Terkagum-Kagum

1521 Words
"Apakah proses pembelian lahan untuk kebun anggur yang baru sudah masuk dalam tahap pembicaraan kontrak?" "Sudah Ben, mereka sudah menyetujui harga yang kita tawarkan. Namun sebelum serah terima, mereka harus mempersiapkan lahan terlebih dahulu seperti pembicaraan kita yang lalu sebab kini lahannya masih belum bisa digunakan karena masih harus ditimbun." Ben mengangguk-anggukkan kepalanya paham sembari membuka lembar demi lembar laporan yang ia terima. "Baiklah, aku rasa semuanya sudah aman. Beri tahu aku hasil akhirnya saja nanti." "Baik." Ben menutup berkas itu kemudian kembali meletakkannya di meja. "Bagaimana persiapan pertunanganmu?" Tanya Ben. Pria tampan itu menyandarkan posisi duduknya dengan duduk bersandar dan kaki bersilang. Rasanya sudah cukup membicarakan tentang pekerjaan hingga ia mengalihkan topik pembicaraannya yang lain. "Sudah sepenuhnya selesai," jawab lawan bicara Ben. "Bukankah acaranya minggu depan?" Pria itu mengangguk. "Sepertinya aku harus mengosongkan jadwalku dari sekarang." "Pekerjaanmu sedang banyak-banyaknya belakangan ini. Kau tidak perlu khawatir dan memaksakan diri untuk datang. Semua bantuanmu untuk persiapan pertunanganku sudah sangat cukup. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi." "Apa kau tidak ingin aku datang?" "Tentu saja aku ingin." "Baiklah kalau begitu aku pasti datang." Jackson Parker tidak dapat membantah lagi, ia hanya mampu tersenyum mendengar niat baik Ben itu. Ben selalu saja seperti itu. Jackson Parker adalah orang kepercayaan Ben yang membantunya mengurus usaha club dan perkebunan anggur berserta pabriknya yang semakin maju saja. Jackson adalah teman kuliah Ben dulu. Ben tidak berada disatu kuliah dengan kedua sahabatnya Justin dan Josh. Jackson lah yang menjadi temannya. Ben tidak mengerti mengapa ia selalu berteman dengan pria bernama dengan huruf awal 'J'. Jackson adalah pria yang gigih, pekerja keras, telaten, dan cerdas. Kehidupannya tidak seberuntung Ben. Ia bahkan berkuliah dengan bermodalkan beasiswa. Katanya jika ia tidak mendapat beasiswa mungkin ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Bahkan saat kuliah untuk memenuhi kebutuhannya agar tidak membebankan orang tuanya, ia mencari kerja sampingan apa saja saat tidak ada jam kuliah. Terkadang ia menjadi pengantar pizza, supir truk sampah, pengantar s**u, kasir mini market, apapun itu ia kerjakan. Itulah yang membuat Ben memilih untuk mengajaknya bekerja sama. Sejujurnya saat Dean membiarkan Ben untuk mengambil alih bisnisnya, Dean menawarkan untuk mencarikan orang kepercayaan yang bisa membantu Ben. Mencari kaki tangan dalam hal bisnis seperti ini bukanlah hal yang mudah. Dean yang memiliki kenangan buruk karena sempat dikhianati oleh orang kepercayaan merasa sangat hati-hati dalam hal ini. Tapi saat itu Ben mengatakan bahwa ia sudah menemukan orang yang tepat. Setelah enam bulan dalam masa percobaan, akhirnya Jackson lulus menjadi kaki tangan Ben. Hasil kerja Jackson sejauh ini sangat memuaskan. Ia bahkan dapat mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Karena seumuran, mereka tidak memiliki masalah dalam komunikasi. Awalnya Jackson berbicara sangat formal pada Ben saat jam kerjanya. Tentu saja ia harus menghormati Ben yang merupakan bos besarnya itu. Namun Ben menolak dan mengatakan ia lebih nyaman jika berbicara seperti biasanya saja pada Jackson. "Baiklah, aku harus pergi ke Boston hari ini. Jika ada yang kau butuhkan, kau bisa mengabariku. Aku akan mengecek renovasi club," kata Jackson bersiap untuk pamit mengingat masih banyak hal yang harus ia kerjakan. "Baiklah, jangan terlalu menguras tenagamu. Kau harus banyak tersenyum pada tamu undangan di acara pertunanganmu." "Tentu saja aku akan tersenyum hingga gigiku kering," jawab Jackson menimpali candaan Ben. Jacksonpun berlalu pergi meninggalkan Ben di ruang kerjanya. Ben ikut bangkit dari duduknya sedikit meregangkan otot-ototnya. Diliriknya jam mahal keluaran terbaru yang baru saja ia beli kemarin itu yang sudah menunjukkan jam makan siang. Perutnya juga sudah terasa lapar. Ben mengingat-ingat sejenak apakah setelah jam makan siang ia harus melakukan pekerjaan yang penting atau tidak. Tadi sekretarisnya sudah memberi tahu, namun karena terlalu banyak pekerjaan, banyak hal dipikirannya yang menjadi acak-acak. Seingatnya ia hanya akan ada pertemuan sore nanti, jadi ada waktu yang cukup panjang untuk makan siang. Ben berjalan ke dinding kaca yang memperlihatkan hiruk pikuk kota New York dari atas sini kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku jas. Ia terlihat menghubungi seseorang. "Apakah kau sedang ada jam kuliah?" "..." "Ingin makan siang bersama?" "..." "Baiklah, sebentar lagi kakak akan menjemput." "..." "Benarkah? Kalau begitu kakak akan menyusul. Sampai ketemu." Sambungan telfon terputus. Ben baru saja menghubungi adiknya Naomi untuk mengajaknya makan siang bersama. Dulu saat masih kecil mereka selalu makan pagi, siang ataupun malam bersama. Namun seiring berjalannya waktu karena kesibukan masing-masing, mereka jadi jarang melakukannya. Apalagi Naomi sangat suka makan bersama teman-temannya. Jadi jika ada waktu seperti ini, Ben pasti menggunakannya bersama adiknya itu. Meskipun tidak ada hubungan darah dengan Naomi sama sekali, namun Ben sangat menyayangi Naomi. Ben langsung bergegas pergi menyusul Naomi yang sudah terlebih dahulu berada di salah satu restoran untuk makan siang bersama temannya. Ben sama sekali tidak memusingkan siapa teman Naomi nanti disana sebab ia sudah mengenal teman-teman dekat Naomi. Terkadang reaksi teman-teman Naomi yang memuja Ben secara terang-terang sangat lucu dan menjadi hiburan bagi Ben melihat remaja-remaja itu. *** "Kak Ben..." Naomi mengangkat tangannya dan mengayun-ayunkannya ke udara agar Ben yang baru memasuki restoran dan mencari keberadaannya dapat menyadari. Ben tersenyum hangat kemudian menghampiri adiknya itu. "Untung saja Kakak datang, itu artinya aku bisa makan gratis." "Kau bisa makan sepuasnya Sayang," kata Ben lembut mengelus pipi Naomi membuat gadis cantik itu tersenyum sumringah. "Oh hallo..." Ben yang menyadari ada orang lain disana langsung menyapanya. Ben agak kaget karena awalnya berpikir bahwa Naomi sedang bersama teman-teman dekatnya yang biasa, namun ternyata Naomi sedang bersama seorang yang tidak begitu asing bagi Ben. Mereka seperti pernah bertemu sebelumnya namun Ben tidak ingat dengan pasti. "Kakak masih ingat kak Nessie kan?" "Ah iya aku ingat." Akhirnya Ben ingat ketika Naomi menyebutkan namanya. Gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang Naomi kenalkan pada Ben di hari ulang tahun Naomi saat itu. Ben mengambil posisi duduk di samping Naomi dan berhadapan dengan Nessie yang tengah tersenyum menyambutnya. "Ternyata kalian sangat dekat," kata Ben. "Dia adalah kakak tingkatku, aku banyak bertanya tentang tugas-tugasku pada dia. Kak Nessie sangat pintar." "Ah tidak juga," sela Nessie cepat merasa malu dipuji terang-terangan seperti itu. "Kak Nessie juga sangat pandai bernyanyi. Suaranya sangat bagus dan dia sering mengisi acara di kampus." "Begitukah?" Naomi langsung mengangguk cepat. Ia terlihat sangat bersemangat menceritakan kelebihan-kelebihan Nessie membuat pipi Nessie merah tersipu. Ia sudah biasa dipuji Naomi seperti itu, tapi karena ada Ben rasanya sangat berbeda. "Kalau begitu kau harus mencontohnya, jangan malas belajar. Kau sangat suka bermain." Naomi mengerucutkan bibirnya karena mendapat respon seperti itu dari Ben. Bisa-bisanya Ben malah menasehatinya disaat seperti ini. Ben memesan makanannya sendiri sebab makanan Naomi dan Nessie sudah ada di meja. "Aku akan ke toilet sebentar," pamit Naomi bergegas pergi meninggalkan Ben dan Nessie. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan, sepertinya ia harus memberikan waktu sedikit untuk Ben dan Nessie bisa berbincang-bincang tanpanya. "Apakah kau sudah semester akhir?" Tanya Ben mulai bersuara. Ben cukup aktif dengan lawan bicaranya, ia cenderung tidak suka suasana yang canggung. Lagi pula Nessie tampak malu-malu atau merasa tidak enak berbicara terlebih dahulu karena Ben lebih tua darinya. Jadi Ben merasa ia lah yang harus memulai pembicaraan. "Ya, aku sedang mempersiapkan tugas akhirku," jawabnya agak gugup. Nessie bahkan tidak sanggup berkontak mata langsung dengan Ben. Meskipun tatapan Ben sebenarnya sangat hangat untuk lawan bicaranya dan tidak mengintimidasi sama sekali, namun tetap saja Nessie merasa gugup. "Lantas setelah itu ingin langsung bekerja?" "Aku akan melanjutkan masterku Kak," jawab Nessie lagi. "Bagus jika begitu. Selagi masih ada kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri dengan menambah ilmu, tidak ada salahnya." "Ya, lagi pula aku masih belum memiliki gambaran jika harus langsung bekerja. Di zaman sekarang banyak perusahaan yang masih belum percaya pada kualitas orang-orang yang baru lulus. Mereka lebih suka mencari yang berpengalaman," kali ini Nessie tampaknya sudah mulai terbiasa berbincang dengan Ben. "Tidak semua perusahaan yang seperti itu. Perusahaan yang masih tidak percaya dengan kualitas perusahaannya wajar jika mencari orang-orang yang berpotensi untuk memberikan kontribusi yang besar pagi perusahaannya. Namun perusahaan yang sudah stabil tidak akan masalah memperkerjakan lulus-lulusan yang baru. Biasanya yang baru lulus seperti itu memiliki ide-ide yang lebih segar dan inovatif." Nessie dibuat tidak bisa berkedip mendengar ucapan Ben. Ia terlihat sangat santai saat berbicara, namun yang ia katakan begitu tepat. Tidak heran mengapa Naomi sering sekali membanggakan kakaknya itu di depan Nessie. "Kau bisa memasukkan lamaranmu ke perusahaanku jika kau sudah lulus master, kapanpun itu," ucap Ben diiringi senyum tipisnya. Jantung Nessie seketika berdetak kencang melihat senyum yang luar biasa menyejukan itu. Semakin dilihat, wajah Ben terlihat semakin tampan saja. "Terima kasih Kak. Aku akan belajar lebih giat lagi agar nantinya tidak membuat perusahaanmu rugi jika memperkerjakanku." Ben terkekeh mendengar balasan gadis itu yang terlihat begitu bertekad. "Wahhh... wah... wah... baru ditinggal sebentar saja, sudah terlihat sangat akrab," goda Naomi yang kembali bergabung. Dari kejauhan ia lihat tampaknya mereka sedang mengobrol dengan seru. Ben dan Nessie tidak berniat menanggapi godaan Naomi. Makan siang mereka diisi dengan obrolan seru. Dalam obrolan itu Nessie bisa melihat betapa akrabnya Ben dan juga Naomi. Ia jarang melihat kakak dan adik dengan jarak usia lebih kurang sembilan tahun yang terlihat sangat akrab seperti itu. Ben sepertinya adalah pria yang penyayang. Hal itu bisa terlihat dari bagaimana ia memperlakukan Naomi. Meskipun terkadang ia terkesan jahil, namun ia terlihat terang-terangan menyayangi Naomi. Sangat mengagumkan pikir Nessie.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD