Bab 9. Rumah Baru

1087 Words
"Lihat, Dion. Ini rumah kita sekarang." Tristan, sambil tersenyum, membuka pintu depan dan terlihatlah isi rumah di dalamnya. Rumahnya tidak besar tapi dibanding warung, rumah ini jauh lebih besar beberapa kali lipatnya. Rumah ini telah terisi perabotan sehingga Lina mengira rumah ini sudah pernah ditempati. Namun nyatanya, semua masih baru. Kursi, meja, bahkan dindingnya masih terhirup bau cat yang mulai samar. "Rumah ini belum pernah ditempati, Bang?" tanya Lina melihat sekeliling. "Belum. Pembangunannya baru selesai minggu lalu. Perabotnya juga baru diisi beberapa hari ini." Tristan menggandeng si kecil. "Dion, mau lihat kamarmu?" "Mau, Yah." Bocah itu mengangguk. "Yah?" Lina melirik Dion. Sejak kapan panggilan itu berganti? "Iya, Om mau jadi ayah Dion katanya, Ma." Bocah itu tersenyum lebar. Terlihat deretan gigi kecilnya berderet rapi di depan. Si kecil begitu riang ketika dibawa menaiki tangga oleh Tristan. Lina mengikuti keduanya dari belakang. Dilihatnya lagi ruangan itu berkeliling. Rumah itu pasti mahal. Bukan saja karena gedungnya yang dibuat modern, tapi tempatnya pun berada di area elit. Walaupun rumah itu paling kecil di perumahan itu karena berada di sudut yang tanggung, tapi apa mungkin seorang tukang sate mampu membeli rumah di perumahan ini? Setidaknya orang-orang yang tinggal di sini punya usaha sendiri dengan penghasilan yang tidak sedikit, sedang Lina tahu, keuntungan yang didapat warung sate Tristan dan rasanya tidak mungkin kecuali ia punya usaha yang lain. "Nah, ini kamar kamu." Pintu dibuka. Dion bisa melihat sebuah kamar dengan ranjang besar yang nyaman. Kasurnya masih dibungkus plastik. Raknya masih kosong. Kamarnya juga besar. Dion mendongak. Senyum masih terukir di wajahnya. Ia mengangkat kedua tangan ingin digendong. Tristan kemudian menggendong si kecil. "Terima kasih, Ayah." Tristan tersenyum. Wajahnya semakin tampan saja. "Kamu suka?" tanyanya pada Dion. Bocah kecil itu mengangguk. Ia memeluk leher Tristan karena senang. "Nanti dipasang dulu sepreinya ya." Kemudian pria itu membawa Dion keluar kamar. Lina kembali mengekor. "Oiya, Lina. Ini kamarmu." Pria itu kini membuka kamar di samping kamar itu. Kembali terlihat kamar besar yang belum terisi apa-apa selain perabot. Ranjangnya juga besar dan kasurnya masih dibungkus plastik seperti kamar sebelah. "Sepreinya ada di dalam lemari ya." "Iya, Bang." Lina sedikit tersipu-sipu mengingat ini akan jadi kamar mereka berdua. "Oya, kamarku ada di bawah." "Apa?" Lina terkejut mendengarnya. Jadi ... Tristan tidak tidur sekamar dengannya? Tristan menurunkan Dion. "Mungkin kamu akan sibuk jadi aku tinggal. Aku ada di bawah ya." "Eh, iya." Lina tertunduk malu. Pria itu kemudian keluar dan menutup pintu. Lina bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya Tristan masih berharap untuk kembali pada Santika? Namun, ia tahu diri. Ia tidak cantik dan hanya seorang pegawai sedang Tristan adalah bosnya. Tidak mungkin pria itu tertarik padanya. Ia sudah tahu itu, tapi kenapa masih saja berharap? Sambil menduga-duga, ia mulai merapikan kamar dan memasukkan pakaiannya ke dalam lemari baju. Ia juga merapikan kamar Dion. Sebentar saja, Dion sudah tertidur. Sudah lama bocah itu tidak tidur di ranjang yang empuk. Saat Lina turun, ia tak menemukan Tristan di lantai bawah. "Ke mana dia?" Terdengar suara mesin motor dari luar rumah. Lina mendatangi pintu depan dan membukanya. Ada suaminya memarkir motor dan menurunkan tas besar. "Abang dari mana?" "Oh, aku dari kontrakan, ambil barang-barangku." "Oh." Lina membiarkan Tristan menutup pagar dan membawa masuk tas besarnya. "Bang, nanti malam, mau makan apa? Apa kita kembali ke warung?" "Oh, kita makan di luar saja. Kamu istirahat dulu. Nanti kalau Dion sudah bangun, kita ke mal." Lina mengangguk dan pergi ke dapur mengecek peralatan. *** Dion sangat senang. Sudah lama ia tidak jalan-jalan ke mal. Sangat lama hingga seingatnya, terakhir ia ke mal adalah saat sebelum ayahnya menikah lagi dengan Reka. Ia ingat sang ayah bilang ingin menikah lagi pada ibunya saat mereka pulang dari mal. Ibunya dibelikan banyak barang tapi sesudahnya ia menangis. "Dion sudah lapar belum? Atau mau main dulu di tempat permainan?" Tristan memberi pilihan saat menggendong si kecil. "Mau mamam, Yah. Dion lapar ...." Tristan tersenyum gemas mencubit lembut pipi bocah itu. "Emang Dion mau makan apa sih?" Dion malah menoleh pada ibunya. "Mamam apa ya, Ma?" "Kok tanya mama? Mana mama tau. Yang punya perut 'kan kamu?" Lina menggodanya dengan menyentuh perut si kecil. Dion tersenyum lebar. Ia malah garuk-garuk kepala. "Ayo, jawab dong Dion. Kasihan Ayah nunggu." Lina mendesak putranya dengan suara lembut. Kemudian ia melirik Tristan. "Biasanya dia begitu kalo sama orang baru. Sering bingung kalo ditanya. Gak bisa jawab." "Oh, begitu?" Tristan kembali melirik Dion. "Masa sama ayah masih merasa orang baru sih? Mmh?" Ia menggelitik perut Dion. Bocah itu tertawa sambil memegangi tangan kokoh Tristan. Ia kemudian bersandar di tangan pria itu dengan manja. "Mungkin kita cari restoran ayam goreng karena dia paling suka ayam goreng." Lina memberi ide. "Ok, kita cari restoran ayam goreng yang enak." Tristan membetulkan gendongannya. Tak lama mereka menemukan sebuah restoran cepat saji yang menyediakan ayam goreng berbagai jenis. Dion terlihat menyukai makanan di sana karena ia makan tanpa banyak bicara. "Dion umurnya berapa sih, Lin?" Tiba-tiba Tristan bertanya. "Lima tahun." "Lho, gak sekolah?" "Aku lagi ngumpulin duit, Bang, buat nyekolahin dia." "Gak usah pakai duitmu. Biar duitku saja. Kamu sudah menemukan sekolahnya belum? Dia mau masuk TK mana?" "Ada TK dekat warung kita tapi mahal, TK swasta. Aku lihat ada TK ...." "Oh, itu ... tidak usah. TK itu saja. Aku yang bayar semuanya." "Tapi TK itu mahal uang pangkalnya, Bang. Uang pendaftarannya saja ...." "Aku yang bayar," potong Tristan cepat. Lina menatap suaminya dengan melongo. "Tapi yang masuk situ anak orang kaya semua lho, Bang. Apa kita mampu untuk ...." "Akan aku usahakan. Lina, kita jadi orang tua harus kerja keras demi anak. Untuk apa punya gelang emas, berlian, kalau pendidikan anak cari yang murahan?" "Ngak gitu juga sih, Bang. Aku takut nanti Abang gak bisa bayar uang sekolahnya. Padahal 'kan, ada TK lain yang kita mampu membayarnya. Gak perlu yang mahal-mahal begitu." "Lina, apa dia pura-pura? Dia 'kan bukannya dulu sempat kaya waktu bersama mantan suaminya? Apa dia berusaha mencari simpatiku? Padahal bagiku tidak masalah kalau harus menghabiskan uang untuk Dion. Uang bisa dicari. Aku tidak mau lagi dibilang suami pelit seperti yang diucapkan Santika waktu itu." Seketika mengingat wanita itu, naffsu makannya menghilang. Padahal dulu, wanita itu juga seperti Lina berusaha memberi kesan ingin hidup sederhana. Namun, ternyata semua itu bohong belakang. Seorang wanita selalu ingin diperlakukan seperti ratu. "Lihat saja Tika ... aku tidak pelit! Akan kubuktikan itu!" "Tapi 'kan TK itu dekat warung? Kalau telat-telat dikit jemputnya, 'kan tidak masalah? Daripada sekolahnya jauh?" "Tapi uangnya ...." Lina tampak khawatir. Ia tidak ingin menyusahkan Tristan. "Tenang saja, Dion takkan malu punya ayah aku!" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD