Part 7: Ujian

1725 Words
Setiap hari, Chendana selalu datang ke sekolah lebih awal. Duduk, ambil buku, buka buku teks dan mulai membaca. “Hei, culun kira-kira dong!' Zhio duduk di sebelahnya, wajahnya lumpuh di atas meja, dan memandangnya tanpa berkata-kata. Chendana tidak mengangkat kepalanya, seolah dia tidak mendengar. "Kalau kamu kelewat rajin, yang lain nanti kelihatan malasnya. Apa kamu tega?" Sebagai teman sekelas Chendana, dia tahu betapa seriusnya orang ini! Belajar, belajar, belajar, dan belajar. Apa tidak ada hal lain dalam kepalanya. Ayolah, ini masa SMA, bersenang-senanglah selagi bisa. Tetapi Chendana mana bisa bersenang-senang. Untuk anak yang tidak terlalu beruntung sepertinya. Menjadi rajin adalah satu-satunya kunci utama untuk mengubah hidup. "Bosan nih. Mendingan kita ngegame yuk?" Chendana meliriknya kesal. Melihat Chendana mengabaikan dirinya sendiri, Zhio hanya tidur tengkurap. Tetapi, suara lembut gadis di sebelahnya seperti hantaman batu, "Tugas kimia kemarin sudah selesai belum? Hari ini jam pertama." Wajah Zhio menjadi pias. Semalam dia main game bareng dengan komunitas game online. Kalau sudah begitu, jangankan tugas, makan atau mandi saja dia bisa lupa. "Kalau begitu, aku mohon belas kasihmu." Chendana mendesah, dia mengeluarkan buku dari dalam tas, "Salin dengan cepat!" “Anak-anak, ibu punya kabar bagus!" Ujung bibir di sekitar wajah guru kimia yang juga wali kelas mereka terangkat.  “Kabar apa, bu?” Semua orang menatapnya ketika dia mendengar kabar baik. Guru kimia yang gemuk subur itu menyeringai, tetapi dia sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan, jadi orang memberinya julukan smilling killer. Tetapi, dia tersenyum seperti malaikat hari ini, "Tidak ada kelas selama tiga hari. Kamis, Jum'at, Sabtu. Kalian libur." Mata banyak siswa menjadi cerah. Pasti gaji ke13 dan sertifikasi guru sudah pada cair, makanya mereka tiba-tiba kasih pengumuman libur tiga hari.  Para siswa masih berada dalam suasana hati yang senang. Sehingga pelajaran yang susah jadi terasa mudah. Namun, diakhir jam. Ibu Nuke seperti harimau yang tersenyum ketika memberi kabar buruk. "Jadi, mulai besok belajarlah di rumah untuk pra-ujian hari senin. Jadwal ulangan bisa kalian akses di web sekolah. Sekian!" "Ah--," para siswa mulai meratap. SMA X terkenal dan kualitasnya pengajarannya benar-benar bagus. Bahkan, bagaimanapun rajinnya Chendana belajar, dia merasa dirinya selalu berada di bawah. Ini membuatnya agak pesimis. Nilai hariannya untuk mata pelajaran tertentu juga masih standar. "Chendana," Arintha mendekat sambil tersenyum, dan duduk di depannya. Kelopak mata Chendana berayun dari balik kacamata. Gadis di depannya tersenyum seperti bunga, rambutnya dijalin menjadi kepang yang indah, lip gloss-nya berwarna lembut hingga bibirnya terlihat merah alami, dan alisnya juga dibentuk menjadi bentuk halus. Dia terlihat sangat cantik dan menarik. “Chendana, kalau ada yang tidak kamu mengerti, tanya saja. Nanti ku bantu." "Nggak usah." "Nggak usah sungkan, bagaimanapun kita saudara." Arintha langsung nampak menyedihkan, menatapnya. Itu membuat Chendana menjadi serba salah. Arintha selalu baik dan mau menolongnya. Tapi masalahnya, adalah, Mahya. "Arin, bukannya dia anak pembantu yang diangkat anak sama keluargamu?" "Sok tahu!!!" Chendana anak mamiku, dan mamiku bukan pembantu. Paham kamu!!!" Arintha melesatkan tatapan tajam, dan kemudian menutup mulutnya, seolah mengatakan hal yang salah. "Na, sorry. Aku...aku." Chendana menarik napas dalam-dalam. Keadaan yang di luar dugaan ini membuatnya agak tertekan. "Sudahlah, aku mau kerjakan tugas." "Na, kamu marah? Aku kan nggak sengaja, maaf ya?" Mata Arintha mulai berembun, dia diliputi perasaan bersalah. "Tapi nggak sengajanya kamu, bisa bikin aku susah, Rin." "Eh,cupu! Arin sudah baik lho sama kamu. Apa susahnya sih maafin? Cuma keceplosan juga! Lagian, mau anaknya siapa, tetap saja asalmu dari kampung!!"  Remaja-remaja yang berteman dekat dengan Arintha dengan cepat membela gadis itu.  "Coba lihat nilaimu!" Tasia merampas buku latihan Chendana, "Astaga! Aku pikir nih, rajin belajar bikin orang pintar. Nggak tahunya lihat nih, 60, 75, 55!" Kelas 3 IPA 1 selalu menjadi kelas unggulan. Penghuni kelasnya selalu merasa bahwa orang-orang dengan nilai buruk seperti itu akan menjadi aib.  Chendana sangat tenang, "Apa kamu sudah selesai? Kalau sudah, pergilah aku masih mau belajar."  Pihak lain tertegun sejenak, dan kemarahan yang memalukan muncul di matanya, “Chendana, apa kamu pikir kamu bisa menyaingi Arintha yang pada dasarnya pintar?! Lucu kamu!”  "Alah! Google pintar saja nggak sombong. Masa kalian yang apa-apa tanya sama dia, berani sombong." Ucapan tak terduga datang dari luar. Wajah tampan Zhio muncul di ikuti seringaian yang menyebalkan di mata Arintha. "Baiklah, jangan di perpanjang. Pokoknya, Na. Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja. Tanganku selalu terbuka buat kamu." Arintha berdiri dan tersenyum dengan lembut. Matanya pindah ke Zhio yang duduk di sebelah Chendana. Melihat wajah tampan pemuda di depannya, pipinya memerah. "Itu...Zhi, kamu juga." Zhio memandang gadis di depannya ngeri, "Kenapa menawari aku? Aku kan bukan anak angkat bapakmu!" "Hahaha!” Suara tawa meledak di ruangan. Ketika Zhio mengatakan ini, semua orang merasa bahwa kata-kata Arintha menjadi lucu. "Sialan!!!" Arintha berteriak dengan buas, mendorong Zhio dan bergegas keluar dengan wajah memerah karena kesal bercampur malu. Wajah Arintha sudah tidak sedap dipandang. Ada banyak anak laki-laki yang selalu menyukainya. Dari juara kelas, ketua OSIS, dan banyak yang ia pandang setengah mata. Zhio, dia bukan siapa-siapa. Hanya berandalan yang suka main game. Tetapi, kenyataan orang seperti itu mengabaikannya benar-benar membuatnya kesal. Namun, itu adalah anak lelaki yang luar biasa yang selalu membantu Chendana berbicara, yang membuat Arintha cemburu dan benci. Zhio menarik kursinya dan tampak kosong, "Apa yang sudah ku lakukan sampai dia marah begitu?" Chendana mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan serius. Mata keduanya bertemu di udara. Hanya dalam beberapa detik, pemuda memalingkan muka dengan canggung, telinganya kemerahan, dan dia sedikit tergagap, "Lihat apa! Chendana menyentuh dagunya, belajar menyipitkan matanya, "Lain kali. Jangan ikut campur urusanku." *** Kelas sunyi sepi. Hanya kadang-kadang terdengar decakan bibir yang bertautan. Atau desah putus asa dari segumpal otak yang sudah menyerah untuk berpikir. Ulangan mulai datang bertubi-tubi. Akibatnya, anak-anak muda biasanya penuh energi menjadi lesu. Mereka memiliki lebih sedikit waktu untuk bermain dan banyak menghabiskan waktu untuk belajar tambahan atau pergi ke tempat les. Meskipun sudah menghabiskan banyak waktu untuk lebih mencintai buku teks. Tetap saja, ulangan masih menjadi momok mematikan untuk semua. Ulangan harian lebih mirip dengan simulasi ujian akhir. Matematika di hari pertama, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris. Pertanyaan bahasa tidak terlalu sulit. Chendana dengan cepat menyelesaikan semua pertanyaan pilihan ganda di atas kertas dan berhenti sebelum waktunya selesai. "Tadi yang nomor 5 kamu jawab berapa?" Setelah matematika, mereka berkumpul. Melingkari Arintha untuk menyamakan jawaban. Itu sudah jadi kebiasaan kalau ada soal yang benar-benar susah. Memang hasilnya tidak akan mengubah nilai yang nantinya mereka dapat. Tetapi, setidaknya mereka bisa mengira-ngira hasilnya. Arintha sendiri lebih penasaran dengan Chendana. Pintarnya seperti apa sih dia?Kenapa bisa tenang begitu? Di hari ke-empat, otak mereka mulai meleleh karena Kimia dan Fisika. Soal-soal untuk dua mata pelajaran itu memang sangat susah. Biarpun pertanyaannya pilihan ganda. Salah-salah terjebak sendiri, paling aman memang harus dicocokan dengan teman. Tetapi guru-guru yang ditugaskan untuk mengawasi ulangan killer semua. Jangankan bisa lirik kanan kiri, ada yang bergeser seinci dari duduknya, dia langsung mendekat. Setengah jam lagi waktu habis. Kalau ada waktu yang paling menegangkan, sekaranglah saatnya. Yang tadinya tidak berani berkutik mulai nekat. Dua puluh menit lagi!" Suara pak Juanda, berat tapi bengis. Dua puluh menit itu menjadi puncak konflik mereka. Ada yang masih menghitung rumus, ada juga yang mulai tebar kode meminta contekan. Setelah dua puluh, lalu menjadi sepuluh, dan lama-kelamaan hitungan mundur semakin cepat. Ketika bel berbunyi. Semua sudah berakhir. **** Ada aplikasi di sekolah, nilai ujian, dan semua kegiatan sekolah bisa dilihat dari sana. Bisa dibilang ini termasuk memberi peringatan untuk siswa yang tidak belajar dengan baik, karena nilainya bisa diakses setiap orang. Yang menunggu nilai keluar bukan hanya siswa, tapi juga orang tua. Apalagi di sekolah negeri favorit. Ada rasa superior kalau anak-anak mereka lebih unggul dari anak yang lain. "Sudah di posting!!" Ketika anak yang lain ribut. Hanya Chendana yang tenang, dan saat ini dia sedang pergi kamar mandi. Jerome sedang bersama teman-temannya , memegang ponsel, dan membuka kolom pengumuman hasil ujian. Mencari nama yang ia kenal, dan tiba-tiba tertawa. Janu meliriknya, merasa aneh, tetapi tidak berbicara. Karena bosan. Pria muda itu juga mengeluarkan ponsel. Pandangan Jerome, terkunci pada ponsel temannya, "Dari mana kamu dapat ini?" Malam harinya. Arintha duduk di meja makan berdampingan dengan Jerome. Gadis itu cemberut dan tidak mengatakan apa-apa. Soal ujian tahun ini benar-benar susah, bahkan beberapa pertanyaan ada yang tidak bisa dia jawab.  Dia berpikir bahwa Chendana dari kampung. Merujuk dari nilai tugas dan ulangan harian, dia pasti akan lebih kesulitan dan nilainya di bawah rata-rata. Fakta kalau dia mendapat paling tinggi di jurusan mereka, membuatnya kesal. Apa yang paling dia benci adalah bahwa anak dari desa miskin itu lebih baik darinya. Mahya juga menyadari situasi ini dan merasa tidak nyaman dalam hati. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Fiko datang paling terakhir. Pria itu hanya menyesap kopinya. Setelah piring kotor dirapikan, dia mengamati anak gadisnya dan bertanya, "Apa nilai ujian sudah keluar? Sudah pilih mau hadiah apa kali ini?" Bicara tentang hadiah, Arintha semakin kesal kalau ingat. Dia berencana minta diizinkan bawa mobil sendiri, tapi semua jadi kacau. Dia melirik Mahya sengit, "Nggak usah. Papi simpan saja uangnya." Kedua alis Fiko terangkat, "Kamu terlempar dari tiga besar?" Arintha mengangguk dengan rupa sedih. Ini adalah pertama kalinya dia begitu. "Yah, nggak apa-apa, masih ada waktu perbaikan. Pasti nanti kamu juga bisa menyusul kakakmu." Fiko membesarkan hati Arintha hingga anaknya menjadi lebih bahagia.  "Siapa peringkat pertama? Bukan anak Siregar itu kan?" Fiko bertanya lagi. Untuk orang sibuk sepertinya, membuka aplikasi adalah buang-buang waktu. Lagi pula buat apa, kalau dia bisa bertanya? "Dia peringkat ke tiga." Fiko sedikit terkejut, "Anak siapa yang bisa melampaui kalian?" "Itu...Chendana." Tiba-tiba ada keheningan di ruangan. Arintha tidak mau memberitahu ayahnya tentang hal ini. Baginya itu tidak penting, tetapi Jerome malah bersuara. "Chendana? Chendana kita?" Fiko tidak percaya, "Berapa nilai yang dia dapat?" "Hampir sempurna. Hanya bahasa inggris yang jelek." Jerome memberitahu lagi. Tidak tahu mengapa, Arintha selalu merasa bahwa prestasi Chendana terlalu kebetulan, sehingga dia ragu. Wajah Mahya sedikit bengkok, dan dia tidak tahan untuk berbicara, "Itu hanyalah kebetulan." Jerome memandang Mahya dan berkata kepadanya, "Kenapa kamu tidak mau mengakui ke unggulannya?" Mahya masih tidak mau percaya, "Coba bandingkan dengan hasil tugas hariannya. Bisa jadi nilai itu hasil dia mencontek." "Di luar kendalimu. Memang susah kan menerima kenyataan?" "Jerome. Apa maksudmu?" "Chendana belajar lebih keras dari orang lain. Apa kamu tahu, saat Arintha tidur dan sibuk dengan ponsel, anakmu berkutat dengan bukunya. Menyadari bahwa dia akan berprestasi di masa depan tanpa dirawat olehmu, apa itu membuatmu frustasi?" Baru kali ini Jerome membantahnya, dan itu membuat Mahya tertampar dengan keras. Chendana lebih baik dari anak-anak yang di besarkannya, bagaimana itu mungkin?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD