Ketika Janu bangun, itu sudah siang. Setelah mimpi buruk berwujud pernikahan, baru malam tadi dia memiliki tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah.
Saat membuka matanya adalah, dia berada dalam kamarnya di atas tempat tidur.
Dia mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai. Aroma wangi yang lembut melintasi indera penciumannya, alisnya yang hitam mengerut.
Janu minum terlalu banyak alkohol sebelumnya yang membuat sakit kepala. Dia hanya ingat samar-samar melihat wajah culun dan cengeng milik Chendana, sebelum akhirnya tertidur dan bermimpi.
Namun, yang ia rasakan mimpi itu seperti nyata, aroma lembut yang akrab masih tertinggal dalam kamarnya. Dia duduk, menundukkan kepalanya dan melihat tubuhnya sendiri.
Bahkan rasa pada saat tubuh mereka menjadi satu juga sangatlah nyata.
Janu meninggalkan tempat tidurnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi keluar. Dalam kamar mandi, suara air datang dari pancuran yang jatuh ke lantai.
Selain itu hanya ada keheningan.
Suara-suara samar hanya terdengar dari Chendana yang membuka lemari menyiapkan pakaian Janu, lalu kembali sibuk menekuni buku sketsa miliknya.
Ketika pertama kali menyukai Rayyi, buku sketsa miliknya dipenuhi oleh wajah pria itu. Seiring berjalannya waktu, tanpa ia sadari, objek gambarnya terus menerus dipenuhi oleh Janu.
Namun, setiap kali melihat pria yang sudah menjadi suaminya itu, Chendana akan tenggelam dalam ketakutan dan kecemasan. Dan perasaan ini hanya meningkat setelah mereka menikah beberapa waktu yang lalu.
Pada saat ini, Janu ada berada di dalam kamar mandi. Semua indranya meningkat ketika dia menyadari suara dan napas pria itu. Telapak tangannya basah oleh keringat dan kecemasannya.
Memori beberapa waktu yang lalu melintas melewati pikiran Chendana sekali lagi.
Merasa tidak nyaman karena kehadiran Janu, Chendana meletakkan buku dan pensilnya ke dalam laci, dan berdiri. Tapi begitu dia keluar, pintu kamar mandi terbuka.
Apakah ini kebetulan atau disengaja?
Pintu kamar mandi berada di sebelah kamar tidur, Janu menurunkan kepalanya, dan tatapan mereka saling bertabrakan.
Janu muncul, memamerkan dadanya yang kokok dan seksi. Ada aura bermatarbat tentang dia yang bahkan hanya mengenakan jubah mandi tidak menyembunyikan keangkuhannya.
Hanya dengan begitu, tubuh Chendana jadi menegang, dia dengan panik menurunkan kepalanya, menghindari mata segelap malam yang melihatnya.
Chendana mengepalkan tangannya dengan erat, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang, "Bajumu sudah ku siapkan di atas tempat tidur."
Janu tetap berwajah lurus, tidak bergerak, tatapannya tidak pasti, memberi kesan bahwa dia tidak menganggap Chendana ada.
Meskipun pandangan sekilas, saat itu Janu melihat dengan jelas tanda ciuman berserakan menandai kulit putihnya yang lembut yang tidak tertutup oleh bajunya.
Dia mengembalikan pandangan ke Chendana, mencengkeram lengan kurusnya sebelum bertanya langsung ke depan, "Apa yang coba kamu lakukan semalam?"
Pertanyaan itu cukup membuat Chendana gila. Apa yang sudah digariskan untuk tahu akan tahu. Secara naluriah, dia mulai menjelaskan, "Aku...aku dengar kamu sakit, hanya membantu memberimu obat."
Dia terdiam lama, tidak tahu bagaimana melanjutkan.
Cuplikan dari malam sebelum mulai kembali ke pikiran Janu.
Itu bukan mimpi! Segalanya nyata!
Saat Janu terdiam, dia tidak mengatakan sepatah katapun. Itu membuatnya panik, Chendana ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Aku...tidak pernah menyangka itu akan terjadi...semalam..."
Sebelum Chendana bisa menyelesaikan kalimatnya, lengannya secara kasar dibuang oleh Janu, itu membuatnya terhuyung kebelakang.
Sebelum bisa menstabilkan posisinya. Suara angkuh terdengar, "Kalau tidak membayangkan orang lain, kamu pikir, aku mau tubuh yang menjijikkan dan murah seperti milikmu?"
Hati Chendana tenggelam dalam lautan luka dalam.
Dia berdiri terpana. Setelah berhasil mengumpulkan akal sehatnya, dia pergi meninggalkan Janu sebelum airmatanya kembali menetes karena perkataan pria itu.
Janu masuk ke kamar mengambil baju dan celana dari dalam lemari. Pakaian yang disiapkan oleh Chendana sama sekali tidak ia lirik.
Ketika dia meraih sebungkus rokok di meja samping tempat tidur, Janu menemukan buku sketsa dari di dalam laci yang tidak tertutup rapat.
Dia mengambil buku dan melihatnya sebelum mengambil rokok. Chendana menggambar potretnya, tidak hanya satu, tetapi banyak.
Lembar demi lembar sudah dia buka, dan Janu bisa merasakan ketulusan Chendana di sana. Menjelang lembar terakhir gerakan tangannya berhenti.
laki-laki dalam sketsa ini bukan dirinya. Gambar ini memiliki makna yang dalam. Setiap goresannya indah dan dibuat sepenuh hati.
Dia mengambil gambar dan membolak-balik dengan penuh perhatian, tetapi tidak menemukan petunjuk. Matanya meredup.
Mengambil kuncinya, dia berjalan keluar sambil mengambil hisapan dalam. Pada saat asap memenuhi paru-parunya, barulah dia mulai menjadi rileks.
Dari jendela, dia melihat dengan jelas bagian punggung Chendana. Perempuan itu nampak jauh lebih kurus dari sebelumnya. Dia memiliki pipi tirus , dan matanya tidak lagi memiliki ekspresi.
Dia menyadari, dirinya kesakitan begitu pula perempuan itu.
Dalam proses melampiaskan rasa frustrasinya, dia tidak peduli bahwa dia baru sekali terjamah olehnya, tidak peduli pada sosok mungilnya tidak berdaya. Dia telah menggunakan metode paling kejam untuk membalas perbuatannya.
Ekspresi Janu sedikit membeku ketika dilihatnya Chendana yang bergerak ke sana kemari, menyadari perempuan itu menaiki jendela. Dia mengerutkan kening dalam, sebuah ketakutan melintas melewati matanya.
Gila! Apa dia mau mati?
Dari semua bagian rumah ini yang paling disukai oleh Chendana adalah balkon di lantai dua. Biasanya dia menghabiskan waktu di sini membuat sketsa atau mengurus tanaman yang ia tanam sejak pertama kali datang.
Dari tempat yang tinggi ini, dia bisa merasakan dirinya masih hidup dan waras dengan melihat kegiatan di sekitarnya, meskipun hanya didominasi oleh kendaraan yang lewat.
Selalu berada di sini sendirian. Suatu waktu, Chendana berpikir dirinya adalah Rapunzel yang dikurung dalam menara dan menunggu pangeran yang lewat, melihatnya menderita lalu membawanya pergi jauh.
Setelah itu, dia akan menertawakan khayalannya sendiri. Dia tidak punya siapa-siapa lagi, tidak memiliki tempat untuk berlindung.
Selama Janu tidak melepasnya, mustahil dia akan terlepas dari cengkeraman pria itu seumur hidupnya.
Pada saat menunggu waktu berkutat lagi dengan kesepian setelah Janu pergi. Chendana mendengar suara mengeong tidak jauh dari tempatnya duduk.
Setelah mencari-cari, matanya menemukan seekor kucing ketakutan di atas dahan pohon mangga.
Pohon itu menempel pada jendela balkon. Kucing yang menempel pada dahannya, beberapa kali terpeleset. Ia kemudian mencoba mengulurkan tangannya, tapi tidak sampai.
Dengan berhati-hati, dia naik ke pagar teras dan kembali mengulurkan tangan. Semua tubuhnya merenggang karena ia berusaha keras mencapai pohon itu.
Kalau ada galah atau bambu pasti lebih gampang.
Chendana yang memutar kepala mengerjap-ngerjap matanya dan berlari ke dalam. Ia menemukan sapu yang tergeletak dekat kamar dan langsung meraihnya.
Chendana memegang gagang sapu di tangannya dan berdiri di di pagar dengan setengah tubuhnya menggantung. Kalau dilihat dari bawah, itu tidak begitu tinggi.
Tetapi dari tempatnya sekarang, Chendana merasakan gelombang pusing di kepalanya.
Tiba-tiba dia menghentikan apa yang dia lakukan dan menunduk sekali lagi. Sekarang, matanya yang tadi cerah agak berkabut. Mungkinkah orang bisa mati kalau jatuh dari tempat setinggi ini?
"Kamu tidak berniat hidup lagi!" Napas seseorang menderu tiba-tiba. Chendana buru-buru meraih pegangan, gagang sapu yang dipegangnya melayang dengan mengenaskan.
Chendana hampir membiarkan dirinya terjatuh mengikuti gagang kering yang tak berdaya, tetapi kemudian, sesuatu yang kuat mencengkeram pinggangnya. Begitu kuat sampai-sampai hampir menghancurkan tulangnya.
"Apa isi otakmu, sampai berpikir untuk mati di sini!" Geramnya sarat dengan emosi. Matanya berkibar marah. Entah kerena khawatir atau apa.
"Aku...aku cuma mau menolong anak kucing yang terperangkap di sana." Sahutnya, dia menunjuk ke dahan pohon yang menjorok ke dalam.
Dia bilang kucing? Hanya karena seekor kucing dia mengagetkan ku seperti ini?
Pria itu kehilangan ketenangannya. Dia marah seolah ingin mencengkik perempuan di dalam pelukannya sampai mati.