Nilam tampak menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum kemudian memutuskan menyeberang menghampiri putranya, dan Arka.
“Jagoan Mama kok dapat balon banyak banget, dari siapa?” tanya Nilam dengan suara riang dan bersemangat yang biasanya selalu dipakai para orang tua untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang masih kecil.
“Dikasi Om,” sahut Zidan, sambil menunjuk pada Arka dengan tangannya yang bebas tak memegang tali balon.
Arka hanya mengulum bibir, tersenyum. Untuk sesaat tatapannya beradu dengan tatapan Nilam yang mendongak ke arahnya.
“Calon mantu yang baik.” Arka berusaha menghalau bayang-bayang perkataan ibunya soal Nilam.
“Dikasi atau minta?” kali ini nada Nilam tampak seperti menegur putranya.
Arka buru-buru menimpali. “Tadi aku nggak sengaja mecahin balonnya Zidan. Jadi aku ganti dengan ini.”
Nilam berganti-ganti memandang antara Arka dan putranya. Kemudian akhirnya memilih memercayai ucapan Arka. Perempuan itu tersenyum, amat manis, beda dengan mbak-mbak penjaga konter snack tadi yang manisnya amat palsu. Berbeda juga dengan perempuan-perempuan yang ditemuinya di kota. Perempuan-perempuan yang tersenyum dengan nada mengundang penuh rayuan. Senyum Nilam berbeda. Tampak manis, dan polos. Dan entah kenapa sampai Arka sempat-sempatnya membandingkan.
“Udah bilang makasih belum sama omnya?”
Bocah itu tampak mengerjap-ngerjap, kemudian cepat-cepat berbalik ke samping menghadap Arka. “Makasih banyak, Om,” ucapnya dengan kesopanan yang terlatih. Arka jadi makin gemas dan tak bisa menahan diri untuk mengusap rambut anak itu, mengacak-acaknya sampai Zidan manyun.
“Kak Arka kapan pulang?” tanya Nilam, untuk pertama kalinya berbicara secara langsung pada Arka.
“Seminggu yang lalu. Ini udah mau balik ke Jakarta,” jawab Arka.
Untuk sesaat mata Nilam melebar mendengar jawaban itu. “Kok buru-buru sekali, Kak. Padahal udah lama sejak terakhir kali Kakak pulang kampung.”
Arka menaikkan alisnya, heran ternyata sahabat adiknya ini memperhatikan soal ketidakpulangannya yang lama.
“Tante sering bilang ke Nilam kalau Tante kangen Kak Arka, tapi mau nyusul ke kota takut masuk angin kalau naik bus kena AC.”
Arka tergelak sebentar. Ibunya memang paling anti dingin. Saat musim panas pun ketika seisi penghuni rumah berebut-rebut kipas, ibunya tak ikutan. Kalau gerahnya sudah keterlaluan, ibunya memilih langsung mandi, tak pernah mau pakai kipas. Takut masuk angin, perut begah, katanya.
Arka memilih tak menjawab ucapan Nilam. Daripada itu, Arka lebih ingin menanyakan kabar Nilam, apakah dia baik-baik saja setelah ditinggalkan suaminya.
Setelah menolak perasaan Nilam bertahun-tahun yang lalu, Arka memang tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Nilam. Apalagi setelahnya Arka pergi ke kota melanjutkan kuliah, dan saat pulang kampung dirinya lebih sering bertandang ke rumah Danu, sehingga dalam kesempatan yang singkat itu dia jarang bertemu dengan Nilam. Atau mungkin bahkan tak pernah bertemu lagi, Arka tak ingat. Arka juga tidak pernah sekali pun menanyakan soal Nilam di telepon, baik kepada ibu atau adiknya, lagi pula untuk apa? Toh Arka tak memiliki kepentingan apa-apa lagi pada Nilam selama ini. Waktu awal kuliah, dirinya hanya fokus pada perkuliahan, kemudian memasuki dunia kerja dirinya pun fokus pada tugas-tugasnya sebagai karyawan. Dan orang rumah pun juga tak pernah menyebut-nyebut nama Nilam, bahkan saat Nilam memutuskan menikah dengan pria dari tempat yang jauh, atau saat suaminya meninggal; tak ada cerita-cerita tentang Nilam yang tersampaikan pada Arka. Sehingga otomatis Nilam tersingkirkan dengan mudah dari pikiran Arka selama bertahun-tahun ini.
Tetapi sekarang, ketika berdiri berhadapan dengan perempuan ini, tiba-tiba Arka menyesal kenapa tak pernah bertanya soal kabar Nilam. Perempuan ini pasti telah mengalami banyak hal sulit beberapa tahun ini.
Tepat ketika Arka ingin bertanya kabar Nilam, seorang kernet berteriak, bahwa bus jurusan Jakarta sudah mau berangkat.
Arka kembali menoleh ke arah Nilam, dan lagi-lagi mereka saling bertatapan.
Entah kenapa Arka merasa bukan hanya dirinya yang memiliki begitu banyak hal yang ingin disampaikan.
Arka menghela napas, mungkin sekarang memang bukan waktu yang tepat, pikirnya. Kemudian pria itu menunduk, dan kembali mengacak-acak rambut Zidan.
“Jaga Mama, ya. Om pergi dulu,” ucap Arka sebelum pergi.
Sesampainya di Jakarta
Saat membuka pintu apartemennya, Arka merasakan perasaan yang tak disangka-sangka. Dia kira dia akan bernapas lega kalau sudah sampai ke tempat yang berhasil dibelinya sejak tiga tahun yang lalu; dia kira akan merasa bersyukur akhirnya bisa lepas dari rongrongan ibunya soal jodoh, ternyata yang ada malah Arka merasa hampa.
Dan ini tak ada hubungannya dengan fakta bahwa selama di kampung dirinya tak berhasil melacak keberadaan Acung. Arka sudah mencoba menanyai kedua orang tua Acung, tentu dengan tak blak-blakan mengungkapkan kebejatan anak mereka. Karena meski kesal setengah mampus pada Acung, tapi Arka tak tega menyakiti hati kedua orang tua Acung yang sudah renta, yang selama ini selalu membangga-banggakan anaknya dengan bilang bahwa Acung telah sukses di kota. Mereka tidak tahu bahwa “kesuksesan” itu diraih dengan cara haram.
Arka juga sudah menanyai teman-teman di kampung yang biasanya akrab dengan Acung. Mungkin saja Acung dan mereka masih saling kontakan, dan Acung ada bilang soal keberadaannya. Namun nihil. Acung hilang tak berjejak. Namun Arka percaya, pada saatnya, pria itu pasti akan menampakkan hidungnya di kampung.
Arka jelas merasa kesal dengan ketakberhasilannya menemukan Acung. Namun bukan ini yang membuatnya merasakan hampa ketika sudah sampai ke apartemennya.
Menatap pada sepenjuru ruangan, yang resik persis sebagaimana terakhir ditinggalkannya, kecuali mungkin soal debu, Arka merasa bukan di tempat ini dia ingin menghabiskan hari.
Tapi kalau bukan di tempat ini, di mana lagi? Apa dirinya benar-benar ingin menetap di kampung dan bekerja mengangon sapi bersama Danu?
Arka menggelengkan kepala, memilih memasukkan kardus-kardus dari kampung ke dalam apartemennya. Ingatkan dirinya untuk minta traktir pada Resya karena sudah membawakan begitu banyak barang titipan dari ibunya.
Pria itu kemudian memutuskan mandi untuk menghalau bau khas pengharum bus yang bukan hanya menempel di bajunya, tapi serasa menyerap hingga ke kulitnya.
Satu hal lagi tentang Arka, pria ini memang cinta kebersihan. Dulu sewaktu kuliah dan tinggal ngekos bersama dengan Danu dan Resya, Arka jadi satu-satunya orang yang waras yang mau membersihkan area kosan. Kalau saja tidak ada Arka, kosan mereka pasti umpama sarang kecoak. Sebab meski Resya suka berpenampilan necis dan perlente, tapi dia hanya suka mengurus penampilan tubuhnya, dan masa bodo pada tempat tinggalnya.
Kalau Danu lain lagi, dia selalu bilang, dirinya suka menyatu dengan alam. Memang tak salah, mengingat kini Danu suka memelihara sapi, kerbau, dan hewan ternak lainnya, juga suka terjun langsung ke sawah. Namun, Arka yakin pasti alasan soal “suka menyatu dengan alam” yang digunakan Danu semasa kuliah itu hanya bualan. Mana ada orang yang suka menyatu dengan alam lewat kecoa dan tikus.
Usai mandi, Arka tak langsung tidur sebagaimana rencananya semula. Dia memilih membuka laptop dan memeriksa pesan-pesan di email-nya. Mengecek apakah ada laporan penting di kantor yang masuk, atau tugas mendesak yang mesti dia handel.
Bahkan kemarin saat ada di kampung, dan dirinya sudah nyata-nyata mengambil izin cuti, namun pekerjaan-pekerjaan di kantor masih berjubel masuk minta segera diperiksa oleh Arka.
Kalau saja tidak ingat bahwa misinya pulang ke kampung adalah untuk melacak jejak Acung, Arka mungkin akan segera mengemas barang-barangnya lagi dan langsung memutuskan kembali ke Jakarta. Rasanya tak enak diburu-buru pekerjaan seperti ini.
Terpaksa Arka mengerjakan beberapa laporan yang paling mendesak lebih dulu, membuat ibunya sempat menegur, “Pulang kok masih ngurus kerjaan.” Dan menyuruh Arka untuk bantu-bantu ibunya saja, atau sana habiskan waktu bersama Bapak. “Meski diam begitu dan tidak bilang apa-apa, tapi sebenarnya bapakmu itu kangen sama kamu, Ka,” ucap sang ibu. Membuat Arka akhirnya benar-benar menutup laptop.
Kini setelah sampai di apartemennya sendiri, Arka kembali berkutat dengan pekerjaannya. Mengabaikan penat yang sebenarnya mendera tubuh, dan jiwanya.