Bagian 36 || Rumah Dengan sayap Malaikat||"Mereka berhasil selamat dari ruang ilusi pemuda itu 'My Lord'!"
Lelaki yang masih memandangi tabung besar itu menatap Damian, ia menarik nafas nya dalam lalu berbalik. Menatap tangan kanan nya yang selalu setia pada-Nya "Siapa pemuda itu Damian? Dia memiliki aura yang sedikit terasa 'familiar' juga untuk ku!" ujar Ken,berjalan menuju rak buku nya. Setelah ia kembali lagi ke bumi, ia langsung mendapat kabar tidak enak di dengar dari Damian.
"Hamba sedang mencari tahu nya my Lord, tapi Alice baik-baik saja beserta ketiga lelaki yang bersama nya!"
"Awasi mereka terus, jangan biarkan mereka terluka"
"Lord, tapi aku rasa ada sesuatu yang istimewa dari Alice. Kupu-kupu dari leluhur 'kaum Pemburu' itu menunjukkan diri pada Alice. Dan sampai sekarang, leluhur mereka sedang mengikuti Alice. Hamba juga sedang menyelidiki masalah itu, meskipun sedikit sulit karena para tetua dari kaum itu sulit sekali untuk memberikan informasi!"
Ken meletakkan buku Nya, ia menatap Damian dengan alis putih nya yang berkerut. Saat kembali ke bumi, usia Nya memang sudah tidak muda lagi. Itu sebab Nya ia menjadi lelaki yang berkeriput.Dan nampaknya Damian tidak mengenali siapa tetua itu "Kita akan ke sana, aku akan menemui tetua mereka!"
"Tapi my Lord, anda tidak bisa banyak menginjakkan kaki di wilayah bumi. Bisa saja nanti 'MoonGoddess' akan semakin menambah hukuman anda!" ujar Damian khawatir
"Itu adalah wilayah yang masih bisa aku kunjungi Damian. Tidak perlu terlalu mencemaskan ku, aku di sini bukan karena kesalahan ku. Tapi aku datang kemari, karena ingin membawa sesuatu yang seharusnya tidak berada di bumi ini Damian!Meskipun di mata MoonGoddess itu salah, aku tetap akan membawa-Nya kembali" seru Ken menatap tabung kaca itu lagi.
Damian ikut menatap tabung kaca itu, sudah hampir seribu tahun. Namun sosok di dalam tabung itu tak kunjung membuka matanya. Membuat Ken, Lord mereka terus-menerus merasa bersalah dan hendak melawan 'Moon Goddess'. Namun beruntung Arra masih berada di sisi Lord mereka. Hingga Ken bisa menahan amarah nya untuk tidak menjadi seorang pemberontak.
"Baik my Lord, saya akan menemani Anda untuk mengunjungi wilayah itu!"
****
Damian dan Ken sudah sampai di wilayah 'the Forest', dari tempat mereka berdiri sekarang. Ken bisa merasakan bahwa suku itu adalah kaum yang cukup tenang. Ia juga masih bisa merasakan sisa-sisa dari aura Alice yang begitu khas bagi nya.
"My Lord? Haruskan saya membuat pengumuman bahwa anda ke sini?" ujar Damian
"Tidak perlu repot-repot Damian, aku rasa tetua itu sudah menyadari bahwa aku berada di wilayah mereka. Lihat saja, sosok itu sedang berjalan menuju ke sini"
Damian menatap sosok lelaki tua yang memang berjalan ke arah mereka. Sosok itu terus berjalan, "Lord Keano?" seru nya menatap Ken untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat kali ini.
"Senang melihat anda masih bertahan di sini tetua Im. Bahkan setelah anda di usir oleh MoonGoddess dari Dunia Cronika!"
"Ahhh, aku tidak salah lihat. Salam saya Lord!" seru Im, tetua dari suku itu. Dari kejauhan ia memang bisa merasakan ada aura yang begitu kuat memasuki wilayah mereka. Itu sebabnya ia segera turun dari tenda camp nya dan tidak menyangkan bahwa aura itu berasal dari sosok yang sangat dikagumi.
"Mari masuk ke camp kecil saya Lord, ini tidak seperti istana anda. Tapi ini adalah istana untuk ku dan nyaman untuk ditinggali!"
Ken masuk ke bangunan camp kecil itu, ia duduk di salah-satu batu besar yang tersedia di sana. Ia menatap seisi camp tetua Im, tidak ada barang mewah. Hanya terdapat lukisan, ia memperhatikan lukisan itu. Lukisan dari dunia mereka dulunya. Ia jadi teringat dengan lukisan di kerajaan nya dan semua itu dibuat oleh tetua Im.
"Maaf jika terlalu kecil My Lord, ini silahkan diminum" seru Im ketika ia sudah kembali dengan sebotol minuman yang berada di tangan nya. Ia menuangkan nya dan memberikan nya pada Ken.
"Sudah lama tidak bertemu, dan anda tambah menua ketika berada di bumi Lord"seru Im
"Ahhh, begitu juga dengan Anda tetua Im. Aku bahkan tidak pernah menyangka bahwa kau masih bisa hidup di usiamu yang sudah ribuan tahun ini!"
"Aku rasa hukuman dari MoonGoddess sudah cukup untukku My Lord, aku tidak sabar ingin segera kembali ke Cronika. Aku sudah merindukan para burung Phoenix itu, mereka pasti tidak akan mengenalku dalam bentuk tua ini!"
"kapan hukuman mu akan selesai tetua Im?"
"Ahh, aku rasa tidak lebih dari sebulan lagi my Lord!"
"Aku punya pertanyaan untukmu!" seru Ken mulai serius
"Ya Lord, apa yang bisa saya bantu?"
"siapa kupu-kupu itu?"
Tetua Im tersenyum saat tau bahwa Lord mereka pasti akan bertanya mengenai hal itu. Ia sudah kenal sangat lama dengan sosok di depan nya, satu-satu nya Lord , sang penguasa dari dunia cronika yang paling dingin namun tidak pernah menunjukkan kekuasaannya itulah sosok Ken di hadapan orang-orang. Namun dalam tatapan nya, Ken seperti anak nya. Lord nya sangat perhatian pada setiap orang, tidak pernah melakukan sesuatu kesalahan. Hingga saat hal itu dilakukan oleh nya, maka ia memutuskan untuk ikut turun ke bumi demi meringankan beban hukuman dari Ken.
"Kupu-kupu itu adalah milik dari Alice my Lord, dia adalah pemilik sesungguh nya. Kupu-kupu itu adalah salah-satu makhluk yang juga turun dari kerajaan ke bumi ini. Salah-satu makhluk yang paling Alice sayangi saat itu!"
"Aku sudah menduganya!"
"Alice bertambah kuat My Lord, apa sosok itu masih belum terbangun?"
Ken menghela nafas nya, "Saya rasa anda tau tetua Im. Jika sosok itu sudah terbangun,maka hukuman ku atas nya sudah selesai"
"Aku tidak tau semarah apa sekarang MoonGoddess, tapi aku berharap kemarahan nya itu sudah mereda!"
"Aku bahkan tidak ingin mendengar bahwa dia sudah memaafkanku, karena aku sama-sekali merasa tidak salah!"
Tetua Im tersenyum, Ken memang benar atas pembelaannya itu. Namun selama mereka sudah dihukum, itu tanda nya bahwa mereka memiliki salah yang tidak mereka sadari. "Sudah lah Lord, sebaik nya kita hanya bisa berharap bahwa tidak akan ada lagi hal buruk selain masalah ini.
"Aku butuh bantuanmu!"
***
Alice kali ini bergantian, ia mengemudikan mobil mereka dan Logan duduk di sebelah nya. Sejauh perjalanan mereka, tidak ada yang terasa mengganggu. Seolah mereka sedang dilindungi oleh sosok yang tidak kasat mata.
"Ahhh, ngomong-ngomong ini simbol apa? Aku tidak sengaja menemukan nya saat berada di rumah!" seru Tristan menunjukkan simbol yang sering di gambar oleh Alice setiap malam.
Xander yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya menarik kertas itu, "Darimana kau dapatkan ini?"
"Aku tidak sengaja mendapatkannya Xander, dan di ding-ding kamar kalian juga ada simbol itu!"
Alice menghela nafas nya, "Aku juga tidak tau itu simbol dari apa, saat pertama kali juga aku terkejut ding-ding kamar ku sudah penuh dengan simbol itu. Dari penjelasan yang kami dapat dari Mr.Erick dan ayah nya Logan. Mereka mengatakan bahwa itu adalah simbol kefanaan!" jawab Alice
"Ini sedikit aneh!" ujar Tristan mengerutkan kening nya "dan apa itu sebab nya Mr.Robert ingin aku membawa kalian pada Sebastian?"
"Ya, kau benar!" jawab Alice sesekali melirik Tristan dari kaca spion depan nya
"Apa kau tau mengenai simbol itu? Simbol itu juga ada pada ukiran di setiap korban yang dibunuh dengan keji! Aku bahkan merasa ini semua saling terhubung!" seru Logan
"Aku rasa ini adalah sebab nya Oliver mengincar mu Alice, sejauh yang aku amati dari lelaki itu saat bergabung dengan ras vampire. Mereka begitu mengagungkan simbol itu dan bahkan memuja nya!"
"Mengagungkan simbol ini? Bukankah ras Vampire tidak bergabung dengan ras para iblis?" ujar Logan menatap Tristan
Xander yang sejak tadi diam saja,menarik nafas nya dalam "Vampire bersekutu dengan ras para iblis itu Logan, jangan terlalu banyak percaya dengan film fantasi yang kau tonton. Itu hanya lah imajinasi yang menyatakan keinginan dari para penulis nya, seperti penulis jalan cerita kita ini!" seru Xander
"Aku baru tahu bahwa vampire itu nyata!" guman Alice membuyarkan percakapan serius Logan dan Xander.
"Mengapa sulit sekali bagiku untuk percaya?" ujar Tristan
"Entahlah, aku tidak merasa yakin saja!" seru Alice
Mereka kembali diam, meski sudah memasuki siang hari. Namun udaranya masih terasa dingin. Xander memperhatikan kaca jendela luar mereka, sejauh ini ia tidak merasakan ada yang mengintip mereka. Namun ia bisa merasakan ada arwah yang melihat mereka dari jauh saat Alice menghentikan mobil mereka dan ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu berhenti.
"Kenapa berhenti?" guman Xander
"Di sini terlalu banyak!" ujar Logan
"Apa nya yang terlalu banyak?" heran Tristan
"Ahhh, maaf. Tadi aku menerawang, dan sejauh yang aku lihat banyak roh mahluk halus yang bergentayangan di sini. Mereka bisa menyakiti kita, karena mereka mati dengan penuh dendam!"
"Jadi itu alasan Alice berhenti? Tapi kapan kalian bicara?" heran Tristan
Semua tatapan kini juga tertuju pada Alice yang masih menatap ke arah depan mereka "Aku tidak sengaja melihat arwah dari jauh. Mobil kita juga tadi sedikit oleng, itu sebab nya aku berhenti!"
"Sekarang aku tidak mengerti!" ujar Tristan menggelengkan kepala
"Aku rasa mereka ingin menyampaikan sesuatu pada kita, mereka berkerumun dan menunjuk itu. Astaga!! Rumah?" heboh Logan saat menatap apa yang ditunjukkan oleh para arwah di depan mereka.
"Kau benar, aku juga bisa merasakan arwah itu. Mereka seperti nya tidak bersama dengan iblis, jika mereka bersama dengan mereka. Maka aku bisa melihat mereka!" guman Tristan
"Jadi? Apa kita harus turun dan mengikuti apa yang mereka inginkan? Ini sudah terlalu siang dan matahari lebih cepat tenggelam di sini!" seru Xander
"Ada baik nya kita melihat apa yang membuat mereka meninggal dengan penuh dendam seperti itu. Aku bahkan yakin mereka bisa memberikan kita sebuah petunjuk!" seru Tristan yang lebih dulu turun dari mobil.
Logan menatap Alice, "Aku juga penasaran!" ujar nya lalu turun dari mobil
Sekarang tinggal ia dan Xander, "apa kau yakin kita harus turun?" seru Xander
"Aku tidak yakin, tapi jika kita meninggalkan mereka di sini. Bisa jadi kita kehilangan mereka!" guman Alice
"ck, baiklah. Aku juga akan ikut turun dengan mu. Tapi berjanji lah untuk tidak pergi jauh dari ku!"
Alice menatap manik coklat Xander yang juga sedang menatap nya. Ia mengangguk lalu turun bersama dengan Xander.
"Wahhh, rumah nya begitu besar!" seru Logan saat mereka berada di depan sebuah gerbang dengan rumah yang berada di belakang gerbang itu. Rumah tua, pagar lumutan, dan yang paling menarik perhatian adalah patung yang berada di tengah halaman itu. Patung yang sama dengan yang ada di perbatasan.
"Apa kita harus masuk?" seru Logan
"Aku sudah masuk!" seru Tristan yang sudah mendorong gerbang itu dan membuka pagar yang berdecit karena sudah karatan. Alice, Xander dan Logan saling menatap dengan mulut yang sedikit terbuka. Tristan lebih nekad dari Logan ternyata.
"Aura nya menyeramkan!" seru Logan mendekat pada Alice dan memegang baju gadis itu.
"Lepaskan tanganmu Logan, kau yang pertama turun dan setuju dengan Tristan. Sekarang kau yang takut! Dasar menyebalkan!"
"hehehehe, aku tidak kepikiran bahwa ini sehoror ini. Dan, banyak makhluk halus di depan gerbang itu sedang memperhatikan kita. Bentuk mereka semua nya hancur!" seru Logan yang lagi-lagi menggunakan kemampuan nya.
"Jangan terlalu sering memakai kekuatan mu Logan, kau bisa kelelahan lebih cepat dari biasanya!" guman Xander yang membawa Alice ikut memasuki pekarangan rumah itu.
Mereka mulai menapakkan kaki mereka di halaman itu, tepat di depan patung malaikat yang sama-sekali bersih. Tidak ada mahluk lain yang sekedar duduk di bawah nya, dan para arwah itu menjaga jarak dengan patung itu. "Xander, apa kau ingat dengan ukiran sayap di rumahmu? Mengapa bentuk nya sama persis dengan ukiran sayap malaikat ini?" tanya Alice
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama dengan mu!"
"kalian tidak masuk?" seru Logan yang sudah bersama dengan Tristan
Alice dan Xander berjalan menjauhi patung itu, patung itu terlihat bergerak saat Alice dan Xander berjalan menjauh. Xander segera membalikkan badannya saat merasakan bahwa patung itu bergerak. Ia hendak berbalik lagi --
"Xander? Cepat masuk!"ujar Alice
Xander mengabaikan patung itu dan memasuki ruangan itu,setelah mereka masuk. Pintu tiba-tiba tertutup membuat Alice mendekat pada Xander. Logan yang berada di atas anak tangga tiba-tiba diam membatu, "ini--- ini adalah rumah yang berada di dalam mimpi ku!" ujar Logan membuat Xander dan Alice merapat pada lelaki itu.
"Apa maksud mu?" seru Xander menarik tangan Logan agar lebih dekat pada mereka
"Ini, tangga ini. Itu adalah anak tangga yang sama persis, arsitektur ruangan ini juga sama. Dan, warna bercak darah itu juga sama. Apa mereka menjebak kita?" seru Logan panik
Tristan yang sudah berada di atas anak tangga kembali turun, ia tidak sengaja mendengar percakapan dari mereka tadi.
"Tapi, apa kau melihat ada patung di dalam mimpi mu itu?" seru Alice membuat Logan terdiam. Ia memejamkan matanya, saat itu rumah ini benar-benar sama seperti yang ada di dalam mimpinya. Namun, saat ia bermimpi tidak ada patung itu. Hanya ada satan dan iblis yang ingin menyerang mereka. Logan bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana Alice dan ia hancur di dalam perut iblis 'Jikininki ' itu.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"