BAB 10 J for Just Stay

1078 Words
4a  Masih pada panggilan video yang dilakukan oleh Allata terlebih dulu pada May, pada saat pertama yang Allata baru saja ingin menyapa May dari panggilan video itu, Allata malah mendapatkan amukan dari May yang marah padanya karena tidak datang ke toko. “Iya-iya aku paham. Aku tidak akan lama, sampai kurasa kondisi kita aman mereka bosan melihatku yang berada di kantor Alex terus menerus barulah aku ke toko,” jelas Allata. “Baiklah-baiklah Nona Al, aku tidak akan mengganggumu dan menuntutmu macam-macam dalam beberapa hari ke depan. Tapi bisa kau kabulkan satu permintaanku?” May mengajukan sebuah permohonan pada Allata, yang membuat Allata menyengit bingung dengan ucapan May. “Apa?” tanya Allata. May tersenyum bahagia di tempatnya. “Beritahu Alex aku kirim salam padanya,” ucap May dengan kekehan malu yang ditahan. Allata menatap May sejenak, ia memfokuskan tatapannya pada mata May dan membuatnya risih ditatap seperti sedang dintrogasi oleh Allata. May lupa mengatakan bahwa tatapan Allata itu sangat mengintimidasi, kadang membuat orang yang ia tatap menjadi kikuh dan salah tingkah juga kebingungan dengan berpikir, “aku punya salah ya? Atau penampilanku ini aneh sekali? Atau tadi aku menyinggungnya?” baik itu sebagian contoh jika tatapan Allata itu membuat orang lain kurang nyaman itu intinya. “Jangan menatapku begitu Al!” marah May pada Allata dan Allata malah tersenyum dengan hanya salah satu sudut bibirnya yang terangkat membantuk senyum. Ya Tuhan… ingatkan May untuk memukul kepala Allata agar Allata tidak bersikap seperti itu dilain waktu. “Yak‼ Al! kau menyeramkan seperti p*****l!” marah May pada Allata. Bodohnya May malah mengatai Allata dengan menyebut Allata seperti p*****l sedangkan ia sendiri sudah dewasa jadi bagaimana Allata menjadi p*****l pada orang dewasa? “Jika aku tidak mau mengatakannya bagaimana?” goda Allata pada May, karena bukan rahasia lagi jika May menyukai Alex, tuan Allata. “Lagi pula bagaimana aku menjadi seorang p*****l jika kau itu sudah dewasa boleh aku ingatkan kau itu kakakku,” ucap Allata enteng. “Mati kau ditanganku Al, aku yang akan membunuhmu,” ancam May yang terdengar tidak main-main tapi ditanggapi tawa oleh Allata. “Kau menakutkan May,” ucap Allata membalas ancaman May. “Sudah ya, ingat jangan lama kau meliburkan diri,” ucap May lalu mematikan sepihak penggilan video tersebut. Allata tersenyum kecil lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Ia segera mengganti pakaiannya bersiap akan berangkat ke kantor Alex. Allata berangkat dengan BMW-nya.  Sesaat sampai di sebuah gedung yang memiliki 4 empat lantai di sebuah daerah yang orang-orang tidak menyangka itu adalah sebuah markas karena bentuknya yang sangat mirip dengan hotel di sebuah bukit. Allata menemui Alex. “Alex apa keadaan terkendali?” tanya Allata. Alex yang langsung mendapat pertanyaan seperti itu dari Allata menatap bingung karena sifat tidak biasa Allata yang terlihat tergesa-gesa. “Ada apa?” tanya Alex tepat pada sasaran bahwa Allata tengah merasa khawatir. “Semua dalam kendalimukan?” Allata malah balik bertanya pada Alex. Mau tak mau Alex akhrinya menjawab Allata. “Baik-baik saja. Semua aman, tidak ada yang diluar kendali, transaksi aman, hubungan dengan pemerintah aman. Memangnya ada apa? Apa ada sesuatu yang menggagu pikiranmu?” tebak Alex melihat wajah Allata yang semula ada sedikit raut khawatir mulai berubah kembali kaku dan tenang. “Aku merasa ada seseorang yang mengintaiku, bisa saja mereka adalah musuhmu,” ujar Allata, nyatanya musuh Alex adalah musuh dirinya juga. Membuat Alex tertawa karena ucapan Allata. “Hahaha… kau ini, musuhku musuhmu juga perlu kau ingat itu Allata,” seru Alex yang sedikit mendongak kebelakang di kursi kebesarannya karena menertawakan ucapan Allata. “Iya aku ingat itu,” tegas Allata. Allata kemudian duduk di sopa ruang ruangan Alex, membuka layar handponenya. Lalu Allata kembali bertanya, “Alex kenapa transaksi berikutnya kau ingin aku mencari lokasi yang lumayan terbuka seperti itu?” Alex menatap bingung Allata, sebab tidak biasa Allata bertanya tentang soalan yang dia sendiri sudah tahu pasti jawabannya. Allata itu cerdas, otaknya sudah terbiasa untuk berpikir keras dan rumit, sangat tidak mungkin untuk bertanya soalan yang sangan mudah untuk dijawab oleh komplotan pebisnis gelap seperti mereka. “Kau serius bertanya?” Alex malah balik bertanya kembali pada Allata. “Tentu saja,” seru Allata, yang membenarkan posisi duduknya untuk melihat tuannya yang sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya di balik meja kerjanya. “Kau pikir aku bercanda, cukup aneh lokasi untuk transaksi kita nanti bahkan dapat berbahaya,” seru Allata. “Kita tidak perlu tegang, kita bukan pencuri yang harus sembunyi-sembunyi, kita ini pebisnis. Tempat mana saja yang menjadi tempat transaksi kita tidak akan menjadi masalah,” papar Alex dengan entengnya. “Jangan meremehkan para musuh, mereka dapat melakukan apa saja agar dapat menjatuhkanmu, dan merampas hasil transaksi, tapi ku pikir ada benarnya. Kita bukan pencuri karena kita adalah pebisnis dengan modal sendiri bukan dengan mencuri bermodalkan mulut manis dan mengeruk kekayaan orang lain diam-diam tapi menghayutkan bahkan terkadang tidak malu-malu lagi untuk mencuri,” papar Allata panjang lebar, jarang sekali Allata berkata secerewet itu pada orang lain kecuali pada Alex atau pada orang terdekat Allata yang lain. Alex terperangah dan bingung. “Kau tidak sedang menyinggungkukan Al?” tanya Alex memandang curiga Allata. “Memangnya aku menyebut nama diucapanku? Atau sejenis merk yang dapat dikenakan pajak?” sebut Allata kembali. Alex gemas sendiri dengan ucapan Allata, yang sudah jelas Allata sedang menyingung pemerintah atau klien Alex sebagai detektif mengusut kasus korupsi atau pencurian asset Negara lainnya, yang tidak lain pelakunya adalah para penguasa itu sendiri. “Tumben sekali kau ingin stay di sini, sudah pergi ke tempatmu, jangan ganggu aku,” usir Alex. Allata mengangangkat satu alisnya dengan tersenyum miring. Ia pergi dari tempat duduknya semua, menuju ruangan tempat biasa ia bekerja. Bukan seperti ruangan khusus pada umumnya, karena itu hanyalah sebuah kamar ruang kerja yang berisi dengan komputer-komputer bersamaan dengan satu lemari besar alat medis dengan obat-obatan yang Allata perlukan. Ruangan  Allata melewati ruangan itu karena ada satu bilik kecil 3x4 meter di sudut ruangan yang ia lewati sebelumnya. Ruangan itu barulah tempat Allata mengerjakan sesuatu yang membutuhkan konsentrasi dan ketenangan. Dengan sisi kiri dinding berisi lemari yang tersembunyi, terlihat seperti dinding polos tapi sebenarnya adalah lemari tempat Allata menyimpan senjata-senjatanya, terdapat satu set pisau, empat buah belati, dua senjata laras panjang, dengan enam pistol dan salah satunya adalah pistol kesayangan Allata peninggalan sang papa. Di sisi kanan ruangan adalah dinding yang tertempel monitor-monitor pengintai dan di meja panjang berisi laptop dan komputer kerja Allata. Allata mengahabiskan beberapa harinya untuk kerja di kantornya, atau hanya berada di sana untuk mengawasi. Peran Allata memang dibutuhkan tapi Alex tidak membebankan Allata untuk selalu berada kantornya dengan syarat jika Allata dibutuhkan maka Allata harus berada di tempatnya berada di garis depan membantu Alex. Itulah tugasnya yang diperintahkan langsung oleh Rendra. Setelah 5 hari tidak berada di toko bunga, akhirnya hari ke 6 Allata mendatangi toko bunga mereka. Allata berjalan dengan santai keluar dari BMWnya dengan rambut tergerai, ia ingin bersantai dengan melihat bunga-bunga di toko saat menjaga toko menggantikan May. Hari itu adalah hari tumben Allata yang ingin menggunakan heels pemberian May. `a`
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD