Bab 9. Membalas Kesombongan Melodi

1013 Words
Andrea mengecek kartunya, tidak ada yang salah pada miliknya. Andrea lalu meminta pihak penyelenggara untuk mengecek alat tersebut, dia yakin tidak ada masalah pada kartunya karena itulah dia tidak rela di ejek oleh Melodi karena kesalahan yang tidak dia lakukan. “Sudahlah kalau nggak mampu nggak usah sok, palingan kartu itu juga bohongan.” Melodi tertawa puas mengejek Andrea yang kebingungan. “Tolong cek alat anda, tidak ada masalah dalam kartu milikku,” ujar Andrea meminta untuk kedua kalinya. “Sudah deh mana mungkin kau punya uang sebanyak itu? Penjaga toko buku aja belagu.” Denis datang sembari merangkul istrinya dari belakang. Alvaro lalu mendekati Andrea, dia tidak mungkin membiarkan istrinya dalam celaka seperti ini. sudah seharusnya dia membela istrinya dari orang yang bahkan hanya bisa melihat semua dari covernya. Alvaro sudah membatalkan kerjasama mereka, tapi mereka masih saja merasa diatas angin. “Keluarkan saja kartumu, bayar sekalian barang yang kau beli.” Alvaro mengatakan hal itu pada Melodi. “Tentu saja, kau pikir aku tidak mampu? Lagian situ yang cuma sok mampu?” tanya Melodi dengan mulutnya yang sangat jahat. “Coba saja,” ujar Alvaro jengah. Melodi mengeluarkan kartunya dan kini langsung diterima oleh pelayan, kartu Melodi mulai digesek dan hal yang sama terjadi. Kartu melodi juga tidak bisa digunakan untuk proses pembayaran, Andrea kini menatap Melodi dengan pandangan meremehkan. “Apa kubilang? Kartuku tidak bermasalah tapi alat itu yang bermasalah.” Andrea lalu menelpon Gery, dia meminta lelaki itu segera datang untuk membawa uang cash miliknya. Andrea kembali duduk dengan diam, dia menunggu Gery datang. Walau rasanya kesal mendengar ocehan Melodi kali ini dia akan membalas semua ocehan Melodi dengan kesombongannya. Andrea bukan orang miskin dan dia rela mengeluarkan sebanyak apapun uangnya demi mendapatkan barang peninggalan neneknya. “Sekarang apa lagi? Penyelenggara akan membawa mesin baru apakah kamu berani?” tanya Melodi. “Kartu atm Andrea harusnya menggunakan alat khusus. Ini atm unlimited yang tidak bisa digunakan di alat biasa seperti ini,” ujar Alvaro. “Halah, paling juga Cuma imitasi. Mana mungkin Andrea sekaya itu? Bahkan orang kaya raya saja tidak semuanya memiliki kartu itu. Hanya yang memiliki kekayaan triliunan yang punya kartu itu,” ujar Melodi. Andrea hanya diam dia tidak mendengar ucapan Melodi, Andrea hanya tinggal menunggu beberapa menit karena sejak awal dia memang meminta Gery untuk jaga-jaga membawa uang cash yang banyak karena dia tahu jika bertemu Melodi maka hal seperti ini bisa terjadi. 3 2 1 Andrea menghitung dari dalam hati dan kemudian pintu terbuka, Gery datang mendorong trolley dengan santai. Uang sebanyak yang Andrea butuhkan kini sudah datang, Andrea berdiri lalu menghampiri Gery dia mengatakan pada penyelenggara bahwa dia membayar secara cash barang yang dia inginkan. Penyelenggara mengeceknya dan setelah tepat dia akhirnya memberikan kalung yang Andrea inginkan. Andrea sangat bahagia, setelah sekian lama dia berhasil menepati janjinya pada neneknya. “Kamu kenapa nangis?” tanya Alvaro. “Tak apa, ayo kita pulang.” Andrea membawa perhiasaan itu dengan hati yang tenang. Kali ini dia tidak akan membiarkan siapapun itu mendapatkan apa yang sudah dia perjuangkan dengan susah payah. Alvaro tidak tahu apa yang Andrea pikirkan, tetapi melihat Andrea bahagia kini hatinya ikut merasa bahagia. Banyak rahasia yang disembunyikan oleh istrinya, tetapi Alvaro yakin dia akan mampu membantu segala kesulitan yang Andrea alami. *** Melodi menghentakkan kakinya, dia kesal karena Andrea begitu sombong karena berhasil membawa barang incerannya, dia tidak tahu kenapa Andrea membeli kalung cacat, tetapi dia yakin alasan Andrea sangat kuat hingga membayar kalung cacat itu dengan harga yang mahal. “Udah sayang jangan kesal, hadiah ini akan kita berikan di hari perayaan ulang tahun Bentley grup. Kita pasti akan bisa kembali bekerja sama dengan mereka,” ucap Denis. Melodi mengangguk, dia bermanja dengan Denis. Wanita ini memang bodoh karena menginginkan Denis yang bahkan tidak memiliki apapun, wanita ini melanggar larangan ayahnya demi mendapatkan Denis sebagai suaminya. “Aku mendapatkan semua ini dengan tabunganku, perusahaan kita harus bekerja sama dengan Bentley grup karena ayahku tidak ingin lagi berjuang membantuku.” Melodi mengatakan itu pada Denis. “Aku yakin sayang, pimpinan Bentley sangat menyukai lelang kali ini karena itulah setidaknya kita datang membawa lukisan kesukaan darinya.” Melodi mengangguk, mereka kini berjalan dan tidak sengaja bertemu dengan lelaki yang tidak mereka kenal sebelumnya. Melodi kesal dan mendorong lelaki itu, tetapi lelaki itu kini mencengkram tangan Melodi dengan erat. “Kau memang tidak punya sopan santun,” ujar Gibran yang memang datang sebagai suruhan Alvaro untuk mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi penyebab kekacauan. “Memangnya kau siapa? Nggak penting.” Melodi lalu menggandeng tangan Denis dia tidak peduli dengan Gibran yang kesal. “Aku seperti tidak asing dengan orang itu,” ujar Denis. “Halah paling juga nggak penting. Ayo kita pulang sayang, aku menginginkanmu.” Melodi berbisik pada Denis dengan menggoda milik Denis yang memang selalu membuat Melodi terpana, dia menyukai permainan Denis yang selalu membuatnya puas. “Sial, kamu membuatku tidak tahan sayang.” Denis menarik Melodi membawanya ke dalam mobil, kali ini dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu karena perjalanan pulang hanya akan menghambat gairah mereka yang sudah menggebu. “Kamu sangat nakal,” bisik Denis yang kini sudah melepas ikat pinggangnya. Denis menarik dress minim Melodi sampai di pinggangnya dan mulai melepas celana dalamnya dengan sekali sentakan. Miliknya yang sudah tegang kini langsung dia masukkan kedalam milik Melodi yang sudah basah. Melodi memang maniak seks dan Denis sungguh tidak menyesal menyelingkuhi Andrea demi Melodi yang selalu memuaskannya. Wanita itu bahkan membawanya menjadi orang kaya tanpa harus bersusah payah bekerja sebagai karyawan biasa. “Kau sungguh sangat membuatku tegang sayang,” erang Denis dia tidak peduli dengan orang lain karena kini dia hanya ingin menuntaskan hasratnya akibat ulah Melodi yang memancingnya. Gibran yang keluar di basement yang sama kini hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dua pasutri yang tidak tahu malu. Dia tahu bahwa mereka adalah dua orang yang selalu membuat Alvaro kesal karena itulah kini Gibran mendekati mobil tersebut dan langsung mengeluarkan kameranya yang canggih, walaupun kaca mobil itu gelap dia dapat menembusnya. “Memang sialan, gue jadi tegang.” Gibran segera meninggalkan tempat itu setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD