Alvaro sudah menyiapkan gaun yang Anggun untuk istrinya, memang baru kali ini dia membelikan baju untuk Andrea, tetapi dia sangat yakin bahwa ukuran yang dia pilih sangat pas untuknya. Alvaro sangat hafal dengan tubuh Andrea karena itulah seharian memilih gaun membuat pikiran liarnya muncul karena membayangkan liuk tubuh istrinya yang sangat menawan.
“Kamu udah pulang sejak tadi? Maaf aku terlambat.” Andrea melihat jam yang melingkar di tangannya, menunjukkan pukul tiga sore.
Alvaro menggelengkan kepalanya, Andrea tidak terlambat pulang melainkan Alvaro yang sangat bersemangat untuk segera pulang dan bertemu dengan istrinya. Gairah Alvaro kini tiba-tiba naik karena kembali membayangkan tubuh istrinya.
Alvaro menarik tangan Andrea lalu memeluknya, lelaki itu mengecup bibir Andrea dengan sangat lembut. Kecupan kecil itu kini berubah menjadi lumatan yang sedikit liar Andrea mengikuti permainan Alvaro, lelaki itu mengambil tas yang masih dalam genggaman Andrea dan mulai melepas blazer yang dipakai oleh istrinya.
Alvaro meletakkan semuanya dan langsung membopong Andrea menuju kamar mereka, Alvaro tahu bahwa dia tidak sopan. Lelaki itu selalu mempergunakan kesempatan dalam kesempitan, Andrea bahkan pasrah, wanita itu menatap Alvaro dalam dengan tatapan penuh tanya tentang kondisi suaminya.
“Kamu kenapa?” tanya Andrea menatan tubuh Alvaro yang menindihnya.
Alvaro tidak menjawabnya, tetapi dia menekan miliknya yang mengeras ke pusat tubuh Andrea. Wanita itu kini paham tentang apa yang terjadi pada suaminya, sejak kemarin Alvaro terus saja menggempurnya, lelaki itu bahkan selalu bersemangat tiap kali keduanya menyatu.
“Maafkan aku An, aku tidak bisa menahan diri.” Alvaro langsung menindih Andrea dan kembali melumat bibirnya.
Andrea tidak pernah bisa menolak Alvaro, perlakuan dan tindakannya sungguh membuatnya tergoda. Wanita itu bahkan tidak fokus tiap kali melihat bibir merah Alvaro yang selalu membuatnya tergiur.
“An, kamu selalu membuatku tidak tahan.” Alvaro berbisik pelan, nafasnya terengah-engah karena ciuman liar yang dia lakukan.
Wanita itu sungguh membuatnya tidak tahan, sejak pertama kali mereka bertemu hingga sekarang Alvaro tidak henti membayangkan betapa cantiknya tubuh polos Andrea yang selalu ada di bawahnya. Keduanya kini bahkan sudah polos tanpa sehelai benangpun, Alvaro tanpa ragu kini menggoda milik Andrea yang sudah basah di bawah sana. Andrea menggelinjang, dia menahan rasa geli tiap kali Alvaro menggoda miliknya.
“Kamu sudah basah,” bisik Alvaro dengan manis.
Andrea memeluk tubuh Alvaro, menyembunyikan wajahnya pada d**a bidang Alvaro yang terasa hangat. Alvaro tersenyum, respon Andrea sudah memperlihatkan semuanya bahwa Andrea mau untuk bercinta dengan dirinya.
“Tenang sayang, jangan tegang.” Alvaro menenangkan Andrea yang tubuhnya menegang.
Alvaro tahu Andrea kini selalu tidak tenang tiap kali melihat miliknya yang sudah menegang. Sejak awal bercinta mereka sama-sama melakukannya yang pertama kali, Alvaro yang tidak bisa menyentuh perempuan karena penyakitnya dan Andrea yang masih menjaga miliknya sampai hari pernikahan tiba. Alvaro tidak menyangka dia sangat lurus padahal sudah bertunangan dengan Denis yang tidak bisa dikatakan sebentar.
“Aku akan melakukannya,” bisik Alvaro di telinga Andrea, dia memberikan rangsangan agar Andrea semakin rileks ketika Alvaro akan melakukan percintaan liar yang selalu dia bayangkan.
Sejak menikah dia selalu ingin melakukannya lagi dan lagi, baginya menyia-nyiakan Andrea adalah kesalahan yang tidak boleh dia lakukan. Andrea adalah obat penawarnya dan bercinta dengannya membuat hatinya merasa senang, ini kali pertama dia bisa merasa lebih nyaman tiap kali dekat dengan seorang wanita.
“Kamu sangat nikmat sayang,” erang Alvaro ketika miliknya perlahan masuk kedalam inti Andrea.
Wanita itu masih merasa kesakitan tiap kali Alvaro melakukannya, miliknya yang tegang dan panas membuat dirinya merasa tidak nyaman. Andrea sungguh merasa kesakitan di awal, tetapi Alvaro selalu berhasil membawanya untuk mencapai puncak kenikmatan. Keduanya bahkan tidak memikirkan akibat apa yang mereka lakukan, Alvaro hanya memikirkan nafsunya dan Andrea tidak memikirkan apapun di saat dia bisa hamil karena perbuatannya.
Keduanya saling melengkapi dan mengejar kenikmatan bersama, kehidupan Alvaro kini semakin terasa lengkap tidak seperti kehampaan yang dia rasakan sebelum pertemuan tidak sengajanya bersama dengan wanita yang kini menjadi istrinya.
***
Alvaro menunggu Andrea dengan sabar, istrinya mengoceh setelah percintaan hebat yang mereka lakukan. Keduanya bahkan melupakan acara lelang yang akan mereka hadiri, kini Andrea harus bersiap dengan cepat karena dia tidak ingin semakin telat untuk datang ke acara yang sudah lama dia ingin datangi.
“Udah siap?” tanya Alvaro ketika melihat Andrea menghampirinya dengan raut wajahnya yang kesal.
“Udah, ayo. Aku tidak ingin ketinggalan dalam lelang perhiasan kuno ini, ada hal yang ingin aku ketahui,” ujar Andrea yang langsung beranjak meninggalkan Alvaro.
“Bentar sayang,” ucap Alvaro menahan tangan istrinya, lelaki itu langsung mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya lalu dia membuka dan mulai memakaikan kalung yang sangat cantik di leher istrinya.
Kalung ini adalah produk terbaru hasil kolaborasi dengan Bentley grup, Alvaro hanya ingin Andrea tahu bahwa dia memang CEO Bentley grup bukan hanya bercandaan seperti yang dia pikirkan sebelumnya.
“Bukannya ini masih Pre-Order? Dari mana kamu dapat ini?” tanya Andrea yang menatap kalung di lehernya dengan intens.
Andrea takut jika ada bajakan yang menjual karyanya, karena semua itu sudah dia serahkan kepada perusahaan Bentley untuk pengukuhan hak cipta merk kolaborasi keduanya. Alvaro tidak menjawab pertanyaan Andrea, dia menggenggam tangan Andrea dan segera mengajaknya untuk berangkat ke tempat acara.
“Kamu nggak mencuri’kan?” tanya Andrea ketika mereka berada di dalam mobil.
“Tidak, harusnya kamu bisa menyimpulkan dari apa yang aku lakukan. Sudahlah diam saja jika tidak ingin telat datang ke lelang,” ujar Alvaro.
Pukul delapan mereka sudah sampai di aula tempat lelang akan diselenggarakan, Alvaro mengeluarkan undangannya. Alvaro adalah tamu VIP dalam acara lelang kali ini, ketika mereka masuk ke dalam kini berpaspasan dengan Melodi dan Denis yang sama-sama menghadiri acara lelang. Alvaro tahu bahwa mereka ingin mendapatkan suatu hal yang berharga demi membujuk pimpinan Bentley grup agar kembali mempertimbangkan kerja sama mereka.
“Emangnya punya duit sampai, kok bela-belain hadir di acara ini? suka banget ngikutin orang mulu.” Melodi mengejek Andrea.
“Nggak ada yang peduli denganmu, gila aja ngikutin orang ga jelas sepertimu.” Andrea langsung mengeratkan pelukannya sebagai kode agar Alvaro segera membawanya pergi.
Alvaro mengangguk mereka langsung menuju kursi yang sudah disediakan, Melodi dan Denis sama seperti mereka yang duduk di kursi VIP. Andrea kini merasa yakin bahwa Melodi akan mengganggu rencananya, kali ini dia tidak ingin kalah karena dia harus mendapatkan kalung buatan neneknya yang selama ini dia cari.
Palu mulai diketuk, moderator kini mulai membuka acara lelang malam ini. Satu persatu barang dipamerkan dan banyak yang mulai membuka harga dengan nominal fantastis. Lelang kali ini hasilnya akan diberikan untuk amal, karena itulah Andrea ingin berpartisipasi sekaligus mendapatkan kembali milik neneknya yang selama ini hilang.
Andrea mengangkat papannya ketika lukisan dari pelukis terkenal mulai dikeluarkan, dia sengaja mengecoh Melodi karena dia tidak mau pada akhirnya Melodi akan menjadi saingannya dalam mendapatkan kalung tersebut.
“200 juta, apakah ada yang ingin naik?” tanya moderator.
“300 juta,” ucap Melodi yang mengangkat papannya.
“700 juta.” Andrea menatap Melodi dengan pandangan meremehkan.
“Sial, dari mana dia mendapatkan uang?” tanya Melodi pada Denis.
“Andrea tidak sekaya itu, tambah saja jika ingin mengalahkannya dia juga tidak akan berani.” Denis mengompori Melodi karena dia tidak ingin kalah dari mantan tunangannya.
Melodi akhirnya kembali mengangangkat papannya dan dia stuck diangka 750 juta, Andrea tidak lagi menawar dan akhirnya lukisan itu jatuh di tangan Melodi. Andrea tertawa dalam hatinya, dia tahu bahwa lukisan itu bukan lukisan asli karena lukisan aslinya ada di rumahnya karena itu hadiah dari kakek untuk neneknya sebelum meninggal dunia.
“Kamu sengaja?” tanya Alvaro dan hanya di jawab dengan senyuman oleh istrinya.
Kali ini barang lelang terakhir yaitu kalung antic dari giok yang permatanya pecah separuh, Andrea ingin menangis ketika mengingatnya. Kalung itu adalah karya pertama dari neneknya dan dia yang merusaknya hingga menjadi seperti itu. Kalung itu hilang ketika terjadi pencurian di rumahnya saat dia kecil, sejak saat itu Andrea berjanji bagaimanapun dia akan mengembalikan apa yang dimiliki oleh neneknya.
“300 juta,” ucap Andrea tanpa ragu di saat moderator hanya membuka harga dari 50 juta.
Hati Andrea berdebar, dia tidak sabar mendapatkan milik neneknya kembali. Walau banyak orang mencemoohnya berani membayar mahal demi kalung cacat dia tidak peduli. Andrea jelas tahu bahwa kalung itulah yang dia cari selama ini.
“800 Juta,” ujar Melodi dengan entengnya dia tidak akan membiarkan Andrea mendapatkan apa yang dia inginkan.
“1 milyar.” Andrea menatap Melodi sengit.
Denis menahan tangan Melodi, uang yang mereka siapkan sudah mencapai batas limit karena itulah dia menahan Melodi untuk memprovokasi Andrea. Denis tahu Andrea tidak memiliki uang sebanyak itu.
“1,5 Milyar.” Melodi tersenyum meremehkan, dia hanya ingin membuat Andrea malu karena tidak mampu membayarnya.
“1,6 Milyar.” Melodi terdiam akhirnya kalung itu jatuh di tangan Andrea, dia mengatakan bahwa Andrea tidak akan mampu membayar barang itu karena itulah dia meminta penyelenggara agar segera menyelesaikan pembayaran kalung yang Andrea inginkan.
Penyelenggara mulai mengeluarkan alat untuk pembayaran dan kini Andrea tanpa ragu mengeluarkan kartunya. Kartu unlimited yang bahkan tidak dimiliki oleh sembarang orang, wanita itu hanya menginginkan barangnya dan dia tidak akan membiarkan Melodi menginjak harga dirinya.
“Maaf Transaksi gagal, kartu tidak bisa digunakan.” Pelayan mengatakan hal itu pada Andrea setelah alat yang dia bawa gagal untuk menyelesaikan pembayaran.