Hari ini milik kita

1138 Words
Bayu baru saja sampai galeri, kembali ke ruangannya, dan berencana menghasilkan sebuah karya. Ada yang berkilau di bawah meja, membuatnya mendekat untuk mengambil itu, terkekeh, segera mengambil ponselnya dan mengirim gambar bros itu ke pemilik. Tak menunggu balasan, menyimpan bros itu di tempat yang aman, dan memasang kanvas kosong untuk memulai melukis lagi. ‘Ding.’ Unita yang tengah menemani Gwenza di taman samping rumah, merogoh ponselnya, nama Bayu membuatnya mengerutkan kening karena bukan sebuah pesan yang dikirim untuknya, melainkan sebuah foto. Unita segera memeriksa tasnya, memang bros kesayangannya hilang, mungkin karena terlalu kasar mengambil tasnya tadi. “Sayang, Mama pergi sebentar, ya?” ucapnya sambil mengusap rambut Gwenza. “Mama baru pulang.” rengek Gwenza. Wajah Gwenza membuat Unita serba salah. Tapi membiarkan bros itu tetap di galeri Bayu juga bukan pilihan bagus, itu adalah bros spesial pemberian Nurdin, tak mungkin Unita rela kalau sampai hilang, “Hanya sebentar, Sayang. Mama akan segera pulang. Mama sayang Gwenza.” Unita segera mencium putrinya, kembali ke galeri dengan cepat, dan akan pulang juga dengan cepat nanti. Bayu tersenyum saat tahu ada mobil masuk ke pelataran parkir galeri, tak menyambut malah pura-pura acuh, bahkan saat langkah kaki mendekat Bayu tetap menyibukkan diri dengan kuas dan cat untuk menyelesaikan lukisan senja di kanvas di depannya. “Mana bros itu, Bayu.” Unita tak mau membuang waktu. Bayu terkekeh, “Aku menyimpannya. Di sini banyak cat, jangan sampai malah terkena cat dan menjadi jelek.” “Disimpan di mana, Bayu? Aku tidak punya banyak waktu.” Unita bahkan tak berniat untuk duduk, tetap berdiri di ambang pintu. “Oiya?!” Bayu berbalik, “Tanganku sibuk dan aku menyimpan bros itu di sakuku, kamu bisa mengambilnya sendiri?” Bayu mengangkat ke dua tangannya ke udara, memamerkan kuas dan palet, selain itu tanganya juga terdapat noda cat di beberapa sela jari, cukup meyakinkan untuk aktingnya. Unita pun mendekat dengan ragu, dia tak mungkin menolak dan membuat Bayu yang sibuk malah terganggu hanya untuk mengambil bros itu saja, “Di .. saku yang mana?” tanya Unita ragu. Tak ada saku di kaos yang dikenakan Bayu dan itu artinya di saku celana, kan? “Di sini.” Bayu menunjuk saku celana kanannya dengan kuas yang dia pegang. Unita yang mengerti, mengangguk dan lebih mendekatkan. Tangan kanannya dia ulurkan untuk merogoh saku itu. Setalah ini dia tidak akan melibatkan diri lagi dengan Bayu. Berada sedekat ini membawa gejolak aneh untuknya dan Unita tahu itu tidak baik. Bayu menyeringai, Unita yang sibuk dengan sakunya membuat Bayu tak ketahuan saat meletakkan palet dan kuas di meja kecil di dekatnya. Tangannya dengan lancang memegang pinggang Unita. “Lihatlah! Bros itu saja tak membiarkan kita kehilangan momen ini.” ucapnya sebelum Unita menemukan apa pun. Mendekat, menyatukan keningnya tanpa mengalihkan tatapannya, “Aku tahu kamu mencintaiku juga, Unita. Hanya sedikit ciuman dan kamu tidak mau membiarkanku merasai manis itu, hm?” Bayu menyeringai lagi, jarak ini sangat dekat, dan Bayu tak suka membiarkan perasaannya terlalu berlarut. “Ini salah, Bayu. Aku—“ Unita tak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Bayu sudah melumat bibirnya kasar, dirinya yang sangat tahu adegan apa itu, menolak sekuat dia bisa, tak mau membiarkan kesalahan agar tak terjerumus. Bayu menahan Unita, dipagutnya bibir wanita itu sampai kehabisan napas. Unita mulai menggumam tidak jelas, mencoba melepaskan diri, tapi Bayu begitu kuat menahan tengkuk itu. Bibir Unita yang tetap enggan membuka, membuat Bayu terpaksa menggigit bibir bawah Unita agak kentara. “Akh!” Unita membuka bibirnya, membiarkan Bayu menguasai mulutnya untuk membuang ngilu. Lidah yang menelusup, menaut dan menarik, Unita yang tadinya enggan malah ikut turun tangan, terbuai dengan manis yang terus saja Bayu tawarkan. Bayu tersenyum di sela pagutan itu, terus mendominasi tanpa memberi Unita celah untuk menurunkan gairahnya sendiri. Tangannya tak mau diam, meremas d**a kiri Unita, tak puas hanya dari luar, Bayu memasukkan tangannya ke blus biru yang dikenakan Unita. Kulit itu begitu lembut, sesuai dengan apa yang dia pikirkan selama ini, menaikkan bra agar tak pada tempatnya, memijat lembut kenyal yang pas untuk genggamannya sendiri. “Mpsss ... .” Unita terbuai, kepalanya mendidih oleh sentuhan Bayu dan juga pijatan itu. Saat Bayu melepas lumatan, menyusur di lehernya, memberikan sensasi indah yang tak mampu dia tolak, Unita memejamkan mata, dia tak ingin tapi tak bisa pergi juga. Unita bingung dan tak bisa menolak apa yang Bayu buat ke tubuhnya, sentuhan tiap inci, dan Unita tak tahu kapan blusnya sudah tak terkancing seperti ini. Bayu melakukannya dengan cepat hingga dirinya sendiri seolah linglung tak bisa menguasai gejolak di tubuhnya. Bayu menjeda aksinya, menatap Unita yang tersengal, “Aku tidak akan melukaimu, Unita. Biarkan cintaku tumbuh meski hanya di tempat ini saja. Aku tidak akan meminta hal yang lebih dari ini, percayalah.” Tatapan itu sangat sulit untuk ditolak. Setan apa yang merasuk, Unita malah mengangguk untuk menyetujui permintaan Bayu. Bayu melumat lagi bibir Unita, singkat tak ada tuntutan, segera mengangkat tubuh itu dan membawanya ke kamarnya. “Bayu, aku—“ “Aku tidak akan menyakitimu, Unita. Sungguh, percayalah, hm?” Bayu mengecup dengan cepat, senyuman dan tatapan teduh itu dia pertahankan karena rasa cintanya yang tak mampu dia bendung lebih lama lagi. Unita yang diam, membuat Bayu melanjutkan langkahnya lagi, membaringkan Unita di ranjang, sedangkan dirinya segera membuang kaos dan juga celananya, “Kamu sudah melihatnya kan tadi, tidakkah kamu ingin melihat yang lain lagi?” “Bayu—“ “Sssstttt!” Bayu duduk dan mengusap pipi Unita, “Aku hanya milikmu, Unita. Hanya di sini, percayalah.” Mengangguk agar Unita mempercayainya, tersenyum saat Unita terdiam, mencium kembali bibir Unita yang membuatnya mabuk. Blus Unita yang sudah terbuka sejak dari ruang melukis tadi memudahkan Bayu untuk membuang kain tidak berguna itu. Membuang juga bra yang sudah tak berfungsi, lebih tertarik untuk mengulum areola, menghisapnya kuat, menjilat, menimbulkan decap berisik memenuhi kamar, dan semakin kasar saat gairahnya meruncing lagi. “Ough! Bayu ... .” Unita bisa gila kalau seperti ini jadinya. Saat Bayu dengan santai menurunkan celana yang dia kenakan, membuatnya polos, Unita tetap saja belum bisa mewaraskan pikirannya, terus hanyut dalam permainan yang Bayu ciptakan. Bayu kembali menatap Unita, mengungkungnya, menyatukan ujung hidung itu agar Unita tahu kalau dirinya juga sama gilanya saat ini, “Hari ini adalah milik kita, hanya milik kita.” Unita yang mengangguk membuat Bayu yakin untuk memagut bibir itu lagi. Membuang satu kain yang masih membungkus miliknya, membebaskan apa yang sesak untuk masuk ke tempat yang lebih lembut, membenamkannya tanpa pemanasan, ingin Unita merasakan sensasi liar tanpa perlu basa-basi karena Bayu lebih suka mengguyur Unita dengan cinta dan juga aksinya. Tak perlu pemanis untuk apa yang sudah indah dinikmati. “Ah ... .” Unita menutup matanya, memeluk Bayu yang masih saja melumat bibirnya yang saat ini hanya membuka tanpa mampu membalas apa perbuatan Bayu di dirinya. Itu, ya itu adalah rasa yang Unita juga inginkan selama ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD