Bab 13. Perjalanan Bisnis

1194 Words
Andrea merasa puas ketika melihat ekspresi Melody dan Denis, mereka berdua hanya diam ketika Madison marah besar. Sejak awal ayahnya sudah menahan diri untuk tidak mengatakan hal buruk karena tidak ingin membuat identitas Andrea ketahuan, tetapi setelah semuanya terjadi kini akhirnya dia bisa melampiaskan kemarahannya ketika ada orang yang membuat anaknya sakit hati. “Besok aku akan melakukan perjalanan bisnis,” ucap Alvaro. “Iya terus?” tanya Andrea ketika melepas perhiasan yang dikenakannya dia bersiap untuk tidur. “Kamu sibuk nggak?” tanya Alvaro. “Kenapa?” Andrea kini berbalik arah dan menatap Alvaro. Alvaro tidak berani untuk mengatakan apa yang dia inginkan, sebenarnya ada resiko ketika dia melakukan perjalanan bisnis. Alvaro takut hal ini kembali membuat Damian berpikiran buruk dan ingin menggagalkan rencana Alvaro untuk kerja sama. “Kamu butuh bantuan?” tanya Andrea kembali meminta jawaban Alvaro yang diam. “Aku ingin kamu menemaniku, setelah malam ini orang itu pasti akan terus berusaha membuktikan apa yang dia ingin yakinkan pada semua orang.” “Baiklah, aku bisa mengerjakan kerjaanku di manapun ketika mendesign, tak masalah jika aku bisa membantumu.” Andrea mengatakan itu dengan enteng tanpa mempermasalahkan apa pun. Andrea bergegas membersihkan dirinya, sebelum tidur dia akhirnya menyiapkan beberapa baju yang akan dia gunakan untuk menemani Alvaro dalam perjalanan bisnis kali ini. Alvaro berkesempatan untuk memenangkan tender, tetapi dia harus datang bertemu langsung dengan bos utama mereka, karena itulah hal ini terjadi secara tertutup dan dia bebas membawa Andrea ke sana. “Selamat malam, terima kasih Andrea.” Alvaro mengecup kening Andrea yang sudah memejamkan matanya. Andrea hanya bisa menahan diri, dia tidak ingin Alvaro tahu bahwa kini dia terus berdebar tiap kali berdekatan dengan dirinya. Perasaan cinta diantara pasangan suami istri memang wajar, tetapi pernikahan mereka sangat unik, terlalu cepat jika Andrea jatuh hati dengan Alvaro saat ini. *** Alvaro dan Andrea berangkat ke bandara pukul delapan pagi, Andrea terlihat cantik dengan pakian formalnya dia tidak ingin membuat Alvaro malu jika dia tidak bisa menjaga penampilan di saat dia tahu bahwa suaminya adalah pimpinan Bentley grup yang memiliki reputasi baik. “Katakan padaku jika kamu butuh bantuan,” ujar Andrea ketika kembali memejamkan matanya di saat mereka sedang di atas awan. Alvaro mengangguk, dia fokus dengan dokumen yang dia baca di tabletnya. Kali ini dia hanya ingin meyakinkan kolega bisnisnya, dia tidak ingin gagal demi menyelamatkan segala hal yang sudah dia perjuangkan sejak awal. “Tuan—” “Pelan-pelan saja, Andrea sedang tidur.” Alvaro menegur Gibran ketika lelaki itu datang. “Damian merencanakan sesuatu ketika di sana, Tuan harus hati-hato jika menerima minuman atau hal lain dari orang yang tidak dikenal.” Alvaro mengangguk, dia tahu Damian pasti akan melakukan cara lain, dia dan sekutu dalam perusahaannya menginginkan Alvaro lengser dari jabatannya, dia tidak akan mengijinkan hal itu terjadi selama Alvaro mampu. Andrea sedikit bergerak dan Alvaro mengsap lembut pipi Andrea, dia menenangkan wanita itu dalam tidurnya. Alvaro tidak pernah berniat melakukannya, tetapi dirinya secara otomatis melakukan hal itu, tubunnya reflek untuk melindungi dan memberikan kenyamanan pada wanita yang kini menjadi istrinya. Hidup mereka kedepannya mungkin tidak mudah, tetapi Alvaro berjanji selama Andrea bersama dengannya maka dia tidak akan membiarkan Andrea dalam kondisi buruk. Alvaro akan berusaha menjaga Andrea dengan sebaik mungkin karena wanita itu yang sudah menyelamatkannya berkali-kali dari orang yang berusaha berniat buruk kepada dirinya. Setelah perjalanan hampir 2 jam kini mereka akhirnya sampai di tujuan, Andrea terlihat masih mengantuk dia kembali mengenakan kaca mata hitamnya dan memeluk lengan Alvaro. Lelaki itu sungguh memanjakan Andrea, dia menjaga Andrea dengan sebaik mungkin. “Apalagi yang kau lakukan disini?” tanya Alvaro ketika tiba-tiba melihat Merry. “Nenek yang ngasih tau kalau kamu mau kesini,” ucap Merry cengengesan. “Jangan ikuti kami, kamu pesan mobil dan hotel sendiri. Kami akan bulan madu sini,” ujar Alvaro sebelum Merry mengatakan niatnya. Merry menghentakkan kakinya kesal, namun begitu dia tetap mengikuti Alvaro. Wanita itu tidak membiarkan Alvaro menjalani bulan madu dengan tenang selama ada dirinya. Merry tidak ingin Andrea hamil terlebih dahulu karena hal itu akan merusak rencananya untuk mendapatkan Alvaro. Mau tidak mau Alvaro harus menikah dengan dirinya sesuai dengan janji yang telah Diana katakan padanya. “Apalagi yang dia mau sih?” tanya Andrea pada Alvaro. “Biarin, aku tidak akan membiarkan dia mengganggu kita. Kamu harus membantuku jika dia ingin mendekat, dia bagaikan racun untuk tubuhku,” ujar Alvaro. Andrea mengangguk, dia kembali bersandar ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Pertemuan memang akan dilakukan sore nanti karena itulah Alvaro memutuskan untuk kembali ke hotel sebelum pergi ke rumah kolega bisnisnya nanti. “Dia orang Bali asli?” tanya Andrea. “Tidak, dia suka Bali karena itulah dia memutuskan menetap di sini. Sebenarnya ini project terakhir karena itulah dia ingin yang terbaik untuk hal ini,” ujar Alvaro. Andrea mengangguk dia tidak ingin bertanya lebih banyak lagi karena dia juga tidak begitu paham dengan project baru yang sedang Alvaro kejar. Andrea akan bergerak jika Alvaro membutuhkannya, masalah perusahaan dia tidak ingin ikut campur mengenai hal itu. *** Pukul 4 sore Alvaro dan Andrea sudah berada di perjalanan menuju ke rumah kolega bisnisnya, perjalanan ini terasa menenangkan bagi Andrea dan terasa sangat mencekam bagi Alvaro yang takut jika akhirnya dia ditolak. Tidak menunggu waktu lama kini mereka sampai di villa milik kolega bisnis Alvaro, villa yang banyak pohon dan udaranya sangat asri di sini. “Menyegarkan sekali di sini,” ujar Andrea. “Jika kamu mau kitab isa membuat rumah di dekat sini,” ucap Alvaro dan langsung di balas dengan cubitan manja dari istrinya. Andrea tidak menyangka jika Alvaro bisa bercanda seperti ini kepadanya, Andrea lebih dari mampu jika menginginkannya, tetapi dia tidak berniat tinggal di sini karena baginya Bali adalah tempat untuk liburan bukan dia anggap sebagai tempat tinggal. Setelah menunggu mereka akhirnya diperbolehkan untuk masuk, Alvaro disambut dengan baik oleh mereka dan Andrea juga ikut terkesan ternyata kolega bisnis Alvaro sangat baik. Andrea bahkan kini paham mengenai project tersebut dia memberikan beberapa pendapatnya sebagai orang yang bergelut dibidang seni. “Kalian memang serasi, project terakhirku pasti akan sangat luar bias ajika kalian berkolaborasi,” ujar Pak Abimanyu pada Alvaro. Alvaro tersenyum manis, setelah diterima dan diminta untuk memberikan sentuhan lain dia akhirnya memutuskan untuk mengajak Andrea bekerja sama, istrinya memang sangat luar biasa dan penandatangan kerjasama kini sukses atas bantuan Andrea. “Terima kasih, apa yang kamu inginkan sebagai hadiah karena sudah membantuku?” tanya Alvaro. “Aku tidak menginginkan apapun,” ujar Andrea ketika mereka sudah kembali. “Aku punya waktu 3 hari, aku akan mempergunakan sebaik mungkin untuk membalas terima kasihku.” Alvaro tidak menyangka jika bahkan kurang dari satu jam dia sudah mendapatkan persetujuan itu, Andrea memang dewi keberuntungan yang dia miliki. Andrea mengangguk, dia juga membutuhkan liburan karena itulah dia menyetujui ucapan Alvaro. Dia lelah dan butuh hiburan setelah mendapatkan rasa sakit atas pengkhianatan mantan tunangannya itu. “Merry lagi Merry lagi,” ucap Andrea ketika mereka berhenti di tempat makan yang sudah Alvaro reservasi. Melihat Andrea yang bete, dia meminta Gibran untuk kembali melajukan mobilnya menuju jalan keluar. Alvaro melihat Merry yang mengejar mobilnya dengan kesal, Andrea tertawa dia tidak menyangka Merry akan jatuh tertelungkup karena ulahnya yang kekanakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD