"Hh, dalam semalam istriku minta cerai dan aku menikah lagi. Sebuah prestasi yang tidak bisa aku banggakan." Tristan menarik jaket itu menutup lebih erat agar bisa menghangatkan tubuhnya.
"Bang, ini ada nasi hangat dan sup ikan." Lina meletakkan mangkuk berisi sup ke atas meja karena melihat Tristan bangun.
Mau tak mau Tristan kembali membuka mata karena tergoda harum masakan Lina. Setelah meletakan sepiring nasi dan secangkir teh hangat, Lina mengajak Dion yang sudah bangun untuk duduk bersama Tristan sarapan di meja.
"Bang, biar nanti aku saja yang belanja buat warung." Lina menawarkan diri.
"Tidak usah! Warung tutup hari ini!"
Kedua bola mata Lina membulat sempurna. "Kenapa Bang Tristan tiba-tiba jadi ketus begitu? Apakah aku salah bicara?" "Kenapa?"
"Aku ingin libur. Badanku kurang sehat. Aku ingin tidur di sini." Mulut pria itu merengut.
Lina harus beradaptasi dengan pria ini, sepertinya. Ia belum tahu Tristan seperti apa di kesehariannya. "Eh, ya udah." Ia memperhatikan Tristan yang ingin mengambil sup ikan. "Eh, sini, aku ambilkan."
Pria itu membiarkan Lina mengambilkan sup ikan itu dengan sendok besar.
Lina memperhatikan Tristan yang tidak mau melihat ke arahnya. Pria itu hanya menunduk.
"Apa Abang gak mau pulang?" tanya Lina berusaha ramah.
Tristan mengangkat wajahnya yang terlihat datar. Sorot matanya terlihat angker. "Kalau aku tidak mau pulang, memang kenapa!?"
Lina kembali serba salah. Tempat itu sangat kecil untuk mereka bertiga, terutama karena banyak meja dan kursi yang menumpuk di tiap sudut ruangan. Kasur gulung juga cukup untuk dua orang. Bagaimana kalau Tristan ingin memakainya karena katanya dia kurang sehat. "Abang mau ke puskesmas?"
"Lihat nanti saja. Habis ini aku mau tidur. Aku mau tidur pakai kasur gulungmu." Tristan bicara tanpa ekspresi.
"Apa Abang sudah solat subuh?"
Tristan menatap Lina dengan pandangan dingin. "Habis makan nanti aku solat."
Walaupun dipandang tidak ramah, Lina berusaha berlapang dadda. Ia tahu, mungkin Tristan merasa dirinya membawa kesialan bagi pria itu, sehingga ia bisa menerima pria itu memandangnya dengan raut kesal. Namun bila soal agama, ia berusaha mengingatkan sebagai sesama muslim. "Apa tidak sebaiknya solat dulu? Solat subuh sebaiknya jangan terlalu kesiangan, Bang, tidak baik." Lina menasehatinya dengan pelan.
Kembali Tristan menatap istri barunya dengan dingin. "Iya." Ia beranjak berdiri dan melangkah ke kamar mandi.
Lina tak mengira Tristan mau dinasehati. Ia kemudian menemani Dion makan sampai Tristan selesai solat. Ternyata Tristan sangat suka dengan sup ikan buatan Lina. Pria itu bahkan minta tambah nasi setelah menghabiskan satu piring pagi itu. Lina tentu saja senang, Tristan menyukai masakannya.
Seusai makan, Tristan tidur kembali di kasur gulung setelah sebelumnya tidur di kursi. Sebenarnya tidak nyaman tidur di kursi. Karena itu kali ini Tristan tidur di kasur gulung yang biasa dipakai Lina. Di sampingnya ada Dion bermain mobil-mobilan dan pria itu bisa tidur dengan nyenyaknya.
Lina hanya membersihkan warung dan mencuci pakaian di belakang dapur.
"Apa aku harus menunggu Mbak Santika datang? Tapi ... aku ingin memastikan perceraianku dulu. Apa Mas Agam mengirim surat cerai itu ke rumah paman, soalnya ini sudah lebih dari lima bulan tak ada kabar ...." Ia menyelesaikan jemurannya dan kembali ke dalam rumah. Kemudian mengambil dompet di dalam lemari. Dilihatnya Tristan masih tidur di lantai. Ia mendatangi Dion dan membungkuk. "Dion, mau ikut mama gak, ke rumah nenek?"
"Mau." Bocah itu mengangguk.
"Kalian mau ke mana?" Tiba-tiba Tristan bangun dan memegangi tubuh Dion.
Lina terkejut. "Eh, aku mau keluar sebentar."
"Mau ke mana!?" Tristan segera bangkit dan mendekap Dion seakan takut bila bocah itu meninggalkannya.
Dion terlihat bingung. Ia diam saja Tristan memeluknya.
"Eh, mau ke rumah tanteku. Rumahnya tidak jauh dari sini."
"Kenapa waktu menikah kemarin, kamu ngak bilang punya tante dekat sini?" Tristan menjejalinya dengan pertanyaan, seakan-akan ia tak percaya omongan Lina.
"Eh, kemarin 'kan yang ditanya orang tua? Orang tuaku memang sudah meninggal. Kalo tanteku, dia paling gak suka ikut campur urusanku, apalagi harus dibangunkan di tengah malam begitu. Dia pasti gak mau datang, jadi percuma menyebut namanya."
"Bagaimana dengan pamanmu?"
"Dia orang kapal. Dia sedang berlayar."
Tristan tertegun sejenak. "Lain kali jangan berbohong padaku lagi."
Bola mata Lina melebar. Sejak kapan ia berbohong pada suaminya? Tak ditanya ya tak cerita. Namun, Lina memilih bungkam daripada memperpanjang masalah. "Aku mau bawa Dion." Ia mengulurkan tangan.
"Tidak boleh! Kamu pergi saja sendiri!" Tristan memeluk Dion erat dan mengusir Lina.
Ini membuat Lina bingung. "Aku membawanya karena aku takut dia mengganggu tidurmu."
"Tidak, malah aku senang dia temani. Sudah, sekarang kamu pergi saja, jangan pikirkan yang ada di sini!" Pria itu tampak tak peduli.
Lina melongo. "Lha, Dion 'kan anakku?" Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Dilihatnya Dion tidak menolak menemani Tristan dan keduanya tampak akur. Apa ia biarkan saja mereka berdua tinggal di dalam warung?
"Jangan takut, aku akan menemaninya keluar kalau dia bosan di warung." Janji Tristan. Ia tampak mulai lunak dari sebelumnya.
Melihat Dion tampak tenang, Lina akhirnya setuju. "Ya sudah."
"Jangan lama-lama ya."
Lina melirik Tristan sebelum pergi. "Iya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah kepergian Lina, Tristan melirik si kecil yang kembali main mobil-mobilan. "Dion, ayahmu seperti apa?"
Dion mengangkat kedua alisnya melirik Tristan dan berhenti bermain. "Ayah?" ucapnya lagi.
"Iya, apa ayahmu baik padamu?"
"Papa?"
"Kamu memanggilnya "Papa"?"
Dion mengangguk. "Papa."
"Apa papa sayang padamu?"
Dion menggeleng. "Papa bikin Mama nangis."
Tristan tertegun. Ia mulai bertanya pelan. "Apa ... Om bisa jadi ayahmu?"
Dion kembali berhenti bermain. Bola matanya menatap Tristan. "Ayah?"
"Ya, kamu bisa panggil aku "Ayah"." Tristan mulai tersenyum. Hanya bicara dengan si kecil saja, seketika ketegangan yang sedang mengganggu pikirannya reda.
"Ayah!"
Tristan menarik tubuh si kecil dan kembali memeluknya. "Kamu mau 'kan jadi anak ayah?"
"Iya."
Betapa bahagianya Tristan. Serasa impiannya untuk mempunyai anak menjadi kenyataan. Ia merangkul si kecil dengan hangat dan bocah itu menikmatinya.
***
"Ini." Wanita paruh baya itu menyerahkan selembar amplop coklat berukuran besar pada Lina. "Kamu cerai dari suamimu ya. Boddoh! Suamimu 'kan orang kaya, masa minta cerai!?"
Lina hanya mengangkat pandangan menatap tantenya dengan bola mata melebar. Tidak mudah bicara dengan wanita ini di mana segalanya dilihat dari kacamatanya.
"Kenapa? Suamimu menikah lagi? Biarkan saja. Yang penting kebutuhan anakmu dan kamu terpenuhi! Cari saja kerja diluar, biar kamu tidak melihat tingkahnya yang menyebalkan setiap hari!" ucap wanita paruh baya itu berapi-api.
"Aku sudah melakukannya, tapi Reka ingin lebih. Bukan aku yang ingin keluar tapi aku diusir." Namun, kalimat itu hanya bersarang di kepala. "Aku sudah menikah lagi." Dipasangnya wajah bahagia dengan senyum andalannya.
"Dengan siapa?" Mata tua itu menyelidik. Ia menyematkan di belakang telinga, rambut pendeknya yang baru diwarnai hitam.
"Ada tukang sate dekat sini ...."
"Tukang sate!?" Alis wanita itu naik seiring ia melebarkan matanya. "Hah! Kamu benar-benar boddoh! Kamu malah menukarnya dengan yang lebih buruk lagi ...." ucapnya sinis.
Dalam hati, Lina ingin menangis. Tentu saja. Dicerai sebagai istri pertama, kini menikah lagi dan jadi istri kedua. Bukankah hidupnya benar-benar miris? Bahkan pria yang menikahinya menganggapnya sebagai pembawa sial.
Bersambung ....