Benjamin POV. Sempat ada rasa tidak enak dan deg degan, karena harus berduaan dengan Puput di ruang rawatnya. Tapi ya mau gimana lagi. Kedua orang tua Puput aja menyerah dengan keinginan putri mereka, apalah aku yang hanya teman Puput. Satu satunya jalan keluar yang memungkinkan kami aman berduaan nantinya, ya dengan menyuruh Puput tidur. “Puput belum di periksa sama dokter lagi bang. Harusnya dari tadi, mungkin dokternya pikir ruangan ini ramai kali, jadi belum datang periksa Puput lagi” tolaknya yang pastinya tau jadwal pemeriksaan dokter kalo dia cukup sering masuk rumah sakit. “Tunggu deh, biasanya gue guean?” tanyaku menyadari itu juga akhirnya. Malah cemberut menatapku. “Ngapa?” tanyaku pada tatapannya juga pipinya yang merona. “Abang kenapa juga panggil Puput terus gak elo lag

