Part 8 : Akting

2150 Words
Janu membolak-balik dokumen di atas meja, kepalanya menunduk. "Suruh seseorang cari info tentang minatnya dan beri fasilitas untuk itu." Dari nadanya, bisa dipastikan bahwa pemuda itu sedang dalam mood yang sangat baik. "Baiklah, " Orang kepercayaannya menjawab dengan patuh, lalu segera meninggalkan ruangan. "Sebentar," Janu memanggil lagi. Dia menegakkan punggungnya, matanya masih tertuju pada artikel di depannya. Semuanya yang ia cari tentang Arintha Risjad ada di situ. Tiba-tiba Janu mendongak dan berkata, "Segera, hubungi produser di sini. Aku akan berinvestasi untuk sinetronnya." Orang yang berdiri di depannya terpaku, "Bukankah Massry bergerak dalam bisnis tambang dan ekspor impor? Sejak kapan merambah ke dunia hiburan juga?" "Mulai hari ini. Cepat, dan segera beri kabar untukku!" *** Tidak butuh lama bagi untuk Arintha membuktikan prestasinya. Selesai ujian akhir, dia mulai mengembangkan sayapnya di dunia sinetron. Tanpa menggunakan nama, dan latar belakang keluarga Risjad, Arintha mendapatkan peran utama di film remaja yang di adaptasi dari novel online terkenal. Novel ini sudah dibaca jutaan kali. Versi cetaknya juga langsung ludes kurang dari dua jam sejak pertama kali rilis. Ketika ada produser mau mengadaptasinya menjadi sebuah film. Semua bertanya-tanya, siapa yang cocok sebagai pemeran utama. Terutama untuk peran Salwa, yang karakternya baik, lembut seperti peri. Alih-alih jatuh ke tangan artis muda yang di rekomendasikan oleh netizen seperti, Amanda, Michelle, atau Prita. Peran itu malah jatuh ke tangan Arintha. Segera, berita tentang pemeran Salwa yang seorang pendatang baru ada dimana-mana. Baik berita online, forum-forum, dan Televisi. "Arin, ini benar beritanya?" Begitu dia masuk, anak-anak langsung menyambutnya dengan pertanyaan. Ketika dia menjawab, di bibirnya terukir senyum bangga, "Masa bohong? Kontraknya sudah jadi, tinggal aku tanda tangani." "Lalu, pemeran Nat-nya siapa?" "Menurut kalian siapa?" Natanael, tokoh utama novel tersebut cowok nakal, susah diatur, dan anggota geng motor. Gadis-gadis membayangkan Jeffry atau Dimas. Sayangnya, Arintha sendiri belum tahu siapa. Jadi, dia menekan bibirnya saat menatap gadis-gadis di depannya dengan misterius, lalu menjawab, "Rahasia." Pemeran utama wanita dan pemeran pendukung untuk film adaptasi tersebut akhirnya diumumkan secara resmi. Ada Syifa Haryu, Marsha manopo, Iqbal, dan masih banyak artis muda papan atas lainnya. Memiliki pemain pendukung yang berpengalaman. Secara otomatis, perhatian media dan penggemar novel tersebut berada di sekitar Arintha yang menjadi pemeran utama. Mereka semua menunggu, apakah rookie tak dikenal ini bisa memenuhi harapan atau hanya akan mendapat hasil yang mengecewakan. Belum mulai apa-apa. Kelompok penggemar sudah terbelah dua menjadi haters dan lovers. Hal itu menimbulkan perasaan cemas berlebihan dalam diri Mahya. "Kamu temani dulu Arintha syuting. Mengerti?" Mahya menyimpan semua bukunya tanpa perasaan. "Tapi, bu..." "Paling lama cuma dua bulan. Kamu masih punya banyak waktu untuk belajar!" Arintha selalu menjadi seorang putri. Apapun yang ia lakukan, Chendana harus mengekori di belakang seperti seekor bebek buruk rupa yang mengikuti angsa yang menawan. Dengan tipe ibu yang dimilikinya, dan juga biaya pengobatan kakek yang tergantung kepada wanita itu. Chendana menjadi tidak berdaya untuk mengubah apapun. Dia hanya bisa menuruti apa yang dia minta. Popularitas Arintha perlahan mulai terangkat, terutama di dunia maya. Apalagi, ketika visualnya sering dipakai oleh penulis amatir sebagai tokoh utama. Pengikut di beberapa media sosialnya setiap hari juga selalu bertambah. Lokasi syuting filmnya juga selalu ramai di datangi remaja-remaja seusianya. "Arin, coba lihat. Semua orang di luar...mereka di sini mau melihatmu?" Chendana melongok melihat kelompok yang ramai di luar, hatinya dipenuhi perasaan yang tak bisa diucapkan. Arintha sedang bermain dengan ponselnya dan sepertinya tidak tertarik. "Kamu nggak mau turun dan menyapa mereka?" "Dih, ngapain? Malas! Yang ada nanti mereka nyubit-nyubit lagi!" Seharusnya Chendana juga tidak peduli, tetapi ketika mendapati wajah-wajah lelah kelompok penggemar itu, dia jadi tidak tega. Dengan cepat Chendana melepas kacamata tebal yang selama ini setia bertengger di pangkal hidungnya. Rambut yang selama ini digelung, ia urai, membuat ikal yang indah. Chendana menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Di sampingnya Arintha mengerutkan kening, "Ngapain kamu begitu?" "Kamu menunduk dulu. Biar aku yang menyapa mereka." Sambil bicara, Chendana menurunkan kaca jendela. Mengeluarkan tangan, dan melambai kepada kelompok penggemar. "Nggak ada kerjaan!" Chendana mengabaikan ucapan Arintha, dan mengulangi proses itu beberapa kali. Ini dia lakukan demi kebaikan Arintha. Supaya dia tidak mendapat reputasi negatif sebagai artis pendatang baru yang arogan. Di belakang mobil mereka. Seseorang berkata dengan mata bersinar, "Lihat, bukankah sudah ku bilang dia anak yang ramah." "Yaah, Fiko selalu masuk akal mendidik anak-anaknya." Wina yang duduk di sebelahnya menimpali, "Beruntungnya mereka punya ibu tiri yang baik. Ku lihat, dia lebih sayang dengan anak-anaknya daripada suaminya." Syuting hari ini berada di kompleks perumahan elit. Tempat tokoh utama wanita tinggal. Arintha selesai make up dengan cepat. Karena berperan sebagai seorang remaja, dia tidak terlalu banyak menggunakan make up. Sambil menunggu kru merapikan peralatan dan menyiapkan set. Dibantu oleh Chendana, Arintha menghapalkan naskahnya. Chendana membantu merapikan pakaiannya. Di luar ekspektasinya yang membayangkan bisa duduk santai sambil menunggu pengambilan gambar. Ternyata lokasi syuting tempat yang selalu sibuk. Para kru dan asisten hilir mudik. Belum lagi kru dari infotaintment yang mewawancarai para artis pendukung sekaligus meliput jalannya syuting. Di sela-sela kesibukan itu, Chendana berlari ke sana ke mari untuk membantu, atau lebih tepatnya meladeni semua perintah Arintha.  Berangkat pagi-pagi, dan pulang larut juga membuatnya tidak punya waktu belajar sama sekali. Baru juga duduk dan membuka buku soal SNMPTN yang diam-diam dia selundupkan dari Mahya, Arintha memanggilnya, "Na, mulai pesan makan siang ya. Buat kru juga, tanyain mereka mau apa. Buatku bakmi GM aja." "Yeeaaayyyy!!!" Kru yang mendapat traktiran ramai-ramai bilang terima kasih kepada Arintha. Walaupun mendapat jatah makan siang, menu untuk para kru dan asisten kurang enak. Bukan rahasia lagi Arintha memiliki ayah yang kaya dan mendukungnya. Dia selalu menggunakan uangnya untuk mengambil hati orang. Tidak heran kru dan artis pendukung menyukai pendatang baru ini. Setelah mencatat semua pesanan dan titipan mereka. Chendana beranjak ke minimarket yang ada di depan kompleks. Arintha juga minta matcha boba dan beberapa bungkus camilan. Meskipun syuting sudah berjalan hampir lima hari, pemeran utama pria belum juga kelihatan. Semua pemain, terutama Arintha yang paling penasaran. "Tunggu saja, tunggu. Kalau sudah waktunya dia pasti datang," Sutradara selalu menjawab begitu setiap kali di tanya.  Siapa aktor paling tenar di dunia perfilman sekarang? Setiap kali Arintha menyebut nama mereka satu persatu, sutradara menggeleng, dan tetap berkata, "Tunggu saja." "Memangnya siapa sih, pak? Setenar apa sih sampai rahasia begitu?" Kali ini Arintha memaksa. Masalahnya kan yang berakting dia, bukan sutradara. Dia tidak mau mendapat lawan main yang bisa mempengaruhi kualitas aktingnya nanti. "Yang bisa ku kasih tahu, pemeran utama ini juga pendatang baru. Sisanya, kamu lihat saja sendiri nanti." Arintha semakin kesal. Bagaimanapun, dia punya banyak adegan mesra dengan pemeran utama pria. Kalau sampai sekarang belum muncul, bagaimana mereka mau latihan. Apalagi dia juga pendatang baru, awas saja kalau aktingnya nanti jelek. Dia baru akan mengambil satu adegan, teriakan tiba-tiba jatuh di telinganya, dan Arintha membeku sejenak. Ada juga orang di sekitar, terkejut dengan kejadian ini, seseorang dengan lembut berbisik, "Apa yang terjadi," "Bukankah itu asisten Arintha?" "Apa gunanya kacamata ini kalau orang sebesar ini nggak kamu lihat?" Janu menatap Chendana dari balik kaca mata hitamnya dengan mata dingin. Cairan kental berwarna hijau gelap dan bulatan hitam dari sagu teronggok dekat kakinya. Celana pemuda itu basah. "Maaf, aku akan membersihkannya." Chendana meminta maaf dengan suara rendah Dia terburu-buru karena kurir yang membawa makan siang sudah datang, dan tidak melihat ada orang yang masuk dari arah berlawanan. Janu menempelkan bibirnya yang tipis. Sesaat kemudian dia berkata, "Pergi dan panggil orang yang menggajimu ke sini!" Chendana sekarang tahu apa yang diinginkannya. Meskipun dia datang ke sini berstatus sebagai asisten yang membantu Arintha, sepeser pun, dia tidak pernah menerima bayaran. Chendana ragu-ragu selama beberapa detik lalu menyarankan, "Kak, gimana kalau celananya dibawa ke laundry. Tadi aku lihat di depan ada." Tepat setelah itu, semua orang mendengar Janu meraung kepada Chendana, "Baiklah, kalau begitu kamu ke sini dan segera lepas celanaku!!" Chendana tertegun sejenak. Lalu dia mengutuk kebodohannya sendiri. Kalau dia membawa celana ini ke laundry, itu sama saja menyuruh pria ini berkeliaran sambil telanjang. "Jangan menatapku seperti itu. Kamu nggak pantas melakukannya!" Kata Janu, semua dingin dan tanpa perasaan. Pada saat itu, Arintha hanya merasakan serangkaian tanda tanya di benaknya tanpa ada niat sedikitpun untuk membantu. Syifa memandangnya, "Kamu nggak mau bantuin? Kasihan tuh, sampai digituin." Arintha langsung memasang ekspresi tenang dan dengan tegas berkata, "Itu urusannya, kita nggak usah ikut campur. Aku tahu gimana Nana." Setelah berkata seperti itu, dia kembali ke tempatnya. Meninggalkan Syifa yang menatap kasihan kepada Chendana. "Jadi, bagaimana solusinya. Apa yang harus kulakukan dengan celanamu?" Janu melihat perempuan di depannya. Tingginya hanya sekitar 160 cm. Tampak rapuh dan lemah. Dadanya tampak rata dalam pakaian longgarnya, dan yang paling menjijikkan adalah, kacamata berbingkai hitam yang sangat tebal, dan kulit wajahnya yang belang-belang. Wajah Janu jelek untuk sementara waktu. Bertemu dengan perempuan seperti itu benar-benar membuat napsu hidupnya berkurang setahun. Janu kembali melihatnya dengan mata dingin, lalu mengangkat kakinya dan pergi dari situ. "Siapa orang tadi?" Arintha menghampirinya dan bertanya dengan nada mendesak. Chendana menggelengkan kepalanya masih dengan rupa ketakutan, "Bukan apa-apa. Itu hanya salah paham." Sosok dewi seperti Arintha secara alami tidak memaksa, mengaitkan bibirnya dan tersenyum, matanya bersinar dengan bintang-bintang, meraih bahunya yang nyaman dan terus berjalan maju, "Seseorang menggertakmu di sini, bilang saja ke aku. Biar aku yang mengurusnya." Chendana hanya merasa bahwa gelombang panas di dadanya bergulung dan matanya menghangat dalam sekejap. Dalam kehidupan remajanya, dia selalu diasingkan oleh orang lain. Lalu, pada saat Mahya memarahinya sedemikian rupa, Arintha juga selalu berdiri untuk membelanya. Meskipun sering bersikap egois, dan merugikannya. Tetapi Arintha adalah orang pertama yang selalu ada untuk melindunginya. "Hei, hei, kenapa malah menangis?" Arintha mencibir alisnya yang cantik dengan jijik, "Apa kamu nggak malu?" Chendana memeluk Arintha, "Aku benar-benar senang punya saudara kayak kamu, Arin. Aku bersumpah akan membalas semua kebaikanmu." Arintha menarik kenyamanannya dan berjalan pergi mendahului Chendana, "Itu makanannya sudah datang, kamu makanlah dulu." Pemain dan kru kembali melanjutkan pekerjaan. Ada sedikit perubahan scene, karena kedatangangan pemeran utama pria yang tertunda, tetapi tidak berpengaruh dengan scene Arintha. Sekelompok gadis pemeran figuran mengelilingi Iqbal untuk meminta foto bareng atau tanda tangannya. Hanya Chendana yang tidak tertarik. Dia tidak tahu Iqbal itu siapa dan seberapa terkenalnya dia. Dia tidak pernah pergi ke nonton film ke bioskop. Mana ada bioskop di desanya yang terpencil. Televisi, mereka juga tidak punya. Kurang dari setengah tahun tinggal di rumah ibunya, dia juga jarang menonton televisi. Bik Roh yang menguasai remotenya setiap malam. Pada saat ini, Suara gembira sutradara datang dari luar pintu set. "Ayo ke sini, semuanya kumpul, kumpul! Pemeran utamanya sudah datang. Natanael sudah ada di sini!" Para pemeran dan kru yang tersebar berkumpul di satu titik, dan Arintha sama sekali tidak berniat berdiri dari tempatnya. "Arin, kamu gak kesana lihat?" Arintha berdecak bahkan tidak mau repot-repot menoleh, "Siapa dia? Sama-sama pendatang baru. Mendingan aku hapalin naskah di sini!" Bukan rahasia lagi, Arintha masih kesal karena pendatang baru itu sangat diistimewakan. Ucapan Chendana tidak mempan membujuknya, jadi dia biarkan saja dia begitu. Beberapa pemeran, terutama remaja perempuan, sudah mulai berseru kaget saat melihat pendatang baru. "Ahh! Ganteng banget sih, lebih cakep dari di IG!" "Serius dia itu Natananael? Gila cocok banget!!" Arintha secara alami jadi penasaran, dia bangun setelah melempar naskahnya kepada Chendana. Chendana mengikutinya seperti ekor. Pada detik berikutnya, seluruh tubuhnya membeku seolah-olah tersengat aliran listrik. Pria di sebelah sutradara itu... Wajah tampan yang maskulin itu, bahkan jika dia menutup mata dan membukanya lagi, pemuda di sebelah sutradara masih sama. Itu tidak mungkin... Mengapa pemeran utama pria malah orang itu... "Apa?" Arintha mengikuti garis penglihatan Chendana. Dia melihat rupa senang sutradara yang diapit oleh produser keturunan India, sikapnya santai dan penuh perhatian. Mereka berjalan beriringan. Sementara itu, pemuda berwajah tampan berdiri di sampingnya. Dia mengenakan t-shirt dan celana selutut model army, satu tangan menempel di sakunya. Wajahnya menunjukkan arogansi bawaan. Dia tampak seperti anak nakal idola remaja perempuan. Ketika dia tersenyum bahkan, dengan malas-malasan, dia tetap menunjukkan pesona luar biasa. Janu...pemeran utama prianya adalah Janu Reivansyah Massry. Bahkan, Arintha sendiri kaget melihat ini. Ketika yang lain masih ribut. Arintha segera bergerak mendekat dengan senyum segar. "Kak Janu, kenapa kamu di sini? Bukannya masih pemulihan setelah kecelakaan kemarin?"  "Kamu kecelakaan, kapan?" Produser terkejut. Hidungnya yang besar bergerak-gerak. Janu menjawab dengan santai, dan memberitahu kalau kejadian itu sudah lama. Berita tentang kecelakaan yang menimpanya memang tidak dirilis. Berita online yang sudah telanjur naik, langsung diklarifikasi oleh tim humas perusahaan Massry bahwa itu tidak benar. Polisi yang menangani masalah itu juga tutup mulut. Awalnya sutradara keheranan darimana kedua orang ini saling mengenal. Ketika produser mengingatkan kalau kedua pemeran ini memiliki latar belakang keluarga yang sama, matanya langsung berbinar. Dengan begini, dia tidak perlu mengkhawatirkan biaya pasca produksi yang sering membengkak. Terutama untuk pemasaran dan promosi. "Baiklah," Sutradara segera menyela, "Ternyata kalian sudah saling mengenal. Jadi, nggak akan susah membangun chemistry." Baiklah," Sutradara segera menyela, "Ternyata kalian sudah saling mengenal. Jadi, nggak akan susah membangun chemistry." Arintha yang masih penasaran mengangkat suara, "Aku dengar kak Janu masih sibuk kuliah, ada angin apa nih kok tiba-tiba masuk dunia akting?" Janu memiliki senyum samar di bibirnya, "Iseng!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD