‘Hussssss!’ Unita membuka mata dan segera menemukan Bayu yang menatap dirinya sambil memamerkan senyum. Tanpa berkedip dengan napas tercekat, jarak ini terlalu dekat untuknya.
“Apa dengan memejamkan mata ciuman itu akan lebih nikmat?” Bayu terkekeh melihat Unita yang hanya diam sambil menatapnya.
‘Deg. Deg. Oh! Tolong.’ Unita tak tahu lagi harus menggambarkan seperti apa perasaannya saat ini. Unita mendorong Bayu agak kentara hingga tubuh itu menjauh dan duduk dengan benar untuk mempertahankan jarak, “Tidak.” Jawab Unita dan segera mengambil minumannya tadi untuk membasahi tenggorokannya. Rasanya panas hanya dengan godaan receh seperti itu saja, Unita menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, menaruh botol minumnya tanpa memedulikan Bayu yang entah melakukan apa saat ini.
“Tidak?” ulang Bayu, “Apa lebih nikmat kalau sambil bertatapan saja?” masih ingin mengejar karena suka melihat Unita yang gugup.
Unita berdiri, “Ak—aku pulang dulu.” Tas yang sempat dia taruh di kursi, segera diambil dan dia bawa pergi juga, melangkah cukup cepat karena mulai tidak nyaman dengan Bayu yang terasa terus saja menjebaknya.
“Berterima kasihlah dengan benar, Unita.” Bayu menaikkan nada bicaranya. Saat Unita menghentikan langkahnya, Bayu terkekeh, mengambil botol minumannya dan meneguknya seolah tak ada yang mengganjal setelah apa yang dia ucap barusan.
Unita menarik napas, menyisihkan egonya dan berbalik, “Kau ... mau—ah! Kita makan di luar?” tawar Unita sambil tersenyum meski agak kecut. Bukan dia marah, dia hanya merasa tidak enak dengan sikapnya sendiri, Bayu membuatnya merasa serba salah saat tidak berdaya seperti ini.
Bayu berdiri, mendekat ke Unita, menggiring wanita yang menggoda hatinya itu untuk terus mundur hingga tersandar di dinding ruangan ini. Mengungkung dengan ke dua tangannya yang dia letakkan di sisi kanan dan kiri agar Unita tidak kabur atau bahkan menghindar. Bayu tersenyum, Unita lebih berani karena tak memejamkan mata seperti tadi, mungkin Unita sudah menguasai diri saat ini.
Unita tak akan gentar, dia tahu Bayu hanya mempermainkannya saja, saat dia memejamkan mata maka Bayu akan menertawakannya lagi, itulah kenapa Unita diam, tak akan kalah hanya dengan permainan Bayu.
‘Cup’ Tak mau melewatkan kesempatan, Bayu segera mengecup bibir Unita sekali dan cepat, kembali ke posisi awalnya untuk menunggu reaksi apa yang akan Unita pamerkan sebentar lagi. Sosok itu tetap diam, bahkan tidak berkedip, Bayu memajukan lagi wajahnya semakin dekat, ingin mengulang manis yang ingin dia pastikan rasanya memang itu.
Unita berpaling, bibir itu kini mengenai pipinya, membiarkan diam entah sampai berapa detik hingga Bayu menarik dirinya kembali. “Maafkan aku, Bayu.” Unita segera pergi. Telinganya berdengung dan kepalanya mulai berputar. Entah Bayu meneriakkan lagi namanya atau bahkan tidak, Unita hanya segera masuk ke mobilnya dan melajukannya tanpa tujuan yang jelas.
Bayu tak menyusul atau bahkan mencoba menahan Unita agar tidak pulang secepat ini. Dia hanya menatap Unita yang ke luar tergesa dari galeri seninya dan membawa mobil itu setengah tergesa. Dari balik jendela dengan teralis besi, Bayu mengepalkan tangannya sendiri melihat dirinya yang tak berdaya dan bodoh karena membiarkan Unita pergi begitu saja. Setelah emosinya mereda, Bayu pun menyiapkan kanvas dan cat untuk menghasilkan sebuah karya, memoles warna coklat dengan gelap di sisi tepi, dua kelopak mata, dan juga surai hitam bergelombang, “Aaaaaaa!” Bayu mencoret lukisan setengah jadi itu. Bukan karena tidak suka tapi karena itu adalah wajah Unita.
Bayu meninggalkan kuas, tangannya kotor terkena noda cat, Bayu tidak peduli. Memilih untuk mengambil ponsel dan dompet serta mengantonginya, pergi ke tempat penyewaan mobil milik kakaknya, dia memang sering ke sana jika membutuhkan kendaraan seperti saat ini juga. Unita yang terlalu spesial membuatnya mudah hanya untuk mengetahui di mana alamat rumah Unita saja, Bayu tahu sudah lama, tapi kali ini merasa perlu untuk ke sana. Bayu hanya ingin memastikan Unita tiba di rumah dalam keadaan baik-baik saja setelah apa yang dia perbuat ke Unita tadi.
Sedangkan Unita...
Baru saja sampai di rumah setelah sempat berkeliling sejenak untuk menghilangkan gundah. Turun dan tersenyum sambil membuka ke dua tangannya saat Gwenza berlari mendekatinya, “Gwenza sudah makan? Kak Gevin mana?” tanya Unita sambil menggendong Gwenza, membawanya melangkah karena ingin segera membuang isi kepalanya yang berkecamuk, terus teringat dengan Bayu dan segala kejadian di galeri Bayu tadi.
“Kak Gevin latihan renang, baru diantar, Gwenza sama bibi tadi, main pasir.”
“Pasir?” ulang Unita sambil mengerutkan kening.
“Ya, membuat rumah untuk keong yang kubeli di sekolah tadi. Ayo lihat, Ma!” ajak Gwenza sambil mencondongkan tubuh ke arah taman samping rumah, tak peduli jika mamanya keberatan dengan beban tubuhnya saat ini.
“Iya, Sayang ... .” Unita menurut, segera melangkah ke sana, tak sabar untuk bermain dengan Gwenza.
“Cari siapa, Mas?”
Unita berhenti, menoleh saat mendengar satpam rumah yang seolah kedatangan tamu untuknya atau bahkan mencari mas Nurdin. Tapi apa? Sosok itu malah membuat gugup yang hilang, menyelimut kembali.
Bayu tersenyum, dia memang menurunkan kaca mobilnya untuk melihat Unita lebih jelas tadi, “Apa ini rumah pak Hari, Pak?” tanya Bayu ke satpam Unita yang berdiri tepat di sebelah mobilnya sambil menatap curiga ke arahnya.
“Pak Hari? Bukan Mas, ini bukan rumah pak Hari, ini rumah tuan Herlambang.” Jawab satpam itu.
“Tuan ... Herlambang?” oh! Yakinlah! Semua hanya akal-akalan Bayu saja. Jangankan Herlambang, bahkan nama lengkap itu lebih dia tahu dari apa yang terlihat di permukaan saat ini. “Berarti saya salah rumah, Pak. Maaf saya putar balik kalau gitu.” Bayu menoleh lagi ke Unita, sosok itu tetap di tempat dengan menatap ke arahnya, ‘Tin!’ sengaja mengklakson Unita sekali untuk berpamit. Bayu lega Unita tiba di rumah dengan senyum yang masih manis meski hanya terlihat dari kejauhan saja.
“Siapa, Mama?” tanya Gwenza membuyarkan lamunan mamanya.
“Ah! Mama tidak tahu, Sayang. Jadi lihat keongnya?” Unita tak ingin membawa Bayu ke rumah, bahkan andai dia bisa, di depan terasnya pun jangan. Apa yang sudah ada di posisinya dan suci, tak akan dia rusak dengan tangannya sendiri, tempat nyaman itu harus dia lupakan meski sangat ingin singgah dan beristirahat di sana ketika penat. Bayu seperti oase di tengah Sahara, dan kini malah meninggalkan bimbang yang dulunya Unita yakin hanya akan jadi teman.
‘Ding’ Unita menurunkan Gweza saat mendengar ponselnya berdering, dengan cemas dia membukanya sambil berpikir akan membalas apa karena yakin pesan itu dari Bayu yang mungkin mengatakan maaf atau bahkan terima kasih.
“Sayang, nanti sore aku belum bisa video call. Katakan ke Gwenza, Papa akan telepon saat makan malam, dan pastikan Gweza tidak marah, okey? Aku sayang kalian, i love you.”
Unita tersenyum miris, “Iya, Mas. Gwenza menunggu Mas nanti saat makan malam, i love you more.” Balas Unita dan menyimpan ponselnya lagi. Menghela napas, bahkan di saat seperti ini dia malah mengharapkan pesan dari Bayu yang jelas bukan siapa pun, melupakan Nurdin yang menjadi pemilik hati dan juga kehidupannya selama hampir enam belas tahun ini.