BAB 9 I for i become me

1055 Words
3c “Maaf,” seru Allata tiba-tiba saat mobil mereka sudah berada di jalanan yang juga banyak kendaraan lain. May menyengit bingung melihat ke samping tempat Allata tengah mengemudi, wanita yang lebih muda darinya itu tetap memandang ke depan fokus pada jalanan. “Untuk?” tanya May. “Karena merusak acara jalan-jalan kita, yang jarang aku tepati,” jelas Allata, ia merasa tidak enak hati. Tapi ia tidak dapat memaksa keadaan sebagaimana orang-orang normal menjalankan hari-harinya, ia sudah mewanti ini adalah resikonya yang harus dihadapi. Orang yang mengenalnya tidak kalah baiknya adalah orang-orang yang ingin menjatuhkan dan melawan Alex. Mereka tentu saja sudah menyelidiki orang yang menjadi tameng berharga Alex, yaitu dirinya. Orang-orang mengakui bahwa ia bukan hanya seorang petarung tapi juga ahli strategi yang cerdas. “Tidak masalah Al, aku mengerti, kau memiliki rasa takut. Yang seharusnya meminta maaf adalah aku, yang kadang egois lupa memahamimu. Maafkan aku yang terkadang egois,” tutur May. Ia mengerti tentang Allata yang ingin melindunginya. Ia juga merasa kasihan pada sahabatnya itu. Allata diam kembali, begitu pula May. Saat begitu adalah masa Allata berkonsentrasi pada dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih baik tentang memahami sifat halus Allata yang tidak orang ketahui selain dirinya. Begitu pula Allata, dia diam artinya dia sedang memahami dirinya sendiri, karena menurutnya tidak ada yang lebih baik untuk mengenal dan mengerti dirinya, memahami apa yang dibutuhkan hati, pikiran dan tubuhnya saat lelah mengahadapi tekanan demi tekanan yang ia terima. Semua teka-teki yang terkadang terlintas dipikirannya kala ia mengingat masa lalunya. Setelah Allata memastikan May ia antar aman sampai ke kediaman keluarganya. Allata kembali mengemudikan kendaraannya menuju apartemen yang menjadi rumah minimalisnya. Cukup jauh dari kediaman May, dan rumah yang berbeda dari rumah yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Karena apa? Karena rumah masa remaja hingga dewasanya itu sudah tidak lagi menjadi milik mereka kala itu hingga kini. Faro, ayah Allata mengalami kebangkrutan yang melenyapkan semua harta bendanya. Menjadi awal kehancuran keluarga mereka. Allata sampai langsung membersihkan dirinya, membuat refresh seluruh tubuhnya dengan guyuran air dingin dimalam hari mendinginkan semua yang memang sudah dingin, hingga hatinya saja mungkun dapat beku karena kedinginan dirinya. Allata menikmati setiap detik dingin yang mengahampirinya, angin dingin yang menyapanya, air dingin yang mengalirinya. Sebentar ia termenung, karena ada sesuatu yang ai lupakan, tentang masa lalunya yaitu cinta pertamanya. Adakala ia pun merasa rindu pada teman kecil sekaligus cinta pertamanya. Setelah selesai Allata menikmati dinginnya air, Allata duduk di balkon apartemannya. Memandang langin malam yang ramai dengan bintang yang terlihat berkelap-kelip, lalu ia memandang ke depan. Kota yang terlihat tak jauh dari tempat ia berdiri pun sama kerkelap-kelipnya dengan banyak cahaya menyerupai bintang dari kejauhan, bedanya mereka memiliki warna yang berbeda-beda, merah untuk kendaraan, warna warni dari gedung-gedung yang memasang papan reklame besar dan orange untuk lampu-lampu dari gedung-gedung berpenghuni yang menjulang tinggi. Apartemennya memiliki dua lantai, ia sendirian terasa terlalu luas untuk ditinggali. Tapi begitulah ia memanjakan dirinya sendiri. “Kalian tidak sendirian, kalian juga, dan aku hanya udara malam yang dingin yang menemaniku yang setia ada di sisiku setiap malam, tidak ada kehangatan keluarga, aku merindukan itu,” gumam Allata pelan, bercerita pada bintang dan angin malam. Malam itu bulan juga terlihat jelas, menyinari semampunya dari sinar yang dapat ia pantulkan karena ia tidak memiliki sinarnya sendiri sama seperti Allata, ia juga merasa tidak memiliki sinarnya sendiri. Orang melihat ialah yang memancarkan sinar yang nyatanya ia hanya bersinar karena orang lain menyokongnya untuk bertahan. Allata terkadang membantah untuk ia tidak kesepian, ia bisa sendiri, karena begitulah caranya untuk mencari ketenangan dan istirahat dari semua kebisingan. Bagaimanapun orangnya, bagaimanapun sifatnya, tetap seseorang itu membutuhkan ruangnya sendiri untuk bersembunyi dan merenungkan hidupnya, yang telah ia lakukan, dan berkomunikasi pada hatinya. Ia sangat membantah jika ia membutuhkan seseorang di sisinya mendengarkan keluh kesahnya, mendengarkan ceritanya hari itu, mendengarkan mimpinya untuk hari esok. Seseorang yang dapat memberikan solusi atau diberikan solusi. Karena ia bisa sendiri. Tapi nyatanya itu bukanlah fakta dari dirinya melainkan hanya sebuah pertahanan untuk ia tidak melukai orang lain. Ketakutannya terus menghantui, yaitu kehilangan, lagi, lagi dan lagi. Walau telah terjadi berkali-kali tetap rasanya sakit. Tak mau terulang berkali-kali sebab rasa sakitnya masih sama. Ada sesuatu yang mengikutinya dan itu tidak terlihat oleh Allata. itulah yang ia takutkan, suatu saat menyerang semua orang yang ada disekitarnya. Sesuatu yang tidak dapat dielakkan, bukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya tapi sesuatu yang lain, yang sedang menunggu waktu tepat untuk semuanya terunkap perlahan. “Menyedihkan, kau takut tapi tidak tau apa itu ketakutan,” monolog Allata pada dirinya sendiri, ia tersenyum miring dengan mata tanpa senyumnya. “Kenapa aku terlalu berat membawa diri untuk memikirkan semuanya. Aku hanya butuh sabar, dan bersiap jika suatu saat semua yang tersembunyi di masa lalu kembali berkobar saja. Hidup atau matipun tidak ada bedanya. Sama-sama menyakitkan dan membunuh secara perlahan. Bahkan ku rasa mati langsung lebih baik daripada tersiksa, bukan begitu bulan?” tutur Allata seakan bulan adalah teman ia bercerita, mengungkap keanehan dirinya yang terlalu keras berpikir. Minggu pagi, Allata menghubungi May dengan video call  untuk memberitahukan bahwa ia meliburkan diri dari pekerjaan di toko bunga untuk sementara waktu. Hingga Allata merasa aman untuk ia kembali ke toko bunga dan bertemu dengan May. “Hal/-“ ucapan Allata terpotong karena ucapan May. “Al! ish baru menghubungi. Kau ini kebiasaan jika tidak kau yang menelpon duluan, sangat sulit sekali untuk menghubungimu!” kesal May saat menggakat panggilan dari Allata yang membuat panggialan video duluan. Allata terkekeh karena amukan May yang tiba-tiba tersebut. “Maaf-maaf. Ini aku menelponmu, tadi aku sedang mandi untuk bersiap-siap pergi,” ujar Allata, ia memposisikan dirinya duduk di sopa lantai satu apartemennya menghadap ke layar televisi. “Mau kemana lagi? Al aku paham sangat paham kau takut jika orang semalam membahayakan kita,  cuma kali ini kau jangan lama-lama menjauhiku, ok?” pinta May pada Allata dari sambungan panggilan video itu. “Aku ke kantor Alex. Kali ini aku menjauh tidak akan lama, kau tenang saja. Jangan rindu aku ya? Hahaha…” seru Allata dengan tawa diakhirnya. May yang mendengar tawa sahabatnya itu hanya bisa tersenyum, ingin membalas tapi ia tidak ingin membuat keruh perasaan Allata diwaktu sepagi ini. “Baiklah, aku tidak akan merindukanmu hanya saja kau tidak dapat mengelak untuk pekerjaan yang semakin banyak di toko, masa kau tega membiarkan aku mengerjakan semuanya. Mulai menanam, menyiram, memetik, merangkai, membungkus, menjualnya, menjaganya, dan bahkan mengantarnya kealamat,” keluah May pada Allata. Allata yang mendengarkan keluhan May hanya dapat tersenyum, ia tahu betul sibuknya toko saat ini karena semakin banyak yang mengenal toko mereka dan semakin banyak pula pesanan, dan semakin banyak pula bunga yang mereka harus tanam dan rawat. ~c~  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD