Terima kasih

1161 Words
“Nyonya Unita?” Unita menoleh, terkekeh saat melihat tamu yang sudah membuat janji dengannya, Unita akan mengurus pameran untuk tiga hari lagi, “Ya, Anda sudah datang?” mengulurkan tangannya ke tamu itu dan menjabat, senyumnya lebih lebar setelah melihat lukisan dari Bayu yang baru saja dikirim spesial untuknya. “Baru, jangan kawatir. Ini lukisan Anda?” tanya tamu itu sambil berkagum, “Indah sekali, matanya sangat hidup seperti jepretan dari lensa kamera.” Pujinya bukan sebuah dusta, lukisan ini memang indah. Unita terkekeh, “Pak,” panggilnya ke penjaga galeri seni, “tolong bawakan ke dalam, taruh depan di samping ruang tamu, jangan lupa, hadapkan ke ruang tamu. Aku ingin semua tamu yang datang melihat lukisan ini.” Perintahnya dan kembali menoleh ke tamunya, “Mari, Anda pasti sudah lama menunggu.” Unita mempersilakan tamunya. Duduk dan membahas semua keperluan dan juga harga yang akan disepakati, dan tersenyum puas setelah mendapatan kesepakatan yang sama menguntungkannya, “Terima kasih.” Saat tamu itu berpamit untuk pergi setelah menanda tangani perjanjian sewa galeri seni. Unita segera mencari ponselnya, menelepon Bayu yang dia yakin menunggu panggilan darinya, tapi Unita malah kecewa karena hanya dering panjang yang menggema dari spiker ponsel itu. Unita pun ke luar mencari sopir pribadinya, “Bapak bisa, kan? Hanya urusan kecil, aku tidak mau Gevin dan Gwenza tidak bisa pergi kalau Bapak mengantar saya.” ucap Unita saat meminta sopir pribadinya pulang dengan taksi, sedangkan dirinya sendiri ingin membawa mobil itu sendiri. “Baiklah, Nyonya Unita. Anda bisa menelepon saya saat Anda membutuhkan sesuatu nanti, saya akan segera datang untuk membantu Anda karena mobil ini bukan mobil yang biasa Anda pakai, saya kawatir.” Sopir sangat tahu, nyonya Unita lebih lihai dan nyaman mengendarai mobil matic. Unita terkekeh, “Jangan kawatir, Pak. Saya pergi dulu.” Unita segera masuk dan melajukan mobilnya, dia tidak sabar untuk bertemu dengan Bayu dan mengatakan terima kasih atas lukisan yang indah ini. Setelah sempat berhenti untuk membeli makanan yang bisa menjadi buah tangan, Unita segera memutar gagang pintu galeri yang tadi juga sempat dia datangi, tapi berbeda karena pintunya tidak dikunci saat ini. Dengan langkah yang perlahan karena kawatir Bayu tengah beristirahat dan mengganggu, Unita terus naik ke lantai dua dengan kotak makanan di tangan kirinya, “Bayu?” panggilnya tak terlalu kencang. Galeri ini sepi, banyak lukisan yang sudah berkurang karena Bayu baru saja menggelar pameran bulan lalu. Karya hebat akan lahir lagi sebentar lagi, Unita yakin itu. “Akh—Bayu?!” pekik Unita sambil menutupi wajahnya dengan kotak makanan yang dia bawa dengan dua tangan. “Unita?!” Bayu pun sama kagetnya. Dia baru saja ke luar dari kamar mandi dan hanya mengenakan celana dalam, sedangkan handuk dia gunakan untuk mengusap kepala agar rambutnya cepat kering, kamar mandi di galeri miliknya ada di luar kamar meski pintu tetap berhadapan dengan kamar yang dia gunakan untuk tidur setiap hari, “Ak—aku akan segera kembali.” Dengan cepat masuk ke kamar, meski tak segera mencari pakaian karena terlalu gugup. Bayu tidak menyangka kalau Unita akan datang saat dia tak memakai baju seperti ini. Unita menghela napas, menenangkan degup jantungnya dan ke ruangan yang biasa digunakan Bayu untuk mencari inspirasi dan melukis. Unita cukup hafal karena Bayu pun seringnya mengajak dirinya duduk dan mengobrol di sana. Saat mendengar langkah kaki mendekat dan yakin itu adalah Bayu yang baru selesai ganti baju, Unita menarik napas panjang dan dalam agar tak terlihat kalau gugup. “Kamu tidak bilang kalau akan ke sini? Tahu gitu aku akan menyambutmu tadi.” Bayu terkekeh, duduk di sebelah Unita dan menarik kotak asing di depan Unita, membukanya dan tersenyum saat tahu isinya adalah martabak manis dan masih hangat. “Menyambut? Dengan apa?” tanya Unita sambil mengerutkan kening. Bayu yang baru saja menggigit martabak manis itu ikut mengerutkan kening untuk memikirkan sesuatu, “Mungkin lebih baik aku tidak memakai apa pun tadi.” ucapnya asal sambil mengangkat bahunya bersamaan. Bug! “Astaga, Bayu!” Unita memukul lengan Bayu, rasanya sangat kesal karena Bayu malah mengingatkannya dan juga menggodanya seperti ini. “Hahahaha. Toh! Percuma. Kamu tidak akan penasaran jika aku tidak memakai apa pun, kan?” goda Bayu. “Hey, Tuan Bayu! Lebih baik simpan saja semua hal tentang itu, aku tidak tertarik.” Unita ikut mencomot martabak manis, menggigitnya juga agar kesalnya hilang karena Bayu yang menyebalkan. “Aku masih bisa melihat pipimu yang merah, Unita.” “Bayu!!” Unita membuang napas kasar. Bayu benar-benar menyebalkan saat seperti ini. “Hahahaha.” Memilih untuk tetap menikmati wajah yang kesal seolah ingin memukulnya itu. Membiarkan semua agak reda dan mengambil teh di lemari pendingin yang memang ada di ruangan itu, satu untuknya yang segera dia minum untuk mendorong martabak manis yang tersangkut di tenggorokannya, dan satu dia berikan ke Unita. “Kamu ke sini sendiri?” tanya Bayu berbasa-basi, dia tahu jawabannya ‘iya’ tapi Bayu lebih tertarik dengan tujuan Unita yang datang tiba-tiba. Unita mengangguk, minum beberapa teguk dan kembali menatap Bayu, “Aku dari galeri, lukisanmu indahhhhhhh sekali ... terima kasih, Bayu.” Ucap Unita sambil berbinar. Sungguh, ucapan terima kasih itu dari lubuk hatinya yang terdalam. “Oiya? Hanya terima kasih saja?” tanya Bayu dengan kening yang mengerut. “Maksudmu?” Unita malah bingung dengan pertanyaan Bayu, dia yakin tidak melakukan kesalahan, tapi Bayu malah terlihat aneh dengan ucapan yang menunjukan ketidak percayaan itu. Tempat duduk yang terlalu dekat, membuat Bayu dengan mudah bisa mengintimidasi Unita, ditoleh dan tersenyum ke arah Unita, “Sepertinya dengan ciuman akan lebih cocok untuk mewakili ucapan terima kasih.” Terkekeh saat Unita malah membolakan mata ke arahnya. ‘Oh! Apa ini?’ Unita merasa otaknya saja meneriakkan pertanyaan konyol untuk dirinya sendiri. Pipinya malah lebih panas dari pada yang tadi, saat ini, saat Bayu menatapnya dengan tersenyum begini, rasanya malah akan meledak jantungnya, dan itu sebentar lagi. Unita bersiap menghitung mundur karena Bayu mulai memajukan tubuhnya ke arahnya. Bayu masih tersenyum, tidak peduli dengan tubuh Unita yang tampak kaku dan condong ke sisi belakang, ikut maju meski tetap duduk di tempatnya, mendekatkan wajahnya untuk melihat Unita lebih dekat karena Bayu akan mengambil ucapan terima kasih itu dari Unita. Sungguh, tinggal sejengkal lagi. Unita tak tahan dan tak mungkin juga untuk mundur atau bahkan maju, Unita memilih untuk memejamkan mata agar tak melihat mata itu saat Bayu benar-benar menciumnya nanti. Bayu terkekeh tepat di depan wajah Unita yang saat ini tengah terpejam, menyentuhkan ujung hidunganya dengan ujung hidung Unita, meski bibirnya masih dia tahan, Bayu memilih untuk merasakan deru napas Unita dari jarak sedekat ini. Wajah itu sungguh cantik, ternyata dia memang benar, Unita lebih cantik saat sedekat ini. Bayu mengambil jarak kembali, dia ingin Unita membuka matanya agar dirinya bisa menikmati juga mata indah itu, ‘Hussssss!’ ditiupnya wajahnya itu, membuat empunya langsung membuka mata dan bertemu tatap dengannya, “Apa dengan memejamkan mata ciuman itu akan lebih nikmat?” ‘Deg. Deg. Oh! Tolong.’ Unita tak tahu lagi harus menggambarkan seperti apa perasaannya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD