Bagian 37 || Hal yang sama namun tidak sama||Tristan menatap mereka semua dengan datar, "Kita masih bisa keluar. Jangan mengunci apa yang kalian bisa lakukan hanya karena imajinasi kalian semata!" seru nya berjalan melewati Alice, Xander dan Logan. Tangan Tristan terangkat untuk membuka, Klik, Tristan membuka kembali. Namun pintu yang tadi mereka masuki tidak bisa terbuka membuat Xander yang menatap gerakan Tristan mendekati pemuda itu.
"Kenapa?" seru Xander
"Pintu nya tidak bisa terbuka, apa ini kebetulan saja atau memang mimpi kalian itu adalah sebuah fakta?" ujar Tristan sambil membalikkan badanya. Ia meneguk saliva nya kasar, berharap bahwa ia tidak sedang berada di dalam imajinasi yang sedang diciptakan oleh ketiga orang yang sedang bersamanya.
Plakk-- "Ahhhh!" teriak Tristan mengaduh saat merasakan kepala nya di hantam sesuatu yang keras. Ia menatap sebuah batang kayu yang berada di tangan Alice yang sudah berada di sebelah nya, entah sejak kapan.
"Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?" seru Tristan yang baru saja sadar bahwa kepala nya mengeluarkan darah
"Syukurlah, kau masih masih berada di dunia nyata. Tidak berada di dalam imajinasi yang kami ciptakan!" kesal Alice lalu membuang kartu nya. Berjalan ke sini Xander yang juga sedang menatap nya. "Kau pikir kami senang berada di dalam situasi ini? Kami juga benci jika harus melihat hal-hal seperti ini!" sambung Alice yang masih kesal.
"Sudah Alice, siapapun yang melihat kita seperti ini pasti tidak akan percaya" guman Xander menenangkan Alice yang masih marah
Tristan terdiam, ia menatap Xander yang hanya memberinya sebuah isyarat agar tidak mengganggu atau menyinggung gadis di sebelah nya lagi. Tristan jadi merasa bersalah mendengar ucapan dari gadis itu.
"Lalu, apa kita akan memasuki lantai dua?" ujar Logan yang semakin merapat ketika sebuah kepala tiba-tiba berguling ke arah kaki nya. Kepala itu mengeluarkan darah, matanya dicongkel dan wajah nya penuh dengan sayatan. Bau amis seketika memenuhi indra penciuman mereka.
Alice memegang tangan Xander yang tidak bereaksi sama sekali, pergerakan Alice membuat Xander menatap nya. "Tenang lah, kau bersama dengan kami dan kau bisa melewati nya"ujar Alice membuat Xander lagi-lagi tersentuh. Ia balas memegang tangan Alice, "Aku baik-baik saja selagi kita semua bersama dan saling melindungi lebih tepatnya!" jawab Xander menaikkan kedua sudut bibirnya.
Jujur saja, Xander memang tidak lagi terlalu terkejut ketika melihat darah. Phobianya tidak semenakutkan dulu lagi, dan intinya ia sudah bisa menguasai kontrol nya. Sejak ia bersama dengan Alice dan Logan. Dan sejak mereka terus-menerus mengalami hal seperti ini.
"Maaf aku salah!" seru Tristan menatap Alice yang sejak tadi memberinya tatapan api permusuhan
Alice diam, Logan menyenggol lengan gadis itu "Baiklah, tidak masalah. Tapi jangan begini lagi, kami juga ingin keluar dari masalah ini secepatnya agar tidak membahayakan orang-orang lagi!"
"Baiklah, aku tidak akan mengulangi nya lagi!" seru Tristan sambil tersenyum menatap tiga orang yang sedang berada di depan nya sekarang ini.
Mereka lagi-lagi terdiam saat merasakan ada pergerakan di sekitar mereka, mata Logan menangkap bahwa ada sesuatu yang menatap mereka dari kegelapan. Sebuah tatapan dari kegelapan yang berasal dari tirai jendela yang menutupi mereka dari dunia luar.
"Apa kalian merasa ada yang sedang menatap kita dari tirai itu?" ujar Logan
Alice menatap Logan "kau bisa menggunakan kekuatan mu Logan. Kau bisa berkata dimana arwah yang berbahaya dan dimana setan atau iblis yang mengintai kita!"
Logan menarik nafas nya, ia menutup kedua matanya. Dengan meyakinkan tekad nya, ia membuka kedua matanya dengan manik yang sudah berubah menjadi warna putih. Namun tidak semenit ia menggunakan kekuatan nya--"Ahhhhhh!" teriak Logan melompat ke dalam gendongan Tristan yang melongo.
"Ada apa?" ujar Xander
"Lihat lah tirai itu, sosoknya begitu mengerikan. Sosok itu mati karena di gantung dari lantai dua. Kepala nya masih di sana, namun tubuh nya sudah dimakan oleh gagak!" ujar Logan masih memeluk Tristan
"Lepaskan saja dulu dia Logan, kau seperti anak kecil saja!" seru Xander yang menyadari raut kesal Tristan karena Logan masih berada di dalam gendongan lelaki yang lebih besar dan tinggi daripadanya itu.
"Ahh-- maaf. Tadi aku refleks saja, aku tidak bermaksud demikian!" ujar Logan lalu turun dari pangkuan Tristan. Logan terkekeh dan berjalan menuju Alice dan Xander. Lebih aman baginya bersama dengan mereka, karena mereka pasti sudah tau seperti apa kebiasaannya jika sedang takut.
"Kita kesana!" seru Tristan
Alice sekilas menatap bahwa sebuah tatapan berasal dari balik lemari, ia meneguk saliva nya kasar. Xander dan Logan sepertinya mengikuti Tristan. Namun langkah Alice teralih, ia berjalan mendekati lemari itu. Gelap dan sedikit lembap, ada sebuah celah di sana. Alice semakin memasuki ruangan gelap itu dan seketika itu juga ia melangkah mundur saat ada seorang anak kecil yang ternyata sejak tadi menarik perhatian nya. Sosok anak kecil dengan pisau di tangannya, menatap Alice dengan kepalanya yang hampir putus.
"Halo kakak cantik?" kekeh nya membuat semua bulu kuduk Alice naik
"S-siapa kamu?" seru Alice
"Aku? Aku Ruka dan….aku suka sama kakak cantik. Kata ibu orang cantik, -harus mati!" seru nya dengan leher nya yang kembali tersambung. Sosok anak kecil itu tiba-tiba melompat dan "Ahhhhhh!" teriak Alice saat tidak siap menerima serangan mendadak itu.
Brakk---"Xander?" guman Alice saat merasakan badan nya remuk karena ditindih Xander
"Logan, sekarang!"
Prang---Brukk-- Pedang Logan beradu dengan pisau milik anak kecil itu, Tristan berdiri di depan mereka dengan mulutnya yang terus berkomat-kamit. Xander segera berdiri, "kau tidak apa? Ada yang sakit?" seru Xander
"Aku tidak apa-apa!"
"Bantu Tristan untuk membuat portal pelindung itu, kita harus membunuh satan ini lebih dulu. Kita harus bisa menahan ibunya yang sudah menyerang sejak tadi!"
"baik!" seru Alice lalu berjalan dengan kaki sempoyongan menuju Tristan
"kakak Cantik harus mati!"
Logan yang baru saja ingin berdiri segera berteriak ketika sadar bahwa satan kecil itu hanya mengincar Alice "Alice, awas!"
Brukk---pranggg--- "Arghh!" desis Alice saat ia membentur dinding
Ia lalu menatap sosok satan bernama 'Ruka' itu yang sedang melotot padanya. Alice lalu menatap Xander yang merintih kesakitan sambil memegangi lututnya. Mata Alice tiba-tiba membulat saat menyadari bahwa Xander yang lagi-lagi mendorong nya. Namun lelaki itu terluka, pisau satan kecil itu menusuk lutut Xander. "Xander, kau- kau!"
"Awas Alice! Menyingkirlah!" teriak Xander sambil mendorong Alice yang hampir saja dicekik oleh satan kecil itu
Ruka menatap Alice yang lagi-lagi lolos dari tangan nya, ia malah menatap Xander. "karena Xander, kakak cantik itu tidak mati. Karena Xander juga, aku tidak bisa membunuh kakak cantik. kakak cantik harus mati!" teriak Ruka malah mencekik leher Xander yang masih terduduk lemas di ding-ding.
"Xander!" teriak Alice
"A-arghhhh!" seru Xander saat leher nya terasa semakin panas. Ia tidak bisa menghirup oksigen saat cekikan itu semakin keras di leher nya. Tristan dari jauh menatap Xander yang sekarat, ia lalu mengepalkan tanganya. Jika ia melepas portal mereka, maka satan yang sedang mengamuk di luar mereka akan menyerang. Dan kekuatan nya akan jauh lebih kuat dari satan kecil yang sedang dihadapi oleh Xander.
"Tidak!" teriak Alice
Ruka yang tadi sedang mencekik leher Xander tiba-tiba terlempar membentur tembok. Kepala Ruka robek sedikit, bola matanya berdarah saat membentur kaca. Darah dari matanya mengalir membuat nya semakin terlihat mengerikan.
"Kakak cantik jahat, orang jahat masuk neraka, orang jahat harus-Mati!"
"Arghhh!!!" teriak Alice saat tiba-tiba kaki nya serasa diremas. Ia berusaha meronta saat 'Ruka' menggigit kakinya. Ia terus berteriak"Lepaskan aku!" seru Alice
"Kakak buat mata Ruka berdarah, kaki kakak gantinya"
Logan berdiri, ia lalu menatap sebuah peluang. "Menyingkirlah!" seru nya sambil menusukkan sebuah belati yang tiba-tiba ada di tangan nya. Belati itu menusuk jantung Ruka dengan tepat, membuat gigitan nya lepas dari kaki Alice yang terasa remuk. Rasa sakit digigit setan lebih menyakitkan dari gigitan apapun.
"Xander, giliran mu!"
Xander berusaha untuk bangkit, ia merapalkan beberapa mantra nya dan mengarahkannya pada Ruka. Blushhhh--- Ruka sekejap menghilang menjadi debu saat api Xander membakar badan nya. Ruangan itu juga tiba-tiba terbakar, "Lari, kita harus segera keluar" seru Tristan melepas portal yang melindungi mereka.
Ia segera mendobrak pintu, Logan dan Xander segera berlari menuju pintu. Alice berusaha, namun kaki nya terasa remuk. Ia masih bisa merasakan panas yang semakin menyakiti kaki nya. Xander yang sudah hampir keluar, segera berhenti saat Alice masih berada di dalam. Ia balik ke arah gadis itu dan menatap kaki Alice yang mulai menghitam.
"Alice!" seru Xander saat Alice tiba-tiba pingsan dan tidak sadarkan diri. Ia bergegas mengangkat gadis itu keluar. Dan rumah itu seketika roboh saat mereka keluar.
"Xander, cepat bawa Alice kemari!" teriak Tristan yang sudah berada di depan patung malaikat itu.
Xander menurut, ia membawa Alice ke sana.
"Duduk kan dia, masukkan kakinya ke dalam air itu! Jika tidak, maka Alice juga bisa ikut hancur seperti iblis itu!" seru Tristan
Xander dan Logan saling menatap
"Cepat Xander, masukkan kaki Alice ke dalam air itu!" teriak Tristan
Xander mengangguk, ia memasukkan kaki Alice ke dalam air itu. Seketika itu juga air itu berputar, patuh itu juga ikut bergerak. Sayap-sayap putih tiba-tiba memenuhi air itu. Xander segera membawa Alice keluar dari air itu, dan ajaibnya. Kaki Alice yang tadi digigit oleh satan itu sudah pulih. Kaki Alice tidak menghitam lagi.
"Terimakasih sudah membantu kami!" seru Tristan membungkuk di depan patung yang sudah kembali dalam keadaan semula itu. Sayap-sayap yang tadi memenuhi air itu juga ikut menghilang.
"Kita segera pergi! Dia sudah membiarkan kita kembali dan juga mengucap terimakasih!" seru Tristan
Mereka segera memasuki mobil, Tristan yang kali ini mengemudikan mobil Logan. Xander di belakang dengan kepala Alice yang berada di atas pangkuan nya. Ia mengelus rambut Alice yang masih belum sadarkan diri. Fajar sudah mulai tenggelam, dan mereka baru meninggalkan lokasi hutan pinus. Di tengah perjalanan, semua masih terdiam. Terasa masih syok dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ruka adalah jenis satan yang memiliki dendam banyak, awalnya dia adalah hantu biasa. Namun berubah menjadi satan karena dendam nya!" seru Tristan memulai percakapan karena mobil mereka hanya terdapat suara nafas manusia.
"Apa kau mengenai satan kecil itu?" ujar Logan menanggapi
"Aku tau, beberapa kali teman seperti ku menceritakan ingin memusnahkan satan itu. Namun tak jarang mereka kembali dengan keadaan lumpuh karena gigitan nya!"
"Apa yang membuat rumah itu tiba-tiba terbakar?" seru Xander yang ikut dalam percakapan Logan dan Tristan
"Ruka adalah pemilik rumah itu, dia membawa semua hantu yang memiliki dendam sepertinya ke sana. Mereka membunuh siapapun manusia yang masuk ke sana. Di antara banyak nya hantu dan satan di sana. Rukan lah yang paling berbahaya, hanya dia dan beberapa satan lainnya yang bisa melukai manusia! Jika Ruka hancur,maka rumah itu juga akan ikut hancur. Namun aku tidak tahu mengapa rumah itu malah terbakar. Sosok di luar tadi adalah ibunya Ruka. Mereka meninggal di bunuh dengan gantung diri. Ibunya itu hanya sebagai pengalih saat Ruka ingin memusnahkan semua manusia yang masuk ke sana" jawab Tristan
"Mengapa Ruka mengincar Alice?" seru Logan
"Alice? Dia adalah gadis istimewa Logan, sebenarnya dia juga mengincar Xander, namun aura Alice lebih dominan dan mengalihkan aura Xander! Namun, saat Ruka mencekik leher Xander. Alice memisahkan mereka bukan? Bagaimana itu terjadi, apa telekinesis Alice tidak harus memindahkan benda? Sementara tadi aku tidak melihat gadis itu memindahkan benda"
"Aku juga tidak tahu mengenai hal itu,tapi tunggu sebentar. Darimana asalnya pisau yang tadi bersama ku?" tanya Logan
"entah lah, aku rasa ada sosok yang mengawasi kita tadi! Dia memiliki aura yang begitu besar!"
"Tunggu dulu, mengapa kau tau bahwa air itu bisa menyembuhkan luka gigitan satan?" sambung Xander yang baru saja teringat hal itu
"Sebenarnya aku tidak tahu, namun saat melewati patung itu. Aku bisa merasakan aura yang begitu positif dari patung itu. Teman-teman ku juga pernah mencoba nya dan mereka bilang itu sangat manjur. Banyak yang berkata bahwa itu adalah kekuatan dari malaikat Gabriel yang masih tersisa di dalam patung itu. Itu juga sebab nya patung itu masih bisa bergerak!"
"Apa patung di perbatasan itu juga bisa bergerak?" seru Logan
"Tidak tahu, aku tidak pernah merasakan ada kekuatan dari patung itu!"
Leher Logan tiba-tiba merinding lagi saat mengingat bagaimana Ruka, satan kecil itu dengan gesit nya ingin membunuh nya. Ia menaikkan bahu nya, berurusan dengan makhluk seperti mereka merupakan sebuah mimpi buruk bagi Logan.
"Tidakkkkkk!"
Alice yang tadi merasa ada yang menggigit kakinya segera berteriak keras, nafas nya masih tidak teratur. Bayangan kaki nya yang mengitam membuat nya segera melihat kakinya. Tidak ada bekas luka.
"Alice?"
"Arghhh!" teriak Alice yang terkejut saat tiba-tiba mendengar sebuah suara "Xander" guman Alice saat berbalik dan menatap Xander
"Ya, ini aku. Kau sudah sadar rupanya!" seru Xander dengan suara pelan
Alice yang baru sadar bahwa suara Xander terasa sedikit berbeda langsung kembali duduk. Ia ternyata sedang duduk di atas pangkuan lelaki itu "Kaki ku, tidak hitam lagi!" ujar Alice lalu menatap Logan, Tristan dan Xander yang mengangguk.
"Apa kalian baik-baik saja?"
"Kami baik, namun kaki Xander masih terasa sakit. Terlebih ada sosok yang menduduki kaki nya tadi!" seru Logan membuat Alice segera menatap kaki Xander yang masih diperban. Dan seketika itu juga ia sadar bahwa kaki Xander terkenal pisau dari iblis itu.
"Kaki mu!" seru Alice
"Tidak apa-apa, sekarang aku ingin tidur. Bisa aku pinjam pangkuan mu sebentar?" guman Xander
"ehh?"
Alice menatap Logan yang tiba-tiba bersuara, ia hendak protes namun Xander sudah lebih dulu meletakkan kepalanya di atas pangkuannya. Alice tidak lagi bisa protes saat menatap wajah kelelahan Xander yang berada di hadapan nya. Tangannya terulur dan mengelus rambut Xander. Mengabaikan protes dari Logan dan kekehan dari Tristan yang sedang mengemudi.