“Mana yang namanya Arka? Sini keluar! Punya utang kok main kabur aja!” seru seorang pria dengan tubuh besar. Otot-otot di lengannya menyembul dari balik kaus hitam ketat yang dikenakannya. Kalung rantai emas menjutai di lehernya. Dia membanting kursi yang ada di seberang konter resepsionis. Membuat resepsionis perempuan yang bertugas di sana menggigil ketakutan. Dengan tangan gemetar resepsionis itu segera menelepon satpam.
Seorang pria yang mengenakan celana dan jaket jins, dengan rambut gondrong yang menjuntai awut-awutan, tampak berdiri di samping pria yang berteriak-teriak tadi. Pria ini tak ikut membanting barang, namun ekspresi garang di wajahnya menunjukkan bahwa kalau kemauan mereka tak dituruti, dia bukannya tak akan ikut beraksi.
Dua sekuriti segera bergegas dari pos mereka setelah mendapat telepon dari sang resepsionis.
“Ada apa ini, Pak? Kalau mau bikin keributan tolong jangan di sini,” ucap sekuriti bernama Wawan, masih mencoba ramah.
“Heh! Gua nggak bakal bikin keributan kalau nggak diajak ribut duluan. Mana itu yang namanya Arka? Panggil dia, atau gua acak-acak tempat ini!” ancamnya.
Dua sekeruti itu tampak saling pandang. Mereka memang mengenal pegawai yang bernama Arka di gedung yang mereka jaga. Tetapi mereka tak dapat memikirkan, masalah apa yang bisa menyeret nama Pak Arka hingga berurusan dengan dua preman kasar ini. Setahu mereka Pak Arka adalah pegawai yang santun, selalu menyapa kala melintasi pos satpam dari atas motornya, bahkan kemarin mereka berdua kebagian oleh-oleh khas kampung yang dibagikan Pak Arka secara murah hati. Orang semacam ini, menurut mereka, tentulah bebas dari catatan kriminal.
Orang-orang mulai berkerumun mendengar suara keras si preman. Mereka berbaris cukup jauh untuk menghindar dari hantaman-hantaman yang tak diinginkan, tapi cukup dekat untuk bisa ikut menguping.
Wawan melirik perempuan di meja resepsionis yang tadi meneleponnya, kemudian memberi anggukan, menyilakan perempuan itu untuk menelepon ke lantai tempat Arka bekerja.
Tak lama kemudian, pria yang namanya sejak tadi disebut-sebut, muncul. Disusul satu pegawai lain yang berekspresi tak kalah tegang dengan pria yang disusulnya. Orang-orang di kantor itu mengenal dua pegawai ini memang cukup dekat satu sama lain, bahkan kalau tak salah mereka berasal dari kampung yang sama.
Ya, dua sosok yang datang adalah Arka dan Resya.
Resya yang biasanya selalu berpembawaan riang dan mempunyai sorot mata menggoda ala Don Juan, kini semua ekspresi itu terhapuskan, terganti ekspresi serius dan kegeraman yang tertahan.
Sementara Arka, wajahnya pias. Dia tak menyangka bahwa para rentenir itu akan mengejarnya sampai kemari. Bahwa mereka berani menginjakkan kaki ke tempat ini, mereka pasti akan mempermalukan dirinya kalau tak mendapat apa yang mereka mau.
“Ngapain lo ke sini?” desis Arka setibanya di depan preman dengan kaus ketat hitam.
“Elo nggak usah nanya ngapain lagi, kayak yang udah lupa aja ama urusan kita. Ya gue mau nagih utang lah! Lo kira gue mau silaturahmi kemari?!” hardik preman itu.
Arka tak tahan diperlakukan seperti ini, dipermalukan di depan umum seperti ini. Apalagi makin banyak pegawai lain yang berkerumun, mengelilingi mereka dari jarak jauh seakan mereka ini adalah tontonan seru. Arka menudingkan telunjuknya pada hidung si preman kemudian berkata, “Yang punya utang itu Acung. Yang punya urusan sama lo itu dia, gua nggak ikut-ikutan. Mestinya yang lo cari itu dia, bukan gue!”
“Lo nggak usah sok-sokan lepas tangan ya, nama lo ada di perjanjian sebagai penjamin. Acung ngilang, berarti itu tanggung jawab lo buat bayar! Jangan jadi pengecut!”
Arka menggeram, habis kesabaran. Namun sebelum sempat dia melayangkan pukulan, dari arah belakang Arka mendengar geraman buas, kemudian sebuah tubuh menerjang ke depan, dan melontarkan pukulan ke pipi si preman berkaus hitam.
Ternyata Resya yang menyerang.
Dan seakan hanya butuh sedikit percikan api untuk berkobar, kedua preman itu pun balas menyerang.
Arka tak tinggal diam. Saat melihat preman yang satunya—yang berambut gondrong—hendak memukul Resya dari belakang, Arka buru-buru menghadangnya, menyurukkan bahunya. Kini Arka berhadapan dengan si gondrong, sementara Resya dengan si kaus hitam.
Si gondrong tampak tak senang karena Arka telah mencegatnya, dia mendesis dengan bibir tertarik ke atas dan menatap Arka seakan Arka adalah kecoak yang perlu dibasmi.
Satu pukulan melayang, tapi Arka berhasil berkelit. Arka balik membalas, tangannya meninju perut si gondrong yang sekeras batu, membuat Arka juga merasakan sakit di kepalan tangannya. Si gondrong terkekeh melihat ringis kesakitan Arka.
Sebelum keadaan semakin memanas, dua sekuriti beserta beberapa karyawan laki-laki turun tangan melerai. Mereka cukup kesusahan menahan kedua preman itu, namun akhirnya dua sosok sangar itu berhasil didiamkan ketika diancam dengan kata “polisi”.
“Urusan ini belum selesai!” sentak preman berkaus hitam sambil menunjuk Arka, dan bahkan memberikan gestur memukul dengan kepalan tinju pada Resya.
Resya sempat terpancing, namun seorang karyawan laki-laki yang masih memeganginya, mengencangkan pegangannya pada lengan Resya. Membuat Resya mengentak-entak di tempat.
“Ada apa ribut-ribut ini?” ucap suara dingin yang langsung membuat seisi orang di sana terdiam. Bahkan Resya yang sempat terpancing oleh ucapan terakhir si preman, amarahnya seketika padam. Tubuhnya kaku.
Saking lengangnya tiba-tiba suasana, membuat langkah kaki pemilik suara dingin tadi terdengar nyaring di lantai 1 itu. Semua orang menunduk, mereka tahu siapa pemilik suara dingin tadi bahkan tanpa perlu mendongak untuk mengecek.
“Saya tanya, ada apa ribut-ribut ini?” ulangnya.
Seorang pria berusia 50-an, dalam balutan jas hitam yang melekat pas di tubuhnya, berjalan ke tengah koridor. Matanya menatap ke sekeliling, alisnya terangkat, menunggu jawaban.
Suasana hening dalam ketegangan.
“Maaf, Pak, ini salah saya,” ucap Arka, memecah suasana.
Resya yang juga sejak tadi menunduk, seketika mendongak. “Tidak, Pak, ini salah saya.”
“Tidak, Pak Brian, ini masalah saya,” bantah Arka lagi. Bahkan meski Resya yang pertama kali memulai perkelahian, tapi Arka tahu bahwa temannya ini melakukannya karena marah atas nama Arka. Dan Arka merasa berterima kasih untuk itu.
Orang yang dipanggil Pak Brian itu pun menatap bolak-balik antara dua pegawainya. Lebih mudah untuk memercayai bahwa Resya-lah yang punya andil atas masalah ini, yang membuat dirinya harus turun ke lobi karena saat menyuruh sekretarisnya mengambil berkas yang ditangani Arka, sekretarisnya bilang Arka tidak ada, dengan raut gelisah. Tentu saja Brian mengendus ada masalah yang tak beres di sini.
Dan saat pergi sendiri ke kubikel pegawai teladannya—ya, Arka adalah salah satu aset berharga yang dimiliki perusahaan ini—dia pun mendengar bahwa ada perkelahian di lantai 1. Dan salah satu yang terlibat adalah pegawai yang Brian cari.
“Arka, Resya, ikut ke ruangan saya,” putusnya. Lalu berbalik ke arah lift. Namun saat mendengar tak ada satu langkah kaki pun yang beranjak, Brian menoleh ke belakang. “Tunggu apa lagi?” ucapnya pada Resya dan Arka. Kemudian Brian mengitarkan pandangannya, “Kalian semua, kembali ke tempat kerja masing-masing. Jangan sampai saya melihat ada yang bermalas-malasan mengurus hal tidak penting.”
Semua pegawai kontan saja bubar.
Tinggal Resya dan Arka. Keduanya berpandangan. Resya mengedikkan bahu, tak acuh. Arka menghela napas. “Ayo,” ucapnya, lalu naik ke lantai 5 tempat ruangan sang bos berada.