Bertemu Nilam (2)

1246 Words
Sesampainya di terminal, setelah menurunkan beberapa kardus—yang kesemuanya adalah oleh-oleh, barang milik Arka hanya yang ada di ransel yang kini ada di punggungnya—dan memasukkannya ke bagasi bus yang masih stand by, kemudian Arka berpamitan pada ibu dan adiknya. Ibunya, seperti yang sudah bisa Arka tebak, meneteskan air mata dan sesenggukan saat memeluk Arka. Kembali ibunya menagih janji bahwa Arka harus sering-sering pulang, dan jangan lupa bawalah calon istri. Arka mengangguki, meski dalam hati tak menyanggupi permintaan yang terakhir. Kemudian salam perpisahan dengan Nida lebih ringkas, meski juga melibatkan air mata. Dari sejak kecil, Arka dan Nida memang saudara yang amat dekat. Arka menyayangi Nida, dan Nida pun juga menghormati Arka. Lalu dengan Lutfi, Arka tetap menjabat tangan adik iparnya itu, meski satu-satunya yang ingin dilakukannya pada pria ini adalah memberi pelajaran supaya sadar soal posisinya sebagai suami dan menantu. Belum pernah ditatar soal rasa hormat sepertinya orang ini. Rombongan kecil itu sebenarnya ingin menunggu hingga bus yang akan ditumpangi Arka berangkat, tetapi Nida menerima telepon bahwa Rafael mulai rewel menanyakan dirinya. Anaknya itu memang ditinggal dan dititip pada mertuanya—orang tua Lutfi. Sehingga Nida harus buru-buru pulang, dan perpisahan itu pun dicukupkan di sana. Arka memandang pada mobil putih itu yang melaju menjauh. Kemudian memilih berjalan ke area kantin untuk membeli rokok. Dia tadi sudah bertanya pada kernet busnya, dan mereka bilang masih menunggu beberapa penumpang lagi, sepertinya masih akan menghabiskan waktu yang lama. Dan daripada dirinya langsung masuk ke bus, lebih baik dia menghirup udara di luar dulu sebelum nanti terkungkung dingin AC dari berbagai sudut. “Rokoknya 1, Mbak,” ucap Arka pada mbak-mbak penjaga konter snack. “Ada lagi, Mas?” tanya mbak-mbak itu dengan nada genit, melirik Arka dengan tatapan juga genit. Arka menggeleng, dan langsung mengambil rokok beserta kembaliannya. Namun Arka tak bisa bisa menghindar ketika dengan lincah perempuan itu melarikan jari-jarinya mengusap tangan Arka. Arka memelot, namun perempuan itu hanya terkikik dengan senyum dimanis-maniskan. Arka buru-buru pergi dari tempat itu dengan dengkusan kesal. Siapa bilang laki-laki tidak mungkin mengalami pelecehan. Di antara mereka bertiga—Arka, Resya, Danu—Arka adalah yang paling sedikit punya pengalaman dengan perempuan. Bahkan pengalamannya yang paling jauh pun tidak sampai bablas membuatnya melepas keperjakaan. Arka dan perempuan itu—perempuan yang berhasil dipikat Resya untuk jadi pasangan double date “temannya yang mengenaskan”, begitu sebutan Resya pada Arka waktu itu saat menyela kerumunan perempuan di bar—hanya sempat berciuman, dan ketika perempuan itu merenggut kemeja Arka untuk membuka kancingnya, segala deru napas Arka yang membara berhenti. Dia menghentikan aksi panas mereka, meminta maaf pada perempuan itu, kemudian pergi. Entahlah. Arka hanya merasa bukan ini yang diinginkannya. Bukan cinta satu malam bersama wanita random yang keesokan harinya akan menghilang dengan hanya meninggalkan note berbekas cap bibir, yang Arka inginkan. Arka menginginkan hubungan jangka panjang, hubungan yang serius. Sebuah pernikahan. Dan ada satu nama perempuan di kantor Arka yang membuatnya tertarik. Meski beberapa pertimbangan lagi-lagi membuat Arka ragu untuk mengambil langkah serius. Arka bahkan belum menyatakan perasaannya pada perempuan itu. Mungkin karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Arka sampai tidak menyadari seorang anak kecil yang membawa balon berlari ke arahnya. Dan sialnya, balon yang mengawang itu terantuk ujung rokok yang baru Arka sulut. Kontan saja anak itu menangis saat balonnya meletus. Arka meringis, merasa bersalah sekaligus kasihan pada anak kecil dengan kaus bergaris-garis putih biru ala pelaut itu. Segera Arka berlutut untuk menyejajarkan tinggi mereka. “Om minta maaf ya,” ucap Arka dengan nada ramah. Tapi anak kecil di hadapannya tetap meraung. Arka meringis, melirik ke kanan-kiri pada orang-orang di area kantin yang beberapa mulai memperhatikannya. “Sebagai gantinya, Om bakal beliin kamu balon lagi asal kamu mau maafin Om.” Anak kecil, yang Arka tebak berusia kira-kira 3 tahun itu menghentikan sedu sedannya sebentar, hanya sebentar, lalu menangis lagi. “Om beliin kamu dua balon.” Anak kecil itu tetap menangis. “Tiga?” tanya Arka. Anak kecil itu menggeleng, membuat poni yang dicukur rata di atas alisnya itu bergoyang-goyang. “Empat?” tawar Arka. Anak itu mengangguk, dan langsung menghentikan tangisnya. Arka terkekeh, dalam hati berpikir bahwa anak ini jago bernegoisasi. “Beli di mana balonnya—em, siapa namamu?” tanya Arka, kebingungan mau merujuk nama apa. “Zidan,” sebut anak itu. “Oke, Zidan, tunjukin sama Om kamu beli balonnya di mana?” “Di situ.” Zidan menunjuk abang-abang yang menghampar jualannya di dekat pagar taman kecil di terminal itu. “Ayo, kita beli balon.” “Ayo!” sahut Zidan dengan suara riang, tak tersisa sama sekali jejak bahwa satu menit yang lalu dia menangis. Hanya pipinya yang basah dan matanya yang bengkak yang menjadi bukti bahwa dia sempat menangis. Menyadari itu, Arka mengusap pipi Zidan dengan tangannya yang besar. Sesampainya di depan abang penjual aneka macam mainan anak-anak, Zidan langsung menunjuk sendiri balon-balon yang diinginkannya. Pria paruh baya yang menjadi penjual itu tampak senang karena dagangannya laku. “Ini, Om,” ucap Zidan dengan cengiran senang khas bocah. Dia menunjukkan empat balon yang kesemuanya berwarna biru. Arka mengangguk lalu segera membayarnya. “Kenapa semuanya warna biru?” tanya Arka penasaran. Biasanya anak-anak suka membeli barang dengan warna berbeda-beda. “Zidan suka laut.” “Oh ya?” Zidan mengerutkan dahinya, terpaksa mendongak untuk menatap Arka. Rautnya seakan terganggu karena kesenangannya bermain dengan balon harus disela untuk menjelaskan sesuatu yang menurutnya gamblang pada orang dewasa ini. “Zidan suka laut. Laut warna biru. Zidan mau balon warna biru,” jelasnya runut. Arka tertegun, terkesima dengan kepintaran bocah yang menurut taksirannya tak mungkin berumur lebih dari tiga tahun. “Emangnya Zidan kalo gede mau jadi apa?” Entah kenapa Arka merasa gemas dengan anak di depannya, dan mengobrol dengan anak ini sepertinya cukup menyenangkan untuk menghabiskan waktu sembari menunggu busnya berangkat. “Bajak laut!” Anak itu menjawab dengan tegas, seakan pilihan menjadi bajak laut sudah dipikirkannya dengan matang dan tak bisa diganggu gugat. Arka tak bisa menahan senyum. “Oh ya?” tanyanya lagi. Zidan mengangguk mantap. Arka ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi kemudian menyadari satu hal. “Kamu ke sini sama siapa, Zidan?” tanya Arka, mulai khawatir karena sejak tadi anak ini hanya berjalan sendirian dan belum ada satu pun orang dewasa yang mencarinya. “Sama Mama,” jawab Zidan singkat, lebih mengindahkan balon-balonnya. “Mama kamu di mana?” Arka memandang ke sekitar area terminal. Tak ada tanda-tanda mama Zidan, atau ya dia berharap ada seorang perempuan mirip Zidan yang sedang berlari-lari dengan raut cemas karena kehilangan anaknya. Tapi tak ada. “Tuh!” Zidan menganggukkan kepalanya ke arah kursi panjang di selasar yang berseberangan dengan tempat mereka berdua sekarang. Arka mengikuti ke arah yang ditunjuk Zidan dengan pandangannya. Seketika pria itu mematung. Di seberang sana Arka melihat sosok yang namanya dalam beberapa hari ini sering disebut sang ibu, sosok yang meski sudah bertahun-tahun tak dilihatnya, namun Arka masih bisa mengingatnya. Sosok itu jelas-jelas berubah, jadi lebih cantik. Rambutnya panjang di bawah pundak, dengan bagian ujung yang mengikal alami. Mata dan alisnya tampak serasi dengan hidung mungilnya yang lancip, serta bibir penuh yang diwarnai dengan lipstik warna merah muda. Perempuan itu tampak makin berkilau dalam baju warna kuning dan rok mengembang yang menutupi hingga bawah lututnya. Pantas saja kalau Arka tak langsung menyadari keberadaan perempuan itu, karena tadi yang dicarinya adalah sosok yang mirip dengan Zidan, sementara Zidan sama sekali tak mirip dengan ibunya. Dan sosok itu tengah tersenyum padanya. Nilam, batin Arka menyebut nama sosok itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD