Di rumah Risjad, hanya beberapa lampu dinding kecil yang masih menyala pada malam hari.
Suhu dingin dalam ruangan itu membuat Jerome, yang baru saja masuk setelah selesai berenang, merasa dingin untuk sementara waktu.
Dia hanya mengenakan mantel mandi dan celana pendek. Masih ada tetesan air di rambutnya yang bergulir ke bawah, menjilati otot perutnya yang kencang.
Sambil mengusap rambut dia pergi ke dapur untuk mencari air dan tidak menyalakan lampu, Dia duduk di atas meja di tengah cahaya di kulkas yang terbuka, dan minum s**u dingin langsung dari kotaknya.
Chendana mengeluarkan buku catatan dari dalam tas yang berat.
Masih ada 120 hari sebelum ujian akhir masuk perguruan tinggi. Dia selalu tahu bahwa dia bukan jenius, tapi tidak masalah, dia selalu mengandalkan ketekunan untuk meraih keinginannya.
Di tempat tidur, bik Roh membalikkan badan, menutupi wajahhya dengan selimut, "Tidur, Na. Sudah malam. Besok bibi bangun pagi."
"Iya," Chendana membersihkankan tempat tidur, mematikan lampu, dan mengambil buku-bukunya dari atas kasur.
Tidak mau menganggu wanita paruh baya itu, Chendana menyelinap keluar tanpa bersuara.
Dia mengenakan satu set piyama longgar yang membungkus tubuhnya yang mungil, dan rambutnya ia gelung asal-asalan. Penampilannya murni dan polos.
Begitu memasuki dapur, dia melihat Jerome, dengan tubuh bagian atasnya terbuka memamerkan d**a serta perutnya, pinggangnya hanya dia lilit dengan handuk. Pemuda itu duduk sambil bermain ponsel.
Terkejut, mata Chendana berkelana ke segala arah, tak berani melihat secara langsung pemuda di depannya.
Meskipun dia menghindari pandangnya. Chendana tahu dengan jelas bahwa sosok Jerome sangat baik.
Jerome sendiri tidak merasa malu ketika dia melihat Chendana masuk, tetapi melambai padanya dan memberi isyarat untuk datang, "Jangan berdiri di sana. Kemarilah!"
Apa maksudnya? dia setengah telanjang, bukankah ini memalukan?
Ide-ide canggung dalam kepalanya membuatnya tidak nyaman dan wajahnya memerah.
Melihat ekspresinya, Jerome tertawa terbahak-bahak dan jejak kasih sayang dapat terdengar dalam tawanya.
"Aku pakai celana. Jangan khawatir."
Chendana tidak percaya, "Ini tengah malam, kenapa nggak pakai baju?"
"Aku baru selesai berenang dan lapar." Dia memakai lagi mantel mandinya.
Chendana hanya merespon dengan 'oh' lalu mengambil tempat duduk agak jauh dari Jerome. Dia membuka buku pelajaran dan melanjutkan belajarnya.
Chendana terus melihat ke bawah dan mengabaikan Jerome. Dia ingat peringatan dari Mahya untuk tidak menganggu anak tirinya.
Rajutan alisnya dan pandangan matanya tertuju pada beberapa catatan yang ia salin dalam buku kimia.
Dalam sekali lirik, Jerome bisa tahu dari ekspresinya bahwa gadis kecil itu kesulitan memahami teks, alisnya terangkat dan bertanya, "Mana yang susah?"
Tanpa menunggu Chendana menjawab, dia mengambil buku teks dari depan Chendana dan membaca bagian yang ia lihat, lalu mulai mengajarinya.
Jerome sangat pintar dan caranya mengajar, memberi contoh juga enak, mudah dimengerti. Dalam satu jam, Chendana sudah bisa mengerjakan lima pertanyaan yang membuat otaknya menguap.
"Kak Jerome." Chendana menggigit bibirnya. Dia memiliki sesuatu untuk dikatakan, tapi kelihatan ragu.
"Ada apa?"
"Kakak punya komputer?" Jelas bahwa rasa takut menyelubungi suaranya.
"Di ruang belajar ada satu set."
Jerome dan Arintha, keduanya punya laptop masing-masing. Bisa dibilang, komputer di ruang baca tidak ada yang memakainya dan hanya berfungsi sebagai pajangan.
Beberapa kali Chendana tergoda minta izin ke Mahya untuk memakainya, tapi selalu ia urungkan. Seperti kata neneknya, jangan sembarang meminjam barang milik orang.
Lagi pula. Itu komputer mahal, beda dengan komputer yang ada di sekolahnya, dan Chendana takut secara tidak sengaja merusak benda tersebut.
"Pakai saja kalau kamu mau."
Chendana menolak, "Yang biasa saja. Itu terlalu bagus."
Jerome tertawa lagi, "Nggak ada barang biasa di rumah ini."
Chendana mengigit bibirnya seolah-olah dia tengah berjuang secara internal.
"Memangnya buat apa komputer?"
"Buat latihan saja, supaya nggak bingung waktu ujian berbasis komputer nanti. Di sekolahku dulu ada, tapi harus antri. Bayangkan, baru tekan tombol eh jam pelajaran berakhir."
Mata Chendana berembun, ada kilau melankolis di sana.
Jerome kaget mendengarnya.
Ini jaman apa-apa serba online, masa masih ada yang rebutan komputer seperti itu? Padahal, jaman dia sekolah tiga tahun yang lalu, komputer menjadi fasilitas yang tidak terlalu berharga di sekolahnya kecuali waktu ujian.
Ternyata benda yang mereka anggap sepele itu sangat berharga untuk orang lain di luar sana.
Jerome menatap gadis itu dengan berbagai pertanyaan dalam batinnya. Usianya sama dengan Arintha, tapi kenapa kisah hidup mereka berbeda jauh?
Tanpa sadar, tangannya terulur menepuk-nepuk kepala Chendana. "Biar nanti aku yang mengajarimu."
Perhatian itu tampaknya menghibur Chendana ketika sudut mulutnya meringkuk. Dia mengucapkan terima kasih sebagai jawaban.
"Aku lapar!"
Chendana yang baru beranjak memutar bahunya, "Masih ada sop dan semur di belakang. Mau kuambilkan?"
Jerome menolak. Dia tidak makan nasi malam-malam, tetapi minta dibuatkan mie instan. Katanya begini, "Itung-itung sebagai bayaran karena aku sudah mengajarimu tadi."
Dengan gesit Chendana bergerak menuju lemari penyimpanan mencari-cari sesuatu.
"Kak," Panggilnya, "Adanya mie telor, aku buatin mie goreng kampung aja ya?"
Jerome merenung sebentar dan memberi isyarat kepada Chendana. "Lanjutkan!"
***
Chendana bangun pagi-pagi untuk membantu bik Roh membuat sarapan, dan mendapati wanita itu sedang dimarahi oleh Mahya karena ruang makan berantakan.
Wanita paruh baya itu sudah menyangkal dengan mengatakan dia sudah membersihkan dan membereskan semua cucian piring sebelum tidur.
Ketika Chendana datang, bik Roh dengan cepat meminta kesaksiannya, "Kamu juga bantuin kan, Na. Waktu bibi rapi-rapi?"
Mahya masih tidak percaya karena kenyataan mengatakan yang sebaliknya. Ada jejak piring kotor dan pintu kulkas dalam keadaan terbuka.
Sebelum Mahya membuka mulut. Chendana lebih cepat bersuara, "Kak Jerome semalam makan. Mungkin dia ngantuk terus langsung tidur."
Mahya menyatakan keraguannya, "Bagaimana kamu tahu?"
"Aku..."
Ketika Mahya bertanya, dia secara alami mengingat Jerome yang makan dengan lahap. Meskipun, rasa masakan itu asin menurutnya.
"Aku keluar untuk minum air tadi malam. Ternyata ada Kak Jerome dia baru selesai berenang dan lapar." Chendana menjelaskan.
"Aku tidak tahu anak itu pulang." Mahya bicara sendiri.
Bik Roh bertanya dengan aneh, "Siapa yang masak buat dia? Kenapa kamu nggak bangunin bibi?"
Chendana memecahkan telur dan menuangkan isinya ke dalam mangkok untuk membuat isian roti. Dia berkata, "Dia cuma minta dimasakin mie. Masa begitu saja harus bangunin bibi."
"Tapi itu bukan pekerjaanmu," bik Roh membelai kepalanya dengan sayang.
Mahya menyadarinya, dan dia tidak cukup senang. Setelah memberi intruksi apa saja yang harus mereka masak, dia meninggalkan dapur untuk membangunkan Arintha.
Keduanya menyiapkan sarapan bersama jauh lebih cepat, Chendana memilih menyiapkan bahan, dan bik Roh menyulapnya menjadi makanan yang lezat.
Ketika semua makanan diletakkan di atas meja, masih banyak waktu sebelum berangkat sekolah.
Chendana tidak bisa menahan diri, menyeka tangannya hingga bersih dan berkata, "Aku akan berangkat sekarang."n
***
Sementara itu di rumah sakit daerah, Rayyi merasa ada yang hilang dalam dirinya.
Chendana. Dia teringat nama itu, dalam hatinya, selalu timbul perasaan ingin melindungi setiap kali melihat sosoknya yang rapuh.
Rayyi menatap sketsa itu lagi tanpa sadar, matanya menerawang.
Sketsa ini hanyalah satu-satunya kenangan dari Chendana sebelum gadis kecil itu pergi. Itu adalah gambarnya ketika sedang tertawa.
Dia melihat sisi belakang sketsa itu. Ada beberapa kata tulisan tangan yang rapi di belakangnya.
Isi tulisan itu bahkan sudah dia hapal di luar kepala.
'Jarak terjauh di dunia bukanlah mati, tapi perpisahan tanpa tahu kapan lagi kita akan bertemu.'
Itulah yang terjadi sekarang.
"Kakeknya benar-benar tidak tahu juga di mana cucunya?"
Mendengar orang mendecak, kepalanya naik dengan terkejut. Rayyi tidak mendengar orang masuk sebab pintu kamar dokter memang terbuka.
Rayyi menggeleng, "Mereka tidak tahu apa-apa selain nama anaknya."
Sandra mengeluh, "Salahku tidak menanyai nama lengkap ibunya kemarin."
Air muka Rayyi berubah muram, "Kamu juga nggak tahu dia mau pindah."
Rayyi juga tidak tinggal diam. Tetapi, di ibukota yang luas ini, mencari seseorang tanpa tujuan seolah-olah mencari jarum dalam tumpukan jerami.
"Kalau begitu, kita cari lagi besok." Sandra menghirup dan mengangkat kepalanya. Dia menatap Rayyi dengan mata lelah dan tersenyum cerah, "Masih banyak kesempatan selama kita nggak menyerah."
Rayyi menjawab dengan suara rendah, "Terima kasih."
Ini adalah pertama kalinya dia mengucapkan terima kasih kepada Sandra.
Sandra memaksakan senyum. "Aku nggak mau ada penyesalan setelah kita pergi dan memulai hidup baru."
Rayyi mengabaikannya dan melihat ke bawah. Jejak kesuraman melintas di matanya, "Tidak ada yang perlu di sesali. Kita bisa berangkat kapanpun kamu mau."
Waktu sudah berlalu. Chendana tampaknya telah menghilang ke udara tanpa sedikit pun jejak yang ditinggalkan olehnya.