Setelah mereka makan ,Cinta membantu membersihkan meja.
"Sini biar , Cinta bantuin " ujar Cinta yang ingin membantu Diva mencuci piring.
"Tidak usah, biar saya saja. Kamu lebih baik pulang ini sudah malam , nanti apa yang orang pikir tentang kamu. " ujar Diva yang menolak bantuan Cinta
" Mereka pasti akan berfikir , seorang gadis yang berada di dalam rumah seorang lelaki yang sudah punya istri, tapi gadis tersebut bukan siapa- siapa, saudara bukan "sambung Diva.
Cinta langsung pergi meninggalkan Diva. Cinta pergi tanpa berpamitan dengan Carl. Carl melihat Cinta pergi begitu saja langsung menatap Diva.
" Apa yang kamu katakan kepada Cinta " tanya Carl dengan tatapan mata yang sinis.
"Saya hanya bilang lebih baik kamu pulang ini sudah malam apa kata orang nanti tentang kamu " jawab Diva.
" Mengapa kamu suka sekali mengatur seseorang. Kamu pikir kami sudah hebat hanya kerena papa memberikan perusahaannya sama kamu "ujar Carl
Sontak Diva langsung menghentikan aktivitasnya .
"Mengapa mas malah melibatkan tentang perusahaan yang di berikan papa kepada Diva. " ujar Diva yang keberatan dengan ucap Carl.
" Kamu itu sok berkuasa, padahal kamu itu itu anak dari seorang koruptor. " ujar Carl
"Atau, jangan-jangan kamu itu punya hubungan spesial dengan papa . makannya kamu dapat perusahaan papa " Carl semakin tidak bisa mengontrol ucapannya.
Hati Diva begitu sakit atas ucapan suaminya. Kemarahan Diva memuncak.
" Jaga ucapan anda pak Carl yang terhormat. Ayah saya bukan seorang koruptor, dan saya tidak punya hubungan apa-apa dengan papa anda. " wajah Diva memerah menahan amarahnya, ia takut tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Oh ya, kalau bukan koruptor apa dong ? masak sampai hukuman mati " ucap Carl yang tidak memikirkan perasaan Diva.
"Kalau anda ingin perusahaan papa anda kembali kepada anda , anda bisa mengambilnya saya akan urus surat-suratnya.". ujar Diva tanpa pikir panjang.
" Maaf, saya buka orang yang mengambil milik orang lain " ucap Carl yang bermaksud menyindir Diva.
Diva sudah tidak bisa mengontrol amarahnya, ia memutuskan pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar Diva melepas amarahnya dengan bermain tinju. Ya, Diva sudah mendekor kamarnya seperti ruang olahraga. Diva langsung menuntaskan amarahnya dengan bermain tinju .
Entah berapa lama ia bermain tinju sampai akhirnya ia ketiduran.
" Diva sayang, Diva " panggil seorang pria
" Siapa di sana ?"" Diva bingung karena tidak melihat siapa pun
tiba-tiba pria tersebut menghampiri Diva.
" Ayah !"" ucap Diva yang tidak percaya melihat Ayahnya di depannya.
Diva langsung memeluk ayahnya dengan sangat erat.
"Ayah ,kenapa ayah tinggalin Diva dan bunda ayah jahat " ujar Diva yang tidak bisa mengontrol tangisannya.
" Sayang , ini semua sudah takdir. Andai kalau ayah masih ada pasti Diva tidak mungkin sesukses sekarang. Mungkin Diva akan seperti Dulu yang bercita-cita menjadi seorang petinju " ucap Ayah diva sambil mengelus kepala Diva.
" Tapi Diva tidak suka dunia bisnis , mereka selalu bilang ayah koruptor, padahal ayah kan dijebak seseorang . Diva benci mereka semua " ucap Diva
"Apa kamu juga membenci suami kamu ?"" tanya ayah Diva yang memegang dagu Diva.
"Iya ,Diva benci mas Carl " ucap Diva dengan yakin.
"Sayang, dia itu suami kamu,kamu enggak boleh benci sama dia " ujar ayah Diva.
Diva hanya diam di dalam dekapan ayahnya
" Diva sayang, maukah putri ayah berjanji satu hal sama ayah ?""" tanya ayah Diva.
" Apa yang ayah inginkan pasti Diva turuti ". ujar Diva
" Benar " ucap ayah Diva yang ingin kepastian