8. Hati

1839 Words
Kamar luas yang berada di rumah megah terlihat tak biasa, ada sesuatu yang berbeda. Mencolok, dan jika masuk ke dalam, maka pasang mata itu akan langsung terperangkap ke arah tengah ruangan yang berdinding hijau muda. Sebuah petakan persegi yang berbingkai ukiran emas dengan permata merah menyala, di dalamnya bahkan tak kalah dengan ukiran luarnya, mungkin bisa dibilang itulah pusat dari kesempurnaan yang membuat tatapan akan langsung terjerat. Di atas kanvas terpampang indah wajah seorang gadis yang tengah termenung, ekspresi yang terlihat kosong, tetapi menyimpan seribu misteri. Lengan tersebut menyentuh lukisan wajahnya sendiri, mengagumi betapa sang pelukis sangat berbakat. Bibirnya langsung tertarik karena Meisha dapat mengingat bagaimana wajah dari nama yang sangat diidolakannya baru-baru ini. Wajahnya memerah, desiran itu lalu muncul begitu saja di dalam hati, seolah ia menjadi tersipu hanya karena membayangkan wajah rupawan sang seniman. Gelengan kepala absurd membuat rambut pirangnya bergoyang, kelopak mata ia pejamkan dan bibirnya tak kunjung berhenti mengeluarkan bengkokan kecil, kadang-kadang bahkan ia membentuk kepalan pada tangan dan memukul pelan kepalanya sendiri. Ia merasa malu, entah kenapa dan itu disebabkan hanya karena memikirkan idolanya. “Ada apa denganku? Ini benar-benar memalukan. Hanya dengan membayangkan wajahnya saja rasanya aku... ck, kenapa aku begini?” Kembali kepalan tangannya memukul kepalanya, dan ia pun bersegera untuk melanjutkan aktivitas setelah beberapa saat berdiam menatap potret indah itu. Pintu kamar yang terbuka membuat Meisha bisa melihat ruangan di luar area pribadinya, saat melangkah, ia seperti mendengar suara piano yang mengalun indah. Penasaran dengan bunyi berirama itu, membawa dirinya terus berjalan dan menuruni tangga, ia semakin mendekat dan ketika sampai di ruangan keluarga yang biasa ia gunakan untuk menonton televisi jika malas ke kamar, ada keterkejutan yang langsung menghampiri ketika iris rubinya menangkap sesosok yang sangat Meisha kenali. Menghampiri sang pembuat irama adalah yang dilakukan Meisha sekarang, gadis itu tersenyum ketika sampai dan ketika alat musik itu berhenti dimainkan, maka sekarang ia jelas melihat seorang lelaki yang memiliki rambut cola ikal. “Tuan Putri, lama tak jumpa.” “Kak Noah!” Mereka berpelukan, membagi kehangatan sebagai ungkapan rasa rindu adik-kakak yang sudah lama tak bertemu sapa selama beberapa tahun. Kakaknya memang sedang mengambil kuliah Strata tiga di luar negeri dan karena kesibukannya itu membuat Noah tidak bisa menghadiri acara keluarga beberapa bulan yang lalu. “Aku sangat merindukanmu, kukira kau menghadiri acara waktu itu. Dasar menyebalkan.” Lelaki itu tertawa sampai matanya menyipit, mukanya yang selalu kelihatan imut sampai-sampai membuat Meisha iri setengah mati masih sama, muda dan menggemasakan. Tidak ada banyak perubahan walaupun usia sang sulung dari keluarga Hendraka itu telah mencapai kepala tiga. Mereka lalu berbicara banyak hal, tertawa bersama hingga saling menjahili. Keakraban mereka memang tidak diragukan lagi, Noah yang selalu ramah dan murah senyum, ditambah lagi begitu mengerti Meisha walaupun terkadang bisa sangat over protektif dan sedikit menyebalkan. Namun, bagi sang bungsu, Noah adalah pengganti ayah dan ibu yang tak pernah ada di sisinya, ia selalu nyaman dengan kakak yang bisa diandalkan dalam banyak hal ini. Mereka yang terus mengobrol, kemudian membawa Meisha kepada topik mengenai Tara, seorang seniman yang membuatkan lukisan wajahnya yang mengesankan. Tarikan tangan sang bungsu tidak main-main, begitu bersemangat dan membuat Noah menjadi sedikit kesusahan, tetapi ia tidak memberontak atau melakukan perlawanan, hanya mengikuti keinginan adiknya. Noah sangat mengerti kalau adik kesayangannya ini sangat ekspresif. “Lihatlah! Luar biasa, bukan?” Wajah Meisha sangat menunjukkan kalau hatinya sedang bahagia, kepulangan kakak yang dirindukannya dan juga mendapatkan teman yang begitu menarik, membuat ia menjadi senang tak karuan, hal itu terlampiaskan dengan ekspresi wajahnya yang benar-benar menggambarkan suka cita. Noah yang melihat lukisan itu merasa terpukau, matanya sedikit memicing tajam, kemudian ia berjalan mendekat dan menyentuhnya. Seperti dugaannya, ternyata lukisan itu timbul dan membuatnya bisa merasakan tekstur yang benar-benar indah. Ia melihat wajah Meisha yang begitu berbeda dari biasanya di dalam karya seni itu, ia terheran dan berpikir bagaimana pelukis itu bisa membuat dan mengintruksikan si adik nakalnya dengan pose seperti ini? Dilihat dari mana pun, Noah tak pernah percaya kalau Meisha memiliki ekspresi wajah yang sama seperti di dalam lukisan. “Hei, bagaimana? Aku cantik, kan?” Senyuman itu semakin merekah pada bibir sang adik, dan Noah pun mengangguk. Bukan hanya cantik, tetapi ada sesuatu yang membuat lukisan ini begitu menjerat, seperti pandangan mata yang hidup dan menyimpan aura yang rapuh. Apakah ini adalah potret adiknya yang sebenarnya? Terlihat ceria dan ramah, tetapi sebenarnya rapuh dan terluka. Noah menjadi merasa sedih entah karena apa. “Suu, dia yang melukis. Katakan kepadanya kalau ini sangat menakjubkan.” “Ya, Mr. Suu memang sangat hebat, dia pelukis yang sangat hebat.” Ada ekpresi berbeda yang terlukis di wajah Meisha saat menyebutkan nama seniman itu dan Noah menatap dengan intens, ia belum pernah melihat adiknya seperti ini. Gadis bertubuh ramping dan lebih pendek darinya kini sedang mengaitkan jemari di bawah dagu dengan pipinya memerah, ditambah lagi pujian berlebihan. Cengiran megembang di wajah Noah, lelaki yang berwajah imut lantas tertawa kecil, hal itu membuat Meisha bingung dan mengangkat sebelah alisnya. “Ya, dia luar biasa.” Noah menutupi kecurigaan sang bungsu dengan pujian, kelihatannya dirinya harus membuktikan sesuatu. Meisha yang mendengar idola dan temannya kembali dipuji sang kakak, pun menjadi terbawa suasana lagi, ia lantas mengeluarkan kata-kata yang menggambarkan kalau sang seniman memang pantas untuk diidolakan. Semakin penasaran dengan respons Meisha, Noah memulai triknya. Ia memancing Meisha agar mengatakan apa saja tentang pelukis yang sekarang diketahuinya bernama Pranata Tara Palimbani. Ternyata mereka belum lama ini berteman, mungkin sekitar tiga bulan lebih. Selain itu, yang diketahuinya dari Meisha adalah ternyata Tara memiliki wajah yang sangat tampan dan lelaki itu adalah penjual lukisan yang ia buat. Sang gadis juga menceritakan tentang kekurangan lelaki idolanya dan membuat Meisha berwajah sedih, tetapi entah kenapa ia bisa melihat gelora di mata si bungsu. Senyuman kembali terlukis di bibir Noah, ia paham kalau adik kecilnya ini sudah berusia dewasa dan menyukai sang lelaki idola. “Kelihatannya ia sangat baik?” “Iya, aku belum pernah melihatnya marah karena dihina orang. Bahkan, waktu itu aku yang memarahi meraka. Dan juga, saat itu Tara pernah memberikan lukisannya secara cuma-cuma kepada remaja lelaki yang ingin memberikan hadiah ulang tahun untuk ibunya yang sedang sakit parah.” “Aa, kau yakin dia ikhlas? Ahahhaha aku hanya bercanda, hei jangan berwajah seperti itu,” Noah mencolek hidung Meisha seperti kebiasaan jika melihat sang adik ngambek. “Aku ingin bertemu dengan Tara, lukisannya juga sangat menarik, aku ingin membeli untuk kupajang di apartemen.” “Baiklah, tapi janji ya, Kakak harus membayar lebih.” Kedipan di mata rubi itu terlihat jenaka dalam tatapan Noah. Esok harinya, sekitar pukul sepuluh pagi, mereka pergi bersama ke tempat Tara berjualan di jalan Nipah. Di sana langsung saja kedua orang itu mendatangi area pernak-pernik dan oleh-oleh yang dijual di sepanjang jalan. Mereka bertemu, Tara dan Noah. Tak seperti yang ia bayangkan, ternyata Tara memiliki kepribadian yang sangat dingin. Kalau tidak salah dengar, kemarin ia yakin Meisha menceritakan kalau Tara adalah seseorang yang asik diajak bercerita. “Aku ke sini juga karena ingin melihat-lihat lukisanmu. Oh ya, Meisha sudah bercerita banyak tentangmu, dan lukisan yang kau buat memang luar biasa.” Noah hanya mendengar lelaki itu menggumam, ia yang merasa rada sebal pun berjalan, lalu menatap satu persatu lukisan yang dipajang di pinggir jalan. Pandangan matanya menatap pada sebuah lukisan elang yang sedang menatap tajam tepat ke matanya. Jual beli pun terjadi, seperti janjinya pada Meisha, ia pun memberikan harga beberapa kali lipat untuk lukisan itu, tetapi Tara menolaknya dengan alasan ia yang menentukan harga. “Tara, ini adalah rezeki. Itu tidak baik ditolak.” Noah sekali lagi bernegoisasi. “Harga lukisanku, aku yang menentukan.” Lelaki itu tetap kukuh pada pendiriannya. “Hey, ayolah kawan.” “Aku tak suka dikasihani.” “Tara, bagiamana, sih! Ini bukan masalah mengasihani atau harga diri, tapi ini adalah masalah rezeki. Kita tidak boleh menolaknya karena semua ini adalah pemberian Tuhan. Syukuri saja, Tara.” “Mei—“ “Astaga, Tara. Terima saja, apa susahnya? Ini rezeki, lagi pula Kak Noah juga tak sampai menjual tanah dan langsung miskin, kan?” Tara menghela napas, ia lalu mengiyakan sebagai tanda bahwa menerima kalau kakak dari temannya itu membayar dengan uang lebih beberapa kali lipat. Bengkokan kecil pun tertangkap penglihatan Noah saat lelaki itu menyerahkan uangnya kepada Tara. Dengan berakhirnya penyerahan uang dari pembelian lukisan Tara, maka Noah memutuskan untuk berpamit diri, ia memeluk adiknya sebentar karena ingin mengunjungi temannya sebentar. Ia juga menjabat tangan Tara dan mereka pun saling berucap terima kasih. Lukisan dibungkus dan dibawa pulang menggunakan mobil. Sekarang, hanya tinggal Tara dan Meisha, mereka duduk berdua di kursi kecil yang biasa. Sesekali Meisha tertawa karena berhasil membujuk teman keras kepanya ini agar menerima uang yang diberikan Noah. Tidak seperti sang gadis yang terlihat mengembangkan senyumnya, lelaki itu hanya menghela napas lelah. Ia senang karena menadapatkan untung yang lumayan, tetapi tetap saja ada kekesalan yang mencubit hatinya. “Diamlah.” “Aduh!” Dengan lengan kanannya, Tara menggunakan telunjuk dan ibu jarinya itu untuk menangkap hidung mungil Meisha. Menariknya dengan pelan, tetapi membuat gadis yang berada di depannya langsung mengaduh karena terkejut. Hidungnya sedikit memerah karena dua jari sang pelukis yang masih bertengger di sana, bibirnya mengerucut lucu dan matanya menyipit tajam. “Lepas, tidak?” “Ini balasan karena kau memerintahku seenaknya. Rasakan.” Tarikan itu tak kunjung lepas dan membuat Meisha menggembungkan kedua pipinya lucu. “Awas, kau ya, Suu.” Kedua lengan Meisha pun melakukan hal yang sama pada pipi Tara, ia menariknya masing-masing ke arah samping, sehingga wajah Tara menjadi aneh dan membuat dirinya terbahak. “Ahahah. Astaga, kau seharusnya berkaca.” Tara hanya terdiam, walau yang dikatakan Meisha adalah hal yang lucu menurut pendapat orang normal, tetapi tidak dengan dirinya yang memilik keterbatasan fisik. Salah satu tangan ia lepaskan dari hidung Meisha. Lelaki berparas rupawan itu terlihat seperti menatap sang gadis, padahal tak ada yang tertangkap pada maniknya. Mendengar suara tawa gadis sempurna yang ada di depannya, entah kenapa membuat perasaannya campur aduk, getaran di hatinya pun membuat semua ini menjadi semakin kacau. Lengan itu tanpa bisa ia hentikan, bergerak menyentuh pipi Meisha, sangat pelan. Merabai wajah gadis itu dengan mata terpejam dan hati-hati, seperti takut bahwa tangan kasarnya bisa saja merusak keindahan yang ada pada wajah sang gadis. Tersadar dari pemikiranya, dengan cepat Tara menarik tangannya kembali dari wajah Meisha. Ia merasakan takut dan bagai ada sesuatu yang mencekiknya, ketakutan karena merasakan perasaan yang tak pantas ada di hati. Hanya menggigit pipi dalam lah yang ia lakukan sebagai pelampiasan. “Tara, kamu gak apa?” Mendengar suara lembut Meisha, ketakutan itu pun menghilang dan membuatnya sepintas merasa lega. Ia hanya mengangguk karena tak tau apa yang harus diucapkan. “Syukurlah, kukira kau kenapa hingga terdiam seperti tadi. Oh ya, aku harus pergi ke rumah sakit. Sampai jumpa, Tara!” Dan ketakuatan itu datang dengan sekala yang lebih besar ketika ia merasakan tangan halus Meisha menyentuh pipinya. Ia merasa sesak dan tersiksa, dengan ketidakberdayaan dalam melenyapkan getaran di hati yang semakin membuatnya gila, ia merasakan perasaan ini sangat meluap hingga membuatnya ingin berteriak. Tidak, ia harus menyingkirkannya, perasaan ini tak boleh tumbuh. Mereka berbeda, dan ia sangat tak pantas, bahkan jika hanya untuk bermimpi bisa bersanding bersama gadis luar biasa yang sedang melangkah menjauh darinya, pergi. Dan untuk pertama kalinya ia tak ingin gadis itu kembali. Tara kini bisa merasakan karat di dalam mulutnya, akibat pelampiasan dari rasa sakit di hatinya. “Tidak. Kembali lah, Meisha,” bisikan itu terucap begitu saja ketika Tara tak mendengar lagi suara langkah kaki dari gadis yang sangat berarti baginya. Lengan tunggalnya mengepal, meremas kain celana yang menutupi kakinya. . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD