Bab 14. Merry jadi orang ketiga

1490 Words
Andrea tertawa lepas ketika melihat Merry terjungkal, tawa lepas itu membuat Alvaro terdiam sejenak dia baru tahu jika tawa Andrea mampu membuat jantungnya berdebar. Andrea kerap kali membuat Alvaro merasa berbeda ketika bersamanya seperti ini. “Al, ditanyain Gibran noh jadinya kemana?” tanya Andrea yang menggerakkan lengan Alvaro. “Ah di mana aja deh,” ucap Alvaro yang tersadar dari lamunannya. Akhir-akhir ini Alvaro memang tidak bisa mengendalikan dirinya, lelaki itu ingin selalu dekat dengan Andrea dan dia selalu merasa ingin melakukan percintaan tiap kali memikirkannya. Alvaro tahu baru kali ini dia bisa bercinta, karena hanya Andrea yang tidak membuat rasa sakit ditubuhnya datang. Wanita itu satu satunya dan Alvaro juga mendapatkan Andrea yang sama-sama menjaga kesuciannya. “Merry emangnya nggak kerja? Dia kok ngikutin kamu terus?” tanya Andrea. “Biasa, di aitu ya kayak gitu. Aku juga ga paham pekerjaannya apa, tapi ya manja banget jadi orang. Terlalu berlindung di balik nama orang tuanya,” jelas Alvaro. Andrea mengangguk, wanita itu memang menjadi pilihan nenek Alvaro, tetapi bagaimanapun kunci dari hubungan mereka adalah dari Alvaro sendiri. Bagaimanapun permintaan neneknya jika Alvaro ingin tetap mempertahankannya maka perceraiaan tidak akan terjadi. “Dia udah kayak penguntit,” ujar Andrea. “Kamu harus hati-hati dengannya, kadang dia sangat nekat.” Andrea mengangguk, dia memahami pikiran orang seperti itu karena dulu dia juga pernah merasakan bagaimana ada orang yang membuatnya sampai tidak ingin dikenal oleh public. Selama ini dia tahu ada orang yang selalu ingin menirunya, dulu dia adalah sahabat dekat Andrea, tetapi sejak Andrea tahu bahwa dia menggunakan identitasnya sebagai putri keluarga Madison, sejak saat itu Andrea tidak ingin berhubungan apapun dengannya. Andrea sudah sangat baik, tetapi kenyataannya wanita itu hanya memanfaatkannya. Andrea sudah tidak percaya yang namanya pertemanan karena itulah dia hanya percaya Gery, hanya lelaki itu yang bekerja sama dengan dirinya sampai saat ini. Gery orang yang bisa menjaga privasinya, berbeda dengan orang lain yang berusaha untuk menjadi dirinya demi kesenanangan sesaat. “Kamu nggak terganggu dengan gosip yang beredar’kan?” tanya Alvaro. Andrea menggelengkan kepalanya, dia tidak merasa terganggu selama mereka tidak mengejarnya sampai privasi kehidupannya. Acara ulang tahun perusahaan suaminya kini menjadi ajang ayah Andrea untuk memperkenalkan siapa anaknya yang sebenarnya. Andrea tahu pasti wanita itu sekarang merasa tertekan karena dia bahkan tidak memiliki bakat menggambar sedikitpun. “Ayo kita makan dulu,” ucap Alvaro ketika mobil sudah berhenti. *** Merry kesal dia mengadu pada Diana tentang ulah Alvaro yang sudah membuatnya terjatuh. Satu-satunya orang yang bisa Merry andalkan adalah Diana, wanita itulah yang selalu mendukungnya agar dia bersama dengan Alvaro bagaimanapun caranya. Merry selalu menjadi orang yang lemah dihadapan Diana, karena itulah Diana selalu tidak tega karena bagaimanapun Merry yang sudah menyelamatkan Alvaro ketika kecil. “Sial sial, awas aja ya. aku nggak akan biarin kamu menggagalkan rencanaku,” ujar Merry yang kesal dengan Andrea. Merry sejak awal mengincar Alvaro, tetapi dia tidak bisa mendapatkan hatinya sejak awal. Keluarga Alvaro memang sangat kaya raya selain itu Diana dekat dengan ayah Merry, mereka sudah berhubungan sejak awal karena itulah Diana sangat menyayangi Merry dan menginginkannya menjadi pasangan Alvaro. Merry membuka pesan dia mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya mengenai lokasi keberadaan Alvaro saat ini. Merry tidak membutuhkan waktu lama dia langsung menuju ke sana, dia tidak ingin Alvaro bersama dengan Andrea terlebih membiarkan mereka menikmati waktu berduanya. Merry tidak ingin jika Andrea hamil dan akan semakin mempersulit Merry untuk menjadi istri Alvaro. “Sial aku tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia,” ujar Merry mengumpat. Perjalanan hanya ditempuh selama setengah jam, akhirnya kini Merry sampai dia langsung mencari keberadaan Alvaro di tempat itu. Merry bergegas datang dan langsung menghampiri meja mereka, wanita yang kesal itu langsung pura-pura lemah kesakitan karena terjungkal mengejar mobil Alvaro. “Kamu ini memang mirip jalangkung, datang ga di undang pula.” Andrea mengatakan itu dan membuat Merry cemberut. “Kakiku sakit, semuanya karena kamu. Kalau kalian nggak pergi pasti aku nggak jatuh,” ujar Merry merengek pada Alvaro. “Lalu apa urusannya denganku? Kamu ini nggak punya telinga atau gimana? Udah tau aku menikah malah mau jadi orang ketiga.” “Kamu nggak inget kalau nenek hanya merestui hubungan kita? Cepat atau lambat kalian pasti akan bercerai. Inget ya Al, aku yang menolongmu dan kamu punya hutang budi padaku.” Merry mengancam Alvaro. Alvaro hanya bisa menghela nafasnya lelah, dia langsung pindah duduk di samping Andrea. Alvaro membiarkan Merry ikut, tetapi dia mengabaikannya. Alvaro bahkan sengaja bersikap romantic karena dia ingin Merry tahu bahwa keinginannya hanya angan-angan saja, Alvaro tidak akan menikah dengan wanita yang bahkan sangat berbahaya jika dia menyentuhnya. “Makan yang banyak sayang, kamu harus punya banyak tenaga untuk malam panjang kita.” Alvaro menyuapi Andrea, semuanya tidak luput dari pandangan Merry yang hatinya sangat panas menggebu-gebu. Alvaro sengaja membuat Merry menjadi kesal padanya, dia tahu bahwa sejak awal Alvaro sudah berusaha membuat mereka terhindar dari Merry, tetapi segala hal yang sudah dia lakukan tetap saja Merry bisa menemukan mereka. “Jahat banget sih Al,” ucap Merry. “Aku hanya memperlakukan istriku dengan baik, kenapa malahan aku yang jahat?” tanya Alvaro. Merry akhirnya pergi, dia menangis dan mengeluarkan ponselnya. Alvaro tahu bahwa Merry pasti akan mengadu pada Diana tentang ulah Alvaro saat ini. Andrea hanya bisa menggelengkan kepalanya karena Alvaro juga sangat kekanakan dengan tingkahnya. “Kamu buat anak orang nangis,” ucap Andrea. “Bodo amat, aku risih diikuti terus.” Alvaro hanya tidak mau Merry terus mengikutinya karena dia khawatir bisa saja Merry merupakan mata mata orang lain untuk melihat apa saja yang dilakukan oleh Alvaro ketika dia berusaha memenangkan tender yang dia inginkan. Alvaro hanya tidak ingin jika semua usaha yang dia lakukan akan sia-sia karena ulah orang yang ada di dekatnya. *** “Sialan, gagal terus.” Lelaki itu marah besar, segala hal yang dia rencanakan kini gagal walau sudah tahu kekurangan Alvaro. Sejak awal Damian memang mengincar Alvaro agar lengser dari jabatannya, tetapi semua yang dia lakukan gagal dia bahkan sudah mengusahakan segala hal dengan baik tapi Alvaro tetap bertahan dalam posisinya saat ini. “Satu-satunya cara memang harus menekan nenek tua itu untuk menerima ayah,” ujar Damian. “Dia tidak akan mau menerimaku, karena aku sudah pada pilihanku untuk memilih kamu dan ibumu.” Anggara tidak bisa melakukan apapun karena ibunya sudah berbaik hati memberikan sedikit saham untuk bekal hidupnya setelah keluar dari keluarga Bentley. Anggara memang berhak menjadi pimpinan, tetapi semua yang dia lakukan sudah menjadi pilihannya. Anggara tidak bisa menuntut haknya karena ibunya tidak akan tinggal diam dengan semua yang dia lakukan. Alvaro juga anaknya, tetapi dia tidak bisa membiarkan Damian tidak mendapatkan apapun dari keluarga karena dia juga memiliki darah keluarga Bentley. “Aku tidak mau tahu, bantu pikir apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sudah banyak mencoba, tetapi semuanya gagal!” marah Damian. Anggara menenangkan anaknya, semuanya memang harus dipikirkan dengan tenang karena Anggara tahu bahwa Alvaro bukan orang yang gegabah. Alvaro orang yang pintar dan dia tidak akan semudah itu bisa dikalahkan oleh Damian meski lelaki itu tahu kelemahan Alvaro. “Alvaro bukan orang yang gegabah, dia tidak mungkin semudah itu dikalahkan. Hati-hati jika tidak ingin posisimu semakin sulit nantinya.” Damian menendang meja kecil samping sofa dan langsung pergi meninggalkan ayahnya. Damian tahu dia memang anak kedua dan dari ibu yang selama ini disembunyikan ayahnya. Damian tidak banyak dikenal karena sejak awal dia anak selingkuhan, semua orang hanya mengenal Alvaro sebagai anak Anggara karena itulah dia merasa cemburu, dia juga menginginkan hal yang sama. “Sialan! Aku tidak akan tinggal diam.” Damian berteriak mengunggkapkan kekesalannya. *** Alvaro memeluk pinggang Andrea dengan posesif, sejak awal dia tahu bahwa Merry mengikutinya. Wanita itu memilih menginap di tempat yang sama dan ini sengaja Alvaro lakukan agar Merry kepanasan dengan ulah mereka berdua. “Kenapa?” “Diam sayang, Merry mengikuti kita.” Alvaro mengecup sekilas bibir Andrea dia hanya ingin mengusir Merry dengan sopan agar Diana tidak lagi menegurnya mengenai ulahnya yang tidak baik pada Merry. Andrea tersenyum lepas, dia mengangguk dan mencium pipi Alvaro sekilas. Andrea risih dengan Merry karena itulah dia sengaja melakukan hal itu untuk segera membiarkan Merry pergi dari sini. Andrea tidak ingin kebebasannya terganggu dengan ulah Merry yang sungguh tidak menyenangkan hatinya. “Merry apakah tidak akan membocorkan aku sebagai pasanganmu?” tanya Andrea. Alvaro hanya menggelengkan kepalanya karena dia tahu Merry tidak ingin orang lain mengetahui siapa istri Alvaro sebenarnya. Wanita itu tidak ingin public lebih menyorot Andrea karena dia tidak ingin kalah pamor dengannya. “Dia tak akan pernah melakukan itu, dia tidak ingin kamu lebih terkenal darinya.” Alvaro mengsap pinggang Andrea sekilas dan tgersenyum manis menatapnya. Jantung Andrea berdesir, sentuhan Alvaro selalu saja membuatnya merasakan gairah. Sekian lama bersama Denis dia tidak pernah mengijinkan lelaki itu untuk bercinta padanya, tetapi kini dia selalu menginginkan lebih ketika bersama Alvaro. “Sentuhanmu membuatku—” “Aku tahu,” ucap Alvaro langsung membopong Andrea dia juga sudah tidak sabar untuk menuntaskan apa yang kini dia rasakan dalam dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD