Muslihat Sang Bos

1092 Words
“Jadi… apa masalah sebenarnya?” tanya Brian saat sudah duduk di kursi di belakang meja kerjanya. Dia menyandarkan bahu dan menatap ke arah dua karyawannya yang tertunduk. “Resya, bisa jawab pertanyaan saya?” Pria yang ditanya langsung mendongak. Dia kemudian menoleh ke samping pada Arka, menatap penuh arti, apakah dia harus menceritakan yang sebenarnya atau tidak. “Resya?” ulang Brian dengan nada tak sabaran. Memang bukan karakternya untuk jadi orang yang sabar menunggu. Tapi bukan berarti dia seorang bos yang ceroboh. Dia melangkah dengan gesit setelah melakukan perhitungan matang. Itu yang selalu dia terapkan tiap mengambil keputusan dalam megaproyek-megaproyek besar. “A-a—“ “Saya terlibat utang dengan preman-preman tadi,” tiba-tiba Arka memotong ucapan Resya yang tersendat. Dan tak seperti niat Resya yang masih ingin mengarang alasan, Arka malah mengucapkan yang sebenarnya. Brian menaikkan alis. “Kamu?” tanyanya sangsi. Selama tujuh tahun jadi pegawainya, Brian merasa sudah cukup mengenal karakter Arka. Dan Arka bukan tipe orang yang berpikiran pendek sampai mau-maunya berurusan dengan lintah darat. “Berapa yang kamu pinjam?” “500 juta,” jawab Arka tanpa ragu. Kalau dia memang akan jujur, dia akan memilih jujur sampai tuntas, sampai ke akar. “Dan bunganya?” Ada kelu yang membuat lidahnya sejenak kaku untuk menjawab. “20 persen.” Ada hening yang panjang selama beberapa saat. “Kamu tahu kamu terlibat masalah besar di sini, kan?” Brian menaikkan alisnya ke arah Arka. Arka tak menyangkal, dia memberi anggukan. Bunga yang sebegitu besar yang perlahan tapi pasti akan mencekiknya. “Saya bisa membantu menyelesaikan masalahmu.” Mendengar ucapan atasan mereka, Resya langsung menatap dengan mata berbinar, sementara Arka menatap dengan waswas. Dia tahu bahwa bosnya tak mungkin melakukan amal cuma-cuma, bantuan yang dikeluarkannya pasti bukannya tanpa minta balasan. “Saya tahu kamu sudah berencana untuk resign. Dan saya juga tahu bahwa kalau kamu keluar dari perusahaan ini, ada banyak perusahaan lain yang akan langsung merekrutmu dan bahkan menawarkan posisi yang lebih tinggi dari jabatanmu sekarang.” Brian menghentikan kalimatnya. Kemudian menegakkan punggungnya dan merentangkan kedua tangannya di atas meja, dengan gestur berkuasa. “Saya bisa membantumu asal kamu tidak resign dari perusahaan ini. Dan tidak menuntut kenaikan jabatan. Bagaimana?” Brian memiringkan sedikit kepalanya, tersenyum dengan penuh kemenangan pada karyawannya. Kini dia punya alasan untuk mempertahankan sumber daya manusianya yang berharga, tanpa perlu menaikkan jabatannya. “Ah, aku harus segera memberi tahu Siska kabar baik ini,” batin Brian. Siska adalah karyawan yang jabatannya setara dengan Arka. Dan tahun ini keduanya sedang memperebutkan kenaikan posisi yang sama. Semua orang bisa melihat bahwa yang pantas naik jabatan adalah Arka. Di samping pria itu lebih senior, prestasinya dalam menghandel setiap proyek besar sudah tak diragukan lagi. Sementara Siska masih berkutat dengan proyek-proyek kecil. Namun yang tak diketahui orang-orang, sementara Arka berusaha keras dengan kemampuannya sendiri, Siska memiliki baking yang kuat. Siska adalah kekasih gelap sang bos, Pak Brian. Brian bisa membayangkan bahwa nanti saat dirinya memberi tahu kabar ini, Siska pasti akan melonjak-lonjak senang. Perempuan itu pasti langsung menyerbunya dengan ciuman-ciuman, bahkan memberinya pelayanan yang memuaskan tanpa perlu diminta. Dalam hati Brian mengerang. Betapa dia memuja tubuh Siska yang sintal dan berlekuk-lekuk di tempat yang tepat. Dia bisa menghabiskan waktu semalaman memuja setiap lekuk tubuhnya yang mulus dan kencang, penuh dengan aura muda. Berbeda dengan istrinya di rumah yang sudah tua dan tubuhnya bergelambir penuh lemak. Membuatnya jangankan bernafsu, memandangnya saja dia jadi muak. Jujur saja, ini bukan pertama kalinya Brian berselingkuh. Ada beberapa perempuan lain sebelum Siska. Namun biasanya Brian menghindari hubungan dengan bawahannya di kantor, selain ingin menghindari tertangkap basah oleh karyawan yang lain, Brian juga tak pernah menganggap menarik karyawan-karyawan perempuan di sekelilingnya yang biasanya mengenakan stelan kaku tertutup. Tapi Siska berbeda. Sejak pertama kali masuk ke kantor ini, wanita itu sudah muncul dengan penampilan seksi. Dengan bajunya yang berbelahan rendah, rok yang ketat mencetak kedua b****g sekalnya, dan high heel yang makin membuat jenjang kakinya. Brian menarik napas kasar saat pertama kali melihat Siska. Wibawa yang dimilikinya sebagai pria berusia kepala lima nyaris luluh lantak di hadapan godaan wanita itu. “Tak apa meski Siska tak seberpengalaman Arka dalam mengurus pekerjaan, toh ada aku yang akan membimbingnya,” pikir Brian. Brian ingat bahwa beberapa minggu ini sejak kompetisi kenaikan jabatan dimulai, kekasih gelapnya itu jadi sering uring-uringan, mengeluh bahwa tekanan yang diterimanya di kantor semakin bertambah, proyeknya semakin susah ditangani, dan dia harus lembur demi menyelesaikannya. Membuat waktunya dengan Brian berkurang. Brian jadi kasihan dan ingin membantu wanita pujaannya itu. Namun bagaimana caranya yang sulit. Bagaimana caranya membantu Siska tanpa harus tampak mencurigakan di mata karyawannya yang lain? Jujur saja, Brian juga tak senang harus menghadapi suasana hati Siska yang murung. Dia menginginkan Siska kembali menjadi wanita yang bersemangat, penuh aura positif, dan tentu saja liar bersamanya di atas ranjang. Kini, setelah Brian akhirnya menemukan cara agar kekasihnya itu bisa naik jabatan, Brian tidak bisa tidak tersenyum amat lebar. Dia menunggu-nunggu momen nanti malam. Namun, senyum kemenangan Brian lenyap begitu saja saat Arka menjawab dengan kata yang amat di luar bayangannya. “Maaf, Pak, saya tidak dapat menerima bantuan Bapak. Dan saya juga tetap akan resign dari kantor ini. Surat permohonan resign sudah diproses pihak personalia kemarin. Terima kasih.” Bukan hanya Brian yang terkejut, Resya pun menganga tak menyangka dengan keputusan sahabatnya. Begitu Arka berbalik pergi dari ruangan itu, Resya buru-buru mengucap permisi dan berlari mengejar Arka. “Woi! Lo gila, ya? Mau nyari uang di mana lagi, ini udah mau dikasi sama si bos, malah sok-sokan lo tolak. Pake mau resign segala. Denger ya, harga diri lo itu bisa disimpan dulu bentar sampai setidaknya lo udah nggak punya urusan lagi sama preman-preman k*****t itu.” Pipi Resya tampak memerah, amarah sudah memuncak hingga ubun-ubunnya. Arka yang berjalan di depan, saat mendengar perkataan Resya, tiba-tiba berbalik. Tatapannya balas mendelik ke arah Resya. “Lo yakin nyaranin gue itu? Seinget gue kemarin lo nyaranin Jangan mau-maunya bayarin utang yang bukan utang lo. Ini utang Acung, mestinya ya dia yang bayar.” Arka pura-pura menirukan mimik muka Resya yang berapi-api beberapa minggu yang lalu saat mengucapkan kalimat yang sama, yang kemudian menuntun Resya untuk pulang kampung. Resya tergeragap, merasa tertampar oleh kalimatnya sendiri. “Ya … gue bilang gitu kemarin kan karena nggak ada solusi lagi. Sekarang kan beda. Pak Brian ngasi solusi ke lo.” “Itu bukan solusi, Resya. Gue yakinin lo, sekali gue nerima tawaran Pak Brian, gue nggak akan punya hak lagi atas diri gue di dunia kerja.” Setelah mengucapkan itu, Arka berderap pergi, meninggalkan Resya yang masih termangu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD