Part 5 : Awal sekolah baru

1850 Words
Masa liburan telah berakhir. Sekarang sudah mulai masuk sekolah semester dua. Arintha sudah selesai sarapan, dia memanggil Chendana dan tertegun, "Nana, apa kamu mau berpenampilan seperti ini?" Chendana secara alami melihat pakaiannya yang kebesaran dan mengusap rambutnya yang dia ikat ekor kuda, sebelumnya dia menuangkan banyak minyak urang-aring, sehingga rambutnya lepek dan mengkilap. "Tentu saja," Mahya menyela, "Supaya tidak menarik perhatian anak laki-laki, dia hanya perlu sekolah dan lulus!" Dia mendengarkan dan mencatat semua ucapan Mahya dalam kepalanya. Menjadi sepenuhnya dikucilkan sebagai orang transparant seperti ini bukanlah hal yang aneh bagi gadis itu. Dia mengalaminya selama di sekolah dasar karena tidak memiliki ibu. Ketika masih kecil Chendana selalu menangis dan menyalahkan neneknya karena dia hanya memiliki kakek dan nenek, bukanya seorang ibu. Namun, semakin bertambah umur. Chendana nyaman menjadi orang yang transparant dan hanya memiliki teman, dia bisa tenang belajar. Tidak akan ada orang yang mengganggunya apalagi berkomunikasi dengannya. Arintha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hari pertama Mahya sengaja mengantar mereka ke sekolah. Wanita itu menyetir, Arintha duduk di sebelah kiri dan Chendana di kursi belakang. Pepohonan di luar mundur dengan cepat saat mobil mulai berjalan. "Arin, ini semester terakhir. Mami tahu kamu pintar. Tapi kamu tidak boleh santai. Belajarlah lebih giat." "Hmm," Remaja itu memandang keluar jendela, mengangguk dengan patuh. Mahya tersenyum lembut dan menggosok kepala gadis kecil itu dengan hangat, "Mami tahu kamu pasti bisa." Chendana membuang pandangannya ke jendela ketika melihat adegan itu. Karena ini hari pertama sekolah, jalanan jauh lebih ramai. Memasuki jalan raya, mobil mulai berjalan dengan tersendat. Chendana masih mengernyitkan dahi setiap kali melihat pantulan dirinya lewat kaca jendela. Kalau kacamata setebal tutup botol yang juga dibelikan oleh Mahya dia pakai, pasti sekarang dia kelihatan mirip dengan kutubuku. Pada saat dia mau mencoba kacamata itu, Mahya tiba-tiba menatapnya, pandangan mereka beradu, "Chendana!" Gadis mungil itu menatap ibunya kaget. Ini pertama kalinya wanita itu memanggil namanya dengan hangat. Mahya melanjutkan ucapannya, "Aku tahu bagaimana kemampuanmu. Asal tidak bikin malu, aku sudah cukup senang." Chendana terdiam sesaat, dia sedikit terganggu dengan sikap Mahya yang selalu meremehkannya. Meskipun begitu dia berkata, "Jangan khawatir." Mobil berhenti tepat di depan halte untuk menurunkan Chendana di sana. Gadis itu hanya berdiri di sisi jalan dan menyaksikan sedan hitam itu pergi meninggalkan jejak berupa asap. Setelah menunggu lebih dari sepuluh menit, bus sekolah perlahan berhenti di halte. Sebagian siswa di bus mengenakan seragam putih abu-abu, tapi ada juga putih hitam dan sebagian kecil anak yang mengenakan seragam SMP. Chendana masuk ke dalam bus dengan hati-hati dan menemukan tempat untuk berpegangan. Bis melaju dengan cepat. Menginjak rem atau berbelok tajam. Terkadang, lajunya terhambat kemacetan.  Tangan Chendana memegang tiang pegangan dengan kuat. Ketika dia akan jatuh ke tanah, seseorang di belakang menahannya. "Hati-hati." Suara itu khas seperti suara anak laki-laki yang baru mulai puber. Chendana berbalik untuk berterima kasih. Remaja di belakangnya jauh lebih tinggi darinya. Kabel headset terjulur dari telinga mengikuti leher dan sampai ke saku celana. Satu bahunya mencangklong tas ransel dengan santai. Kemeja putih yang ia pakai berantakan, dasi tersembul keluar dari saku celana. Sebelum dia bicara, remaja laki-laki itu mendahului, "Kamu menginjak kakiku!" Chendana langsung mengangkat kakinya dan meminta maaf dan terus menunduk selama sisa perjalanan. Bus berhenti tepat di halte SMA X. Hanya Chendana sendiri yang turun dari bis.   Di pagi hari, mobil-mobil bagus dan motor memenuhi pintu gerbang sekolah. Kebanyakan siswa diantar atau membawa kendaraannya sendiri. Chendana tidak tahu kenapa ibunya memilih sekolah sebagus ini untuknya. Sebagai sekolah negeri, sebenarnya dari golongan ekonomi apapun bisa bersekolah di SMA X, asalkan nilainya bagus juga lolos tes persyaratan masuk. Tetapi tidak ada yang tahu sejak kapan, sekolah ini berubah jadi sekolah elite yang siswanya kebanyakan anak-anak pejabat, pengusaha atau orang yang standar ekonominya menengah keatas. Oleh karena itu, siswa yang sekolah di SMA X bukan hanya harus memiliki nilai yang bagus, tetapi juga harus kaya yang menjadi syarat tak terlihat. Selain banyak yang diterima di universitas negeri pilihan. Sekolah ini melahirkan alumni yang berprofesi sebagai artis, musisi ada juga yang jadi politikus atau pengusaha ternama. Arintha sendiri, belum lama ini merintis karirnya sebagai model iklan televisi dan majalah. Dengan latar belakang keluarga, masuk ke dunia hiburan bukan hal yang sulit baginya. Dari awal menjadi model foto promosi cluster terbaru milik keluarganya, sekarang wajah cantik Arintha sering wara-wiri di majalah atau televisi. "Aku dengar di kelas kita ada murid baru." seorang remaja yang baru datang, meletakkan tasnya di atas kursi, lalu memberitahu teman-temannya. Setelah mendengar ini, sekelompok orang di barisan belakang berkumpul. "Laki-laki atau perempuan?" Salah satu dari mereka bertanya. "Perempuan." Arintha ikut mengangkat suaranya, dia meletakkan pantatnya diatas kursi dan tersenyum. Dia tidak menyebutkan bahwa teman sekelasnya yang baru adalah Chendana, saudara tirinya. Ini adalah semester kedua, di tahun ketiga mereka sekolah. Kurang dari empat bulan sebelum ujian, tiba-tiba ada siswa pindahan. Tentu saja hal itu membuat mereka penasaran. Apakah siswa baru ini cantik, pintar dan sebagainya. "Dia dari kampung Baluh," Arintha kembali memberikan sedikit petunjuk. "Daerah pegunungan, desa itu salah satu desa termiskin." "Astaga, desa termiskin? Kok bisa dia sekolah di sini?" semua terkejut. Arintha cukup acuh tak acuh, mengangkat bahu dan berkata, "Sedikit amal dan belas kasihan dari keluarga Risjad." Kelas mulai menjadi ribut. Bel bedering. Tak berapa lama kemudian. Ibu Nuke, wali kelas mereka masuk. Beliau berdiri di depan dengan wajah dingin. "Hari ini kita kedatangan anggota baru di kelas. Perkenalkan dirimu!" Ruangan kelas tiba-tiba sunyi senyap. Semua pandangan beralih ke pintu masuk. Chendana diam sejenak, lalu perlahan dia membuka mulutnya, "Salam kenal, aku Chendana." Suaranya rendah dan jernih. Bu Nuke menunjukkan kursi yang kosong di baris paling belakang, "Kamu duduk dulu di bangku sana." Anak laki-laki di barisan belakang tidak mengharapkan teman baru berpenampilan seperti ini. Imajinasi mereka tentang gadis desa yang lugu dan polos hancur. Karena di depan mereka hanyalah anak perempuan berkaca mata tebal dan jelek. Teman sekelas terutama yang perempuan sedikit riuh. Selama tiga tahun, kelas mereka di huni oleh siswa yang memiliki prestasi terbaik. Selain Arintha yang seorang model. Masih ada Nabila, anggota grup Idol yang jumlahnya ada 48. Belum lagi yang lain-lain. Tiba-tiba muncul anak baru seperti ini, mereka khawatir itu akan menjadi noda di kelas mereka nanti. "Diam!!" Semua orang dipindai dengam tajam. "Ini semester kedua, tinggal beberapa bulan sebelum ujian. Siapa yang membuat ulah, saya tidak akan segan-segan mengurangi poin kalian!" Kata-kata itu jelas menakuti para siswa. Poin adalah perhitungan kedua setelah nilai. Kalau kalian mendapat nilai bagus, tapi poin tingkah laku minus. Jangan harap bisa mengikuti ujian akhir. Bu Nuke sangat puas dengan efek ancamannya. "Oke, mari kita atur kursi sekarang." Tempat duduk di kelas XII IPA1, diatur berdasarkan nilai test. Semakin tinggi peringkat, mereka bisa memilih tempat duduk di bangku paling depan. Wali kelas mengeluarkan daftar, "Ini adalah transkrip, dan kursinya juga diberi peringkat sesuai dengan hasilnya." Arintha menempati peringkat tiga, dia memilih deretan bangku barisan depan deret ketiga. Setelah ke 41 siswa di sebutkan. Chendana mendapat deratan paling belakang, tepat di sebelah Zhio. Zhio mengabaikannya dan duduk segera setelah pindah. Chendana berdiri di samping kursinya, merasakan keheningan yang seperti kematian, dengan banyak orang yang menunggu, apa yang akan dilakukan oleh Zhio. Semua tahu Zhio ini mempunyai kepribadian yang sulit bergaul. Dia akan mengusir orang yang mendekatinya. "Ternyata kamu murid sini juga." Chendana ingat, Zhio adalah anak laki-laki yang tadi menolongnya di bis. Pemuda bernama Zhio ini relatif dingin, tapi dia tetap menjawab sapaan Chendana, "Sepertinya kamu kelihatan lebih jelek daripada tadi pagi, apa yang berubah?"  "Mungkin karena kacamata." Chendana menyeringai dan perlahan duduk. Suasana diantara keduanya menjadi tidak terlalu kaku. Arintha dan Chendana pergi ke sekolah bersama, dan mereka berada di kelas yang sama. Dengan begitu, Chendana berharap bisa beradaptasi dengan teman sekelasnya dengan bantuan Arintha. Tetapi gadis itu malah sibuk dengan kelompoknya sendiri dan melupakan keberadaannya. Sepuluh menit kemudian kelas pelajaran biologi dimulai. Chendana mendengarkann dengan serius, dan Zhio mulai tertidur. Sampai kelas selesai, sekelilingnya sangat tenang. Dia benar-benar transparant, tidak ada yang mempedulikannya. Chendana menjadi santai. Chendana pikir dengan penampilannya yang sekarang, dia benar-benar akan transparant dan tidak dipedulikan oleh teman sekelasnya. Siapa yang mengira ketika jam istirahat, sekelompok gadis-gadis menghampirinya yang sedang membaca buku di bangkunya. "Apa kamu benar-benar anak yang diangkat keluarga Risjad?" Tanpa basa-basi, tiba-tiba gadis bermata besar itu bertanya. Chendana mengerutkan kening dan tidak berkata apa-apa. “Kenapa tidak menjawab, aku menanyakan sesuatu padamu!" pihak lain bertanya dengan tidak senang. "Kamu siapa?" "Aku Tasia, ayahku adalah direktur utama di perusahaan perakitan mobil." Tasia memperkenalkan dirinya dan kemudian bertanya, "Aku dengar kamu ini anak angkat keluarga Risjad, tapi kenapa penampilanmu jelek dan dekil seperti ini? Ya ampun rambut ini, sudah berapa tahun kamu tak mencucinya? Serius... kamu ini angkat atau cuma...pembantu?" Arintha melihat adegan ini dari jauh. Dia sengaja tidak mendekat dan membela Chendana, karena dia mau anak angkat ini tahu posisinya dan segera mundur. "Berisik!" Suara malas datang dari samping. Remaja perempuan yang mengerumuni Chendana mundur. Zhio bersandar di sandaran kursi dengan tangan di d**a. Wajahnya tampan dan cemberut, dan ekspresinya sedikit tidak nyaman. Arintha melotot. Penampilan Zhio adalah bocah yang sangat menyebalkan. Selain bodoh dia sangat berantakan, dan dia satu-satunya anak laki-laki yang tidak peduli dengan kehadiran Arintha. "Apa kalian tidak melihatnya?" Zhio akhirnya tidak sabar. Dia menendang kursi di depannya. Membuat siswi-siswi di sekitar tempat duduknya terkejut. "apa?" "Dia tidak mau peduli dengan kalian!" "Kamu ..." Wajah kecilnya tiba-tiba memerah. Pada saat ini Arintha masuk dengan wajah penuh senyum dan berkata, "Nana, sepertinya kamu sudah dapat teman. Maaf aku agak sibuk, jadi tak bisa merawatmu dengan benar." "Huh," Chendana mengangguk, tetapi Zhio menyeringai dengan mulut penuh ketidaksenangan. “Ada apa?” Arintha menatap Tasia dengan aneh. "Arin, dia ..." Tasia menunjuk ke Chendana, dan setelah jeda, dia membawa Arintha keluar dan berbisik, "Bukannya dia sudah merebut perhatian ibumu? Kenapa malah kamu bela?" "Kamu lupa apa yang dibilang bu Nuke? Jangan melakukan hal konyol yang bikin kalian kehilangan poin." Arintha mengingatkan, matanya dengan cepat berubah sendu, "Tentang Mami yang lebih perhatian sama dia, aku maklum. Chendana itu anak kandungnya. Mereka sudah puluhan tahun berpisah." Di depan orang lain, Arintha selalu menjadi anak perempuan yang baik dari keluarga Risjad. Dia cantik, berbudi luhur dan juga empatik. "Terserahlah! Pada akhirnya, kamu juga yang dirugikan karena anak angkat itu." Tasia ragu-ragu dan dengan enggan setuju. Dalam perjalanan pulang ke rumah. Arintha sepenuhnya menghibur Chendana, dan mengatakan supaya tidak usah mempedulikan perkataan orang. Namun, begitu melewati kamar Mahya. Arintha segera menangis dan mengeluh kepada ibu tirinya. "Mami, sekalipun aku belum pernah merasa terhina seperti ini sejak kecil." "Kenapa?" Mahya terkejut dan bertanya. "Aku dengan baik hati sudah mengenalkan teman-temanku ke Chendana. Tapi? waktu...waktu, mereka tanya kenapa Chendana penampilannya begitu, dia malah bilang kalau kita...kalau kita tidak merawatnya dengan baik. Aku malu tahu, Mi. Tapi...tapi kalau dia lebih cantik dari aku. Aku takut mami lebih sayang sama dia." Ketika melewati kamar Mahya setelah mengumpulkan pakaian kotor dari kamar Arintha. Chendana tanpa sengaja melihat wanita itu memeluk Arintha dan menghiburnya, "Dia hanya anak dari kampung, watak dan sikapnya tidak sopan. Tidak sebanding denganmu. Di hati mami, cuma Arin yang terbaik. Jangan nangis lagi, oke?" Chendana menatap pakaian yang berputar dalam mesin cuci. Matanya kebas. Tidak ada yang tahu bahwa dia mencoba yang terbaik untuk tidak menangis di tempat. Jika itu mungkin, dia suka tidak dilahirkan di dunia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD