Pelan, Lina membuka amplop berwarna coklat di tangan. Ada selembar kertas yang ditariknya keluar. Di situ tertulis bahwa ia sudah resmi bercerai dengan Agam. Ia lega. Setidaknya kertas itu sudah membuat bebannya berkurang walau untuk sementara.
Langkahnya lebih ringan saat pulang. Ia memilih berjalan kaki karena ingin menghirup udara segar. Udara kebebasan. Ia sendiri heran, kenapa dirinya tidak menangis, malah bahagia. Padahal masalah lain masih menunggunya di warung. Mungkin, rasa cintanya sudah tidak ada lagi buat Agam. Atau mungkin, ia mulai bahagia menikah dengan Tristan?
Tidak, pasti bukan itu jawabannya. Dulu, ia pikir ia akan membenci Agam, tapi ternyata tidak. Ia sudah mengikhlaskan apa yang terjadi dan ia ingin buru-buru statusnya jelas agar ia tak lagi terikat dengan Agam. Sebenarnya ia ingin bebas, tapi mau bagaimana? Ia kini malah sudah menikah lagi dengan orang lain.
Langkahnya terhenti ketika mendengar sayup-sayup suara seorang wanita di dalam warung. Lina sangat hafal suara itu. Matanya seketika melebar dan hatinya mulai cemas.
"Aku ingin cepat bercerai, jadi sekarang saja kita ke pengadilan agama!" Suara tegas itu adalah milik Santika.
"Eh, tunggu dulu!" Lina segera masuk ke dalam warung dan melihat Tristan dan Santika duduk saling berhadapan. Keduanya menoleh ke arah Lina.
"Oh, yang sudah nikah lagi, datang ...." Ledek Santika sinis sambil melipat tangan di dadda.
"Dengar dulu, Mbak ... aku ...."
"Lina!"
Lina melirik Tristan yang kini wajahnya tampak serius bahkan seperti menahan amarah. "Bang, biar aku jelaskan dulu ...."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan! Sekarang kamu tunggu di rumah sama Dion. Aku mau pergi keluar dulu dengan Tika." Pria bertubuh jangkung itu menghindari pandangan dan beranjak berdiri. Ia pergi keluar dengan bergegas, diikuti Santika.
"Tapi, Bang ...." Lina merasa bersalah. Kenapa mereka harus cerai? Apa itu karena dirinya? Kenapa Tristan malah menceraikan Santika, bukan dirinya?
"Tugasmu adalah menungguku di rumah, Lina." Pria itu kembali menekankan ucapannya sambil melirik ke belakang. "Aku akan pulang. Jangan lupa masak buat makan siang." Wajah Tristan terlihat datar. Bahkan seperti tak ingin berlama-lama bicara dengan Lina. "Assalamualaikum."
Mata Lina berkaca-kaca. Ia hanya bisa melihat suaminya pergi dengan istri pertamanya sambil menjawab salamnya. "Waalaikumsalam."
Kenapa mereka berpisah? Bukankah seharusnya Tristan menceraikan dirinya? Lina tak habis pikir dengan pilihan suaminya itu karena ia merasa dirinyalah yang merusak rumah tangga mereka. Apa benar Tristan menginginkan dirinya atau pria itu takut akan pandangan para tetangga yang sudah menikahkan mereka? Atau ... Santika sudah tak percaya lagi pada Tristan? Padahal ia ingin menengahi agar Santika tidak salah paham tapi keduanya malah memilih bercerai. Betapa rasa bersalah Lina semakin menjadi.
Di dalam taksi, Tristan melirik Santika. Ada rasa penasaran kenapa wanita itu memilih orang lain dibanding bertahan dengannya. Padahal segala sesuatunya selalu ia upayakan. "Apa ada hal lain yang bikin kamu menyerah tentang aku?"
Bola mata berbulu lentik itu meliriknya dan tersenyum sarkas. "Ada. Kamu itu cowok pelit."
"Aku 'kan selalu berikan kalo kamu minta ...."
"Dan tidak punya inisiatif!" Santika menambahkan dengan garang. "Wanita itu ingin dibahagiakan! Kamu ... apa tidak lihat betapa aku masak, membersihkan rumah dan mengurus warung satemu itu setiap hari? Aku tahu uangmu mulai banyak tapi kamu gak ada inisiatif! Beli rumah, kek. Jalan-jalan ke mal, kek. Atau liburan ke luar kota. Kamu gak tergerak untuk melakukannya kalo aku gak minta! Pria macam apa itu!?" Terlihat kemarahan dari kedua bola matanya. "Adi itu romantis, sering mengajakku pergi ke restoran mewah atau ... mengajak nginap di hotel sebentar." Di kalimat terakhir ia mengerling genit sekedar menyindir. "Tidak seperti kamu yang terus-terusan berkutat dengan warung sate busukmu itu!!" Suaranya berubah menjadi bom waktu yang baru saja meledak. Sesudahnya ia kembali melihat ke arah depan mengatur napas. Ia berusaha menstabilkan emosinya. "Sepertinya kamu cocok dengan Lina. Dia tipe yang mau disuruh-suruh seperti babu, jadi dan tidak punya keinginan sana-sini. Selamat, ya, atas pernikahan kalian yang menggemparkan warga!"
Sindiran yang sarkas dari mulut Santika membuat Tristan sadar, kakeknya benar. Bukankah dulu ia bilang pada kakek bahwa Santika wanita yang sederhana? Tidak memikirkan gemerlapnya dunia karena itu ia memilih menikah dengan wanita ini? Tapi ternyata tiga tahun bersamanya malah membuat pelan-pelan Santika memperlihatkan warna aslinya. Santika sudah bosan dengan kesederhanaan dan ia ingin mencicipi kemewahan. Padahal andai saja Santika meminta, Tristan sanggup memberikannya. Kenapa Santika tidak sabar? Kenapa ia memilih menyerah?
***
Tristan sedikit terlambat pulang. Ia pulang saat Lina dan Dion sudah selesai makan. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Bang, Abang mau makan?" sambut Lina dari tempat cuci piring.
"Aku solat dulu. Siapkan saja makanannya di atas meja," ucap Tristan dengan wajah datar. Ia pun masuk ke kamar mandi. Tak lama, pria itu selesai solat dan melipat sajadah. Ia melihat Lina membuka tudung saji di atas meja. "Kalian sudah makan?"
"Sudah. Aku mau jalan-jalan dulu, Bang, keluar. Dion udah mulai bosen di dalam."
"Eh, tunggu dulu!" Tristan yang sudah hampir duduk, kembali berdiri. "Masukkan pakaian kalian ke dalam koper. Kita pindah."
"Apa?" Lina melongo. "Ke rumah Abang?"
"Iya. Masukkan saja barang-barang kalian ke dalam koper, biar setelah makan kita bisa langsung pindah." Tristan kembali duduk dan memperhatikan lauk yang ingin dimakannya.
Walaupun terkejut, Lina mulai mendatangi lemari. Ia membuka koper dan mulai mengisinya dengan pakaiannya dan Dion.
Seusai makan, Lina merapikan meja dan kemudian keluar mendatangi Tristan yang sudah menunggu di motor bersama Dion. Kopernya ditaruh di depan sedang Dion di belakang.
"Mama, ayok!" Tangan kecil Dion melambai-lambai.
Lina duduk di belakang Dion dan memegangi ujung jaket suaminya.
"Lina, peluk aku. Nanti kamu jatuh!"
Ucapan Tristan membuat wanita berkerudung hijau muda itu bingung. Tidak biasanya pria itu meminta begitu.
"Lina, aku ini suamimu."
Saat itulah Lina sadar, ia lupa telah menikah dengan Tristan. "Oh." Sedikit canggung ia memeluk pria itu.
Motor pun bergerak ke arah perumahan sebelah. Dion begitu senang karena angin berhembus di wajahnya dengan lembut. Sudah beberapa kali Dion diajak naik motor dan ia selalu senang.
Namun, lama-lama Lina menyadari, motor itu bergerak ke arah yang berbeda dengan arah kontrakan Tristan. "Bang, kita ke mana? Bukannya tadi dibelokkan harusnya ke kiri ya."
"Iya."
Lina semakin bingung mendengar jawaban Tristan, tapi ia tak bisa bertanya banyak karena suara motor membuat ia harus berteriak saat bicara.
Motor kemudian berhenti di depan sebuah rumah baru di perumahan elit. Hanya saja, rumah yang didatanginya adalah rumah paling kecil di daerah itu. Rumahnya tingkat dua dengan desain minimalis dan pekarangan kecil di depannya.
Lina turun dengan wajah masih bingung. "Bang, ini rumah siapa? Rumah Abang?" Ia menurunkan Dion.
Tristan menurunkan koper Lina dan membuka helm. "Iya. Seharusnya rumah ini menjadi kejutan buat Tika, tapi karena dia minta cerai jadi kita saja yang menempati."
Lina jadi merasa bersalah. Ia memandangi Tristan yang membuka pintu pagar lalu mendorong motornya ke dalam. Lina mengikuti sambil menarik koper dan menggandeng Dion.
Bersambung ....