Tristan. Namun, Lina tak pernah bermimpi akan menikah dengan Tristan karena ia tahu diri. Pria itu sudah menikah dan telah membantu kehidupannya yang tengah susah. Mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal saja darinya, Lina sudah merasa sangat bersyukur. Karena itu ia juga merasa bersalah ketika tiba-tiba warga datang dan memaksa mereka menikah. Apa kata istri Tristan nanti bilang mendapati suaminya menikah dengan dirinya? "Lina ... kenapa kamu malah mencari masalah baru ... Bukankah mereka orang-orang yang memperlakukanmu dengan baik? Kenapa kamu malah mencari masalah dengan mereka ...." Lina memarahi dirinya dalam hati. Sebenarnya ia sudah merasa tak nyaman sejak Tristan masuk ke dalam warung, tadi. Walaupun ada anak, ia merasa ia dan Tristan bukan muhrimnya yang bisa berduaan di dalam warung. Namun, ia tak bisa mengatakannya karena Tristan adalah pemilik warung. Tidak sopan rasanya mengusir pria itu ketika sang pria kehujanan dan duduk di luar kedinginan. Apalagi hujan deras, ia mana tega. Nasi sudah menjadi bubur. Walaupun waktu bisa diputar ulang, mungkin ia akan tetap melakukan hal yang sama. Itu karena ia merasa dirinya hanya numpang di sana. Ia tak bisa banyak bicara karena sekali lagi, Tristanlah yang punya kuasa. Toh, sejauh ini, pria itu sangat sopan. Tinggal kini, bagaimana Lina akan menghadapi kemarahan Santika bila tahu apa yang terjadi pada mereka berdua di sini malam ini. Kali ini malam terasa panjang dan dingin begitu menggigit. Lina menaikkan selimutnya lebih tinggi menutupi tubuhnya dan si kecil Dion. *** Tristan terbangun ketika menghirup bau harum masakan. Ia sedikit terkejut ketika bangun dan berada di dalam warung. Serpihan ingatan kembali pelan-pelan dan mulai membuat ia ingat kejadian tadi malam. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD