The Last Weird || Bagian 32

2302 Words
Bagian 32 || Perjalanan menuju Sebastian "Sudah siap? Bawa barang seperlunya saja!" guman Xander  Alice selesai, ia membawa tas ransel nya. Sama dengan Xander yang juga hanya membawa tas ransel berisi barang-barang yang akan mereka pakai di perjalanan nantinya. Xander menutup buku nya, ia menatap Alice yang sudah berada di depan nya "Kenapa kalian lama sekali?Dan, dimana Logan?" seru Xander sambil bangkit dari duduk nya  "ak...aku datang, aku datang!"  Xander dan Alice menatap Logan yang datang sambil membawa tas dan koper. Xander menatap Alice "Itu barang mu?"  "Tidak, aku hanya membawa ransel ini saja. Dan, aku sudah lama siap hanya saja Logan yang meminta ku untuk membantu nya packing!"  Tristan yang baru saja turun dari lantai dua dengan ranselnya menatap Logan yang membawa sebuah koper besar. "Itu apa? Mengapa kau membawa barang begitu banyak?"  Logan menatap satu-persatu orang yang ada di depan nya. Ia menatap Xander yang hanya membawa ransel punggung yang biasa dipakai lelaki itu ke sekolah, lalu tatapannya tertuju pada Tristan yang juga hanya membawa ransel di punggung nya dengan ukuran kecil. Lalu tatapan Logan tertuju pada Alice yang hanya membawa ransel sekolah nya juga. Tatapan Logan lalu tertuju pada nya sendiri, hanya ia yang membawa ransel gunung nya dan juga 'sebuah koper?'. "Apa yang salah? Bukankah kalian bilang akan menjadi perjalanan yang panjang? Aku membawa beras, makanan, buah di koper ini agar kita bisa bertahan hidup nantinya. Aku rasa kita akan mementingkan ini!"  Tristan menatap Logan yang berbeda,Xander hendak angkat bicara namun ia segera menaikkan tangan nya. Memberi perintah agar Xander tidak usah berkomentar lebih jauh lagi. "Sudah, tidak apa-apa. Kita segera berangkat saja!" ujar Tristan yang berpamitan lebih dulu pada Mr.Erick yang sedang duduk sambil menatap mereka satu-persatu.  Logan mengangkat bahu nya saat Alice dan Xander masih menatap nya. "Ayolah, Tristan sendiri tidak masalah dengan barang bawaan ku. Lagi pula kita pasti akan membutuhkan ini!" guman Logan sedikit kesal lalu beranjak lebih dulu.  Xander dan Alice saling menatap, lalu berjalan menghampiri  Erick yang menunggu mereka. Lelaki paruh baya itu menatap Xander, Alice, Logan yang masih cemberut dan Tristan. "Aku menyertai perjalanan kalian, semoga kalian dapat petunjuk dari-Nya. Dan selalu jaga diri kalian nak, mereka tahu bahwa kalian itu adalah para 'pemburu iblis' dan itu akan menarik perhatian dari mereka. Dan jika kalian bertemu dengan Oliver, katakan pada nya 'Aku menunggu nya'. Sudah, aku hanya ingin mengatakan hal itu!"  "Kami pergi dulu ayah, jaga diri ayah juga!" ujar Xander memeluk lelaki paruh baya itu  "Kami pergi duluSir,  aku sudah memberikan beberapa pagar pelindung di sekitar sini. Aku khawatir ada sesuatu yang buruk jika kami pergi dari sini, aku juga sudah menyiapkan beberapa anak buah ku untuk memantau dari jauh. Jika anda butuh sesuatu, anda ting--!"  "Trimakasih Nak!" guman Erick memeluk Tristan, perbuatan yang sedikit membuat lelaki tegap itu sedikit merenung dan juga membuat Nya sedikit terkejut.  "Terimakasih, tuan!"  "Kami pergi dulu Sir, Jaga diri anda juga!" seru Alice dan disambung dengan Logan  Mereka lalu berangkat dan mulai memasuki mobil Logan, mereka memutuskan untuk hanya membawa satu mobil saja. Dan karena mobil Logan yang paling memungkinakan, lelaki itu setuju untuk membawa mobil hammer  keluaran terbaru itu. Sebelum Xander memasuki mobil, Erick menahan lengan pemuda itu.  "Ingat untuk melindungi gadis itu nak, jangan sampai dia berada di tangan yang salah. Karena itu akan sangat berbahaya!"  Xander menatap Erick ,"Baik ayah, aku mengerti!"  Perjalanan mereka sudah dimulai, Logan duduk di depan bersama dengan Tristan yang mengemudikan mobil mereka. Xander duduk di belakang bersama dengan Alice. Selama perjalanan, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Alice yang sibuk dengan laptop di pangkuan nya, Xander dengan buku nya dan Logan dengan ponsel nya. Tristan sesekali melirik Xander dan Alice yang duduk di belakang.  "Boleh aku bertanya pada mu Alice?" seru Tristan membuat Alice yang tadi sedang fokus dengan layar laptop nya menatap pemuda di depan mereka.  "Ya, apa yang mau anda tanyakan?"  "Jangan memanggil 'anda' kepada ku, anggap saja kita seumuran dan bicaralah nonformal kepada ku. Aku tidak terbiasa dengan panggilan formal!"  "Ahhh, baiklah. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"  "Begini, apa sebelum kau pindah ke rumah Xander. Apa ada sesuatu yang membuatmu curiga dengan rumah mu yang sudah terbakar itu?"  Xander menatap Tristan yang fokus untuk menyetir, ia lalu menatap Alice yang kebetulan juga sedang menatap nya.  "Sesuatu? Aku rasa 'sesuatu' itu banyak, apa salah-satu nya?" ujar Alice  "Ahhh, aku lupa bicara dengan kalian. Kau dan Xander selalu saja sama, maksudku apa kau mendengar suara-suara aneh di dalam rumah mu sebelumnya?"  Alice lagi-lagi melirik Xander, "Ya, aku memang sering mendengar suara-suara aneh dari lantai dua rumahku. Ada apa? Mengapa kau bertanya seperti itu?"  "Begini, sebelum aku sampai di rumah (Rumah Xander). Ketika aku melewati rumah itu, aku merasa ada yang aneh dengan nya. Aku memutuskan untuk memeriksa nya lebih dulu dan aku baru sadar bahwa ada iblis yang mati terbakar di sana. Iblis sejenis Jikininki yang lebih kuat dari ras nya. Setelah aku bertanya pada Xander, akhirnya dia menceritakan ku kronologis nya seperti apa. Aku curiga bahwa iblis itu ada hubungan nya dengan masa lalu mu Alice. Bahkan, kekhawatiran terbesarku lebih mengarah pada asalmu!"  "Asal? Apa maksud nya?" ujar Logan yang sedikit tertarik dengan pembicaraan Tristan dan juga Alice.  "Kalian sudah tau bukan kalau di bumi ini tidak hanya ditempati oleh manusia juga?" seru Tristan menatap Logan sesekali  "Ya, aku tau itu. Lalu apa hubungan nya?" lanjut Logan  "Aku malah berpikir bahwa Alice tidak berasal dari bumi ini, melainkan dari dunia lain yang terdampar di sini. Atau kalian sedang mendapat hukuman!" ujar Tristan membuat Xander menatap Tristan lagi.  "Hentikan omong kosongmu itu Tristan, dulu juga kau mengatakan bahwa aku bukan dari dunia ini. Apa kau lagi-lagi membuat lelucon yang sama seperti dulu? Itu tidak lucu mengingat bahwa aku masih saja berada di bumi ini!" kesal Xander  "Kau dan Alice memiliki aroma yang sama Xander, jika kau adalah aku. Kemungkinan besar kau juga akan membicarakan hal itu. Aku rasa kalian memang saling terhubung di masa lampau. Kalian bertiga lebih tepat nya, namun aku rasa ada salah-satu dari kalian yang sedang dilindungi!"  Alice menatap Xander dan juga Logan, "Ini kedengaran menarik. Jadi, aku dari mana? Apa dari planet mars?Atau dari yupiter? Atau dari planet Pluto?" seru Alice membuat Xander hanya mendengus kesal. Ia lalu menutup buku nya dan memejamkan matanya. Memilih untuk tidur saja daripada menanggapi ucapan dari Tristan yang sama seperti dahulu. Dan itu membuat nya cukup kesal dan ingin menutup mulut lelaki itu.  ***** "My Lord, mereka sudah berangkat dan sekarang masih berada di perjalanan. Tristan juga bersama dengan mereka!" seru Damian memberikan hormat pada sosok yang sedang duduk membelakangi nya itu.  "Apa Tristan bisa aku percaya? Aku rasa dia tidak akan mampu melawan bahaya yang datang sewaktu-waktu!"  "Tidak hanya Tristan My lord, hamba juga mengutus beberapa 'pemburu iblis' untuk mengikuti mereka!"  "Bagus lah, awasi terus mereka dan jangan biarkan mereka terluka! Aku akan pergi ke kerajaan beberapa saat, ini sudah bulan purnama. Mereka pasti membutuhkan ku. Ingat jaga mereka selalu"  "baik my Lord!"  Damian segera menghilang, meninggalkan sosok itu sendirian. Sosok lelaki berjubah putih yang sedang menatap bulan yang berada di atas nya. Ia menarik nafas nya dalam bersamaan dengan kabut putih yang mulai menguasai nya dan  Husssss Sosok yang tadi nya adalah lelaki yang sudah berumur dan terlihat keriput kini kembali ke asal nya. Ia berdiri di depan bangunan megah dan mewah yang masih sama saat ia terakhir kali berkunjung ke sana. Gerbang menjulang tinggi itu tiba-tiba terbuka dan para penjaga yang langsung menunduk hormat "My Lord!" seru mereka  Sosok itu menggunakan jubah putih, tubuh nya tinggi dan wajah nya begitu bersinar ditimpa cahaya matahari yang menyejukkan. Sangat berbeda jauh dengan bumi. Matahari di dunia mereka sama-sekali tidak sepanas matahari yang berada di bumi.  Sosok itu melangkah melewati gerbang itu, setiap yang berpapasan dengan nya langsung sujud bersembah pada nya. Ia terus melangkah memasuki setiap pintu yang masih saja sama. Hingga ia tiba di sebuah taman yang masih saja terawat. Dari tempat nya berdiri, ia menatap sosok wanita yang masih saja sama seperti dulu. Ia melangkah mendekati sosok wanita itu dan "kau mengabaikan kedatangan ku Arra?"  Gadis yang tadi sibuk dengan tanaman nya itu menatap sebuah tangan yang memeluk nya dari belakang. Dengan begitu antusias, ia melepas tangan itu dan menatap sosok lelaki yang begitu ia rindukan. "Aku merindukan mu!" guman Arra sambil meneteskan air matanya  "Jangan menangis sayang, itu menyakiti ku!" seru Ken lembut mencium kening Arra yang begitu ia rindukan. Istrinya yang tercinta, dan amat-teramat begitu penting bagi nya.  "Kau tidak memberitahuku bahwa kau ingin datang!"  Ken-- lelaki bertubuh tinggi itu, penguasa dari kerajaan kronika. Sang Lord dari semua para penguasa dari masing-masing kaum di dunia itu. Terkuat dan 'kisah nya ada di buku Falling For The genius'. Ia menatap Arra, mendekatkan tubuh mereka berdua, Ken menundukkan wajah nya. Mendekati wajah Arra yang hanya tersenyum saat melihat Ken. Wajah itu begitu dekat, dengan bibir yang saling bertautan. Ken terus melumat bibir ranum Arra. Menekan tengkuk gadis itu dan memperdalam ciuman mereka. Lidah ken sukses mengabsen semua yang ada di dalam mulut wanitanya itu, ia terus memperdalam ciuman mereka. Hingga ketika Arra mengelus rahang nya, ia sadar bahwa gadis di depan nya meminta lebih.  "Jangan di sini sayang, kau mau bunga-bunga itu melihat kita?" seru Arra saat sadar hasrat dari sang suami nya sedang tinggi.  Huppp..  Arra dan ken tiba-tiba sudah berada di kamar mereka. Ken berada di atas tubuh gadis itu, namun tidak ingin menindih nya. Ciuman Ken lanjut dan semakin liar, Ken dengan perlahan mulai membuka baju nya dan baju Arra. Mereka terus melanjutkan kegiatan mereka dengan tembok kamar sebagai pemisah kegiatan mereka dari dunia luar.  Ken menatap Arra yang juga sedang menatap nya, ia berbaring di ranjang nya dan membawa Arra ke dalam dekapan nya.  "Aku merindukan mu, sampai jika bukan karena putri kita. Aku rasa aku ingin melawan hukuman dari moongoddess untuk ku!" seru Ken dengan air mata yang mengalir.  Arra bangkit dari pangkuan Ken, sang suami. Ia menghapus air mata Ken, dan mengecup bibir nya. Arra memang selalu menyibukkan diri nya, agar sejenak lupa dengan masa-masa berat yang sedang mereka jalani saat ini. Sebagai seorang Ratu, seorang istri dan seorang ibu untuk anak nya yang bahkan belum ia lihat sampai saat ini benar-benar membuat nya hampir menyerah. Jika bukan karena 'Ken' yang terus memberinya tenaga dan semangat, Arra rasa lebih baik ia mengakhiri hidup nya sendiri.  "Bagaimana dengan Alice, Ken? Apa putri kita sudah tumbuh dengan baik?" seru Arra yang berusaha untuk menahan air mata nya  "Dia baik-baik saja sayang, dan dia tumbuh menjadi wanita kuat sepertimu. Dia begitu cantik, mirip sekali denganmu. Namun sikap nya hampir sama dengan ku. Dia sedang menuju perjalanan menuju Sebastian, putra dari pemimpin kaum siren. Aku tidak bisa memeluk putri kita nak, namun aku menunjukkan wujud manusia ku pada nya. Dia tidak penakut!" isak Ken. Ia lagi-lagi menangis di depan istrinya.  Arra hanya bisa tersenyum, ia membawa Ken ke dalam pelukannya. Setelah kesalahan besar itu, tidak ada yang bisa menenangkan hati dan pikiran dari ken. Sejak saat itu juga, Ken menunjukkan sisi lemahnya. Tepat saat putri mereka mendapat hukuman di bumi.  *** Perjalanan mereka masih terus berlanjut, hari sudah malam. Tritan sudah berganti dengan Logan yang memang tidur sejak tadi. Xander melirik Alice yang masih tertidur di pangkuan nya, itu terjadi saat Logan memaksa nya untuk membaringkan Alice ketika gadis itu terlelap. Xander menatap Alice lama, hingga ketika gadis itu tiba-tiba terisak membuat  panik.  Air mata Alice membuat Xander meraba kening gadis itu. Logan yang juga mendengar nya melirik Xander, "Bangun kan dia Xander, aku rasa dia bermimpi buruk lagi!"  Xander mengangguk, "Alice, hey! Bangun Alice!" ujar Xander menggoyangkan wajah Alice.  Gadis itu tiba-tiba mengerjap dan menatap Xander. Alice yang tiba-tiba di bangunkan terkejut menatap Xander yang ada di depan wajah nya. Ia langsung bangkit dan duduk di sebelah Alice.  "Berikan dia minuman yang ada di belakang Xander, s**u bear brand putih itu. Itu bisa menenangkan nya!" seru Logan lagi membuat Xander tertegun. Ternyata Logan sudah sangat lama memberikan perhatian pada Alice.  Namun ia segera mengambil s**u itu dan memberikan nya pada Alice, "Ini,minum lah!" seru Xander  Alice meminum s**u nya, setelah ia selesai. Ia menatap jalanan yang sudah lama, lalu menatap Xander dan Logan. "Apa aku tadi tertidur di pangkuanmu? Maaf jika merepotkanmu!" seru Alice merasa tidak enak pada Xander.  "Tidak masalah. itu juga Logan yang menyuruh ku!"  "Ahhh begitu, tapi aku tetap berterimakasih kepada mu!" seru Alice menatap Logan dari kaca spion di depan mereka.  "Tapi tunggu dulu, mengapa semua isi koper itu minuman dan makanan ringan saja?  Dan juga beras?" tanya Xander membuat Alice segera berbalik dan menatap isi koper dari Logan. Ia meneguk ludah nya, lalu "Apa ini semua kau bawakan untukku?" seru Alice  Logan hanya tersenyum, "Jika malam kau bisa saja bermimpi buruk. Aku membawakan s**u yang biasa kau minum. Jika pagi kau selalu merasa kehausan jika tidak minum 'le minerale', jika siang kau selalu ingin makan snack. Jadi itu semua untuk mu!" seru Logan membuat Alice terdiam. Tidak hanya Alice, tapi Xander juga mendadak tidak bisa berkata apa-apa lagi. Selama berada di dalam satu atap yang sama dengan Alice, Xander memang selalu memperhatikan bahwa Alice selalu menyediakan semua itu di rumah nya. Dan rutin mengkonsumsinya setiap hari.  Jadi, apa selama ini perasaan Logan pada Alice sudah sedalam itu? Bahkan Tristan yang tadi terlelap tiba-tiba terbangun, ia menepuk bahu Logan "Kau lelaki sejati! Aku mau minum bearbrand nya dong. Lagi pula aku yang memaksa Logan agar membawa Semua isi kulkas itu!" kekeh Tristan menghancurkan suasana romantis yang tadi sudah tercipta.  Xander tiba-tiba membuang muka kesal, begitu juga dengan Alice yang tiba-tiba berbaring lagi di pangkuan nya. Xander melotot, "Aku masih ngantuk, sini tanganmu harus mengelus kepala ku. Aku sudah ngantuk lagi!" seru Alice dengan tidak tau malu nya menarik tangan Xander dan membawa nya ke kepala nya. Memaksa agar Xander mengelus nya. Logan yang menatap itu hanya terkekeh. Penderitaan memang selalu ada jika bersama dengan Alice. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD