"Orang i***t mana yang menolong kucing dengan mengabaikan keselamatan dirinya sendiri!" Katanya, tangan pria itu masih melingkari tubuh Chendana dengan erat. Hampir meremukkan pinggangnya yang tipis.
Chendana mengerutkan bibir dengan tidak nyaman. Ada bekas luka disana. Apakah ini cara pria itu menunjukkan kekhawatiran kepadanya?
Yang tidak diketahui Chendana adalah, ekspresi malu sedikit melintasi mata pria itu. Dia menyadari bahwa baru saja, dia menunjukkan belas kasih pada perempuan itu.
Terutama cara dia bersikap. Dia begitu khawatir kalau perempuan ini benar-benar terjatuh dan mematahkan lehernya.
Namun, tak lama kemudian sudut bibirnya melengkung. Tidak, dia hanya takut perempuan ini lebih cepat mati, itu akan terlalu mudah buat dia.
"Bahkan kalau ada kesempatan membuatmu mati, aku nggak akan membiarkanmu mati." Katanya dengan sadis.
Chendana bergidik ringan, bulu matanya yang panjang bergerak-gerak.
"To--tolong lepas..." Chendana berjuang keluar dari pelukannya. Tubuhnya menyusut kesakitan, sementara tangan pria itu terus melilit pinggangnya, "Aku harus menolong kucing itu."
Pelukan Janu mengendur, tubuhnya pelan-pelan menjauh. Tanpa diminta, dia melompati pagar pembatas dan menarik dahan pohon mendekat.
Dengan mudah kucing itu pindah ke dalam pelukannya, meringkuk dengan nyaman di sana.
Chendana memalingkan wajah. Ternyata kepada seekor binatangpun, dia bisa bersikap begitu baik dan lembut. Setahunya, Janu memang bisa bersikap baik dan lembut kepada siapapun. Kecuali, dirinya.
"Jangan lagi melakukan hal bodoh yang membahayakan dirimu sendiri!" Janu mengangkat sedikit alisnya, "Kamu adalah istriku, apa kamu tidak pernah berpikir untuk memohon kepadaku?"
"Memohon?" Chendana tersenyum, itu hanya dilakukan setengah hati, sehingga sudut bibirnya melengkung lemah, "Seandainya aku memohon, apa Kak janu mau membebaskanku dari rasa ingin membalas dendam? Apa kak Janu mau mendengar kalau peristiwa malam itu bukan sepenuhnya kesalahanku? Nggak kan? Jadi buat apa aku melakukannya?"
Entah mendapat keberanian dari mana, Chendana berbalik. Meninggalkan pria itu begitu saja.
Memohon, apa ada gunanya?
Apa dia akan membiarkannya pergi?
Mata Janu berubah beberapa warna menjadi lebih gelap seolah-olah cahayanya sudah diambil.
"Perempuan sialan!" Dia menggeram, mencengkeram pergelangan tangan Chendana, mencium bibirnya dengan sangat keras. Akibatnya, Chendana hampir tidak bisa lagi bernapas.
Chendana bisa merasakan gelombang tekanan di antara bibirnya yang membengkak. Seolah-olah pria itu sudah memakan jiwanya. Dia menggelengkan kepalanya, menolak menerima pelecehan.
Janu menggigit bibirnya. Ciuman itu beraroma darah dari bibir yang terluka. Setelah berapa lama, dia akhirnya melepaskan Chendana, keduanya sama-sama kehabisan napas.
"Jangan membuatku marah lain kali!" Janu mengancam. Ada sesuatu yang tersembunyi dari balik matanya yang gelap. "Dengar apa yang aku katakan dengan jelas. Kamu nggak akan bisa menanggung akibatnya kalau melawanku! Kalau kamu mau punya kehidupan yang layak, dengarkan baik-baik dan bersikap baik!"
Janu dengan ringan menepuk wajah pucat di depannya. Daripada menyebutnya peringatan, ini lebih mirip disebut dengan ancaman.
Chendana mengerutkan bibir dengan tidak nyaman. Ada bekas luka disana. Apakah ini pria yang sama yang tadi terlihat sangat khawatir kepadanya?
"Jangan merasa senang aku membantumu menyelamatkan kucing hari ini!" Janu kelihatannya tahu apa pikiran Chendana, dia tidak menyia-nyiakan waktu untuk menghancurkan fantasi perempuan itu.
"Aku melakukan ini karena nggak mau kamu mati begitu cepat. Kalau kamu mati, siapa yang harus aku balas untuk melampiaskan sakit hatiku?" Janu bahkan tidak mau perempuan itu merasakan senang membayangkan sesuatu di antara mereka.
"Aku tau," Chendana tidak menunjukkan wajahnya. Dia menunduk.
Ketika Janu pergi, rasanya seperti embusan angin dingin melewatinya.
Chendana tahu sebelumnya bahwa segala sesuatunya tidak akan berubah, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk merasakan dan mengharapkan lebih.
***
"Baiklah, ini adalah pertemuan ringkas triwulan terakhir. Mari hemat waktu dan mulai sekarang," Kata Janu.
Begitu dia menyelesaikan kalimat ini, ruang pertemuan berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya.
Janu bicara dengan nada datar, setiap kalimat dia sampaikan menunjukkan masalah penting. Tidak heran, dia bisa mengelola perusahaan yang besar di usia yang sangat muda.
Pria itu duduk tepat di tengah ruang pertemuan yang luas dan megah. Mendengarkan dengan seksama laporan triwulanan dari setiap departemen mengenai ringkasan pencapaian pekerjaan mereka dan rencana yang akan datang untuk kuartal berikutnya.
Manajer departemen investasi menyelesaikan laporannya dan kembali duduk. Tiba-tiba, Janu bertanya dengan suara dingin.
"Mengapa saya tidak melihat sejumlah uang dari Diego Bara Nusantara?"
Dan kemudian, di seluruh ruangan, sepertinya suara jarum yang jatuh ke tanah pun bisa terdengar!
Setelah saling bertukar pandang, Theo kepala bagian keuangan tergagap menjelaskan, "Pak Sandiego menderita kerugian parah setelah Pilkada setahun kemarin. Sekarang, beliau terkena serangan jantung dan dalam perawatan insentif di Malaysia. Semua asetnya, termasuk tambang terbesar di Sangatta sudah digadaikan untuk menutupi biaya kampanye. Kalau kita memaksa, orangtua itu bisa kolaps kapan saja..."
Janu mencibir, pembuluh darahnya berdenyut-denyut di rahangnya ketika dia berkata, "Kita menjalankan perusahaan, bukan badan amal maupun penyokong dana kampanye! Seperti yang semua sudah tahu, uang yang kita putar untuk investasi merupakan dana dari investor. Mereka juga menginginkan keuntungan, kalau uang itu tidak bisa keluar, siapa yang akan menutupi lubang ini?"
Semua kembali terdiam.
"Sebelum tutup buku bulan ini, saya mau kalian mengambil uang dari Sandiego! Karena uang harus masuk ke rekening pemegang saham tepat waktu!" Tuntut Janu.
Setelah membuang kata terakhir ini dengan nada dingin, Janu mengakhiri pertemuan.
Pada malam harinya, mobil berhenti di pintu masuk Lacoste, sebuah club pribadi dengan kemewahannya yang sudah terkenal.
Ini adalah tempat hiburan paling elit di pusat kota. Club ini termasuk kamar-kamar pribadi dan restaurant dengan total sembilan lantai, yang dikelola oleh Wiratama sebagai pemilik saham utama.
Dekorasi dari dalam ke luar adalah gaya Eropa yang sangat mewah, dan warnanya cemerlang, konon patung cupid yang berdiri di depan pintu lobi berlapis emas.
Dunia orang yang benar-benar kaya adalah kemewahan dan kekejaman yang tidak bisa kita bayangkan.
Setelah memarkir mobil, Janu berjalan masuk dengan langkah panjang.
"Pak Janu."
"Malam Pak Janu,"
Sepanjang jalan, hampir tidak ada yang tidak tahu siapa Janu.
Dia pergi ke kamar pribadi tertinggi di lantai paling atas dan membuka pintu.
Dia disambut dengan wajah familiar milik Jerome.
"Oi! Kemarilah, bisa minum dengan tangan midas di dunia investasi suatu kebanggaan buat kami di sini."
Janu melihatnya dan menemukan bahwa ada beberapa orang yang ia kenal di sini. Namun, hanya Jarome yang benar-benar akrab dengannya.
"Kapan kamu pulang, kenapa kamu tidak bilang apa-apa?”
Jerome baru saja kembali dari liburan di Nordik beberapa hari yang lalu, dan segera setelah mendarat, dia langsung membuat janji dengan Janu.
"Itu belum lama. Dimana Chendana?"
Janu melangkah, duduk di sebelahnya, dan bersandar di sofa. "Jangan menanyakan sesuatu yang tidak penting. Bagaimana kabar adikmu?"
Jerome berkata, "Nggak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Arintha. Dia baru saja menikmati musim dingin di London."
Wajah Janu berubah secara dramatis.
Kegelapan Janu belum berubah, dan dia masih tersenyum dan berkata, "London kota yang bagus, dia harusnya bersenang-senang di sana."
"Apa lagi yang harus dia lakukan selain itu?" Sahut Jerome.
Tidak ada jawaban dari Janu, tinjunya dipegang erat, hanya untuk merasakan bahwa sarkasme di kata-kata pria itu akan membuatnya kesal.
Setelah Jerome melihat Janu, dia menyadari ada sedingin es di matanya, tetapi dengan cepat menghilang. Dia menghirup seteguk "Manhattan" di tangannya, dan perlahan-lahan dia berkata, "Bagaimana pernikahanmu? Kamu memperlakukan Chendana dengan baik?"
Tidak tahu berapa lama. Janu perlahan-lahan melepaskan tinjunya dan menarik napas dalam-dalam. Dia berkata dengan acuh tak acuh.
"Selama jadi istriku, dia akan mendapat perlakuan yang pantas dia dapatkan."
Melihat seulas senyum yang melintas di bibir Janu, Jerome mendeteksi ada sesuatu yang tidak beres. Namun, dia tidak berkata apa-apa.
Setelah minum dua teguk lagi, Jerome hanya bisa bertanya, "Dia sudah membawamu bertemu kakek neneknya?"
"Hmm?" Janu menyipitkan matanya. Baru kali ini dia mendengar keluarga Chendana selain Mahya, ibunya.
Jerome melanjutkan, "Aku rasa kamu nggak tau apa-apa tentang Chendana."
Janu kembali menyipit kepadanya dan berkata, "Kamu kayaknya akrab sama dia."
"Baginya hanya sebatas kakak adik, nggak lebih." Jerome tersenyum, tetapi ada sedikit kegelapan dalam matanya.
Janu hanya memandangnya dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
Pada saat ini, pintu kamar pribadi didorong terbuka, dan seorang gadis muda berusia 20-an masuk.
Mengenakan gaun Chanel baru dengan bahu terbuka.
Memegang tas danau biru Chanel yang baru di tangannya.
Begitu dia memasuki pintu, dia membidik posisi kedua pria itu ...
Kemudian langsung bergegas, "Kak Janu, ada sesuatu yang mau aku bilang ke kakak."
Jerome meneguk minumannya tanpa melihat kepada Tasia. Walaupun katanya gadis ini masih keturunan ningrat, tetapi sikapnya jauh dari kata ningrat.
Teman akrab adiknya ini, selalu bersikap tidak sopan.
Tasia sendiri tidak mau repot-repot menyapa Jerome, dia menghampiri Janu, mau menempati tempat di sebelahnya, tetapi urung.
“Katakan.” Janu hampir tidak mengangkat kepalanya, dan sepertinya tidak memiliki kesan yang baik pada wanita itu.
Tasia menggigit bibirnya, hatinya berdebar, "Kak Janu, mengapa kamu menikahi wanita jelek itu? Dan mengkhianati Arintha? Bagaimana kamu bisa memperlakukan pernikahan sebagai permainan anak-anak, bagaimana Anda, orang yang terhormat, bisa mengambil sampah? Buang saja dia, aku selalu menyukaimu. Aku nggak keberatan jadi pengganti Arintha."
Hanya mendengarkan kata-katanya, semua, terutama Jerome langsung tahu betapa tidak berotaknya dia.
Kalaupun pria ini belum menikah, tetapi bukankah ini pacar temannya?
Dalam diam, Jerome memandang Janu.
Tanpa diduga, pria itu hanya menatap sekilas gadis di depannya, dan bertanya, "Aku mengenalmu?"
Tasia membelalakkan matanya dan tidak percaya bahwa kata-kata dingin seperti itu datang dari mulut pria itu.
Keluarganya memang bukan keluarga pengusaha kaya seperti Risjad atau Massry, tetapi orangtua dan kakeknya memiliki jabatan yang tinggi di pemerintahan.
Selain itu, mereka juga sudah bertemu berkali-kali, meskipun keduanya tidak pernah bertukar kata.
Dia berpikir bahwa bahkan jika Janu tidak menyukainya, dia masih memberinya wajah yang baik karena dirinya teman Arintha.
Kenapa sekarang, kata-kata kejam seperti itu benar-benar diucapkan.
"Kak Janu...aku sama Arintha..."