7. Mendengar Irama

1483 Words
Saat itu, Tara tersenyum karena mendengar permintaan maaf dari sang gadis. Ia tidak menyangka bahwa Meisha yang baru saja ditemui sekitar lebih dari sebulan dan mereka memutuskan untuk berteman, kini Meisha bahkan sedemikian perhatian terhadap dirinya. d**a Tara lantas menghangat, merasakan desiran halus yang membuat bibirnya berkedut. Jemari yang lebih besar dan awalnya digenggam Meisha, kini berbalik membalas. Lelaki berparas rupawan itu mengapit jemari kecil yang halus itu agar memenuhi sela jarinya. Seperti sama-sama mencoba untuk saling mengerti. “Kamu tidak bersalah, Meisha. Da aku melukis dengan jari-jari ini, jika hal itu yang ingin kamu ketahui, tanpa kuas dan hanya dengan jari inilah aku melukis. “ Senyuman Meisha yang terlampau indah tak bisa dilihat Tara, namun dengan tawa kecil itu akhirnya membuanya sadar kalau gadis luar biasa yang ada di hadapannya ini sedang berbagi kebahagian dengan diri Tara. “Emm... aku ingin melihat caramu melukis, lalu bagaimana bisa kamu melukisku di kanvas? Dan itu sangat mirip walau belum selesai.” Ada rasa penasaran dalam setiap pertanyaan yang diucapkan dari bibir sang gadis, tentu saja Meisha sangat ingin tahu, bagaimana bisa seorang yang tidak memiliki indra penglihatan dapat melukiskan sesuatu seperti yang dilihat orang normal? Bagaimana lelaki itu melukis pemandangan, bunga, sungai, hutan dan lainnya? Bahkan ia mengetahui bahwa Tara juga melukiskan wajahnya di salah satu kanvas yang ada di ruangan ini. Tak terpikirkan oleh Meisha, keluar biasaan macam apa yang ada di dalam tubuh seorang lelaki bernama Tara ini. Ia buta, tetapi ia bisa melukis layaknya orang berindra sempurna. Lukisan timbul yang jika diraba maka kau akan merasakan bentuknya. Jari-jari mereka yang saling mengait, kini dilepaskan oleh Tara. Lelaki itu tertangkap iris Meisha saat tersenyum tipis, membuat entah kenapa wajahnya menjadi memerah bak tomat yang siap panen. Hal mengejutkan lain pun terjadi, lengan yang tadi dilepas Tara sekarang bergerak dan mencari wajah Meisha. Ketika jemari yang kokoh berada di pipi sang gadis, mata          Tara pun terpejam. Ia mengelus dan menyentuh dari dahi dan turuh melewati mata, hidung, pipi dan dagu. Ia melakuan hal itu dengan senyum tipis yang tak pernah lepas hingga membuat tatapan Meisha membulat dan bibirnya tebuka kecil. “Aku pernah melakukan hal ini sebelumnya kepada kamu, Meisha. Untuk melihat wajahmu dengan jariku agar aku bisa melukismu. Dan ekspresimu yang kudapati saat aku melakukan hal ini adalah seperti yang terlukis dikanvas, seperti sekarang ini... kamu seperti tengah membatu.” Kembali tawa kecil dengan suara yang khas masuk kependengaran Meisha dan membuat wajah gadis itu semakin merah. “Bagiaman caramu menentukan warna?” tanya sang gadis, hanya bisikan, ia benar-benar terpukau dengan kelebihan yang dimiliki Tara. Terdiam sejenak, kini hanya suara napas mereka yang terdengar di tengah mentari sore yang semakin menajamkan sinar jingganya. Membuat bayangan mereka semakin memanjang dan sekaang Meisha dapat melihat sosok dari wajah nan tampan yang dimiliki sang lelaki. Lengan Tara masih menyentuh pipinya, memberikan elusan beberapa kali, sebelum kembali berkata beberapa kalimat. “Kamu pasti akan terkejut, jika aku mengutarakan kelebihan ini.” Kembali terdiam sejenak, angin sore tiba-tiba berembus, menggoyangkan rambut hitam dan juga pirang milik Meisha. Bola mata sang gadis kembali melebar, menatap sorot mata nan kosong tetapi begitu menawan.  “Ketika aku menyentuh sesuatu, saat itu pula aku dapat mendengar sebuah irama. Itu semua membuatku seperti bisa melihat dengan irama yang kudengarkan, menandainya dan mengetahui kalau mereka sebenarnya sama seperti yang dilihat orang normal, tetapi bagiku dengan cara yang berbeda.” Bibir sang lelaki mengatup, setelah menjelaskan apa yang dirinya rasakan ketika dapat membedakan cat-cat berdasarkan nada yang didengarkan. “Itu luar biasa, bagaimana bisa itu terjadi? Seperti indra keenam saja, Tara.” Keterpukauan Meisha terhadap diri Tara dan kelebihan yang dipunya sang lelaki sepertinya tak dapat ditutupinya, keluar begitu saja dan dirinya yang begitu merasakan kebanggaan itu pun memekikkan suaranya karena hal menakjubkan ini, bagaimana pun Tara adalah idolanya. Sementara itu, bengkokan samar kembali tersemat indah di bibir sang lelaki. Sepertinya, Mr. Suu merasakan getaran di dadanya karena mengetahui Meisha yang begitu mengagumi dan mengidolakannya. Dan terdengar sangat tulus, bukan. “Jadi, kapan-kapan kamu akan melihatku melukis, hm?” pernyataan itu keluar dari celah bibir tipis Tara, karena rasa menggelitik yang mengundangnya untuk menggoda si gadis, dan ternyata sesuai apa yang ia pikirkan karena memang berhasil. Dengan cubitan kecil di lengan kanannya, ia tahu sekarang Meisha sedang jengkel karena mendengar nada bicara Tara yang sombong. “Dasar menyebalkan, tentu saja aku akan membuktikan ucapanmu, aku akan melihat kamu melukis dan membuat wajahku yang cantik ini.” Dan mereka pun tertawa bersama, cahaya jingga menerpa meraka, membuat sepasang anak Adam itu terlihat dibaluti dengan indahnya refleksi alam dalam kebersamaan yang hangat. Tidak bisa ditutupi rasa hangat dan membuancah dalam dirinya, ketika untuk pertama kalinya ia diperhatikan dan dianggap, padahal sebelumnya tak ada pembeli yang dengan penasaran akan berbuat hal seperti yang Meisha lakukan padanya. Kebanyakan dari orang-orang yang membeli lukisan Tara hanya sekadar memberikan uang yang setimpal tanpa memuji, karena mereka sudah yakin kalau tak mungkin orang seperti dirinya ini yang telah menciptakan hasil karya memukau. Tara merasa tak mengeti dengan Meisha, gadis itu begitu terbuka dan apa adanya. Ia sama sekali tak pernah mempermalukan Tara, bahkan mencela kekurangannya. Kebanyakan dari kenalan yang ia punya, akan dengan terang-terangan menertawakan kekurangannya dan tak ada yang akan peduli jika ia sudah terluka karena untaian kata menyakitkan itu. Meisha, terima kasih banyak. Tanpa diketahui Tara, sedari tadi Meisha mengakap sorot kebahagian di dalam bola mata yang selalu kosong itu. Gadis manis itu hanya tersenyum dan kembali menggenggam tangan kanan sang seniman. * “Astaga, Tara! Kamu... kamu benar-benar melukis wajahku dengan jarimu, dan tanpa .. tanpa, astaga Sweet Suu!” Tara hanya bisa mengeluarkan karbon dioksida dengan gumaman yang menunjukkan bahwa dirinya sedang merasa terganggu, sebab suara pekikan Meisha yang sejak tadi tentu mengacaukan konsentrasinya dalam menangkap irama dari cat yang ada di palet. Gadis itu terus saja berisik dan menjerit-jerit setiap kali ia mengolesi kanvas berlukiskan wajah Meisha yang belum selesai dengan jari manisnya. Pejaman mata itu pun akhirnya terbuka, jari Tara menggantung di udara, dan ia pada akhirnya mengeluarkan suara berat khasnya yang sejak tadi tersimpan karena berusaha untuk tidak terlalu melarang euforia yang dirasakan sang gadis. “Duduklah di ranjang, aku tak bisa konsentrasi, Meisha.” Setelah mengatakan hal sedemikian, Tara mendengar permintaan maaf Meisha, tetapi gadis itu bilang dia tetap ingin berdiri melihat dirinya yang melukis dan berjanji akan diam. Meisha menggerakkan tangannya, mengisyaratakan seseorang yang sedang mengunci mulut, sebelum ia menyadari bahwa sang lelaki tidak bisa melihat tindakan yang ia lakukan ini. Pandangan mata rubi tersebut kini menangkap Tara yang tengah melakukan peregangan leher dan lengannya, lelaki itu lalu mengolesi lagi dan lagi jarinya yang sudah terbaluri cat dan mulai menyempurnakan lukisan. Bagian rahang dari lukisan wajahnya yang sekarang sedang dikerjakan Tara, ia mewarnainya dengan cat putih langsat dan untuk mempertegas garis wajah dalam lukisan itu, ia memberikan warna yang lebih gelap. Sekarang lukisan hampir selesai, Tara hanya perlu menambahkan beberapa material cat lagi agar kelihatan semakin menarik. “Hyaa—hmmpp.” Hampir saja gadis berambut pirang itu menjerit kembali, jika ia tidak tiba-tiba tersadar akan kondisi sang pelukis dan akhirnya membekap bibir sendiri dengan kedua telapak tangan.     Pandangan matanya kini kembali terfokus kepada Tara, lelaki itu sedang mengunakan jari manisnya kembali untuk mengolesi cat, kemudian sang pelukis seperti memutuskan untuk berhenti dan menghela napas lega. “Yup, selesai. Tapi, kita biarkan dulu agar mengering, lalu aku akan memeriksanya kembali.” “Kyaaaa! Ini sudah sangat sempurna, Sweet Suu. Sangat! Sangat mengagumkan!” “Tidak, tidak. Aku akan memeriksanya sendiri, sekarang silakan kamu nikmati, tapi jangan menyentuhnya.” Berdiri dari kursi, setelahnya lelaki unik bernama Tara itu pergi dan menuju ke arah dapur, mungkin ingin ke kamar mandi. Sudah jelas lelaki itu akan membersihkan bekas-bekas cat yang menempel di jari-jari, belum lagi sepertinya yang mengering akan suli dihilangkan.  Tara lantas menutup pintu, ia langsung saja membuka keran air yang ada di wastafel dan menggosokkan jarinya dengan sabun, membersikan sela-selanya, lalu menampung air dengan telapak tangan untuk disiramkan ke wajahnya yang kelihatan lelah. Handuk yang ada di paku ia sambar dengan tangan kanannya dan dielapkannya di wajah, sehingga menghilangkan tetes-tetes air dan membuat wajah lelah itu menjadi segar kembali. Embusan napas keluar begitu saja dari bibir sang lelaki, seperti helaan kuat. Kembali dengan sebelah tangannya yang ada, Tara menyisir poni mengunakan kelima jari sehingga anak rambut itu sekarang tidak berada di depan dahi. “Kamu terus berada di sana, Meisha. Nanti ambilah, anggap saja itu hadiah terima kasihku karena kamu merawatku beberapa hari yang lalu.” Tara yang sudah berada di atas ranjang dan tengah duduk menyandar pun masih heran karena menangkap suara Meisha, gadis itu sedang berada di depan lukisan yang berlum kering sempurna. Sejak tadi mungkin tengah mengangui hasil karya yang ia buat. Tersenyum sekilas, Tara pun menghela napas karena mendengar suara sang gadis. “Yeee, terima kasih. Hei, bagaimana kamu tahu kalau aku masih di sini?” “Ada iramanya Meisha, teriakanmu memperjelas semuanya.” Tara menyeringai, kemudian memilih untuk mengistirahatkan diri dengan tidur sebentar di ranjang. Ia membiarkan Meisha yang tertawa dan memabalas ucapannya tentang irama yang didegar Tara, gadis itu lantas kembali kepada aktivitas yang terus menerus memutuskan untuk menunggui lukisannya kering. Menggambil ponsel, Meisha lantas menekan tombol kamera untuk memfoto hasil karya dari Mr. Suu. Meisha berniat ingin memamerkan hal ini kepada sahabatnya Inayah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD