BAB 11 K untuk Kisah Berikutnya

1063 Words
4B Baru saja Allata masuk ke dalam toko. “Al, help me!” teriak May dari balik meja kasir. Allata memandang May dengan bingung, karena ia kaget. “Baru juga sampai May,” ujar Allata berjalan dengan santai menuju meja kasir. “Ada apa?” tanya Allata. “Kau tau,” ucap May, ia belum menyelesaikan ucapannya tapi Allata sudah menggelengkan kepalanya. “Aku belum selesai bicara bodoh, kau ini,” geram May pada Allata, ingin rasanya ia meremas muka cantik Allata. “Jadi?” tanya Allata  kembali. “Begini, Winna yang seharusnya bertanggung jawab mengantar pesanan itu…” tutur Allata sambil menunjuk ada 10 paket bunga yang sudah dikemas untuk sebuah acara, May menyambung kalimatnya, “tapi dia malah sakit Al, jadi yang mengantarnya digantikan oleh Nina.” Allata menaikkan satu Alisnya. “Jadi apa masalahnya?” tanya Allata. “Masalahnya adalah, baru saja aku dapat pesanan dan dikirim ke alamat perumahan Elit,” jelas May. “Bagus dong apa yang salah,” sahut Allata lagi. “Tidak masalah, aku hanya gembira saja,” seru May. Kali ini ucapan May yang membuat Allata gemas. Allata mendengus. “Aku kira mesin kasir kita dibobol perampok,” seru Allata, lalu duduk di salah satu kursi kasir tepat di samping May. “Bukan begitu Al, masalahnya. Buket itu besar, sedangkan mobil sudah dibawa Nina untuk mengantar paket itu. Jadi syukur kau datang hari ini dan kau sedang freekan?” jelas May dengan bertanya pada Allata. “Ya, aku akan seharian ada di toko membantumu,” jawab Allata. “Nah, baiklah jika begitu kau antar buket bunga yang akan kusiapkan sebentar lagi,” perintah May. Perintah May tentu saja membuat Allata menghela nafas, bukan ia keberatan tapi begitulah seorang May yang bisa membuat sesuatu yang simple jadi terlihat rumit. “Akukan bilang ingin seharian di toko, jadi kau saja ya kakak yang mengantar buketnya…” goda Allata sambil memandang wajah May yang sedang berdiri di samping tempat duduknya. “HEY! Astaga… aku pusing, kau ini jika disuruh saja baru memanggilku kakak. Adik durhaka kau. Tapi tidak mempan tidak ada penolakan,” kesal May pada gadis berblezer hitam yang tengah duduk dengan santai di kursi kasir. “Ayolah kak, biarkan aku yang menjaga toko,” manja Allata pada May. May hendak pergi dari meja kasih lalu memandang ke arah Allata. “Pakai apa aku mengantarnya, kaukan bawa mobil ke sini jadi kau tolonglah kakakmu ini untuk mengantarnya. Siap adikku yang penurut…” geram May pada Allata dengan menekankan kata penurut diucapannya. Lalu ia berlalu meninggalkan meja kasir, untuk menyiapkan buket bunga matahari yang tidak main-main besarnya pesanan tersebut. Allata tertawa kecil melihat respon May, Allata suka sekali menggoda May dan membuatnya kesal dengan ulah Allata. “Baiklah kakakku tercinta…” ucap Allata cukup keras dan masih dapat didengar oleh May. May berada di belakang toko bunganya tepatnya disebuah rumah kaca yang cukup besar, berisi tanaman bunga-bunganya. Ia memang sedang menyediakan buket bunga matahari karena bunga matahari sudah siap untuk dipotong.  Semula toko dibangun, rumah kaca tersebut belumlah ada hanyalah berupa ladang tidak luas yang diberi atas plastik bening. Setelah bertahun-tahun toko mereka sudah dikenal dan memiliki pelanggan. Barulah Allata dan May merencanakan pembangunan rumah kaca untuk membiakkan bunga-bunga mereka. May tersenyum mengingat saat pertama mereka membuka toko mereka dengan bahagia hasil kerja keras Allata yang bekerja sebagai orang kepercayaan Alex. Modal Allata semula tidaklah besar, karena gaji yang ia dapat tidaklah sepernuhnya ia dapatkan karena sebagaian harus disetor pada Rendra untuk membayar hutang Emyna, ibu Allata. May yang menampung Allata saat Allata ditelantarkan oleh Emyna, saat Allata masih terpukul atas kematian yang papa, Faro. Allata yang menangis menjerit sambil memeluk foto sang papa dihari pemakaman. May sangat mengingatnya, melihat Allata yang menangis pilu, bersimpuh meratap di depan gundungan tanah yang masih basah tempat sang papa dikubur. Mayat Faro ditemukan sudah tidak berbentuk, sulit untuk dikenali, sulit untuk diidentifikasi. Tapi setelah semua diketahui dari daftar nama penumpang pesawat barulah diketahui bahwa mayat terindetifikasi bernama Alfaro Rahman Luwilau. Pihak medis tidak mengidentfikasi penyebab kematian karena sudah pasti karena kecelakaan pesawat yang terjadi. Kejadian itu terjadi karena Faro yang mendapat telpon seseorang akan membantu perusahaannya dengan syarat ia menemui orang tersebut. Faro menurutinya, Faro pergi luar kota untuk bertemu orang tersebut. Tetap tiga hari berikutnya, Faro menelpon May Risa untuk menjaga Allata. May mengetahui itu karena Risa memberitahukannya padanya. Faro mengabarkan perusahaan mereka pada kembali saat ia sudah terbang ke Rusia, dan menemui orang itu. Tetap yang terjadi bukan sebuah penerbangan yang berujung mendarat di tanah Rusia melainkan mendarat paksa di laut. Pesawat yang membawa Faro bukanlah pesawat maskapai penerbangan resmi Negara melainkan pesawat sebuah perusahaan yang legal keluar masuk terbang di Negara tersebut. Penerbangan Faro bukan pula membuahkan hasil kembalinya perusahaan mereka melainkan kematian Faro sendiri. Setahun Allata diurus oleh May dan orang tuanya. Emyna tidak terlihat sama sekali, atau sekedar menjenguk anaknya. May hanya fokus pada Allata, tidak ada yang boleh menyakiti Allata. May sangat menyayangi Allata karena Alfaro, Alfaro pernah berpesan pada May sebagai pamannya. Untuk menjaga Allata. Hubungan keluarga May dengan Alfaro adalah Risa sebagai kakak sepersusuan Faro, mereka bersaudara bukan karena ikatan tali darah tapi karena orang nenek May pernah menjadi ibu asuh Alfaro kecil dan memberikan ASI yang sama pada Risa. Sebab itulah, May dan Allata sudah menjadi dekat setelah kepindahan Allata remaja di kota yang sama dengan May lahir dan tumbuh. May adalah orang yang pertama memeluk Allata saat Allata terjatuh karena kepergian Faro. Allata yang kuat sejak kecil sangat terpukul oleh kematian Faro. Allata sangat dekat dengan sang papa, Allata dididik dengan keras sekaligus mendapatkan kasih sayang yang lebih pula dari sang papa. Faro tidak mencambuk anaknya untuk melukai melainkan mencambuk anaknya untuk menjadi kuat tanpa kekurangan kasih sayang. Faro memberikan semangat saat Allata tidak kuat untuk mendaki, Faro memberikan topangan saat Allata tidak kuat untuk berlari, Faro memberikan sokongan saat Allata kalah saat turnamen. May menyaksikan semua itu saat Allata remaja bersamanya, hingga mereka tumbuh dewasa. May kembali fokus pada bunganya, setelah memotong 20 tangkai bunga matahari mekar dan 5 tangkai kuntum bunga yang baru akan mekar. May juga mengambil mawar merah dan tumbuhan dedaunan. May merangkainya ruangan khusus. menyusun penuh konsentrasi pada bunga matahari yang diselingi tangkai bunga mawar lalu meletakkan tumbuhan dedauan hijau dibelakangnya. May mengikatnya menjadi satu lalu member lampisan kertas merah pertama, kembali melapisinya dengan kertas berikutnya berwarna coklat, lalu melapisinya kembali dengan kertas berwarna merah. Berikutnya May member pengikat pertama pada rangkaiannya, lalu mengingatnya dengan sebuah pita besar dan panjang membentuk pita berukungan besar dibagian tangkai pemegang buket. Buket bunga itu jadi setelah satu jam May berkutat pada perapian dan pembentukan buket bunga. Buket bunga tersebut sangat besar dan saat diangkat menutupi orang yang membawanya. Di rasa sudah cukup, May memberikan lebel toko mekera di bagian tangkai bunga. Lalu meninggalkannya di ruangan yang sejuk itu. `b`
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD